
Meskipun selama hampir dua minggu ini Elenora seringkali melihat kemesraan mereka berdua, sehingga pemandangan seperti hari ini bukanlah sesuatu yang asing bagi matanya.
Tapi tetap saja setiap Elenora melihat Ornado melakukan hal itu kepada Cladia, membuat Elenora merasa canggung dan wajahnya ikut memerah karena malu.
Bagaimanapun, Elenora adalah seorang gadis polos yang memang belum pernah berpacaran, apalagi mendapatkan perlakuan mesra seperti yang dipertontonkan Ornado padanya saat ini.
Sedang Ornado sendiri, tampak tidak perduli dan dengan santainya justru terlihat beberapa kali menarik nafas dalam-dalam, menikmati sensasi keharuman yang dimiliki oleh tubuh istrinya, dan juga menyandarkan dagunya di ceruk leher Cladia dengan sikap manja dan sekaligus mesra.
"Kamu sudah pulang Al?" Cladia berkata pelan sambil menolehkan kepalanya ke belakang, sehingga tanpa sadar justru memberikan kesempatan kepada hidung mancung Ornado untuk mencium pipi Cladia, meskipun hanya sekilas.
Melihat keberadaan Elenora, sebenarnya Cladia ingin sekali melepaskan diri dari pelukan Ornado karena merasa malu dengan Elenora.
Tapi godaan bau harum tubuh Ornado yang baru saja mandi membuatnya menelan ludahnya dan justru menarik nafas dalam-dalam, menikmati keberadaan laki-laki tampan yang menjadi suaminya itu.
Karena sejak kehamilannya, Cladia memang memiliki kebiasaan baru yang aneh. Begitu suka menciumi bau tubuh Ornado, terutama ketika Ornado baru selesai mandi.
Bagi Cladia, dengan melakukan itu, hatinya merasa begitu tenang dan juga bahagia, sebuah sensasi yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.
Yang pasti jika dia tidak melakukan itu jika ada kesempatan justru hatinya tiba-tiba akan terasa sedih, bahkan menangis jika dia dengan sengaja menahan dirinya sendiri untuk melakukan itu.
Belum lagi perutnya yang akan merasakan sedikit rasa nyeri jika hatinya mulai merasa sedih, membuat Cladia juga berusaha sebisa mungkin menjaga perasaan dan suasana hatinya demi bayi dalam kandungannya.
Meskipun bagi Cladia, dia sadar sepenuhnya hal itu menjadi suatu kebiasaan yang aneh jika ada orang yang melihat atau mendengar tentang kebiasaannya selama hamil itu.
Bahkan beberapa orang mungkin tidak percaya dan berpikir itu hanya akal-akalannya saja, hanya karena ini bermanja-manja terhadap suaminya.
Padahal tanpa bisa dia kendalikan, kebiasaan itu menjadi sebuah kebiasaan baru yang begitu sulit untuk ditahan oleh Cladia.
Kebiasaan Cladia yang tentunya membuat Orndo begitu bahagia tapi juga sekaligus pusing, karena harus pandai-pandai menahan gairahnya karena godaan dari Cladia yang dia tahu terjadi karena hormon kehamilannya.
Apalagi kondisi fisik Cladia yang selama kehamilannya memang tidak sesehat wanita hamil lain, membuat Ornado tidak bisa seenaknya, dan sesering yang dia mau untuk meminta jatahnya sebagai suami kepada Cladia.
Meskipun sejak Cladia menyerahkan dirinya kepada Ornado malam setelah acara pesta perkenalannya sebagai istri sah Ornado di Italia, sebenarnya setiap Ornado meminta jatahnya, Cladia tidak pernah menolak Ornado.
Tapi mengingat kondisi fisik Cladia, Ornado lebih memilih menahan diri daripada menyakiti istri dan bayi dalam kandungannya.
Melihat Ornado yang sedang memeluk tubuh Cladia, yang dari wajahnya, tampak terlihat begitu nyaman dalam pelukan Ornado itu, membuat Elenora tersenyum.
Elenora berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah bunga-bunga mawar, agar Cladia yang dia tahu merupakan wanita pendiam, tidak merasa malu atau sungkan karena keberadaannya di tengah-tengah kegiatan romantis dua orang itu.
"Eh, Al, apakah rencana besok akan berjalan sesuai rencana?" Akhirnya Cladia bertanya tentang rencana berlibur besok untuk sedikit mengalihkan perhatiannya dari keinginannya untuk terus mencium harum tubuh Ornado dengan bergerak sedikit untuk menjauhi tubuh Ornado yang dengan gerakan pelan melepaskan pelukannya setelah Cladia mengajaknya mengobrol.
"Ayo kita bicarakan rencana besok sambil duduk." Ornado berkata sambil tangannya mengelus lembut perut Cladia, setelah itu menggandeng tangan Cladia dan mengajaknya duduk di kursi taman, diikuti oleh Elenora yang langsung mengambil posisi duduk di depan Ornado dan Cladia, dipisahkan oleh sebuah meja kecil.
"Rencananya besok kita akan berangkat pagi ke Bali dengan pesawat jet pribadi. Aku ingin kita sudah berada di sana sejak pagi, saat rombongan Alvero mendarat di Bali pada sore harinya." Ornado berkata sambil memandang ke arah Elenora, dengna tangannya memeluk bahu Cladia dengan cukup erat, sambil mengelus-elus lengan atas tangan Cladia dengan lembut.
“Elenora, apakah kamu sudah menyiapkan diri dengan baik?” Ornado bertanya sambil menatap ke arah Elenora.
"Aku dengar James memilihmu sebagai sekretaris pribadinya untuk ikut berangkat ke Bali dan membantunya menyelesaikan meetingnya dengan pihak relasi bisnis kita yang sudah terjadwal." Elenora langsung menanggukkan kepalanya begitu mendengar perkataan Ornado.
"Benar Ad. Aku juga ingin menanyakan sesuatu terkait rencana kepergianku besok sebagai sekretaris James untuk membantunya. Karena ini mendadak, untuk masalah keberangkatan bagaimana? Apalagi tiket..."
"Haist... kenapa kamu meributkan hal-hal seperti itu? James sudah mengaturkan semuanya untukmu. Kamu akan berangkat bersama kami, sedang Alex dan timnya sudah berangkat malam ini untuk mengatur segala sesuatu yang diperlukan di sana." Ornado berkata sambil tangannya meraih jemari tangan Cladia dan memainkan jari-jari lentik istrinya itu, dengan sesekali mengelusnya, memijatnya lembut, atau menggenggamnya dengan sesekali matanya menatap mesra ke arah Cladia.
"Atau kamu ingin pergi bersama dengan tim Alex malam ini?" Mendengar pertanyaan Ornado, mata Elenora langsung tebeliak kaget, tidak menyangka Ornado akan menawarkan kepadanya hal seperti itu.
“Ah, kenapa aku harus pergi malam ini bersama Alex? Lagipula tidak ada yang bisa aku lakukan di sana mala mini.” Elenora menjawab pertanyaan Ornado sambil mengelus tengkuknya sendiri dengan wajah terlihat canggung.
"Kenapa? Aku dengar kalian sekarang berteman baik?" Ornado berkata dengan sikap santainya, sengaja ingin mengorek tentang bagaimana sifat dan pemikiran sebenarnya dari seorang Elenora, seberapa pentingnya posisi James bagi dirinya.
"Kami hanya berteman, tidak lebih dari itu. Lagipula, meskipun tidak semua orang tahu tentang rencana perjodohan kami, dan keputusan James belum jelas, aku tidak boleh bersikap sembarangan apalagi dengan laki-laki lain, sampai James memutuskan kelanjutan hubungan kami." Elenora berkata dengan nada pelan.
"Mmmm...." Ornado bergumam pelan mendengar perkataan dari Elenora.
Gadis yang sedang duduk di depannya itu cukup membuat Ornado salut. Dengan sikap James yang seenak perutnya, memandang remeh padanya, dan seringkali juga tidak menganggap penting rencana perjodohan mereka, Elenora tetap berusaha menjaga diri dan menghormati sosok James sebagai calon yang ditetapkan oleh kedua orangtuanya sebagai suaminya.
Meskipun keputusan akhir, tetap ada di tangan James.