My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
OBSESI MENGERIKAN DARIO (2)



Hal itu sudah menjadi sebuah ritual yang rutin dilakukan oleh Dario di setiap kesempatan yang ada.


Memandangi lukisan wajah Cladia sambil berangan-angan, sampai Dario merasa puas, sambil memikirkan cara agar secepatnya dia bisa merebut Cladia dari sisi Ornado.


"Seperti anggur yang dari aromanya saja sudah membuatku dapat membayangkan begitu nikmatnya rasa anggur yang akan memabukkan untukku ini.... Bagiku, hanya dengan memandangi gambar cantiknya wajahmu, sudah membuat pikiranku melayang, dan membuat hatiku bahagia karena  memikirkan bahwa suatu hari, kamu akan duduk di sampingku sebagai wanita milikku." Dario kembali bergumam pelan, dengan matanya menatap ke arah gambar lukisan sosok Cladia, dengan senyum tersungging di wajahnya, seolah-olah yang ada di hadapannya saat ini bukan hanya sekedar lukisan Cladia, namun sosok asli Cladia.


“Cladia Sanjaya….” Dario berbisik pelan menyebutkan nama Cladia, dengan suara mesra, diikuti dengan dadanya yang mulai berdegup dengan kencang, setiap kali pikirannya teringat akan Cladia.


Karena setiap kali hanya dengan membayangkan sosok Cladia, bagi Dario, itu sudah bisa membuat dadanya berdegup dengan kencang dan otot-otot pada tubuhnya menegang.


“Kamu tidak pernah tahu betapa besarnya cintaku padamu….” Dario menghentikan kata-katanya sambil tangan kirinya yang bebas memegang dada kirinya yang masih berdebar keras.


"Datanglah padaku, atau aku akan menghancurkan semua orang yang ada di dekatmu, sampai kamu berlari padaku, lari ke ke dalam pelukanku, dan mencari perlindungan dariku." Dario berkata sambil tersenyum menyeringai, mengucapkan kata-kata yang jelas terdengar seperti sebuah ancaman, dan itu dilakukan dengan begitu serius oleh Dario.


"Kalau kamu tidak datang padaku, dan ada yang berusaha menghalangiku untuk menjadikanmu milikku, aku akan membuat kehidupan mereka seperti anggur dan gelas ini." Sebuah kata-kata berisi peringatan kembali terdengar dari bibir Dario.


Dan setelah mengucapkan kata-katanya itu, Dario mengangkat gelas burgundy berisi wine di tangannya, sampai melewati bagian atas kepalanya, lalu dengan gerakan pelan dan santai, dilepaskannya gelas yang masih berisi red wine itu, sehingga jatuh di lantai dan pecah berkeping-keping, dengan red wine yang ada di dalamnya ikut berserakan membasahi sekaligus mengotori lantai.


Melihat pecahan gelas yang ada di lantai, Dario bangkit berdiri, dan dengan keras diinjaknya pecahan kaca itu dengan sepatunya.


“Akh….” Suara pekikan kecil dari gadis muda yang menjadi asisten rumah tangga Dario, membuat Dario langsung menarik nafas panjang, dan tanpa menoleh mata Dario tampak melotot.


Gadis muda itu terpekik kaget, karena tanpa sengaja melihat bagaimana Dario menginjak pecahan gelas dengan tatapan mata yang terlihat mengerikan dan aura ingin membunuh terasa begitu pekat terlihat pada sosok Dario.


Asisten rumah tangga yang baru bekerja pada Dario selama seminggu itu tentu saja merasa kaget sekaligus ngeri, melihat bagaimana majikannya yang biasanya terlihat ramah dan selalu tersenyum, tiba-tiba saja melakukan tindakan yang baginya terlihat ekstrim dan sedikit menakutkan.


“Dante!” Suara teriakan Dario yang menggelegar langsung terdengar memenuhi seluruh ruang kerja miliknya, dimana dia masih berdiri dengan posisi kaki masih menginjak pecahan gelas berisi red wine itu.


Tangan kiri Dario dengan cepat meraih remote dan menggeser kembali layar televisi besar itu untuk menutupi kembali lukisan Cladia.


Sejak awal Dario memiliki lukisan itu, dia tidak pernah membiarkan seorangpun melihat lukisan itu, kecuali Dante yang saat itu mendapatkan tugas khusus darinya untuk melakukan packing untuk mengurus pengiriman lukisan itu dari Italia ke Indonesia.


“Ya Tuan Dario.” Dengan sikap hormat, laki-laki yang tadi dipanggil dengan nama Dante itu segera berkata sambil membungkukkan tubuhnya di depan Dario, menunggu dengan sikap hormat apapun yang akan diperintahkan oleh tuannya itu.


“Dia sudah berani masuk ke ruang kerjaku dan melihat wajah calon nyonya rumah ini. Kamu tahu apa yang harus dilakukan untuk itu!” Dario berkata sambil kakinya sedikit diangkat, untuk kemudian dengan keras disentakkannya kea rah lantai dimana pecahan gelas itu berada, membuat terdengarnya kembali suara kaca yang diremukkan.


Tanpa menunggu diperintah untuk kedua kalinya, atau dijelaskan apa yang harus dilakukannya terhadap asisten rumah tangga itu, Dante berjalan mendekat ke arah gadis muda itu, dan dengan kasar, dijambaknya rambut gadis itu dan langsung diseretnya keluar.


“Aduhh…. Ampun Tuan… ampun…. Saya tidak sengaja masuk ke sana dan melihat lukisan itu! Ampun Tuan!” Dengan menahan kesakitan gadis itu berteriak memohon ampun kepada Dante yang tetap menyeret gadis itu dengan menjambak rambutnya.


Walaupun gadis itu berteriak kesakitan berulang kali dan memohon ampun, tapi Dante tetap bersikap tidak perduli dan bertindak seperti orang tuli.


“Lancang! Beraninya melihat wajah calon nyonya besar di rumah ini!” Dario berteriak keras sambil lengan tangannya bergerak memukul apa saja yang ada di atas meja di depannya hingga beberapa gelas, vas bunga dan juga beberapa hiasan meja berupa replika berbagai buah-buahan segar berjatuhan ke lantai.


Benda-benda itu sebagian rusak ataupun pecah akibat tindakan Dario akrena kemarahannya.


Beberapa diantaranya bahkan terlempar cukup jauh dan menghantam benda lainnya, seperti meja, dinding dan juga kursi, menimbulkan suara ribut yang terdengar cukup keras dari luar ruang kerja Dario.


(Replika adalah sebuah salinan yang sama persis dengan bentuk asli dan fungsi dari alat, barang atau benda  lainnya. Replika biasanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dalam bidang sejarah, pembelajaran, ataupun untuk keindahan. Replika juga dibuat untuk berbagai macam tujuan misalnya, untuk souvenir, hiasan, interior rumah atau barang dagangan (merchandise). Menurut Tesaurus Bahasa Indonesia, sinonim replika adalah tiruan, artifisial, bajakan, bikinan, buatan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata replika adalah duplikat. Arti lainnya dari replika adalah tiruan.


Beberapa penjaga yang mendengar teriakan Dario, maupun suara benda-benda pecah atau saling bertabrakan memilih untuk tetap diam, seoalh tidak mendengar apapun.


Para pelayan yang mendengar suara-suara itu, dengan wajah tertunduk menahan ketakutan, memilih untuk segera berlalu pergi, tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.


Apalagi belum lama berlalu sejak beberapa dari mereka melihat bagaimana dengan sikap kasar dan tidak perduli Dante menyeret salah satu pelayan yang tadinya sengaja datang ke ruang kerja Dario untuk mengantarkan paket yang baru saja datang dan tanpa sengaja melihat sesuatu yang harusnya tidak dilihatnya, karena Dario tidak menyukai jika orang lain mengetahui bagaimana dia yang begitu terobsesi pada Cladia, dan begitu tergila-gila pada sosok istri Ornado itu.


Di depan orang lain, Dario selalu berusaha tampil baik, hati, ramah, dan sabar, berusaha begitu rapat menyembunyikan sosok dirinya yang kejam dan tidak pernah memaafkan kesalahan sekecil apapun yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.