
James langsung tersenyum dan membuka kunci layar handphonenya, seperti seorang anak remaja yang sedang menunggu pesan dari gadis yang sedang di incarnya untuk dijadikannya seorang kekasih.
Maaf James, aku baru sempat membalas pesanmu, karena Audrey sepertinya mencurigai sesuatu tentnag aku. Aku baik-baik saja. Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, karena itu aku lebih memilih untuk beristirahat di apartemen saja setelah pulang dari kantor atau di hari liburku. Lagipula, Audrey juga memiliki seorang kekasih, mereka pasti sibuk dengan urusan mereka sendiri. Aku tidak mau menjadi seorang pengganggu.
Balasan pesan dari Elenora membuat James tersenyum senang, karena dari pesan yang tertulis, menunjukkan kalau Elenora tidak sedang bersama pria lain.
"Elenora benar-benar gadis rumahan yang tidak suka menghabiskan waktumu di luar rumah. Audrey punya seorang kekasih, dan kamu punya seorang suami, sayangnya kita masih terpisah jarak saat ini." James berkata pelan dengan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas karena memerah, membuat James menggerakkan tangan kirinya yang tidak memegang handphone, dan menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Setelah itu tangan James memegang kerah pakaian yang dikenakannya, memaju mundurkan sambil sesekali mengipas-kipaskan tangannya, karena tiba-tiba dia merasakan usaha di sekitarnya menjadi panas begitu dia memikirkan bahwa dia adalah suami sah dari Elenora, bukan sekedar kekasih yang masih harus membatasi diri dalam hubungannya dengan kekasihnya.
Suami? Benar... aku adalah suami Elenora, dan tidak ada seorangpun yang boleh menggeser dan menggantikan posisiku. Aku akan menjadi satu-satunya lelaki miliknya dalam kehidupan Elenora. Aku akan menjadi laki-laki yang akan bertanggungjawab penuh atas kehidupan Elenora selanjutnya. Laki-laki yang harus bisa menjadi pelindung dan juga sumber kehahagiaannya.
James berjanji pada dirinya sendiri dalam hati dengan sikap terlihat begitu optimis, bahwa dia akan bisa melaksanakan janji itu.
Kalau begitu, tunggu aku pulang, aku yang akan mengajakmu berjalan-jalan menikmati keramaian kota. Akan aku tunjukkan tempat-tempat indah yang ada di kota dimana kita tinggal. Restoran-restoran dengan makanannya yang enak, juga tempat perbelanjaan yang ramai di kota itu.
James langsung membalas pesan dari Elenora yang harus menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyum bahagia yang tesungging di wajahnya, agar Audrey maupun Dodi tidak melihatnya, dan berakhir dan akan mencercanya dengan berbagai pertanyaan yang akan sulit untuk dia jawab.
Kenapa beberapa waktu ini, sikap James banyak berubah? Apakah aku boleh berharap? Dia sudah mulai bisa menerima kehadiranku?
Elenora berkata dalam hati dengan perasaan tidak menentu, antara takut kecewa, khawatir, tapi juga penuh harap dan bahagia dengan perkembangan yang terjadi antara dirinya dan James akhir-akhir ini.
Sejak James memaksanya menandatangani surat nikah mereka, Elenora sadar bahwa James tidak lagi pernah membentaknya meski sekali.
Ah, sebenarnya perubahan James sudah dimulai sejak mereka pergi berlibur bersama Ornado dan yang lain di Bali, Elenora meralat ingatannya tentang sejak kapan James mulai berubah sikap padanya.
James juga tidak pernah lagi memasang wajah marah, galak maupun dingin padanya seperti sebelum-sebelumnya.
"Permisi Pak James...." Mendengar sapaan dari seseorang yang masuk ke ruangannya setelah mengetuk pintu rumahnya, James langsung menoleh.
"Masuklah kalian! Tunggu aku menyelesaikan urusanku sebentar." James berkata sambil fokus kembali ke rah layar handphonenya.
Ele, ada banyak hal yang harus aku lakukan sekarang. Kalau ada waktu senggang, aku akan menghubungimu kembali. Jaga dirimu baik-baik, aku akan segera pulang setelah menyelesaikan semuanya. Dan kita bisa melakukan semua hal yang tadi aku katakan padamu sampai puas. Saat aku kembali, kemanapun kamu ingin pergi, aku akan mengantarmu untuk pergi ke tempat itu. Jadi luangkan waktumu untuk mulai memikirkan kemana kamu ingin pergi, tempat apa yang ingin kamu kunjungi dan nikmati.
James mengirimkan pesan terakhirnya sebelum dia kembali sibuk dengan yang lain, karena James tahu, bisa jadi, bukan hanya dalam hitungan waktu menit atau jam, dia akan sibuk dengan pekerjaannya di tempat ini.
Dengan kesibukannya yang mengharuskan dia lembur setelah ini, rasanya akan sulit bagi James untuk bisa saling bertukar pesan dengan Elenora seperti yang sudah dia lakukan barusan.
Di seberang sana, tidak terlukiskan lagi bagaimana bahagianya Elenora mendapatkan pesan dari James yang menjanjikan padanya untuk mengajaknya berjalan-jalan, yang bagi Elenora, sudah seperti ajakan untuk berkencan dari James.
James? Mengajakku jalan-jalan? Apa aku sedang bermimpi? Kalau benar aku sedang bermimpi, aku harap aku tidak cepat-cepat terbangun. Aku ingin menikmati mimpiku sebentar lagi.
Elenora berkata dalam hati sambil mencubit lengannya dengan tangannya sendiri dengan cubitan yang cukup keras.
“Auw….” Dengan suara tertahan Elenora memekik pelan, karena merasakan sakitnya cubitan pada tangannya sendiri.
Namun, meskipun dia merasakan sakit, pada akhirnya Elenora tetap menyungingkan senyum, karena dia tahu apa yang barusan dialaminya, semua pesan-pesan dari James, semuanya adalah kenyataan, bukan sekedar mimpi belaka.
# # # # # # #
“Ad, negara ini sungguh memiliki banyak tempat yang begitu indah. Pantas saja kamu begiktu betah tinggal di negara ini.” Alvero berkata sambil menikmati pemandangan alam di depannya, yang baginya sungguh begitu indah.
“Kamu ini, ini hanya salah satu alasan kenapa aku begitu menyukai negara ini. Selain negara ini memiliki banyak tempat yang memang begitu indah, mamaku juga merupakan orang yang lahir dan besar di sini. Alasan terbesarku adalah wanita cantik dari negara ini yang sudah mengikat hatiku begitu erat, membuatku tidak bisa jauh dari negara ini untuk waktu yang lama.” Ornado berkata sambil melirik dengan tatapan mesra ke arah Cladia, dengan mempererat pelukan lengannya di tubuh Cladia yang berdiri di sampingnya.
Perkataan Ornado sukses membuat wajah Cladia memerah karena malu, sedang Alvero, Deanda, Dave dan Laurel langsung tersenyum mendengar dan melihat apa yang dilakukan oleh Ornado pada wanita tercintanya itu.