
Lebih tepatnya, bagi Elenora, James tampak menakutkan dengan kemarahannya yang tiba-tiba saja muncul saat ini, sedang bagi James, Elenora tampak menyebalkan karena sudah menerima panggilan telepon dari Tina yang menitipkan salam manis dari Dodi.
"I... itu... Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya padamu." Elenora berkata sambil menunjuk ke arah James, membuat James langsung mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna apa yang sedang ingin dikatakan oleh Elenora padanya.
"Apa maksudmu Elenora?" James berkata dengan sikap tidak sabar.
"Maaf James, setelah ini biar aku yang mencuci pakaianmu...." Mendengar perkataan Elenora, dengan cepat James berjalan kembali ke dalam kamarnya, dan berdiri di depan cermin, dengan Elenora berjalan mengikuti di belakangnya dengan sikap ragu.
Begitu James melihat ke kaca, tidak ada apa-apa dengan pakaiannya, dengan gugup Elenora menunjuk ke arah punggungnya, membuat James menggerakkan tubuhnya ke samping, dengan kepala menoleh ke belakang, mencoba melihat apa yang ada di belakang punggungnya.
Mesti terlihat samar karena warna pelembab bibir Elenora memang tidak tajam, James bisa melihat samar-samar bentuk bibir menempel di sana.
Ah... ini... noda yang membentuk bibir Elenora?
James mendesis pelan diikuti dengan desiran halus yang timbul dalam hatinya begitu melihat tanda itu.
"Maaf James, tadi tidak sengaja aku mengotori pakaianmu saat menabrak punggungmu tadi." Mendengar perkataan Elenora, James langsung menjauhkan dirinya dari depan cermin, juga mengalihkan wajahnya dari jangkauan tatapan mata Elenora, untuk menyembunyikan senyum malu-malu yang tiba-tiba saja tersungging di bibir James.
Tanpa mengatakan apa-apa, James langsung berjalan ke arah tempat tidur.
"Elenora, tolong ambilkan pakaianku di lemari itu." James berkata dengan nada santai sambil tangannya menunjuk ke arah lemari dimana pakaiannya tergantung rapi di sana, dengan kepala tertunduk dan kedua tangannya bersiap melepas kancing pakaiannya.
Eh, dia tidak marah lagi? Aku sungguh beruntung hari ini, suasana hatinya segera membaik, meskipun aku tidak tahu karena apa.
Elenora bergumam dalam hati, merasa lega melihat James tiba-tiba saja sudah tidak lagi menunjukkan sikap marah padanya, wajahnyapun sudah tidak lagi terlihat tegang seperti sebelumnya.
"Pakaian yang mana? Warna apa?" Tanpa diperintah dua kali, Elenora langsung bertanya setelah mendekati lemari pakaian James, dan matanya mengamati pakaian resmi sampai dengan t shirt yang tergantung rapi di sana.
"Ambil saja satu, yang menurutmu cocok dengan warna celanaku dan pantas untuk menghadiri meeting pagi ini." Mendengar perkataan James, Elenora segera mengambil pakaian lengan panjang berwarna cerah, yang kira-kira cocok dengan celana jeans berwarna biru laut yang dikenakan oleh James.
Setelah melepaskan pakaian itu dari gantungan, Elenora langsung tersentak kaget begitu berniat berjalan ke arah James, yang ternyata tanpa merasa canggung, melepaskan pakaian yang dikenakannya, lalu melemparnya dengan sembarangan ke atas tempat tidurnya.
Tindakan James sukses membuat Elenora menahan nafasnya yang tiba-tiba terasa berat, karena melihat bagaimana tubuh atletis James, tanpa kain yang menutupinya, memperlihatkan bagaimana otot-otot tubuhnya yang terbentuk sempurna, dengan perut six packnya yang menunjukkan dia cukup aktif dalam berolahraga dan menjaga bentuk tubuhnya yang terlihat begitu mempesona sebagai seorang laki-laki, dan pastinya sanggup memanjakan mata para kaum hawa yang melihat bentuk tubuh idealnya itu.
Ya Tuhan... Kenapa James melakukan hal seperti itu di depanku? Bagaimana bisa aku menyerahkan pakaian ini padanya tanpa melihat ke arah tubuhnya yang bertelanjang dada itu? Dan menunjukkan bentuk tubuhnya yang terpahat seindah itu?
Elenora melenguh dalam hati sambil menelan ludahnya, dan salah satu tangannya memegang dadanya sekilas, yang berdetak dengan cepat tanpa bisa dia kendalikan.
Elenora langsung berjalan ke arah James perlahan, dengan wajah dipalingkan olehnya, jika tidak ingin dadanya berdebar dengan lebih kencang, karena melihat sosok James yang sedang bertelanjang dada, seolah sengaja sedang memamerkan otot-otot tubuhnya yang trebentuk dengan kerja keras tentunya.
Jika itu James, hati Elenora justru semakin berdesir, dan jantungnya berdetak dengan keras, sekaligus membuat wajahnya memerah.
Bukan ketakutan, justru rasa cinta yang semakin membuncah di dada Elenora, yang diikuti oleh rasa malu melihat James berpenampilan seperti itu.
"Elenora?" James hampir saja mempertanyakan kenapa Elenora begitu lama mengambil pakaian untuknya.
Tapi begitu melihat Elenora berjalan ke arahnya dengan sikap ragu, dengan tangan yang memegang pakaiannya terulur ke arahnya, namun wajahnya yang memerah berpaling ke samping, membuat James tersenyum geli.
Ah, aku lupa kalau gadis di depanku sekarang ini adalah gadis yang begitu polos dan pastinya kaget melihatku melepas pakaianku tanpa memperingatkannya terlebih dahulu. Meskipun dia tinggal di Italia, tapi gadis kampungan ini sepertinya memang benar-benar polos, seperti penampilannya selama ini.
James berkata dalam hati sambil matanya justru menikmati wajah memerah Elenora yang berusaha mengalihkan pandangan matanya dari sosok James.
Dengan wajah memerahnya, Elenora justru terlihat seperti gadis cantik yang pikiran dan hatinya masih begitu polos. Justru terlihat begitu menggemaskan, dan sungguh... terlihat sangat cantik dan mempesona....
Tanpa sadar melihat wajah dan sikap Elenora sekarang membuat James memuji Elenora dalam hati tanpa henti.
"Berikan pakaianku sebelum aku masuk angin." Dengan menahan senyum gelinya, James meraih pakaian dari tangan Elenora yang terulur ke arahnya tanpa berani melirik, apalagi memandang ke arah James.
Dengan cepat, James mengenakan pakaiannya, dan berjalan mendekat ke arah Elenora yang masih memalingkan wajahnya ke samping, dengan mata sedikit terpejam.
"Elenora, mau sampai kapan kamu begitu? Aku sudah selesai berpakaian." James berkata sambil menatap wajah Elenora yang masih menyisakan semburat merah di wajahnya, dan baru saja menarik nafas lega begitu mendengar James sudah mengenakan kembali pakaiannya.
"Ma... maaf James...."
"Kalau kamu terus meminta maaf, aku betul-betul akan marah padamu." James berkata pelan sambil mengancingkan kancing lengan panjangnya, agar terlihat rapi, tapi begitu melihat wajah Elenora sudah tidak lagi memerah, tanpa sepengetahuan Elenora, James justru sengaja melepaskan kembali kancing lengan panjangnya.
"Tolong kancingkan lengan pakaianku." Elenora langsung tersentak kaget mendengar perintah dari James, yang baginya akan membuatnya melakukan hal yang cukup intim dengan James.
Karena dengan mengancingkan lengan panjang pakaian James, mau tidak mau, Elenora harus berada dalam jarak yang cukup dekat dengan James, dan kemungkinan besar, tidak bisa menghindari dimana dia akan dia menyentuh pergelangan tangan James.
Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat kaki Elenora merasa lemas dan jantungnya berdisko ria di dalam sana.
“Kenapa denganmu Elenora? Apa sebagai sekretaris kamu tidak tahu kalau sebenarnya itu adalah salah satu dari tanggung jawabmu? Menyiapkan dan menata semua keperluan bosmu?” Walaupun dengan nada santai, James menegur Elenora begitu melihat gadis itu tetap diam di tempatnya dengan wajah bingung, harus bersikap bagaimana saat ini.
Mau tidak mau akhirnya Elenora bergerak pelan ke arah James, dengan wajahnya yang kembali menunjukkan semburat merah, membuat James meringis dengan wajah terlihat begitu senang tanpa diketahui oleh Elenora.