
Dan disertai dengan terdengarnya suara bernada ancaman, orang yang baru datang itu tanpa basi-basi, apalagi permisi langsung menendang perut laki-laki yang sedang mencekal lengan Elenora, menggunakan lutut kaki kanan+nya.
Begitu tubuh pemabuk itu terhuyung-huyung karena tendangan di perutnya, dengan gerakan cepat laki-laki yang baru datang itu meraih pakaian pemabuk itu, menariknya mendekat, dan kembali menendang perut laki-laki itu dengan lututnya lagi sampai beberapa kali.
Sampai akhirnya pria yang sudah menyelamatkan Elenora itu mengentakkan tangannya, dan melepaskan cengkeraman tangannya dari pakaian pemabuk yang tubuhnya langsung terjatuh dengan posisi tidur meringkuk di jalanan, dengan kedua tangan memegang erat perutnya yang kesakitan.
"Cih! Dasar laki-laki tidak berguna! Tindakanmu hanya mempermalukan kaum pria saja! Kamu menjalani hidupmu dengan sangat buruk dan memalukan!" Mendapatkan makian keras, pemabuk itu hanya bisa meringis tanpa bisa berbuat apa-apa, apalagi membalas tindakan orang yang sudah menghajarnya barusan.
“Ja…. James….” Dengan suara lirih, Elenora menyebutkan nama James yang langsung kembali menghajar laki-laki yang baru saja mencengkeram lengan Elenora itu dengan membabi buta, tidak perduli bahwa sebenarnya laki-laki yang sedang dihadapi oleh James sekarang bukanlah lawan yang seimbang bagi seorang James yang terlatih dalam hal beladiri, apalagi kondisinya tidak mabuk seperti pria itu.
Beberapa kali James menendang tubuh laki-laki itu, meskipun dia tidak lagi mengeluarkan seluruh tenaganya karena pemabuk itu sudah tergelepar tidak berdaya, namun wajah James menunjukkan bahwa laki-laki tampan itu sungguh belum berencana untuk berhenti menghajar lawannya.
“Ampun!” Suara teriakan kesakitan dari orang yang menerima tendangan itu tidak membuat James berhenti untuk menendang laki-laki yang sudah jatuh tersungkur itu, meskipun James sudah banyak mengurangi kekuatan tendangannya.
“Beraninya hanya dengan wanita lemah! Dasar laki-laki pengecut!” James berteriak sambil berdiri tepat di samping tubuh yang sudah tegeletak tidak beradaya itu, dengan mata memandang dengan tajam dan masih penuh dengan kemarahan.
Begitu melihat laki-laki itu akhirnya tergeletak pingsan, seolah baru sadar dengan kondisi Elenora, James segera menoleh da memandang ke arah Elenora yang terlihat berdiri mematung dengan kedua jari-jari tangannya saling bertaut seperti orang yang sedang berdoa.
Melihat sosok Elenora yang diam mematung dengan wajah bercampur antara khawatir dan ketakutan, membuat dada James berdetak dengan begitu kencang, seolah ingin rasanya dia menghajar kembali orang yang sudah membuat Elenora terlihat seperti itu.
James langsung berlari mendekat ke arah Elenora untuk memastikan bahwa Elenora baik-baik saja.
Di sisi lain, Ernest yang sudah berhasil melumpuhkan para pemabuk itu segera bergegas berlari ke arah Elenora dan James.
"Elenora..." Baik James maupun Ernest secara bersamaan memanggil nama Elenora dengan mata menyelidik, untuk melihat apakah Elenora terluka atau baik-baik saja.
Mendengar bagaimana Ernest menyebutkan nama Elenora, membuat dada James berdesir, tapi dia sadar bahwa dia tidak berhak marah karena Ernest juga sudah menolong dan melindungi Elenora dari para pemabuk itu.
Toh, hubunganku dengan Elenora hanya sekedar teman masa kecil, tidak lebih.
James berkata dalam hati, tetap bersikeras bahwa yang baru saja dia rasakan barusan tadi terhadap Ernest, bukan sebuah rasa cemburu.
Dan bagaimana dia menghajar laki-laki yagn sudah berani mencekal dan menarik lengan Elenora tadi bukanlah karena dia takut terjadi sesuatu terhadap wanita yang dicintainya, namun hanya sekedar rasa tanggung jawab kepada orangtua Elenora yang sudah menitipkan gadis itu selama dia berada di Indonesia.
Dengan sekuat tenaga, James masih saja berusaha untuk menyangkal perasaannya terhadap Elenora, meskipun rasa nyeri karena sikap ramah dan perhatian Ernest pada Elenora sangat menyiksa dan mengusik hatinya saat ini.
"Tuan James, maaf, saya tidak menjaga nona Elenora dengan baik, sehingga para pemabuk itu menyerangnya." Dengan perasaan bersalah, Ernest langsung meminta maaf kepada James, setelah menarik nafas lega, begitu melihat sosok Elenora yang sepertinya baik-baik saja.
Ah, Ernest mengatakan itu pasti karena waktu itu Ornado sudah memperkenalkan Elenora kepada mereka sebagai calon istriku.
James berkata dalam hati dengan senyum canggung terlihat di wajahnya, dan tanpa sadar, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, James merasa senang sekaligus bangga karena paling tidak, Ernest mengerti tentang posisi Elenora yang tidak bisa dengan seenaknya dia dekati.
Mendengar permintaan maaf dari Ernest, terus terang James merasa kikuk dan salah tingkah.
“Tidak masalah Ernest, yang penting sekarang Elenora baik-baik saja. Kamu sudah banyak membantu Elenora malam ini. Kalau kamu tidak ada di sini, entah apa yang terjadi pada Elenora. Dan entah bagaimana aku memberikan pertanggungjawaban kepada kedua orangtua Elenora.” Akhirnya dengan nada suara dia buat setenang mungkin, James mengucapkan terimakasihnya kepada Ernest yang langsung menganggukkan kepalanya dengan senyum ramah terlihat jelas di wajahnya.
"Kalau begitu, saya pamit permisi dulu Tuan James. Saya akan kembali ke Mozaic Ubud. Nona Elenora, semoga cepat sembuh." Ernest yang cukup tahu diri untuk tidak menjadi obat nyamuk diantara Elenora dan James, langsung berpamitan, dengan sedikit membungkukkan tubuh dan menundukkan kepalanya kepada James, setelah itu Ernest segera bergegas pergi menjauh.
James yang seolah baru sadar dengan kondisi Elenora setelah mendengar perkataan Ernest yang berharap Elenora segera sembuh, langsung memandangi wajah Elenora yang terlihat menundukkan wajahnya karena merasa kurang nyaman dengan tatapan James yang sepertinya masih menyimpan kemarahan dan kekesalan, membuat Elenora merasa dirinyalah yang sudah menyebabkan James marah dan kesal.
Haist! Kenapa gadis ini bisa dengan santainya membiarkan alerginya kambuh tanpa membawa obat atau pergi ke rumah sakit terdekat.
James mengomel dalam hati begitu melihat wajah Elenora yang dipenuhi dengan bentol-bentol berwarna merah yang sudah menyebar sampai ke lehernya.