
Tidak begitu lama setelah James kembali ke dalam kantornya, bahkan tidak lebih dari 10 menit berlalu, sebuah telepon dari bagian personalia segera diterima oleh Dea.
Begitu tahu siapa yang sudah menghubunginya, Dea hanya bisa menarik nafas panjang, penuh penyesalan, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Pihak personalia dengan tegas memberikan SP (Surat Peringatan) kepada Dea atas perbuatannya kepada Elenora.
Karena yang menjadi saksi dan meminta SP itu adalah James sendiri, tidak ada kesempatan bagi Dea untuk berkelit dan membela diri ataupun diadakannya penyelidikan tentang peristiwa tersebut.
Dan bukan hanya itu saja, ruang kerja untuk Dea, James meminta agar dipindahkan dari tempat kerjanya sekarang, sehingga tidak lagi berada satu ruangan dengan Elenora.
Sedangkan sebagai penggantinya, James minta Audrey untuk berada di sana, karena James tidak ingin Elenora hanya berdua saja dalam satu ruangan dengan Dodi, meskipun ruangan itu merupakan ruangan terbuka tanpa dinding, dan dari posisi meja kerjanya sekarang, James dengan jelas dapat mengamati apa yang terjadi di dalam ruangan itu.
Tentu saja bagi James yang sudah bisa melihat bagaimana perubahan cara berpakaian Elenora sudah membuat heboh para pegawai lain, terutama para pegawai pria, dia tidak akan rela jika Dodi hanya berdua saja dalam satu ruangan dengan Elenora, dan memberinya banyak kesempatan untuk menjalin komunikasi yang semakin erat dengan Elenora.
Paling tidak, dengan adanya Audrey, James bisa sedikit lebih tenang karena Dodi pasti tidak akan bisa sebebas jika dia hanya berdua dengan Elenora saja.
James langsung tersenyum begitu melihat Dea yang mulai mengemas barang-barang miliknya dalam kotak plastik, untuk dapat memindahkannya ke kantor barunya yang letaknya cukup jauh dari kantor para pimpinan perusahaan Bumi Asia.
Dan itu artinya, semakin sedikit kesempatan yang akan dimiliki Dea untuk terpilih menjadi sekretaris dari salah satu pimpinan perusahaan itu.
# # # # # # #
"Hah!" Jeremy berkata sambil meremas kertas yang ada di tangannya dengan wajah merah padam dan nafas yang memburu.
Selembar kertas yang menunjukkan foto-foto kondisi kecelakaan yang dialami kedua orangtuanya saat itu.
Dan beberapa keterangan ahli menyatakan bahwa kecelakaan itu memang terlihat seperti kecelakaan normal, namun adalah yang yang aneh jika dalam suatu kecelakaan yang melibatkan dua kendaraan berbeda, kondisi kedua kendaraan itu sama-sama mengalami rem blong.
(Rem blong adalah disfungsi rem yang menyebabkan sistem pengereman tidak bekerja dengan baik, bahkan tidak berfungsi sama sekali).
Jika itu bisa disebut sebagai suatu kebetulan, memang beberapa orang bisa mengerti tentang hal itu.
Akan tetapi detektif yang diminta oleh Jeremy menyelidiki kasus itu, menemukan beberapa kejanggalan.
Seolah-olah pengendara truk itu memang sengaja menunggu kedua orangtua Jeremy kembali mengendarai mobil mereka.
Untuk info adanya orang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar mobil orangtua Jeremny yang sedang terparkir, detetektif itu mendapatkannya dari petugas parkir restoran yang ternyata masih bekerja di sana sampai saat ini.
Meskipun bukan orang kaya nomer satu di negara ini, orantua Jeremy dan Cladia merupakan pengusaha perhiasan yang cukup dikenal masyarakat sekitar karena jiwa sosialnya yang tinggi, apalagi berita meninggalnya mereka disebabkan oleh sebuah kecelakaan maut yang mengerikan, sehingga beberapa orang yang terlibat atau mengetahuinya akan mengingat kejadian hari itu meskipun lamat-lamat.
Niela yang bisa melihat amarah di wajah dan tatapan mata Jeremy, meski dia belum tahu pasti tentang apa yang terjadi sebenarnya, bisa menebak pastia da sesuatu tentang kejadian kecelakaan beberapa tahun lalu.
"Jer, apa yang terjadi? Apa benar ada yang tidak wajar dengan kejadian kecelakaan waktu itu?" Niela bertanya sambil menatap ke arah Jeremy yang menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil memejamkan kedua matanya yang terasa panas dan lembab, mencoba mengendalikan dirinya dari emosi yang sedang berkecamuk dalam dadanya.
Saat ini Jeremy kembali teringat dengan sosok ayahnya yang berwibawa, jarang berbincang dengan anak-anaknya, tapi selalu ada di saat-saat penting yang terjadi dalam hidup anak-anaknya, seperti saat mereka berulang tahun, saat mereka baru pertama kali masuk sekolah, atau saat salah satu dari anak-anaknya menangis dan membutuhkan perlindungan atau pembelaan.
Sedang mamanya yang merupakan seorang wanita yang cantik dan baik hati, selalu menemani anak-anaknya selama masa pertumbuhan mereka.
Dan meskipun Jeremy ingat bahwa mamanya sosok wanita yang cukup cerewet, tapi dia tahu mamanya sangat menyayangi dia dan Cladia, selalu mengusahakn yang terbaik untuk anak-anaknya.
"Aku belum tahu pasti, tapi info awal dari detektif itu mengarah ke sana. Dia mencurigai bahwa kecelakaan itu sudah diatur oleh dengan sebegitu rapi oleh seseorang sebelumnya. Bukan sekedar rem blong yang terjadi pada kendaraan papa dan mama, tapi ternyata, truk yang menabrak mobil mereka juga mengalami rem blong. Itu sungguh kebetulan yang aneh menurut detektif, apalagi, beberapa foto di tempat kejadian ternyata sempat hilang. Saat ini detektif itu sedang mencoba mencari info tentang keberadaan foto-foto itu." Jeremy berkata sambil menghembuskan nafasnya lewat sela-sela bibirnya.
"Dan lagi, ada hal yang aneh lainnya. Pengendara truk itu, meskipun terluka, lukanya tidak terlalu parah, tapi hanya dalam waktu kurang sehari, tiba-tiba dikabarkan bahwa pengendara truk itu meninggal karena serangan jantung. Padahal dia belum sempat bersaksi apapun tentang kecelakaan itu. Dan melihat usianya yang muda dan riwayat kesehatannya tidak bermasalah, sungguh aneh tiba-tiba dia mendapatkan serangan jantung. Sopir itu adalah satu-satunya saksi yang diharapkan bisa menjelaskan dengan detail tentang kejadian waktu itu." Jeremy kembali menjelaskan kepada Niela, dengan tangannya yang tadi meremas kertas, meletakkan kertas itu di atas meja kerjanya.
"Dengan meninggalnya satu-satunya saksi yang ada, ditambah lagi keterangan dari pihak berwenang bahwa kecelakaan itu adalah murni kecelakaan biasa, kasus ini ditutup begitu saja. Bahkan sampai saat ini, aku tidak pernah terpikirkan bahwa kasus itu sebenarnya bsia jadi sebuah kecelakaan yang sudah diatur dengan sengaja." Kata-kata Jeremy yang dipenuhi dengan luapan emosi, membuat Niela hanya bisa terdiam, karena dia bisa mengerti bagaimana seorang Jeremy yang dikenalnya begitu menyayangi dan perduli dengan Cladia, juga pasti sangat menyayangi kedua orangtuanya.
Dan kehilangan orang yang kita sayangi dengan cara mengenaskan seperti itu, pasti meninggalkan luka dan kesedihan yang dalam bagi orang yang ditinggalkan.
"Aku akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas. Siapapun yang sudah berani mencelakai kedua orangtuaku waktu itu, dia harus membayarnya." Jeremy berkata dengan nada suara yang penuh dengan kemarahan, apalagi membayangkan jika benar ada seseorang yang memang sudah sengaja mencelakai kedua orangtuanya, padahal Jeremy tahu dengan pasti, kedua orangtuanya tidak memiliki musuh.