
Melihat respon Cladia yang hanya terdiam sambil mengernyitkan dahinya untuk beberapa waktu, Dario sedikit mendekat ke arah Cladia dengan senyum ramah terlihat di wajahnya.
Melihat bagaimana Dario yang berniat mendekati Cladia, dengan cepat Ornado berjalan ke arah Cladia dan berdiri di sampingnya sambil merengkuh bahu Cladia dalam pelukannya, membuat Dario menghentikan gerakannya secara tiba-tiba.
Tanpa sadar, mata Dario fokus dan menatap tajam ke arah tangan Ornado yang sekarang sedang memeluk erat sosok Cladia.
"Dario Benigno. Apa kamu mengingatnya amore mio? Dulu ketika kita masih kecil dan aku masih tinggal di Indonesia, beberapa kali dia ikut papa Alberto ke Indonesia dan bermain bersama kita." Ornado langsung menjelaskan siapa Dario kepada Cladia yang memandang ke arah Ornado yang berusaha menjelaskan siapa Dario kepadanya.
"Dia kakak angkatku." Ornado menyempurnakan penjelasannya kepada Cladia.
"Maaf Dario, karena kejadian buruk 5 tahun lalu yang dialami Cladia, yang pernah aku ceritakan dulu, banyak ingatan tentang masa lalu Cladia yang hilang." Melihat Cladia tidak memberikan respon walaupun Ornado berusaha menjelaskan siapa Dario, membuat Ornado berusaha menjelaskan kondisi Cladia.
"Sayang sekali, aku tidak menyangka kejadian hari itu berdampak sedemikian besar terhadap Cladia. Laki-laki itu memang layak membusuk di penjara." Dario berkata dengan senyum ramah masih menghias wajahnya.
"Maaf, mungkin ke depannya aku akan berusaha lebih keras untuk mengingatnya. Aku hanya bisa mengingatnya samar-samar." Cladia berkata sambil membalas perkataan Dario dengan senyum di wajahnya, membuat Dario sedikit gugup tanpa disadari oleh siapapun, termasuk Ornado dan Cladia sendiri.
Selalu terlihat cantik dan menarik. Cladia Sanjaya, bahkan saat ini kamu terlihat jauh lebih cantik dari yang terakhir bisa aku ingat tentang kamu.
Dario berkata dalam hati sambil menatap dalam-dalam ke arah Cladia, sampai dilihatnya wajah Cladia yang merasa tidak nyaman, membuat Dario langsung menggerakkan tubuhnya, kembali mendekat kepada yang lain yang masih berdiri di belakangnya, sebelum dadanya berdegup lebih kencang karena melihat sosok cantik Cladia, yang sudah begitu lama tidak dilihatnya secara langsung.
Kenapa dengan Dario? Kenapa hari ini sikapnya tampak sedikit aneh?
Mau tidak mau Ornado yang selalu peka terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, pada akhirnya menyadari sikap Dario yang telihat sedikit aneh saat bertemu dengan Cladia.
Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku harus mengerti bahwa istriku memang wanita yang cantik dan menarik, yang bisa saja membuat orang yang baru bertemu dengannya terkagum-kagum. Lagipula Dario jelas-jelas tahu Cladia adalah istriku, wanita yang sejak dulu memang sudah ditetapkan oleh kedua orangtua kami untuk menjadi istriku di masa depan sejak kami masih kanak-kanak. Dia tidak mungkin memikirkan sesuatu yang aneh-aneh tentang Cladia.
Ornado mencoba berpikir positif, walaupun dari dalam hatinya yang paling dalam merasa tidak nyaman dengan cara Dario memandang Cladia sebelumnya.
"Ah, ok silahkan duduk semuanya, supaya kita bisa mengobrol santai. Sekalian kalian bisa beristirahat setelah perjalanan jauh." Ornado mengarahkan tangannya ke jajaran sofa di ruang tamunya untuk mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Ornado sendiri segera mengajak Cladia untuk menyusul semua tamunya duduk di ruang tamu rumahnya yang terlihat mewah.
Setelah itu Ornado langsung memperkenalkan kepada Cladia orang-orang yang hadir di sana.
Akan tetapi karena waktu itu begitu banyak tamu, membuat Cladia tidak bisa mengenali mereka satu persatu. Ditambah lagi hampir semua yang hadir bagi Cladia adalah wajah-wajah baru yang belum pernah bertemu dengannya.
Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk mengobrol dan dilanjutkan dengan makan bersama, Orando sedikit mengernyitkan dahinya mendengar 3 kamar yang dipesan oleh Alberto sebelumnya tidak sesuai dengan prediksinya.
Ketiga kamar itu ternyata diminta Alberto untuk Elenora dan kedua orangtuanya, Alberto, dan Dario, sedang mama James berencana menginap di presidential suit room dimana James tinggal di salah satu hotel terbesar di kota itu.
Sesuatu yang tidak disangka oleh Ornado, karena sebelumnya dia tidak mengetahui tentang rencana Dario yang ikut bersama mereka bekunjung ke Indonesia.
"Kenapa denganmu Ad? Apa kamu keberatan kakakmu ini menginap di sini?" Melihat ekspresi dari Ornado, tanpa basa basi Dario segera bertanya, membuat Ornado langsung tersenyum.
"Tentu saja tidak. Itu benar-benar sebuah pemikiran yang konyol. Setelah lama kita tidak bertemu, tentu saja aku senang sekali kamu mau menginap di rumahku. Kita bisa menghabiskan waktu mengobrol bersama seperti dulu saat kita masih kanak-kanak." Ornado dengan cepat menanggapi perkataan Dario yang lagi-lagi disambut oleh senyum ramah dari Dario.
Sejak kecil, sosok Dario dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Tidak ada orang yang tidak menyukai Dario meskipun itu adalah orang yang baru dikenalnya, karena sikap ramah dan kemampuannya bersosialisasinya.
Sifat Dario sedikit berbeda dengan Ornado yang sejak dulu cenderung bersikap dingin dan acuh tak acuh, dan tidak perduli dengan apa kata orang.
Ornado bukan orang yang bisa bersikap hangat dan cenderung tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, kecuali dengan orang-orang yang membuatnya merasa nyaman, seperti para sahabat dan keluarganya, terlebih lagi jika itu Cladia, dia akan secara otomatis selalu bersikap lembut dan hangat.
"Eh, bolehkah aku juga menginap di sini Ad?" Tiba-tiba saja James menyelutuk, membuat yang lain langsung menoleh ke arahnya dengan wajah heran.
Matilah aku, mereka pasti berpikir karena keberadaan Elenora maka aku ingin menginap di sini, padahal sama sekali bukan itu alasannya. Aku memutuskan untuk ikut menginap di sini karena Dario yang juga berencana menginap di sini.
James berkata dalam hati sambil meringis melihat wajah orangtua Elenora, apalagi mamanya yang terlihat begitu senang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh James.
Sekilas James melirik ke arah Elenora yang memilih untuk diam dan berpura-pura sedang serius mengamati dan menikmati keindahan sekaligus kemewahan interior ruang tamu rumah milik Ornado.
"Hah, sejak rumah ini dibangun, belum pernah sekalipun Ornado mengajakku untuk menginap di sini. Bolehkan Ad, kali ini aku menginap di sini? Mumpung ada mama juga yang menemaniku. Jangan khawatir, aku tidak akan meminta dua kamar. Biar mama tidur bersamaku agar kami bisa puas mengobrol." Mendengar perkataan James, Carina langsung menepuk paha James dengan tatapan mata terlihat berbinar-binar karena bahagia.
"Tentu saja, rumah ini selalu terbuka untukmu James. Bukankah sedari awal aku pernah mengatakan bahwa kamu seharusnya memang tinggal di rumah ini bersamaku daripada di hotel? Aku menawarkan apartemen, kamu juga tidak pernah mau dengan alasan lebih simple hidup di hotel." Ornado langsung mengiyakan permintaan James tanpa berpikir panjang, membuat wajah bahagia pada Carina semakin terlihat jelas.
Apalagi malam ini Carian sudah membulatkan tekadnya untuk menjelaskan kepada James tentang rencana perjodohannya dengan Elenora. Dan bukan hanya itu saja, untuk mendekatkan James dan Elenora, bahkan Carina berencana meminta Ornado agar mengijinkan Elenora bekerja di kantor Bumi Asia untuk sementara waktu ini.