
“Hallo Audrey, apa Elenora dan kamu sudah selesai menikmati makan siang kalian? Kenapa tiba-tiba menghubungiku? Apa Elenora sudah kembali ke meja kerjanya?” James berkata sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mencoba mengurangi rasa penat setelah seharian ini dia begitu sibuk menyiapkan segala sesuatunya, untuk diserahkan pada Fred yang mala mini berencana datang ke kota B menggantikannya.
Mendapatkan telepon dari Audrey, mau tidak mau bayangan sosok Elenora kembali memenuhi pikiran James.
Apalagi sesuai rencana, besok siang James akan terbang kembali ke kota dimana perusahaan Bumi Asia berada, yang artinya, kota yang sama dimana Elenora, wanita yang sudah begitu dirindukannya itu berada.
Yang beberapa waktu ini, setiap siang dan malam selalu saja terbayang dalam pikiran James.
“Selamat siang Pak James. Maaf mengganggu waktunya sebentar.” Dengan nada ragu Audrey berkata.
Sebenarnya Audrey cukup lama berpikir dan menimbang-nimbang sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melakukan panggilan kepada James untuk memebritahukan kepergian Elenora.
Meskipun Audrey sudah bisa menebak bahwa James memang menyukai Elenora, akan tetapi sebesar apa rasa suka James dan keseriusan James terhadap perasaannya kepada Elenora, Audrey tidak berani memastikannya.
Karena itu, Audrey tidak tahu apakah berita yang akan dia beritahukan pada James akan menjadi berita penting bagi James, atau justru akan mengganggunya dan membuatnya tidak enak hati.
“O, silahkan Audrey. Kebetulan aku juga baru sempat beristirahat. Apa ada sesuatu yang penting yang mau kamu sampaikan padaku? Apa Elenora sedang bersamamu sekarang?” James berkata sambil menghela nafasnya untuk sedikit menenangkan hatinya yang selalu berdebar-debar setiap bayangan Elenora memenuhi otaknya.
“Eh, begini Pak James. Terus terang tadi saya tidak sempat makan siang bersama Elenora.”
“Lho? Kenapa Audrey? Apa bu Cladia berkunjung ke kantor Bumi Asia?” James langsung teringat bagaimana kedekatan Elenora dan Cladia, sehingga berpikir bahwa Cladia berkunjung ke kantor Bumi Asia dan mengajak Elenora makan siang bersamanya.
“Tidak pak, bukan karena itu. Bapak Ornado dan Ibu Cladia tidak ada di kantor Bumi Asia.” Audrey segera memberikan jawabannya.
“Lalu kenapa dengan Elenora? Apa dia sakit? Apa kamu sudah menyuruhnya untuk pergi ke dokter? Bilang saja ke Fred untuk mengantar Elenora ke dokter." James langsung mencerca Audrey dengan perkataannya, membuat Audrey di seberang sana hanya bisa menggaruk-garuk alisnya yang tidak gatal.
Aduh pak James, sepertinya bukan lagi sekedar suka, tapi anda sudah benar-beanr jatuh cinta dengan Elenora.
Audrey bergumam dalam hati sambil tersenyum kecil.
"Audrey!" Panggilan yang dilakukan James setelah beberapa saat menunggu tapi Audrey tetap terdiam, membuat Audrey tersentak kaget, dan langsung meringis, merasa sedikit malu karena tanpa sadar dirinya baru saja melamun.
"Eh, iya... Pak James." Audrey segera menanggapi panggilan dari James yang sudah tidak sabar mendengar apa yang sebenarnya ingin dikatakan Audrey padanya.
"Jadi...? Ada apa dengan Elenora?" James mempertegas pertanyaannya yang belum terjawab oleh Audrey.
"Anu... begini Pak James. Elenora tadi tidak sempat makan siang karena tiba-tiba ada telepon, sepertinya dari Italia. Mereka berdua berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti." Jantung James langsung berdetak dengan kencang begitu Audrey mengatakan hal itu.
Italia? Siapa yang sudah menghubungi Elenora? Gavino? Apa yang dibicarakan oleh mereka berdua?
James bertanya-tanya dalam hati dengan sikap mulai tidak tenang.
"Saya tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka karena bahasa yang mereka gunakan. Tapi, setelah menerima panggilan telepon itu, Elenora tampak pucat dan menangis. Setelah itu, dia langsung membereskan meja kerjanya dan pergi." Jantung James semakin berdetak dengan kencang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Audrey.
"Ketika saya tanya, Elenora tidak memberikan penjelasan, hanya mengatakan kalau ada sesuatu yang penting yang sedang terjadi. Katanya dia harus pergi ke Italia hari ini juga Pak James." Dengan gerakan eflek, Jmaes langsung menjauhkan tubuhnya dari sandaran kursi kerjanya begitu mendengar penjelasan dari Audrey.
"A... apa? Elenora pulang ke Italia?" James hampir saja berteriak histeris begitu mendengar kabar dari Audrey melalui panggilan teleponnya.
"Be... betul Pak James." Audrey merasa kaget begitu mendengar suara James yang tidak seperti biasanya begitu mengetahui bahwa Elenora pergi ke Italia.
"Audrey, apa aku tidak salah dengar? Elenora pulang ke Italia?" James kembali bertanya sambil bangkit dari duduknya, menendang roda kursinya ke belakang dengan sembarangan.
"Benar Pak James. Dia mengatakan pada saya dengan jelas akan pergi ke Italia, meskipun dengan terburu-buru dan...." Audrey belum sempat menyelesaikan kata-katanya, namun James sudah menutup panggilan teleponnya, membuat Audrey hanya bisa mendesah dan menghela nafas panjang.
Semoga semuanya akan baik-baik saja.
Audrey berkata dalam hati dengan penuh harap-harap cemas.
# # # # # # #
Begitu mendengar bahwa Elenora berencana pulang ke Italia, James langsung berlari keluar seperti orang kesetanan, menuju tempat mobil yang digunakannya selama dia di kota B dengan secepat kilat.
Saat dia sudah berada di dalam mobil yang dikendarainya, hal pertama yang ada di pikiran James adalah langsung menghubungi Elenora.
"Ele... per favore prendi il telefono, ti prego." (Ele... tolong angkat teleponmu, aku mohon). James bergumam dengan nada memohon.
Begitu handphone Elenora tidak bisa dihubungi, James segera mengecek jadwal penerbangan ke Italia.
"Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum penerbangan ke Italia, harusnya Ele masih berada di dalam lokasi bandara." James berkata sambil pandangan matanya memastikan memang benar bahwa jadwal penerbangan satu-satunya yang tersisa hari itu ke Italia baru akan terbang 1 jam lagi.
Setelah itu, James beberapa kali mencoba lagi untuk menghubungi Elenora, namun tidak juga ada respon, dan dari suara operator telepon menyatakan bahwa telepon yang sedang dituju sedang tidak aktif, membuat James semakin frustasi.
"Sial!" James memaki keras sambil melemparkan handphone yang dipegangnya ke kursi yang ada di sampingnya.
Beberapa kali James tampak memukul-mukul setir mobil yang ada di depannya dan sesekali menjambak rambutnya dengan wajah memerah menahan emosinya.
Takut, marah, sedih, kecewa, khawatir, bercampur aduk dalam dada James, yang beberapa saat kemudian, membungkukkan tubuhnya, lalu menumpangkan dahinya ke atas kedua tangannya yang sedang memegang erat setir mobil.
"Ele... apa kamu benar-benar ingin meninggalkanku? Apa kamu benar-benar membenciku?" James menjauhkan tubuhnya dari setir mobil, menyandarkan punggungnya pada sandaran mobil, dengan kepala bersandar dan mendongak, sambil salah satu lengan tangannya menutupi kedua matanya yang sudah mulai basah.
Apa yang harus aku lakukan jika kamu benar-benar meninggalkanku Ele? Bagaimana aku harus hidup tanpamu? Ele... aku mohon, aku sungguh sangat mencintaimu. Tolong aku, jangan pernah meninggalkanku lagi...
James berkata dalam hati dengan wajah yang terlihat begitu menyedihkan, bahkan kali ini dia tidak bisa lagi menahan airmata yang mulai turun membasahi pipinya.