
“Eh, ada tugas yang harus aku selesaikan di tempat ini.” Dengan cepat Elenora menjawab pertanyaan Dodi, dan berusaha mengalihkan perhatiannya kepada sosok James, yang terlihat serius sedang berjalan masuk ke arah kantin sambil berbincang dengan staff senior itu.
“Memang ada tugas apa yang membuatmu harus rela meninggalkan negara kelahiranmu dan bekerja di tempat ini?” Alex langsung menyambung pertanyaan dari Dodi.
“Mmm… tugas dari keluargaku. Maaf, aku tidak bisa menceritakannya, karena itu bersifat terlalu pribadi. Antara aku dan kedua orangtuaku.” Elenora berkata dengan pelan, berharap bisa berkelit dan mereka semua tidak terus mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan lain tentang keberadaannya di Indonesia.
“Ok, ok. Kalian jangan memaksa Elenora untuk menjelaskannya.” Tina langsung menengahi begitu melihat Elenora mulai terlihat tidak nyaman.
“Permisi…” Dodi hampir saja melanjutkan bicaranya ketika tiba-tiba seorang pelayan sudah berada di dekat meja mereka, membawa nampan berisi makanan yuang sudah dipesan oleh Tina tadi, sebelum Dodi dan Elenora datang bergabung.
“Ah, iya, silahkan….” Tina segera menjawab perkataan pelayan dan membiarkannya meletakkan ke atas meja, piring yang berisi sajian makan siang dari nampan yang dibawanya.
James yang berjalan tidak jauh melewati meja dimana Elenora bersama yang lain duduk, sempat melirik sekilas ke arah meja itu begitu mendengar kata-kata pelayan kantin itu.
Sepertinya aku terlalu berpikir keras tentang Elenora. Aku kira dia akan kesepian saat makan siang hari ini. Ternyata ada beberapa teman yang sudah mengajaknya makan siang. Hah… rugi sekali tadi aku sempat khawatir bagaimana nasib gadis culun itu di perusahaan ini. Bahkan dia bisa makan siang bersama teman-teman barunya dan juga…. Alex? Aneh sekali, bagaimana dia bisa mengenal sosok Alex yang biasanya tidak suka makan bersama yang lain di kantin?
James berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangannya dari meja yang sedang dipakai oleh Elenora.
James berusaha mengalihkan pikirannya dari Elenora dan mencari tempat duduk yang tidak jauh dari yang mereka berempat tempati.
Kedatangan James cukup menyita perhatian dari beberapa pengunjung, karena boleh dibilang, James dan Ornado, merupakan sosok pemimpin yang jarang sekali menginjakkan kakinya di kantin.
Semakin siang, pengunjung kantin semakin ramai, dan mau tidak mau beberapa mata orang terpaku dengan kehadiran tiga staff baru yang duduk bersama dengan Alex, karena James, mereka tahu tidak ada yang perlu dipertanyakan karena dia sedang makan siang bersama salah satu staff senior, dan itupun sama-sama pria.
Beberapa mata langsung melirik dengan wajah bertanya-tanya ke arah meja dimana mereka berempat duduk.
Beberapa pandangan itu menunjukkan berbagai ekspresi, ada yang iri, kagum, heran, atau bahkan penasaran.
Alex yang mereka kenal selama ini sebagai kepala keamanan, dan salah satu pegawai yang dikenal karena ketampananan dan postur tubuhnya yang sempurna di perusahan Bumi Asia, biasanya jarang sekali terlihat makan siang bersama pegawai wanita yang lain.
Dibanding makan siang dengan teman-teman wanitanya, Alex akan lebih memilih menghabiskan makan siangnya dengan anak buahnya di departemen keamanan yang boleh dibilang 90 persennya merupakan pegawai laki-laki.
Kalaupun Alex memiliki anggota tim perempuan, Alex akan makan bersama mereka jika memang ada acara khusus yang melibatkan hampir semua tim keamanan yang ada di bawahnya.
Warna baju seragam safari milik Alex yang berwarna hitam, kontras dengan kulitnya yang putih bersih, membuatnya selalu mencuri perhatian para wanita di sekelilingnya.
“Elen, bagaimana? Apa menu makan siang ini cocok dengan seleramu?” Mendengar pertanyaan dari Dodi, Elenora langsung menganggukkan kepalanya pelan.
“Lumayan, aku tidak terbiasa makan nasi, tapi setelah mencobanya, ternyata cukup enak, dan aku suka.” Elenora berkata sambil tersenyum kea rah Dodi, membuat mau tidak mau Alex yang duduk tepat di depannya ikut tersenyum, melihat bagaimana manisnya senyum Elenora yang terlihat tulus.
Alex baru saja berniat membuka pembicaraan dengan Elenora ketika dirasakan handphone di saku pakaian safarinya bergetar karena adanya panggilan masuk.
“Selamat siang Pak Alex. Sepertinya ada sedikit kendala dengan komputer staff di ruangan akuntan. Mereka tidak bisa terhubung dengan server.” Suara di seberang sana terdengar langsung memberikan penjelasan kepada Alex tentang masalah yang sedang terjadi.
“O, minta tim IT untuk memeriksa sambungan kabel LAN yang menghubungkan server dengan router di kantor mereka. Kemarin ada laporan tentang kabel LAN yang putus di sana dan seseorang berusaha memperbaikinya. Aku khawatir, perbaikannya belum sempurna.”
(Kabel LAN atau yang kepanjangannya adalah Local Area Network merupakan kabel yang digunakan untuk menghubungkan berbagai perangkat seperti router, komputer, TV, dan lainnya. Kabel LAN biasa disebut dengan kabel utp adalah kabel yang berguna untuk menghubungkan beberapa komputer/perangkat dalam area yang terbatas contohnya seperti rumah, kantor, laboratorium, perkantoran, tanpa perlu menggunakan media external seperti flashdisk, hardisk, dan lain-lain, hal ini biasa disebut dengan sharing file).
“Baik Pak, saya akan segera mengirimkan orang untuk melakukan pengecekan ulang. Segera akan saya kirimkan report ke Bapak begitu pengecekan dilakakukan. Selamat siang Pak.”
Begitu panggilan telepon antara Alex dan anak buahnya terhenti, Elenora yang tadinya sedang menikmati makannya, tanpa sadar memnadang ke arah Alex dengan taptan mata terlihat berbinar.
Entah kenapa, jika ada pembicaraan menyangkut tentang komputer, membuatnya langsung tertarik. Dan pandangan mata Elenora itu ditangkap dengan jelas oleh Alex.
“Elenora, apa kamu mengerti tentang jaringan komputer?” Pertanyaan Alex sempat membuat Tina dan Dodi merasa kaget kenapa tiba-tiba Alex menanyakan hal seperti itu kepada Elenora.
“Su… suka. Suka sekali. Dulu ketika di kampus, aku sering bergabung dengan teman-teman jurusan IT untuk mengotak-atik program komputer dan sistem jaringan komputer.” Jawaban Elenora membuat Alex tersenyum.
“Menurutmu, apa yang mungkin terjadi sehingga membuat komputer tidak bisa connect dengan server?” Tiba-tiba saja Alex memebrikan pertanyaan kepada Elenora.
“Mungkin karena ada pengkodean yang salah, atau bisa jadi, ada kabel LAN yang putus.” Elenora menjawab dengan cepat.
“Kemarin memang ada perbaikan kabel LAN, tapi hari ini koneksi tetap bermasalah walaupun kabel yang putus sudah ditemukan.”
“Coba cek kabel UTP, apakah pemasangan urutan warna kabelnya sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.” Jawaban Elenora membuat Alex menyungingkan senyum lebar di bibirnya.
“Wah, hebat sekali, jarang ada perempuan yang menguasai jaringan komputer sebaik kamu. Di departemenku, perempuan hanya ada di bagian keamanan secara fisik. Tapi, untuk keamanan di bagian IT, semuanya pria.” Alex memuji Elenora dengan wajah terlihat kagum, membuat Elenora hanya bisa tersenyum dengan sikap canggung.
Gadis ini benar-benar tidak terduga. Semakin aku tahu tentangnya, dia terlihat semakin menarik. Semoga ke depannya kami bisa semakin dekat karena sama-sama memiliki ketertarikan tentang hal yang sama.
Alex berkata dalam hati sambil meraih gelas berisi jeruk hangat di depannya dan meminumnya sedikit.
“Ah… itu bukan sesuatu yang istimewa.”
Bahkan aku sudah terbiasa memblokir jaringan komputer, meretas data dan sistem keamanan komputer serumit apapun, bahkan memanipulasi data atau memulihkan data yang sudah dihapus. Sayangnya kalau keluargaku tahu kemampuanku itu, justru mereka akan menghalangiku, karena mereka ingin aku menjadi seorang gadis kantoran yang berkutat dengan administrasi atau pengolahan data.
Elenora melanjutkan kata-katanya dalam hati, sambil mempertahankan senyuman di bibirnya.
Gadis polos itu, tentu saja tidak ingin memamerkan kemampuannya yang selama ini begitu dia simpan rapat-rapat dari semua orang.