
Mendengar perkataan Elenora, Fred langsung menganggukkan kepalanya.
"Tidak masalah Nona, dan mohon untuk tidak menggunakan bahasa formal ada saya jika tidak ada orang lain. Rasanya canggung, dan saya merasa saya menjadi orang yang tidak punya sopan santun." Perkataan Fred dijawab dengan sebuah anggukan kecil oleh Elenora.
"Nona, ada baiknya, Nona menghubungi pak Ornado untuk memberitahukan apa yang terjadi, dan juga meminta ijinnya untuk pergi dengan tiba-tiba meninggalkan kantor. Dan mungkin... Nona bisa menghubungi pak James juga...." Elenora sedikit tersentak mendengar perkataan Fred.
Karena sibuk dengan pikirannya yang kalut, Elenora benar-benar tidak terpikir untuk meminta ijin pada Ornado, dan memberitahukan pada James tentang kepergiannya.
Meskipun hubungan Elenora dan Ornado cukup dekat, dan posisinya sebagai sekretaris James, Elenora tahu bagaimanapun Ornado adalah bos besarnya, dan dia harus meminta ijin pada Ornado untuk pulang ke Italia, sebagai bentuk sopan santun dan menghargai hubungan mereka sebagai atasan dan bawahan.
"Hallo Elenora. Apa ada yang bisa aku bantu?" Suara sapaan hangat dari Ornado langsung terdengar begitu Elenora melakukan panggilan pada Ornado.
"Maaf Ad, karena buru-buru aku tidak sempat meminta ijin padamu. Fred sekarang sedang mengantarku ke bandara. Aku harus berangkat ke Italia sore ini. Mamaku sakit...."
"Tenanglah Elenora. Aku sudah dengar dari Fred. Tenangkan dirimu. Semoga semuanya baik-baik saja. Pastikan saja kamu tidak panik. Tidak ada gunanya kamu panik, justru akan membuat pikiranmu kacau. Afro juga baru saja menghubungiku, memberitahukan kondisi di sana." Ornado berkata sambil tangannya memeluk erat tubuh Cladia yang duduk di sampingnya, dengan bersandar pada bahu Ornado.
"Sekarang fokus saja pada perjalananmu ke Italia. Hal lain di sini biar aku yang mengaturnya." Elenora menarik nafas panjang mendengar kata-kata Ornado.
"Terimakasih untuk pengertianmu Ad."
"Santai saja Elenora. Sebentar lagi juga kamu akan menjadi anggota keluarga Xanderson setelah menikah dengan James." Ornado sengaja mengucapkan perkataannya itu agar pikiran Elenora tidak semakin kacau jika gadis itu tahu bahwa Ornado bahkan sudha mengetahui tentang pernikahan paksa antara dirinya dan James.
"Eh... iya... terimakasih Ad."
"Kalau begitu hati-hati di jalan Elenora. Semoga perjalananmu lancar dan mamamu segera sembuh. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan sekarang. Sampai bertemu kembali." Ornado langsung memutuskan panggilan teleponnya begitu selesai mengucapkan kata-katanya.
Begitu Ornado menutup panggilan teleponnya, dengan cepat Elenora berusaha menghubungi James.
James... dari tadi sulit sekali menghubungimu. Sepertinya dia sibuk sekali. Aku harus terus mencoba untuk menghubunginya dan memberitahukan padanya bahwa aku harus berangkat ke Italia sekarang. Aku harap dia tidak marah kalau sampai aku tidak memberithukan masalah ini padanya.
Elenora berkata dalam hati sambil terus mencoba untuk menghubungi James.
Tapi setelah mencoba puluhan kali menghubungi James, namun telepon yang dihubungi terus menerus dalam mode sibuk, akhirnya Elenora menyerah dan berencana menghubungi James nanti setelah dia selesai mengurus e ticketnya, untuk bisa mendapatkan boarding pass.
(Boarding pass adalah tiket untuk masuk ke dalam pesawat yang berisi informasi seperti nama penumpang, tujuan, nomor pesawat, boarding gate, bandara kedatangan hingga nomor tiket. Tidak hanya itu, pada boarding pass tersebut juga tertulis angka, huruf dan beragam kode yang memiliki artinya masing-masing. Dalam boarding pass tertera jadwal waktu yang mengharuskan penumpang sudah ada di boarding lounge, yang biasanya tertulis 30 menit sebelum keberangkatan. Boarding time atau waktu boarding adalah waktu calon penumpang dipersilahkan memasuki pesawat. Waktu boarding ini pada umumnya berkisar antara 30-45 menit sebelum pesawat lepas landas (take-off). Cara mendapatkan boarding pass dengan menyerahkan KTP dan print-out tiket pesawat atau kode booking ke petugas check-in. Setelah itu, Anda akan mendapatkan selembar boarding pass).
"Kenapa Nona Elenora terlihat gelisah? Apa ada masalah Nona?" Fred yang melihat Elenora beberapa kali menggigit bagian bawah bibirnya dengan keras, dengan wajah bingung langsung bertanya.
"Ini... sedari tadi aku berusaha menghubungi James berkali-kali, tapi tidak berhasil. Sepertinya dia sedang sibuk dan berada pada panggilan lain. Padahal waktu keberangkatan pesawatku sudah semakin dekat." Elenora berkata sambil memandang ke arah layar handphonenya yang menuliskan bahwa James masih dalam panggilan lain.
"Jangan khawatir Nona, saya yang akan memberitahukan pada pak James tentang kepergian Nona." Fred langsung menawarkan bantuan untuk membantu Elenora menyampaikan pesan pada James.
"Hati-hati Nona Elenora!" Fred sedikit berteriak karena dilihatnya Elenora sudah tidak lagi menoleh ke arahnya.
Ah, aku harus segera menghubungi James dan memberitahunya tentang kepergianku ke Italia.
Begitu Elenora sudah berada di dalam pesawat, Elenora berniat untuk menghubungi James kembali selagi pesawat belum mulai lepas landas.
Eh....?
Elenora terpekik dalam hati.
Keringat dingin mulai membasahi kening Elenora karena seberapa keras usahanya untuk menemukan handphone di tasnya, dia tidak bisa mendapatkannya.
Ke... kemana handphoneku?
Dengan wajah terlihat panik, Elenora merogoh tasnya, bahkan mulai mengeluarkan satu persatu barang yang ada di dalam tasnya ke atas pangkuannya, berharap handphonenya terselipsesuatu di dalam sana, sehingga dia bisa menemukan handphonenya dengan mengeluarkan isi tasnya satu persatu.
Tapi meskipun Elenora sudah mengeluarkan semua isi tasnya, dia tetap tidak bisa menemukan handphonenya.
Dengan gugup dan wajah terlihat pucat, Elenora bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar pesawat.
Namun masih beberapa langkah, gerakan Elenora langsung dicegah oleh salah seorang dari pramugari pesawat.
"Maaf Nona, Nona mau kemana? Nona harus segera kembali ke tempat duduk Nona." Dengan suara dan sikap ramah pramugari itu langsung berdiri tepat di depan tubuh Elenora.
"Eh, anu... handphoneku sepertinya tertinggal di ruang tunggu, aku mau mencarinya sebentar...."
"Maaf Nona, Anda tidak bisa melakukan itu karena pesawat sudah bersiap untuk lepas landas. Kalau Nona bersikeras untuk turun, Nona akan kehilangan kesempatan untuk terbang ke Italia hari ini." Tubuh Elenora rasanya langsung lemas begitu mendengar bagaimana sekarang dia harus memilih salah satu dari dua hal yang sama-sama penting.
Akhirnya dengan sikap pasrah, Elenora memilih untuk kembali ke tempat duduknya, dan memilih untuk merelakan handphonenya yang hilang entah kemana.
Hah! Sepertinya aku harus merelakan handphoneku. Semoga semuanya baik-baik saja dan tidak ada pesan penting yang aku lewatkan saat handphoneku tidak ada padaku. Dan semoga orang yang menemukannya tidak menyalahgunakan handphone itu.
Elenora terus mengucapkan harapan dan keinginannya dalam hati sambil sesekali memegang kepalanya yang terasa tidak nyaman karena semua kejadian yang dia alami hari ini.
# # # # # # #
"Haist! Benar-benar! Kenapa sepanjang siang ini banyak sekali panggilan telepon masuk ke handphoneku? Padahal seharusnya siang ini aku memiliki kesempatan untuk menghubungi Ele dan memberitahunya bahwa besok aku akan pulang." James menggurutu pelan, sambil bersiap menuliskan pesan pada Elenora ketika dilihatnya sebuah panggilan masuk dari Audrey terlihat di layar handphonenya.