
"Kamu masih mengingatnya?" Ornado langsung bertanya, begitu mendengar bagaimana suara pekikan dari Laurel saat menyebutkan nama Dario Benigno.
"Tentu saja aku ingat Ad. Dario Benigno, kakak angkatmu yang juga sering diajak oleh uncle Alberto saat mengunjungimu dan mamamu di Indonesia sebelum uncle Alberto membawamu kembali ke Italia 15 tahun lalu. Bagaimana kabar Dario sekarang?"
"Untunglah kamu masih mengingatnya. Itu akan membuat pertemuan kalian nanti sore tidak terasa canggung." Ornado berkata dengan nada suara terdengar lega, ikut senang ternyata Laurel masih mengingat Dario.
Tentu saja aku ingat dengan baik si Dario. Kakak angkatmu itu bahkan sejak kecil selalu ikut bermain bersama kita jika berkunjung ke sini. Dan dia selalu menjadi yang selalu menunjukkan sikap paling keberatan dan menyampaikan protesnya, setiap kali kamu meminta Cladia menjadi pasanganmu saat bermain rumah-rumahan. Bahkan aku ingat dengan jelas bagaimana Dario yang pernah merajuk dan marah setelah dia meminta kesempatan sekali saja untuk bisa menjadi pasangan Cladia, tapi kamu tidak mengijinkannya, dan justru membawa Cladia lari dan bersembunyi dari Dario.
Laurel berkata dalam hati, tanpa berniat mengingatkan Ornado tentang peristiwa-peristiwa itu.
Aku bahkan pernah tanpa sengaja mendapati Dario membuang ke sungai, boneka pemberianmu untuk Cladia yang dibawakan uncle Alberto sebagai oleh-oleh. Untungnya saat itu Cladia tidak menangis walaupun seharian mencari boneka kesayangannya itu. Sepertinya waktu itu Dario tidak suka karena Cladia mengatakan bahwa boneka pemberian Ornado adalah boneka kesayangannya, yang selalu dibawanya kemana-mana, bahkan jika orangtuanya mengajak pergi berlibur. Sekarang kalian sudah sama-sama dewasa. Semoga Dario sudah berubah dari sikap kekanak-kanakannya seperti waktu itu.kalau tidak, itu pasti akan jadi masalah besar di masa depan.
Laurel kembali berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang.
Dengan sikap Ornado yang sejak kecil sudah menganggap Cladia adalah istri masa depannya, satu-satunya wanita yang ingin dia nikahi dan miliki, Laurel cukup tahu diri untuk tidak memancing di air keruh dengan menceritakan tentang bagaimana di masa kecil mereka, Dario juga sudah menunjukkan bahwa dia begitu menyukai Cladia.
"Dia berencana mengembangkan usahanya di negara ini, karena itu dia sengaja membeli sebuah penthouse untuk tempat tinggalnya. Dia berencana akan tinggal cukup lama di sini." Ornado segera menjawab pertanyaan Laurel tentang Dario.
"Ah, senang sekali bisa mendengar bagaimana usaha Dario sepertinya berkembang. Apa dia sudah menikah sekarang?" Entah kenapa tiba-tiba saja Laurel merasa begitu penasaran dengan kehidupoan pribadi Dario.
"Belum. Aku juga tidak tahu apa yang membuat Dario sampai sekarang selalu menghindar jika papa Alberto mulai mengajaknya bicara tentang pernikahan. Sepertinya dia belum tertarik untuk menikah sekarang." Ornado berkata sambil menghela nafasnya.
Sejak beberapa lama ini, terutama sejak rencana pernikahannya dengan Cladia mulai dibahas waktu itu, Alberto selalu berusaha meminta Dario untuk mulai memikirkan tentang pernikahan juga.
Alberto yang sudah menganggap Dario seperti anaknya sendiri, ingin di masa tuanya melihat baik Dario maupun Ornado sukses dalam bisnis maupun kehidupan mereka dalam pernikahan.
Karena itu Alberto, seringkali membahas masalah pernikahan dengan Dario. Namun Dario seringkali hanya menanggapi pembicaraan tentang itu dengan senyum di wajahnya dan dengan cepat langsung mengalihkan pembicaraan.
Ah, Dario ternyata belum menikah. Jangan bilang kalau dia juga seperti Ad yang begitu terobsesi dengan Cladia. Hah! Semoga itu hanya sekedar pemikiran konyolku saja.
Laurel berkata dalam hati sambil menggigit bagian bawah bibirnya, begitu mencoba memikirkan tentang apa alasan yang membuat Dario belum menikah dengan usianya yang berkisar di angka 30 an.
"Mungkin Dario belum menemukan wanita yang bisa menggerakkan hatinya. Dari dulu walaupun terlihat ramah dan selalu tersenyum, kita sama-sama tahu dalam pergaulannya, Dario cukup pemilih. Dia selalu membagi orang-orang di sekitarnya dalam tingkatan yang hanya sekedar cukup dia tahu namanya, sampai orang yang dianggapnya layak untuk menjadi teman dekatnya." Perkataaan Laurel membuat Ornado menganggukkan kepalanya karena membenarkan pendapat Laurel tentang sosok Dario.
"Jam berapa undangannya?" Laurel langsung bertanya balik sambil melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, menunjukkan dia tidak banyak waktu lagi untuk menyiapkan makan siangnya bersama Dave.
"Mungkin kamu bisa datang jam 5 sore. Aku akan mampir ke tempat kalian, supaya kita bisa berangkat bersama-sama."
"Ok, aku akan memberitahukan kepada Dave tentang undangan pesta masuk rumah dari Dario. Dia pasti mengijinkanku pergi jika aku mengatakan itu dari Dario yang merupakan kakak angkatmu. Orang yang kita berdua sama-sama kenal. Kamu tahu, begitu aku menyebutkan namamu, Dave pasti akan menyetujuinya. He he he." Laurel berkata dengan diakhiri sebuah seringai di wajahnya.
Terus terang, jika Laurel menyebutkan hal yang berhubungan dengan Ornado, suaminya itu boleh dibilang tidak pernah menolaknya, karena Dave begitu mempercayai Ornado yang selama ini sudah menganggap Laurel seperti adiknya sendiri dan selalu berusaha untuk melindunginya, apalagi hubungan Cladia sebagai istri Ornado, juga begitu dekat dengan Laurel.
"Eh ya, apa kira-kira Dave juga bisa datang bersamamu nanti sore? Terus terang, usaha Dario yang akan dia kembangkan di sini bergerak di bidang obat dan kosmetik. Dan begitu dia mendengar tentang siapa suamimu, dia begitu antusias untuk berkenalan dengan Dave." Tawa kecil dari Laurel langsung terdengar begitu Ornado menjelaskan tentang keinginan Dario untuk dapat bertemu dengan Dave.
"Wah... Dario sungguh membuatku sakit hati dan sedih. Aku pikir Dario sengaja mengundangku karena merindukanku sebagai teman masa kecilnya. Ternyata karena dia ingin aku memperkenalkannya dengan Dave." Laurel berkata sambil tertawa geli.
Ornado yang tahu bahwa Laurel hanya bercanda hanya bisa tersenyum sambil menggaruk ujung alisnya yang sebenarnya tidak merasa gatal.
"Jangan khawatir Ad. Katakan pada Dario aku akan datang ke pestanya dengan membawa hadiah istimewa padanya, Dave Alexander Shaw. Ha ha ha ha." Tawa renyah dari Laurel langsung terdengar di akhir kata-katanya.
"Haist! Kamu ini! Memang suka sekali bercanda dan mengerjai suamimu." Laurel hanya bisa meringis mendengar perkataan dari Ornado.
"Bukan begitu Ad, aku tadi sudah sempat berpikir bagaimana cara merayu Dave agar diijinkan pergi ke pesta Dario. Terus terang tidak enak kan mengajak Dave yang tidak dikenal oleh Dario? Tapi mendengar kedatangan Dave akan menjadi hadiah buat Dario, tentu saja aku menjadi begitu bersemangat." Laurel langsung berkelit mendengar ejekan Ornado tentang kebiasaannya yang kadang memang suka berbuat iseng terhadap Dave.
"Kalau dulu kamu berusaha melarikan diri dari Dave, sepertinya sekarang kamu yang inginnya Dave menempel terus padamu." Ornado kembali menggoda Laurel yang langsung memajukan bibirnya.
"Aih.... tolong sadar diri Ad. Bagaimana bisa kamu menyindirku seperti itu sedangkan kamu sendiri dengan Cladia sudah seperti udara yang inginnya selalu berada di sekitarnya." Laurel langsung membalas godaan dari Ornado yang hanya bisa tersenyum mendengar itu.
"Okelah kalau begitu. Yang penting kamu bisa datang malam ini. Aku akan segera memberitahu Dario kalian berdua akan datang. Dia pasti senang mendengar tentang hal ini. Aku akan menyusul kalian. Kemana aku harus pergi? Ke rumah sakit atau ke rumah?" Laurel baru saja berniat menjawab pertanyaan Ornado ketika tiba-tiba dia merasakan adanya lengan yang memeluknya dari arah belakang, membuat Laurel yang melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas lebih lima menit langsung tersenyum.
Dari hangat dan lembutnya pelukan itu, dan juga bau harum parfum yang menyapa hidungnya, Laurel tahu pasti siapa yang sedang memeluknya saat ini. Seseorang yang begitu dicintainya.