My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
TIDAK AKAN MELEPASKANMU (3)



Setelah Elenora masuk ke kamarnya, dan pintunya benar-benar tertutup rapat, James baru masuk ke kamarnya sendiri, dan helaan nafas panjang langsung dilakukan oleh James.


“Italia? Ele akan kembali ke Italia dalam waktu dekat? Kenapa Ele mengatakan hal seperti itu pada Gavino? Kenapa dia ingin kembali ke Itlaia dalam waktu dekat?” James bergumam pelan sambil mengingat kembali perkataan Elenroa kepada Gavino yang sempat di dengarnya tadi, tanpa disadari oleh Elenora.


Pikirannya James benar-benar terganggu dengan hal itu. Bukan saja terganggu, tapi juga membuatnya bingung, khawatir, dan takut kalau-kalau Elenora benar-benar pergi ke Italia dan tak pernah kembali lagi padanya.


“Apa ini berkaitan dengan pernyataan cinta Gavino padanya? Apapun itu, aku harus bisa mencegah Elenora untuk melakukan hal itu padaku.” James berkata sambil membuka layar handphonenya, melakukan panggilan dengan seseorang, untuk mulai merencanakan sesuatu agar Gavino tidak lagi mendapat kesempatan untuk mendapatkan Elenora.


Kali ini, aku tidak akan pernah lagi membiarkan Elenora pergi dan menghilang dariku. Aku harus melakukan sesuatu agar Elenora tidak bisa lagi melakukan kebiasaan buruknya untuk selalu menghilang tanpa pesan dan berusaha melarikan diri.


James berkata dalah hati sambil menunggu seseorang yang jauh disana menerima panggilan telepon darinya.


“Buonanotte Signor Xanderson.” (Selamat malam Tuan Xanderson).


“*Buonanotte anche a me*Signor Marco.” (Selamat malam juga Tuan Marco). James segera menjawab sapaan hangat dari seseorang di seberang sana.


“Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu Tuan Xanderson?”


“Ah, kamu selalu saja bisa menebak apa yang aku inginkan Tuan Marco. Aku butuh sesuatu yang mendesak yang harus kamu lakukan sore ini juga.”


“Katakan saja Tuan Xanderson, saya pasti akan mengusahakan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk Anda.” James langsung tersenyum mendengar jawaban dari Marco, seseorang yang ada di Italia sana, yang sedang dihubunginya, untuk melancarkan rencananya agar Gavino tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendapatkan Elenora ke depannya.


“Aku perlu sore ini juga kamu mengirimkan seseorang padaku ke Indonesia. Atur penerbangan sore ini juga, agar besok dia bisa segera bertemu denganku. Dan aku tidak mau ada seorangpun yang mengetahui tentang keberangkatan orang ini. Selain itu, ada beberapa hal yang aku ingin kamu lakukan dengan baik dan teliti, juga tidak boleh ada kesalahan sedikipun.” James melirik ke arah jam di tangannya yang menunjukkan hampir pukul 6 sore.


“Katakan saja Tuan, siapa yang sedang Anda inginkan untuk Anda temui besok di Indonesia, dan juga apa yang harus saya lakukan untuk Anda. Saya akan segera mengaturnya dengan sebaik mungkin. Anda tinggal mengatakan kepada saya.” Lagi-lagi James tersenyum puas, yakin bahwa rencananya besok akan berjalan dengan lancar, sesuai dengan keinginannya.


# # # # # # #


Elenora yang sudah selesai mandi dan duduk termenung di atas pinggiran tempat tidur, sedang memikirkan tentang semua barang-barangnya yang sudah ada di apartemen, termasuk pakaian dan beberapa peralatan pribadinya.


Karena dia baru saja akan pindah ke sana, tidak banyak barang yang dia miliki, namun di sana ada beberapa barang yang baginya cukup berharga, termasuk jas milik James yang selalu saja disimpannya dengan baik, dan akan dibawanya kemana saja, saat dia bepergian jauh.


Untung saja tadi ketika Fred mengantarkan koper dan beberapa barang yang tadinya tergeletak di depan kamar apartemennya, dia justru menawarkan bantuan untuk emngambil barnag-barang yang ada di dalam kamar itu.


Bagi Elenora, tidak masalah jika barang-barangnya yang lain tidak bisa diambilnya hari ini, tapi untuk jas milik James yang baginya begitu berharga, jelas saja dia tidak akan pernah membiarkan dirinya kehilangan barang yang baginya sangat berharga itu.


Aku tidak tahu apa yang akan direncanakan James untukku besok, tapi aku harap, dia tidak melakukan hal seperti hari ini. Bagaimana sanggup aku membayar biaya sewa tempat tinggal yang baru, yang kalau menggunakan standarnya, pasti akan sangat mahal bagiku. Aku benar-benar ceroboh sehingga membiarkan diriku kehilangan uang cukup banyak untuk apartemen yang akhirnya tidka bsia aku tinggali itu.


Elenora berkata dalam hati, sambil mencoba mengingat dengan pasti, berapa kira-kira uang yang sedang ada di tabungannya saat ini.


Tapi berapa kalipun dia berusaha menghitung ulang, dia yakin bahwa jika James memilihkan apartemen lain untuknya, dia tidak akan sanggup membayar uang sewanya.


“Apa lebih baik aku menghubungi mama dan meminjam uangnya ya?” Elenora berkata dalam hati, mencoba memikirkan jalan keluar untuk masalah yang sedang dihadapinya.


Elenora masih berkutat dengan pikirannya ketika sebuah notifikasi pesan baru masuk terdengar dari hanpdhonenya.


Pesan dari James membuat Elenora tanpa sadar menarik nafas lega.


Selain masalah uang sewa apartemen, yang menjadikan pikiran Elenora suntuk sore ini adalah kondisinya yang berada dalam satu hotel dengan James.


Sedari tadi Elenora sudah memikirkan berpuluh alasan yang akan dia sampaikan pada James agar laki-laki itu tidak mengajaknya berangkat bersama ke kantor.


Meskipun mereka tidak berada dalam kamar yang sama, orang yang meihat mereka keluar dari hotel yang sama, dan naik mobil yang sama, pasti akan berpikir yang tidak-tidak tentang mereka.


Belum lagi, jika mereka datang bersama ke kantor, entah apalagi yang akan dibicarakan orang tentang mereka, dan Elenora merasa belum siap untuk menghadapi itu.


Tidak perlu repot-repot meminta bantuan pak Fred. Aku akan memesan taksi online untuk ke kantor besok.


Elenora langsung membalas pesan James untuk menolak diantar jemput oleh Fred.


# # # # # # #


Penampilan Elenora yang kembali pada cara berpakaiannya yang lama hari itu menjadi perbincangan hangat, dengan berbagai asumsi yang coba mereka utarakan tentang kejadian itu.


Beberapa orang, termasuk Dea, bahkan mencurigai bahwa Elenora sengaja berpenampilan beda ketika berlibur, karena ada laki-laki yang sedang berusaha dia tarik perhatiannya.


Meski mereka tidak menyebutkan nama, tapi beberapa dari mereka begitu mencurigai bahwa Elenora sedang mencoba merayu James, dan itu cukup membuat kesal beberapa pegawai perempuan yang mengidolakan James.


Sampai jam makan siang sosok James benar-benar tidak muncul di kantor. Dan karena kesibukannya, Elenora bahkan tidak sadar kalau jam makan siang sudah datang.


“Elen, ayo ke kantin.” Dodi yang sedari kemarin masih saja terpesona dan belum bisa melupakan penampilan cantik Elenora dengan pakaian modis yang dilihatnya kemarin, langsung mengajak Elenora begitu dilihatnya Elenora terlihat tidak perduli dengan jarum jam yang sudah menunjukkan waktunya untuk makan siang dan beristirahat, dan tetap sibuk di meja kerjanya.


“Kamu duluan saja, masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Aku akan menyusul nanti.” Elenora segera meminta Dodi untuk pergi, karena dilihatnya Tina juga sedang berjalan ke arah mereka, yang pastinya akan mengajaknya dan Dodi untuk pergi kantin, sebuah kebiasaan yang sudah beberapa lama ini mereka lakukan….


Makan bersama di kantin sambil menceritakan bagaimana pekerjaan mereka pada masa training ini.


Dodi dan yang lain baru saja meninggalkan ruangan, dengan Elenora yang sendirian di ruangannya, ketika Fred tiba-tiba datang, dan meminta Elenora untuk mengikutinya.


“Eh, Pak Fred, kita mau kemana?” Elenora tampak heran ketika Fred tiba-tiba saja membawanya ke kawasan apartemen paling mewah di kota itu.


“Pak James sedang menunggu Nona Elenora di sana bersama beberapa orang tamu yang harus Nona temui juga.” Perkataan Fred membuat Elenora mengernyitkan keningnya.


Setelah pagi tadi James sempat mengomelinya sedikit lewat pesan gara-gara Elenora tidak mau dijemput oleh Fred, mereka tidak berkomunikasi lagi sejak itu, sehingga Elenora tidak tahu kalau James ada di mana dan bersama siapa.


Begitu Fred mengetuk salah satu pintu apartemen, dan seseorang membukakan pintunya, dengan langkah ragu Elenora berjalan masuk ke apartemen yang terlihat sungguh luas dan sekaligus terlihat begitu mewah, dengan penataannya klasik yang mengingatkannya akan kota kelahirannya, Roma.


Saat Fred membawa Elenora masuk ke dalam, James tampak sedang berbincang dengan dua orang asing berwajah bule, dengan menggunakan bahasa Italia.


Yang membuat Elenora kaget, kedua orang itu memakai seragam yang menunjukkan identitas mereka sebagai orang commune (catatan sipil) dari Italia, yang salah satu tugasnya adalah melaksanakan pendaftaran serta menerbitkan akta pernikahan.