My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
UNDANGAN JAMES DAN ELENORA



“Ikut aku Audrey.” Tanpa merasa canggung, sambil membersihkan bibirnya dengan tissue, James meminta Audrey untuk mengikutinya, berjalan ke arah meja kerjanya, disusul oleh Elenora yang merasa penasaran dengan apa yang akan diperintahkan James untuk Audrey.


Di atas meja kerja James, terlihat sesuatu yang ditumpuk dengan rapi, dan jumlahnya cukup banyak.


“Bantu aku membagikan ini sesuai dengan nama yang tertulis di sana. Beberapa diantaranya untuk staff kita yang ada di luar kota. Tolong aturkan pengirimannya kepada mereka dengan segera.” James berkata dengan tangannya menepuk-nepuk tumpukan itu.


Yang membuat mata Elenora terbeliak, ternyata tumpukan itu adalah undangan perayaan pernikahan antara dia dan James, yang akan diadakan dua minggu dari sekarang.


Tumpukan undangan yang hanya melihat sekilas saja, Elenora tahu bahwa undangan itu terlihat begitu indah dan mewah.


Elenora benar-benar tidak menyangka kalau James akan menyiapkan hal seperti itu untuk mereka berdua, karena sebelum kembali ke Indonesia, keluarga mereka sudah melakukan pertemuan, dan membahan bahwa sebulan lagi mereka akan mengadakan pesta pernikahan James dan Elenora di Italia.


Wanita cantik itu hanya berpikir bahwa dia dan James akan melakukan pest aitu sekali saja di Italia, tidak berpikir bahwa James ternyata juga menyiapkan pesta pernikahan mereka di Indonesia.


Audrey yang awalnya juga terlihat kaget, langsung menyunggingkan senyum, ikut bahagia melihat undangan itu.


Akhirnya…, seperti dugaanku selama ini, mereka berdua memiliki hubungan istimewa. Selamat berbahagia Elenora. Sebentar lagi, orang-orang yang selama ini meremehkanmu pasti akan terkena serangan jantung.


Audrey berkata dalam hati sambil menghela nafas lega, dan ikut berbahagia.


“James….” Tanpa sadar bibir Elenora menyebutkan nama James tanpa embel-embel pak di depannya, membuat Audrey hanya bisa diam, berpura-pura tidak mendengar itu.


“Kenapa? Aku memang ingin pesta pernikahan kita juga dirayakan di Indonesia, bukan hanya di Italia. Sudah waktunya orang tahu kalau kita sudah menikah beberapa waktu yang lalu. Sebuah pernikahan patut dirayakan, bukan disembunyikan. Iya kan Audrey?”


“Men… menikah? Eh… itu… i… iya Pak James.” Dengan gagap, Audrey langsung menjawab pertanyaan James padanya, membuat James tersenyum geli, karena teringat bagaimana Elenora yang dulunya juga sering gugup dan gagap di depannya.


Meskipun Audrey sudah menduga adanya hubungan istimewa antara James dan Elenora, tapi dia sungguh tidak menyangka kalau kedua orang itu bahkan ternyata sudah menikah.


Audrey berpikir bahwa dua minggu lagi mereka akan mengadakan resepsi pernikahan, sekaligus pernikahan itu sendiri.


Tapi ternyata dua minggu lagi hanyalah sebuah pesta perayaan, sedangkan mereka sendiri sudah menikah.


Elenora sendiri tidak menyangka bahwa ketika mereka masih di Italia, James sudah meminta Fred untuk membuatkan undangan itu, dan James juga meminta agar undangan itu sudah siap di atas meja kerjanya saat dia kembali dari Italia bersama Elenora.


“Kalau begitu, saya bawa undangan ini untuk dibagikan sekarang ya Pak.” Audrey langsung meminta ijin untuk membawa tumpukan undangan itu.


“Oke, silahkan.” James membiarkan Audrey mengambil tumpukan undangan itu.


“Hah, kemana mereka semua? Mereka pasti sedang menggosip di ruang kesekretariatan.” Audrey bergumam pelan dan bergegas ke ruang kesekretariatan.


Begitu sampai di dekat pintu masuk ruang kesekretariatan, Audrey langsung menghentikan langkahnya, karena mendengar teman-temannya memang sedang menggosip.


“Apa kalian lihat tadi? Bahkan pak James membukakan pintu untuk perempuan cantik yang bersamanya tadi…. Sungguh manis dan romantis….”


“Ah, lega rasanya melihat pada akhirnya pak James memiliki seorang kekasih yang cantik seperti bidadari.”


“Memang kenapa kalau pak James kekasihnya biasa-biasa saja?”


“Tentu saja aku akan merasa menyesal, kenapa bukan aku yang dipilih. Toh, aku juga jauh lebih cantik dibanding dengan si culun Elenora.”


“Ha ha ha ha!”


Sebuah tawa nyaring langsung terdengar mendengar jawaban dari salah satu temannya yang mengolok-olok Elenora.


“Tapi ngomong-ngomong? Kemana ya Elenora? Terakhir aku dengar dia pulang ke Italia. Kok sampai sekarang belum kembali ya? Apa dia mengundurkan diri dari perusahaan ini?”


“Atau mungkin dia tahu kalau pak James sudah memiliki kekasih, sehingga dia tidak mau kembali lagi ke sini.”


“Mungkin juga sih, dia tidak kuat mental menghadapi kenyataan. Mana bisa Elenora bersaing dengan kekasih pak James yang sekarang?”


Mendengar para pegawai perempuan yang sedang membicarakan Elenora, membuat Audrey menahan nafasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa ikut kesal meskipun dia bukan Elenora.


“Kalian ini benar-benar pantas jadi pembawa berita gosip.”


“Eh, Audrey….” Semua langsung terdiam dan memandang ke arah Audrey yang wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kesal di hatinya.


“Sudahlah Audrey, jangan sok jadi pahlawan buat Elenora yang sudah pergi jauh. Atau jangan-jangan, kamu juga ada hati ke pak James, jadi uring-uringan karena pak James sudah punya kekasih?” Dea berkata dengan percaya dirinya.


Beberapa orang langsung mencoba menegur Dea dengan menabrakkan kakinya ke kaki Dea, beberapa yang lain, terlihat menahan senyumnya karena mendukung perkataan Dea, namun tidak berani menunjukkan terang-terangan sikap mereka.


Karena bagaimanapun, Audrey merupakan salah satu sekretaris andalan di perusahaan Bumi Asia ini, yang hubungannya cukup dekat dengan para pemimpin, membuat mereka tidak berani terlihat dengan terlalu jelas bahwa mereka mendukung perkataan Dea.