
"Kamu benar-benar tidak bisa membawa diri di kelurga kita! Sejak kapan kamu menjadi orang kejam seperti itu? Kami berdua benar-benar tidak menyangka kamu bisa berbuat sejahat itu pada adik kandungmu sendiri!" Papa Elenora berteriak di depan wajah Serafina, sedang mamanya terlihat diam, berusaha menahan tangisnya.
Antara malu, kecewa, sedih, marah, jengkel, bercampur aduk dalam hati mama Elenora karena tahu bahwa Serafina ternyata selama ini sudah membuat hidup Elenora berada di bawah tekanan dan ancamannya.
"Elenora! Dia adalah adik kandungmu sendiri! Dia bahkan tidak pernah meminta sesuatu yang lebih dari yang sudah kamu miliki! Jikapun dia dilahirkan lebih cantik darimu! Itu karunia! Buat apa kamu mencemburuinya? Toh, dia tidak pernah mengganggumu! Apalagi merusak karirmu sebagai model! Sejak kecil, kamu memang memiliki bakat model, sedang Elenora! Dari awal dia tidak tertarik di dunia model, apalagi menjadi pesaingmu!" Papa Elenora mengomel panjang lebar kepada Serafina.
Jika ada orang lain yang cemburu atau iri terhadap Elenora, kedua orangtua Elenora masih bisa sangat mengerti tentang hal seperti itu.
Tapi ini adalah Serafina, yang merupakan kakak kandung Elenora, membuat tindakannya tidak dapat begitu saja bisa diterima oleh kedua orangtua Elenora.
Apalagi mendengar pembicaraan Elenora dan Serafina sebelum muncul, bahkan tidak ada sedikitpun kesan menyesal pada raut wajah Serafina tadi ketika mengingatkan dan mengancam Elenora tentang apa saja yang sudah dilakukannya, termasuk menyewa para preman untuk mengganggu Elenora.
"Selama bertahun-tahun! Elenora bahkan berusaha menyembunyikan kejahatanmu! Kamu bukannya bertobat, justru ingin melakukan kejahatan lagi pada adikmu!" Papa Elenora kembali berteriak dengan penuh emosi ke arah Serafina, yang mulai mencari akal agar papanya tidak memarahinya.
Mama Elenora hanya bisa diam terpaku di samping papa Elenora, tanpa bisa lagi mencegah airmatanya untuk turun dengan deras di pipinya.
Di satu sisi, mama Elenora merasa sayang pada putrinya, tapi di sisi lain, dia juga kecewa, marah dan sedih melihat anak yang dilahirkannya, dididik dengan baik, bertindak memalukan seperti itu.
"Pa, pasti ini semua adalah salah paham. Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Papa barusan." Serafina akhirnya berpura-pura bodoh, dan itu justru membuat papanya semakin marah karena menunjukkan bahwa Serafina masih saja berusaha berkelit dan tidak mengakui kejahatannya.
"Serafina! Kamu benar-benar keterlaluan! Kami sudah mendengar bagaimana kamu yang ternyata menjadi dalang yang sudah membayar para preman untuk menyerang adikmu! Bahkan hampir saja memperkosa adikmu kalau saja saat itu James tidak datang tepat waktu untuk menolongnya!" Perkataan papanya membuat Serafina tersentak kaget, dan kakinya mundur dua langkah ke belakang.
Hanya saja ketika itu, begitu Elenora pulang ke rumah dengan wajah dan dandanan acak-acakan, menjelaskan apa yang terjadi padanya, Serafina hanya berdiam diri tanpa berusaha melaporkan para preman itu, karena dia sendiri begitu ketakutan namanya akan ikut terseret dalam kasus itu, dan pasti membawa dampak buruk bagi karirnya di dunia model yang waktu itu masih baru dirintisnya.
Di samping itu, dengan jahatnya, Serafina berharap Elenora akan semakin tunduk padanya dengan kejadian itu, sehingga dia bisa terus mengendalikan Elenora sesuka hatinya, termasuk memaksanya untuk menyembunyikan kecantiaknnya, agar Elenora tidak bisa menyainginya.
"A... aku... itu... bu... bukan aku...." Serafina berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, wajahnya berubah sedikit pucat ketika papanya menyebutkan tentang dia sebagai dalang kejadian yang menimpa Elenora beberapa tahun yang lalu, dan juga tentang James yang sudah menolong Elenora waktu itu.
Jam... James yang sudah menolong Elenora waktu itu? Tap... tapi... bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa James ada di tempat itu? Padahal Elenora tidak datang memenuhi undangan dari James, tapi... kenapa James bisa ada di sana? Bukannya dia sedang menghadiri pesta ulang tahun temannya? Dan saat kejadian itu, pesta pasti belum lama dimulai. Apa James pulang lebih dahulu karena Elenora tidak datang bersamanya? Apa James... menyukai Elenora? Bagaimana bisa terjadi hal seperti itu? Apa istimewanya Elenora dibandingkan dengan aku? Kenapa James lebih memilih gadis culun itu?
Serafina sibuk berpikir dalam hati, dengan wajah terlihat tidak tenang, sampai dia tidak menyadari ketika James dengan sengaja, melemparkan map berwarna hijau ke arahnya, yang langsung terjatuh di lantai, dengan kondisi terbuka, sehingga menunjukkan apa yang ada di dalamnya.
Dengan gerakan cepat, tanpa sadar Serafina yang memandang ke arah map itu langsung berjongkok dan melihat lebih dekat apa yang ada di sana, juga membuka lembar demi lembar berkas-berkas yang ada.
Dan mata Serafina langsung melotot sempurna begitu melihat foto-foto para preman yang sudah dibayarnya waktu itu, beserta bukti percakapan antara dia dan pimpinan preman itu.
"Pa...." Serafina langsung berjalan ke arah papanya dengan menggunakan kedua lututnya.
Setelah itu Serafina langsung berlutut di depan kedua orangtuanya.
"Pa, kejadian itu sudah sangat lama, mungkin ada orang yang mencoba membuatku terlihat begitu buruk di depan kalian semua. Mungkin itu hanyalah sebuah rekayasa orang yang tidak menyukaiku." Perkataan Serafina sungguh membuat papanya semakin marah, karena Serafina tetap tidak mau mengakui bahwa dialah yang sudah melakukan itu pada Elenora.