My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PEMBERESAN DUA HATI (1)



Selamat tahun baru 2022. Semoga di tahun 2022 kita bisa lebih baik lagi dalam melakukan bagian kita. Semoga semua pembaca mendapatkan kesuksesan dalam banyak hal di sepanjang tahun 2022 yang akan kita jalani bersama. 🥰🥰🥰🥰🥰🥰


James melakukan itu tanpa perduli dengan pandangan heran Gavino dan juga para tamu undangan lain, termasuk kedua orangtua Elenora yang terlihat kaget dengan kedatangan James yang tiba-tiba, dengan wajah terlihat kusut, meskipun penampilannya tetap terlihat modis dan menarik, dengan pakaian kasual yang dikenakannya.


(Pakaian kasual adalah kode berpakaian Barat yang santai, sesekali, spontan dan cocok untuk penggunaan sehari-hari. Pakaian kasual menjadi populer di dunia Barat setelah budaya tandingan tahun 1960-an. Ketika menekankan kenyamanan pakaian kasual, ini dapat disebut sebagai pakaian santai. Pakaian kasual adalah pakaian yang memiliki bahan yang nyaman dipakai, tidak terlalu banyak detail dan desainnya sederhana namun tetap dapat menarik perhatian. Gaya pakaian yang terkesan ‘adaptif’ ini bahkan sering dipakai pada kegiatan-kegiatan formal, sehingga dapat disebut pakaian casual-formal).


“Ele, kita harus bicara, tunjukkan dimana kamarmu.” James berkata sambil menarik pergelangan tangan Elenora agar berdiri di sampingnya, dan dapat menunjukkan dimana letak kamarnya.


Seperti kerbau dicocok hidungnya, Elenora dengan patuh menunjukkan kamarnya kepada James, yang sebenarnya pernah tahu sekilas bahwa ruangan itu adalah kamar Elenora.


Tapi untuk saat ini, James tidak mau mengambil resiko, takut kalau tindakannya salah dan merusak semua rencananya hari ini jika dia salah masuk ke kamar orang lain.


"Eh... kalian...!" Mama James langsung menghentikan kata-katanya begitu pergelangan tangannya ditahan oleh suaminya.


"Biarkan mereka mengambil waktu sebentar untuk menyelesaikan masalah mereka berdua. Setelah itu, baru kita minta mereka memberikan penjelesan pada kita. lagipula, pesta masih berjalan. Jangan sampai orang luar melihat keributan dalam keluarga kita. Tolong beri muka pada para keluarga Xanderson." Papa Elenora segera berbisik pelan ke arah telinga istrinya, agar bisa menahan dirinya saat ini.


"Cih... kakakmu yang keras kepala itu akhirnya sadar diri juga dari sikap keras kepalanya. Semoga Elenora berbesar hati dan tidak menolaknya mentah-mentah." Ornado yang berdiri di samping Afro, dengan melingkarkan lengannya di pinggang Cladia dan berdiri agak di pojok ruangan langsung berkata setelah sedikit menyesap minuman di gelas piala yang ada di tangannya.


Sedari tadi, Ornado memang sengaja menunggu kedatangan James dan ingin melihat apa yang dilakukan sepupunya itu untuk meluluhkan hati Elenora.


Dan senyum puas langsung tersungging di bibir Ornado yang sengaja mengatur semua kejadian ini bersama Afro dan kedua orangtua James maupun orangtua Elenora karena merasa James sudah keterlaluan dalam bertindak.


Mereka semua sepakat dengan sengaja membuat Elenora mau kembali ke Italia, sengaja memisahkan James dan Elenora.


Setelah Ornado menerima panggilan telepon dari James kemarin siang yang menyatakan bahwa dia akan pergi dari kota B hari itu juga, Ornado langsung mengajak Cladia untuk terbang ke Italia.


Ornado sengaja menggunakan pesawat jet pribadi dari keluarga James yang sengaja dikirimkan Afro untuk menjemputnya, agar James bisa menggunakan pesawat jet pribadinya dan tidak curiga, jika James benar-benar menyusul Elenora.


Meskipun Ornado tahu pada akhirnya James benar-benar menyusul Elenora ke Italia, Ornado sengaja tidak memberitahukan hal itu pada keluarga Elenora maupun keluarga James, sehingga mereka cukup terkejut dengan kedatangan James yang tiba-tiba tadi.


"Melihat bagaimana besarnya cinta Elenora pada James, tidak mungkin dia menolak James. Kata seseorang yang pernah aku dengar, saat seseorang jatuh cinta, tidak mudah untuk membuat orang itu kecewa atau sakit hati kepada orang yang dicintainya, meskipun mungkin bagi orang lain tindakannya itu dibilang bodoh." Perkataan lembut Cladia yang menanggapi kata-katanya, membuat Ornado tersenyum dan menatapnya dengan pandangan hangat sekaligus mesra.


"Manis sekali kata-katamu amore mio. Beruntungnya aku karena wanitaku benar-benar mencintaiku seperti itu." Ornado berkata, dan langsung mencium lembut bibir Cladia tanpa perduli dengan Afro yang berdiri di sampingnya, langsung berdehem sambil mengalihkan pandangan matanya dengan senyum terkulum di bibirnya.


Tindakan manis dan mesra Ornado pada Cladia mau tidak mau membuat Afro teringat pada gadis yang sudah menjadi kekasihnya, yang tidak bisa hadir di pesta malam ini karena sebagai seorang artis terkenal, harus melakukan syuting film terbarunya.


Kekasih Afro, seorang artis papan atas dengan puluhan juta penggemar, yang dengan susah payah didapatkan Afro setelah mereka sempat menjalani hubungan seperti anjing dan kucing yang selalu bertengkar di setiap pertemuan mereka, karena pertemuan awal mereka dipenuhi dengan kesalah pahaman satu dengan yang lain.


# # # # # # #


"Jam... James... tolong... lepaskan... sakit..." Begitu masuk ke dalam kamarnya dan James menutup kembali pintu kamar Elenora, gadis itu berkata dengan sikap gugup, sambil berusaha melepaskan cekalan tangan James yang tanpa sadar memegang pergelangan tangannya dengan cukup erat, seolah takut Elenora akan lari darinya lagi.


Mendengar kata-kata Elenora, dengan gerakan cepat, James melepaskan tangan Elenora, dan segera membalikkan tubuhnya, sehingga berhadap-hadapan dengan Elenora.


“Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti tanganmu.” Dengan rasa bersalah, James berkata sambil melirik kea rah pergelangan tangan Elenora yang terlihat warna merah melingkar di sana.


“Ti… tidak masalah James…. Sebentar lagi bekas ini pasti hilang.” Elenora berkata pelan tanpa berani menatap ke arah James, yang kehadirannya masih bagaikan mimpi di siang bolong bagi Elenora.


"Mi manchi Ele...." (aku merindukanmu Ele). James berakta lirih, sambil kembali memeluk Elenora, yang tubuhnya tersentak kaget karena bagaimanapun dia masih merasa tidak nyaman berada terlalu dekat dengan pria, meskipun itu James, yang boleh dikata, bahkan memang belum pernah sedekat ini dengannya.


"James...." Dengan gerakan semampunya, dan suara gugup, Elenora berakta sambil berusaha mendorong tubuh James, menjauhkannya dari tubuhnya sendiri yang hampir saja kehabisan nafas kaena Elenora langsung menahan nafasnya begitu James memeluknya dengan erat, membuat dada James bergetar hebat karena berpikir bahwa Elenora tidak lagi menerima keberadaannya.


"Ele... maafkan aku...." Tiba-tiba saja James berkata dengan tubuh melorot ke bawah, berlutut dengan kedua kakinya di hadapan Elenora, dengan kedua tangannya meraih kedua tangan Elenora, dan menggenggamnya dengan erat, membuat Elenora terlihat kaget dan bingung dengan apa yang harus dilakukannya melihat James bertindak seperti itu.


"Ele... aku benar-benar sudah bersalah besar padamu. Maafkan aku Ele, karena tidak pernah perduli dengan apa yang terjadi padamu dan sibuk mengasihani diriku sendiri." James berkata dengan suara yang mulai parau karena menahan tangisnya.


Bagi James yang dibesarkan dalam keluarga Xanderson yang terbiasa memimpin dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, dihormati kemanapun dia pergi, hari ini dia tidak perduli jika dia sebagai pria yang hebat harus menangis di depan istri yang begitu dicintainya itu.