My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SEMAKIN TERPIKAT PADAMU



Sebelum Elenora masuk ke kantornya, James segera meraih gagang telepon yang ada di atas meja kerjanya, untuk menghubungi seseorang agar mengaturkan orang untuk membantunya melakukan sesuatu yang baru, yang tiba-tiba saja terlintas di pikirannya barusan.


Sebuah rencana yang bahkan mampu membuatnya mengulum senyum bahagia di wajah tampannya, karena membayangkan ke depannya dia akan memiliki lebih banyak waktu untuk mengamati sosok Elenora.


"Hallo, selamat pagi Pak James." Sebuah suara langsung tedengar tegas menjawab panggilan telepon dari James.


"Segera kirimkan empat atau lima orang untuk membantuku memindahkan meja kerjaku. Aku akan menata ulang peletakan meja kerjaku yang ada di kantor." James langsung memberikan perintah kepada orang yang baru menyapanya di seberang sana.


"Baik Pak James, akan segera saya aturkan."


"Eh, aku minta secepatnya, dalam waktu kurang dari 5 menit aku harap mereka sudah datang ke kantorku. Aku tunggu di kantorku sekarang." James kembali mengucapkan permintaannya yang lain dengan cepat.


"Siap Pak James!" Dengan percaya diri orang itu langsung menjawab perintah dari James.


"Oke kalau begitu, terimakasih." James menutup panggilan teleponnya dengan wajah terlihat puas, sambil matanya memandang ke arah jendela kaca yang ada di dekat pintu masuk ruangannya, mulai memikirkan apa yang akan segera dia lakukan jika bala bantuan sudah dalang.


Sebuah tempat yang selama beberapa waktu ini sudah menjadi tempat dimana dia selalu bisa mengamati sosok Elenora dalam diam.


Seperti permintaan James, kurang dari 5 menit, 5 orang dari bagian umum datang mengetuk pintu James, untuk membantunya memindahkan beberapa barang-barang di kantornya.


Sebentar kemudian, James berusaha menjelaskan kepada kelima orang itu, tentang apa yang sedang ingin dia lakukan para kantornya.


Setelah itu James segera memerintahkan kepada kelima orang itu agar memindahkan meja kerjanya yang awalnya ada di bagian barat ruangan, menjadi di bagian timur ruangan, tepat di dekat jendela kantornya.


Dimana jika James menoleh ke arah kanan sambil duduk di kursi yang ada balik meja kerjanya, dia bisa langsung melihat ke arah meja kerja Elenora, tanpa harus berjalan dari meja kerjanya ke arah jendela dan berdiri di balik jendela seperti biasanya.


Sebelumnya, James ingin langsung memindahkan meja kerja Elenora di dalam kantornya, tapi melihat bagaimana Elenora yang sedari kemarin berusaha untuk terus menghindarinya, James memilih untuk menahan keinginannya agar Elenora tidak semakin menjauh dan bersikap antipati padanya.


Karena itu, untuk sementara ini, James memilih untuk mengalah, membiarkan Elenora lebih tenang, dan berusaha menunjukkan ketulusan hatinya pada Elenora.


Aku tidak mau membuatmu merasa semakin tidak nyaman dan tertekan jika aku terus memaksakan kehendakku. Aku tahu pernikahan kita yang terkesan dipaksakan kemarin sepertinya membuatmu kecewa, dan justru membuatmu semakin menjauh dan menutup dirimu dariku, membuatku sulit untuk membuka tabir misteri yang terjadi pada masa lalu kita.


James berkata dalam hati sambil membayangkan sosok Elenora yang entah kenapa, sejak mereka sah sebagai suami istri, rasanya James merasa dirinya begitu sulit untuk mengendalikan dirinya agar tidak selalu mencari kesempatan untuk berada dekat dengan Elenora, atau setidaknya melihat sosok Elenora dalam jangkauan matanya.


Aku bisa benar-benar gila jika tidak sering-sering melihat keberadaanmu, memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Bahwa tidak ada laki-laki lain yang berusaha mencari alasan untuk dapat berada di dekatmu dan berusaha menyentuhmu, meskipun itu hanya sekedar sentuhan di dahimu.


James kembali berkata dalam hati sambil tangannya terus bergerak memberikan petunjuk dimana dan bagaimana kelima orang itu harus memindahkan dan menata ulang barang-barnag yang ada di kantornya.


Setelah itu, dengan bibir terus menyungingkan senyuman, James menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, sambil menoleh ke arah jendela kantor yang ada di sebelah kanannya.


Dari tempat itu, James bisa dengan santai menikmati pemandangan yang baginya terlihat begitu cantik, Elenora yang sedang sibuk meneliti berkas-berkas untuk diberikan pada James, dan menumpuknya rapi di depannya.


Untuk waktu yang cukup lama, James yang menyandarakan punggungnya di kursi kerjanya duduk dengan santai sambil mengamati Elenora, dengan sesekali menyunggingkan senyum tidak jelas.


Sampai pada akhirnya, Elenora tiba-tiba bangkit berdiri, dan meraih tumpukan berkas yang sudah dirapikannya, lalu berjalan ke arah kantor James.


Begitu James melihat Elenora sedang berjalan ke arahnya, dengan cepat James langsung menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi kerjanya, menariknya mendekat ke arah meja kerjanya.


Dan dengan sikap serius James duduk dengan posis tegak, sambil matanya memandang ke arah laptopnya, dengan tangan kanannya dengan cepat meraih pena di depannya, dan memainkannya dengan cara memutar-mutarnya melalui sela-sela jarinya.


"Masuk!" Begitu Elenora mengetuk pintu ruangannya, James segera menjawabnya.


Dan saat Elenora membuka pintu kantor itu, keningnya mau tidak mau langsung berkernyit, merasa sangat heran, karena biasanya, dia harus berjalan cukup jauh menuju meja kerja James yang berada lurus dengan pintu masuk kantornya, di bagian paling barat, tiba-tiba saja saat ini meja itu sudah berpindah di bagian paling timur, di dekat pintu masuk dengan posisi meja menghadap ke arah selatan.


"Eh...." Dengan sikap canggung karena merasa aneh dengan perubahan posisi meja kerja James, Elenora menyerahkan tumpukan berkas yang ada di pelukannya ke atas meja kerja James, yang langsung berpura-pura mengalihkan pandangan matanya dari layar komputer ke arah Elenora.


"Terimakasih. Duduklah dahulu. Ada beberapa hal tentang berkas ini yang harus segera kamu revisi jika ada perubahan." James berkata sambil memandang ke arah Elenora yang akhirnya dengan sikap ragu, sedikit menarik kursi yang ada di depannya dan mengambil posisi duduk tepat di depan James.


Namun setelah itu Elenora memilih diam, tidak mengatakan apapun pada James, tidak ingin memulai pembicaraan apapun.


“Ele….” Setelah beberapa saat James membaca semua berkas yang diberikan oleh Elenora padanya dan melihat tidak ada yang perlu untuk di revisi, James berniat mengajak Elenora kembali membicarakan tentang apa yang terjadi diantara mereka di masa lalu.


Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar sebuah dering nada panggilan di hadphone James, dimana nama Ornado tertera di layar handphonenya.


“Hallo Ad.” James langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.


“Hallo James.”


“Kenapa Ad? Apa liburanmu mengalami masalah? Atau ada yang ingin kamu ketahui? Untuk masalah server, seperti yang aku ceritakan sebelumnya, Elenora sudah menembahkan sistem keamanan di sana. Dan sampai sekarang semuanya berjalan dengan baik.” Elenora yang duduk di depan James, begitu mendengar James membicarakan masalah perusahaan dengan Ornado, Elenora bermaksud pergi untuk dapat kembali ke ruangannya, agar keberadaannya tidak mengganggu pembicaraan mereka.


Tapi, begitu Elenora berniat bangkit dari duduknya, dengan cepat tangan James memegang dan menahan tangan Elenora di atas meja kerjanya, membuat Elenora sedikit mengernyitkan dahinya dengan kaget, dan terpaksa duduk kembali di kursi yang tadi ditempatinya.