My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
MENIKAHLAH DENGANKU (2)



Tenang saja Ele, aku akan mengendalikan diriku dengan baik, dan tetap menjaga dirimu untuk tetap suci, sampai aku menemukan jawaban dari apa yang aku cari. Aku tidak mau membuatmu menderita dan juga mempermalukanmu. Tapi aku tidak mau saat aku menemukan jawaban itu, orang lain sudah merebutmu dariku. Aku akan merahasiakan pernikahan ini, jadi kamu tidak akan dipermalukan jika kita terpaksa harus berpisah kelak. Aku berjanji akan menjaga nama baikmu. Aku akan bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang aku lakukan hari ini. Aku tahu aku memang egois Ele, sangat-sangat egois. Tapi aku tidak mau kehilangan kamu. Dan aku takut, jika aku tidak melakukan ini sekarang, kamu akan pergi lagi dariku.


James kembali berkata dalam hati dengan dada yang berdetak kencang, berharap dia bisa segera menemukan jawaban atas semua kejadian yagn membuatnya meragukan Elenora, dan juga bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Elenora sampai saatnya tiba.


Bagaimapun, untuk saat ini, pesona Elenora yang selama ini selalu disembunyikannya, yang sudah pernah dilihatnya, membuat James sulit untuk tidak tergoda saat sedang bersama dengan gadis itu.


"Aku tidak tahu mana yang lebih kamu sukai sebagai temapt tinggal. Sebuah apartemen, penthouse, atau mansion. Katakan saja tempat tinggal seperti apa yang kamu inginkan. Karena yang paling cepat yang bisa aku dapatkan adalah sebuah apartemen, jadi bersabarlah. Untuk sementara kita tinggal di apartemen ini. Aku akan menjualnya jika kamu tidak merasa cocok." James melanjutkan perkataannya, yang justru membuat Elenora semakin bingung.


“Tapi James… ini… tidak….”


“Matilda!” Tanpa perduli dengan protes Elenora, James berteriak memanggil Matilda, yang sudah bersiap menunggu perintah selanjutnya di balik pintu, dengan buru-buru langsung membuka pintu ruangan itu dan bergegas mendekat.


“Bantu Nona Elenora untuk berdandan, karena kami harus mengambil foto pernikahan kami.” James berkata kepada Matilda, tanpa perduli dengan wajah kaget dan tidak mengerti dari Elenora, yang merasakan bahwa hari ini James terlihat begitu mendominasi, tidak mau mendengarkan pendapat atau pertanyaan apapun darinya.


A…apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan James? Kenapa… kamu melakukan ini padaku?


Elenora berkata dalam hati dengan sikap bingung. Memang menikah dengan James adalah impiannya, tapi tidak dengan cara aneh seperti ini.


Maafkan aku Ele, setelah aku memantapkan hatiku, aku akan segera mengumumkan pada dunia bahwa kamu adalah wanitaku, istriku, dan aku akan memberikan sebuah pesta yang megah untuk merayakan pernikahan kita.


James berkata dalam hati sambil pergi berlalu dari ruang kerja itu, membiarkan Elenora yang tampak kaget sekaligus bingung.


“Mari Nona, ikutlah dengan saya.” Dengan kekagetannya yang belum lagi hilang, Elenora terpaksa mengikuti Matilda ke salah satu kamar yang terlihat begitu mewarh, dengan ranjang berukuran besar, di tata dengan dominasi warna putih dan emas, membuatnya terlihat begitu elegan.


Di ranjang berukuran besar itu, terdapat sebuah gaun yang panjangnya kira-kira sepanjang lutut, berwarna putih bersih.


Bukan sebuah gaun pernikahan yang mewah, tapi gaun sederhana itu tampak cantik dan anggun.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Matilda bergerak dan mengambil gaun putih, lalu membawanya ke depan Elenora.


“Nona mau memakai gaun ini sendiri, atau saya bantu untuk memakainya?” Tanpa menjawab pertanyaan Matilda, Elenora meraih gaun itu dan menggerakkan tudbuhnya untuk mengganti pakaiannya dengan gaun itu.


Dan Matilda sendiri, memilih untuk diam tanpa berani bertanya lebih lanjut, karena bagaimanapun, sejak dia datang dan mendengar penjelasan James tentang tugas dan tanggung jawabnya di apartemen ini, Matilda tahu betul posisi penting Elenora bagi James.


“Nona, kamar ganti kamar tuan James di sebelah sana.” Matilda yang melihat Elenora terlihat sedikit kebingungan mau berjalan ke arah mana, langsung memberikan petunjuk kepada Elenora dimana letak walk in closet kamar itu.


Bahkan aroma parfum yang biasa dipakai oleh James masih terasa memenuhi udara ruangan itu, menunjukkan bahwa belum lama, beberapa waktu lalu, James baru saja berada di ruangan ini.


Memikirkan bahwa ruang yang dia masuki saat ini adalah bagian dari kamar James, membuat dada Elenora berdetak dengan begitu kencang, disertai dengan rasa gugup dan salah tingkah, meski saat ini James tidak ada di dekatnya.


Dan tiba-tiba saja, Elenora merasakan bahwa udara di sekitarnya terasa panas, namun membuatnya berkeringat dingin, dengan dada yang berdegup kencang.


Setelah beberapa saat Elenora berada di dalam ruangan ganti itu, dengan langkah ragu, Elenora keluar dan melihat sosok Matilda yang tampak menunggunya di depan sebuah kaca besar pada sebuah meja rias yang tampak indah karena di sekelilingnya tampak ukiran-ukiran cantik, menunjukkan bahwa ke depannya James menyiapkan kamar itu bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk wanita yang akan menjadi istrinya kelak.


Matilda yang melihat calon nyonya rumahnya terlihat begitu cantik dan anggun dengan gaun putih sepanjang lutut itu langsung menyunggingkan senyumnya.


“Nona, silahkan duduk, saya akan membantu Nona merapikan rambut Nona dan sedikit merias wajah Nona.”


“Tidak!” Elenora langsung menolak permintaan dari Matilda.


“Aku tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh tuanmu. Aku bersedia mengenakan gaun yang dia siapkan, tapi aku tidak bisa menuruti semua permintaannya.” Perkataan Elenora membuat Matilda menghela nafasnya.


Bagi Matilda, sebagai sesama perempuan, penolakan Elenora bisa dia mengerti.


James merupakan seorang pria berpengaruh dan kaya raya. Mau tidak mau, siapapun wanita yang menikah dengan tuannya itu, pasti di hari pernikahannya akan tampil cantik dan anggun dengan gaun pernikahan yang indah dan mewah.


Meskipun sebenarnya bukan karena itu Elenora menolak untuk berdandan cantik hari ini.


Saat ini rasanya otak Elenora terasa tumpul, dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Elenora sungguh tidak mengerti kenapa James memaksanya melakukan hal seperti ini, menikah tanpa kehadiran seorangpun dari saudara apalagi kedua orangtua mereka, orang-orang dekat dan mereka sayangi, membuatnya yakin kalau penikahan ini bukanlah pernikahan yang diinginkan oleh James.


Karena pikirannya yang sedang kacau, bahkan membuat Elenora seperti mayat hidup, yang hanya bisa terdiam, dan mengikuti langkah Matilda yang membawanya keluar dari kamar James untuk kembali menemui James dan kedua tamunya tadi.


Melihat sosok Elenora yang terlihat anggun dan cantik, meskipun dia bersikeras tidak mau melepaskan kacamata tebal dan mengurai kepang di rambutnya, dada James berdetak dengan begitu kencang, dan beberapa kali James harus menahan dirinya agar tidak menelan ludahnya di depan kedua tamunya karena sosok Elenora yang berhasil membuat jantungnya berdisko ria di dalam sana.


Dan tanpa sadar, penampilan cantik Elenora juga membuat James terlhat gugup, seperti seorang anak SMA yang diam-diam berusaha mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk mengamati gadis yang disukainya dari balik tembok ruang kelas.