My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
TO BE CONTINUE?



Tubuh Elenora tersentak kaget saat bibir James menyentuh bibirnya.


Untuk pertama kalinya, Elenora mendapatkan sebuah ciuman di bibirnya, membuatnya tanpa sadar berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah James.


Apalagi sejak kejadian malam itu, Elenora memang sengaja menjaga jarak dan tidak mau berhubungan dekat dengan makhluk yang dinamakan pria.


Namun tangan James yang berada di tengkuk Elenora menahan kepalanya agar tidak menjauh darinya, seolah mengerti bahwa Elenora masih merasa tidak nyaman dengan tindakannya itu.


“Ti amo Ele… ti amo….” James berbisik pelan dengna bibirnya masih menempel di bibir Elenora, dan tangannya yang lain, yang masih memeluk pinggang Elenora mulai mengelus pelan pinggang bagian belakang Elenora.


Pernyataan cinta James, dan juga gerakan lembut tangan James yang berusaha menenangkannya, membuat Elenora berusaha keras mengatur nafas dan dadanya sebisa mungkin.


Bagaimanapun, Elenora sadar bahwa dia yang begitu mencintai James, harus bisa melawan ketakutannya, dan meyakinkan dirinya bahwa James yang juga mencintainya, tidak akan pernah melukainya.


Perlahan namun pasti, James bisa merasakan bahwa tubuh Elenora tidak setegang tadi, dan mulai membiarkan James menikmati rasa manis bibirnya.


Hah…


Elenora melenguh dalam hati karena tindakan James yang mencium bibirnya semakin dalam, membuat tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, membuat dadanya bergetar begitu hebat membuatnya ingin berhenti, tapi di sisi lain, dia tahu dia menikmati ciuman dari laki-laki yang dicintainya itu.


Melihat reaksi Elenora yang mulai membiarkan dirinya melakukan lebih dari sekedar mencium sekilas bibirnya, bibir James muai sedikit menjepit bagian bawah bibir Elnora, yang membuat tanpa sadar Elenora sedikit membuka bibirnya, dan membiarkan lidah James mulai sedikit demi sedikit memaksa masuk dan memberikan sensasi yang membuat Elenora kembali menahan nafasnya, membuat pikiran dan hati Elenora melambung tinggi, dipenuhi dengan rasa bahagia yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


Elenora yang mulai membiarkan James menciumnya semakin dalam dan panas, membuat tangan James bergerak pelan mengelus bagian belakang tubuh Elenora, namun semakin naik ke atas, dan begitu menyentuh slider resleting gaun Elenora, tanpa sadar, tangan James berusaha untuk membuka resleting itu dengan menurunkan slider tersebut.


Sampai sebuah nada dering dari handphone James memecah keheningan diantara James dan Elenora yang masih menikmati ciuman hangat mereka.


Mendengar suara handphone James, serta merta Elenora tersentak kaget dan menjauhkan tubuhnya dari James yang wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya karena seseorang sudah berani mengganggu waktu berharganya dengan Elenora.


“James… ada yang menelpon.” Elenora berkata pelan dengan mata memandang ke arah celana jeans yang dikenakan James, dimana handphonenya disimpan di salah satu saku celananya itu.


Dan dengan wajah memerah, Elenora langsung mengalihkan pandangan matanya, saat tanpa sadar dia melihat ada bagian dari celana yang dikenakan James terlihat menonjol, tidak seperti biasanya.


James mengomel dalam hati dengan wajah frustasinya, setelah seseorang mengganggu kegiatan manisnya bersama Elenora yang sudah membuat tubuhnya hampir saja kehilangan kendali, namun dia tahu, bahwa bukan hanya tubuhnya, hati dan pikirannya juga begitu menginginkan untuk bisa melakukan hal yang lebih intim bersama Elenora.


Dengan wajah frustasi, James mengambil handphone yang ada di sakunya, dan begitu melihat nama Ornado yang ada di layar handphone itu, membuat James tiba-tiba menelan ludahnya.


“Hallo Ad….” Dengan cepat James menjawab panggilan telepon itu, tanpa menunjukkan suara parau karena nafasnya yang sedikit memburu.


“Kamu perlu waktu berapa menit lagi untuk bersiap menemui kami? Yang pasti, jika yang akan kamu lakukan bersama Elenora sesuatu yang akan menghabiskan waktu tidak sebentar, sebaiknya kamu urungkan dulu niat kalian berdua. Lanjutkan saja nanti malam. Aku tidak mau menunggu selama itu.” Perkataan Ornado membuat wajah James memanas dan sebentar kemudian tampak memerah.


“Ah, kami hanya berbincang saja….”


“O ya? Kalau begitu sekarang juga buka pintu kamar yang kalian tempat, karena orangtua kalian sudah berdiri di depan pintu kamar, menunggu kamu menjelaskan semua yang sudah terjadi.” Mata James langsung terbeliak sempurna mendengar kata-kata Ornado.


“Ad… kamu pasti sedang bercanda. Bagaimana kamu tahu mereka semua ada di depan pintu kamar?”


“Haist! Kamu ini! Pasti karena matamu hanya mencari Elenora tadi, sehingga tidak tahu bahwa aku dan amore mio ada di tempat ini juga! Kamu pikir aku akan melewatkan kesempatan untuk melihatmu membayar semua perbuatanmu pada Elenroa?” Kali ini, bukan hanya mata James yang terbeliak, namun mulutnya ternganga karena kaget mendengar kata-kata Ornado barusan.


Sial! Semuanya pasti rencana Ornado. Tidak ada yang bisa membuat rencana sesempurna ini jika itu bukan sepupu gilaku itu. Hah… tapi melihat hasilnya, aku tidak tahu apakah aku harus marah atau justru harus banyak berterimakasih padanya.


James berkata dalam hati dan terdiam untuk beberapa saat.


“Sudahlah, terima saja nasibmu. Sekarang bisakah kamu membuka pintu kamar kalian? Atau kamu masih butuh sedikit waktu untuk….” Ornado berkata dengan nada tidak sabar karena tidak ada suara dari James untuk beberapa saat.


“Tung… tunggu sebentar. Biarkan kami bersiap-siap dahulu.” James langsung menanggapi perkataan Ornado dengan cepat, dan langsung menutup panggilan teleponnya dengan Ornado.


“Cih… dasar si James… dia benar-benar tidak tahu berterimakasih. Harusnya tadi aku membiarkan orang mendobrak pintu kamar itu.” Ornado berkata pelan sambil mengulum senyum geli di wajahnya.


Paling tidak, dari pembicaraannya barusan dengan James dan dari nada suara James yang terdengar santai dan justru sudah terdengar ceria seperti biasanya, Ornado tahu bahwa James dan Elenora sudah berhasil menyelesaikan masalah dan kesalahpahaman diantara mereka selama bertahun-tahun ini.