My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
TIDAK BISA BERKELIT LAGI



“Beraninya kamu menyangkal semuanya, sedang bukti ada di depan mata! Kamu ini mau membodohi siapa? Kamu benar-benar mengecewakan kami Serafina! Heh!” Suara papa Elenora terdengar menggelegar, memenuhi ruang makan siang itu.


Karena emosinya, papa Elenora merasakan bagaimana dadanya yang bergetar hebat, dengan kepalanya yang terasa pening dan tenggorakannya terasa kering karena terus berteriak sedari tadi.


"Elenora... Elenora... katakan pada mereka bahwa itu semua tidak benar...." Serafina memanggil-manggil nama Elenora sambil mendekat ke arah Elenora, kembali berjalan menggunakan kedua lututnya, untuk menarik simpati semua orang yang ada di sana, termasuk Elenora.


Karena bagi Serafina, jika Elenora mau membelanya, yang lain pasti akan berhenti memojokkannya, termasuk kedua orangtuanya dan juga James.


Begitu sampai di dekat Elenora, Serafina menarik tangan Elenora dan menggenggamnya dengan erat.


"Elenora! Kamu harus menjelaskan kepada papa dan mama bahwa itu tidak benar! Aku tidak mungkin melakukan sesuatu untuk mencelakaimu! Katakan Elenora! Katakan pada mereka bahwa yang mereka tuduhkan itu salah!" Serafina berkata dengan nada memelas, membuat Elenora langsung menoleh ke samping, dan memandang ke arah James, seolah meminta pendapat James apa yang harus dia lakukan dengan permintaan Serafina barusan.


Melihat tatapan mata Elenora kepadanya, James langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan sikap tegas, memberi tanda bahwa sebagai suaminya, James tidak mau Elenora kembali menutupi kesalahan kakaknya itu.


"Para preman itu, mereka benar-benar para preman yang berusaha menyerangku hari itu. Aku ingat betul wajah mereka semua. Untuk siapa yang sudah memberi mereka perintah kepada mereka untuk mencelakaiku, aku tidak tahu. Tapi jika bukti percakapan itu benar, dan itu memang diambil dari history nomer handphone Kakak, aku tidak bisa mengatakan apapun tentang hal itu. Sepertinya Kakak yang lebih bisa menjawab tentang hal itu." Elenora berusaha menjawab dengan bijaksana.


Dan jawaban itu membuat Serafina kembali melotot karena Elenora terlihat mengakui tentang keberadaan para preman itu dan setuju bahwa percakapan itu benar antara para preman itu dan Serafina.


Dan pernyataan Elenora itu, meski hanya tersirat, akan membuat posisi Serafina benar-benar berada di ujung tanduk.


"Elenora! Aku tidak mengenal mereka! Jangan membuatku tersudut dengan kata-katamu barusan!" Serafina berkata kepada Elenora sambil melotot ke arahnya.


Suatu hal yang biasa dilakukan oleh Serafina jika dia ingin agar Elenora merasa tertekan, takut, dan terpojok, sehingga selalu bisa membuat Elenora pada akhirnya menuruti apapun yang dia mau dan sudah tetapkan, karena merasa terintimidasi.


Tapi sayangnya Serafina kali ini benar-benar lupa, jika untuk sekarang ini, di sisi Elenora, berdiri laki-laki kuat yang siap melindungi Elenora kapanpun  juga.


Dan laki-laki itu, bukan laki-laki biasa yang bisa dianggap remeh atau dibodohi oleh Serafina, karena lagi-laki itu adalah James Xanderson, bukan orang sembarangan, yang bisa dengan mudah diinjak dan disingkirkan oleh Serafina, seperti orang lain.


"Hentikan sikap pura-pura baikmu itu Serafina!" James berkata sambil menarik tangan Elenora, sekaligus berusaha menepiskan tangan Serafina agar menjauh dari tangan Elenora.


"Pa, sakit Pa!"


"Tolong lepaskan Pa!"


"Ampun Pa!"


Beberapa kali Serafina memanggil-manggil papanya, dan berusaha untuk meminta agar dilepaskan.


Tanpa menoleh ke arah Serafina yang memohon ampun, papa Elenroa tetap berjalan menjauhi Elenora dan James, dengan sikap tidak perduli, bahwa tindakannya itu membuat Serafina sempat terjatuh, dan dengan susah payah dia berusaha berdiri dan mengikuti langkah-langkah lebar papanya ke ruangan lain.


Papa Elenora sengaja melakukan itu, sebelum James semakin marah melihat tindakan kurang ajar kakak perempuan Elenora, kepada istrinya, dan tindakan Serafina yang terus berusaha untuk menyanggahnya.


Papa Elenora sadar betul dengan konsekuensi yang akan lebih mengerikan jika yang mengatur tentang hukuman Serafina diserahkannya kepada orang lain, terutama James.


Jika dia yang melakukannya, paling tidak hukuman yang akan dia berikan pada Serafina tidak akan membahayakan mental maupun jiwanya, itu yang sekarang sedang terbersit dalam pikiran papa Elenora.


Elenora yang melihat itu, sedikit menggerakkan tangannya ke arah Serafina, berniat untuk membantunya, namun tangan James dengan cepat bergerak untuk menghalanginya.


"Biarkan papa yang mengurusnya ti amore, papa pasti lebih tahu hukuman apa yang terbaik untuk Seafina supaya dia bisa berubah." James berkata pelan di dekat wajah Elenora, yang langsung menarik nafas panjang, mengambil sikap pasrah, karena tidak adalagi yang bisa dia lakukan berkenaan dengan Serafina.


“Sepertinya acara makan siang kita akan tertunda beberapa saat lagi, karena tidak mungkin kita meninggalkan papa dan memulai makan siang tanpanya.” James berkata sambil melirik ke arah kamar Serafina, dimana kamar itu sekarang sedang tertutup rapat, namun sayup-sayup, baik James maupun Elenora dapat mendengar suara teriakan-terikan kemarahan dari papa Elenora.


“Kalau begitu, kita bisa berbincang dulu di teras depan rumah, sambil menunggu mereka.” Elenora berkata sambil berniat berjalan ke arah depan rumah, ketika dirasakannya pergelangan tangannya ditarik lembut oleh James, sengaja untuk menahan gerakan Elenora yang akan pergi meninggalkan ruang makan.


Gerakan James, mau tidak mau membuat Elenora menoleh dan menatap ke arah James yang sedang menatapnya dengan begitu mesra, yang untuk beberapa lama ini, selalu saja dia dapatkan dari laki-lakinya itu.


Dan sikap manis dan mesra dari James itu sungguh membuat dada Elenora selalu berdetak dengan begitu kencang.