
"Tentu saja aku tidak bisa menerima penawaranmu Ad. Kalau hanya sekali waktu seperti ini sih, ok ok saja. Bagaimana bisa aku mengganggu kehidupan kalian sebagai pengantin baru?" James berkata sambil tersenyum lebar, membuat Ornado ikut tersenyum.
"Wah... sepertinya sebentar lagi aku benar-benar akan menjadi satu-satunya laki-laki dengan titel bujangan tua yang tidak laku di tengah-tengah keluarga kita. Apalagi sepertinya James tidak lama lagi akan menyusul Ornado. Benar begitu kan Elenora?" Dario berkata sambil tertawa renyah, dengan mata memandang ke arah Elenora yang wajahnya sedikit memerah karena godaan dari Dario.
Ornado menatap ke arah Dario sekilas. Apa yang dikatakan oleh Dario sebenarnya tidak salah.
Diantara anak laki-laki di keluarga mereka, Ornado dan James seumuran, sedang Dario, 3 tahun lebih tua daripada Ornado.
"Haist, bukannya itu karena kamu sendiri yang tidak mau menikah cepat Dario? Aku yakin puluhan, bahkan ratusan wanita akan langsung bersedia menikah denganmu saat kamu mengulurkan tangan kepadanya? Tapi aku yakin, memang tidak semudah itu memilih wanita paling tepat diantara banyak wanita." Dario kembali tertawa mendengar perkataan Ornado.
"Jangan menilaiku terlalu tinggi Ad. Padahal belum tentu tanganku yang terulur disambut oleh wanita yang aku sukai. Kadang pikiran wanita memang begitu sulit untuk ditebak. Dan kadang mereka lebih memilih untuk menuruti permintaan dari keluarga mereka sebagai tanda bakti mereka kepada orangtua. Bukankah begitu Elenora?" Dario berkata dengan santai sambil menyeruput minuman di gelasnya dengan matanya kembali melirik ke arah Elenora yang semakin terlihat salah tingkah, sedang James memilih untuk diam dan bergaya sibuk dengan handphonenya.
Sebentar, bahkan tidak lebih dari dua detik, Dario mengarahkan sudut matanya untuk melirik ke arah Cladia, karena sebenarnya tujuan dari kata-katanya tadi bukan sekedar untuk Elenora, tapi juga Cladia, yang saat itu tanpa bisa melawan surat wasiat dari orangtuanya, juga diharuskan menikah dengan Ornado, sebagai salah satu tanda bahwa dia adalah anak yang berbakti kepada orangtuanya.
"Kita bahas masalah jodoh kalian dua pria lajang nanti saja. Sekarang sepertinya kalian butuh waktu untuk beristirahat. Para pelayan akan segera mengantarkan kalian ke kamar kalian masing-masing." Melihat wajah memerah Elenora dan sikap tidak nyaman James, akhirnya Ornado berusaha mengalihkan perhatian dengan menawarkan kepada para tamunya untuk beristirahat.
Karena untuk sementara ini, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Ornado yang bisa melihat bagaimana tidak bersemangatnya James bertemu dengan calon istri dan calon mertuanya saat ini.
# # # # # # #
"James, mama tahu kamu tidak akan dengan mudah menerima perjodohan ini. Tapi kamu tidak bisa menghindari kenyataan bahwa kami sudah memberimu kesempatan sampai usiamu sekarang, dan tidak ada seorang gadispun yang pernah kamu perkenalkan kepada kami." Mendengar pekataan Carina yang sedang duduk di sofa yang ada di kamar tamu rumah Ornado, James hanya bisa menahan nafasnya sebentar.
Sebentar kemudian, James menggembungkan kedua pipinya, lalu menghembuskan udara di dalamnya dengan sedikit keras, membuat Carina yang duduk di sampingnya mengelus lengan James lembut.
"Kamu tahu perjodohan ini tidak sekaku saat Alberto menodohkan Ornado dan Cladia. Mereka berdua harus menikah. Sedangkan orangtua Elenora dan kami sebagai orangtuamu, sudah sepakat bahwa perjodohan hanya akan terjadi jika di usia kalian yang sudah memasuki saat yang tepat untuk menikah, kalian berdua sama-sama belum memiliki pasangan." Carina berusaha untuk tetap memberikan pengertian kepada James.
"Dan sampai saat ini, baik kamu maupun Elenora memang belum memiliki pasangan. Jadi, tidak alasan bagi kalian berdua untuk tidak mencoba menerima perjodohan ini." Carina melanjutkan bicaranya.
"Ma, jangan membuatku seperti laki-laki yang tidak bisa menemukan wanitanya." James berkata dengan sedikit mencebikkan bibirnya.
"Aist James, terserah kata orang. Memangnya aku dan papamu bersikap sembarangan dalam menetapkan perjodohan ini? Kalau bukan Elenora, kami juga belum tentu setuju." Carina kembali berkata sambil menatap dalam-dalam ke arah James.
"Elenora gadis yang baik. Kita semua sudah mengenalnya sejak kecil. Karena itu, kami percaya dia akan bisa menjadi istri yang baik untukmu. Dan juga, bisa membantumu di perusahaan kita kelak." Kata-kata Carina membuat James menghela nafasnya.
"Kalau dia sudah menjadi milikmu, kamu bisa kan meminta dia mengubah penampilan, atau kebiasaannya, supaya kalian berdua bisa merasa sama-sama nyaman." Perkataan Carina sukses membuat James meringis.
Ist... Mama ada-ada saja. Mengubah penampilan gadis culun itu tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Belum lagi sikapnya yang mudah gugup. Karakter pemalunya yang luar biasa itu, bagaimana bisa mengubahnya dengan mudah? Dan intinya sebenarnya bukan karena itu. Mau dia culun, gagap, pemalu atau bagaimanapun asal aku mencintainya tidak akan jadi masalah. Sayangnya, aku tidak mencintainya sama sekali.
James menggerutu dalam hati, sambil memainkan handphone di tangannya, dengan cara memutar-mutarnya dengan jari-jari tangan kanannya.
Melihat James terdiam tanpa menanggapi akta-kata terakhirnya, Carina menepuk bahu James.
"Beri kesempatan buat Elenora, James."
"Maksud Mama?"
"Cobalah berinteraksi lebih dekat dengannya, supaya kamu tahu bagaimana baiknya Elenora. Dia gadis polos yang baik hati. Kamu tahu papamu juga begitu menyukai Elenora." James terdiam sejenak mendengar perkataan mamanya.
"Apa pendapat Elenora terhadap rencana perjodohan ini?" Tiba-tiba saja James merasa begitu penasaran dengan pemikiran Elenora tentang perjodohan ini.
"Dari awal dia tidak pernah menyatakan keberatannya. Mungkin dia sebenarnya memang memiliki perasaan suka padamu." Carina berkata sambil mengingat kembali bagaimana wajah memerah Elenora dan sikap malu-malunya menganggukkan kepalanya pelan saat dia dan suaminya memintanya untuk menikah dengan James.
Yang benar saja. Dia suka padaku sungguhan atau karena memang tidak ada laki-laki lain yang meliriknya karena penampilan anehnya. Dan menikah denganku, artinya dia berhasil mendapatkan tangkapan besar. Kalaupun bukan Elenora, aku pikir gadis lainpun tidak akan menolak penawaran ini.
James mengomel dalam hati, sekaligus menaikkan salah satu ujung bibirnya.
Bagaimanapun James sadar bahwa dia merupakan laki-laki tampan sekaligus kaya, keturunan dari keluarga Xanderson.
Walaupun perusahaan keluarganya tidak sebesar dan sehebat milik keluarga Ornado, perusahaan milik keluarga James terhitung cukup besar dan masuk dalam jajaran 10 perusahaan terbesar di Italia, yang nomer satunya jelas-jelas dikuasai oleh Grup Xanderson milik Ornado.
"Jangan berpikiran buruk dan menganggap rendah Elenora, James. Kamu tahu, bahkan dia sengaja belajar dengan baik budaya dan kehidupan di Indonesia, ketika aku mengatakan bahwa aku akan meminta Ornado untuk memindahkannya di kantor Bumi Asia agar bisa lebih dekat denganmu. Kamu lihat saat tadi dia berbincang dengan istri Ornado, bahasa Indonesianyapun terlihat cukup lancar. Hal itu menunjukkan bahwa Elenora serius ingin menikah denganmu." Carina yang seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh James tentang Elenora, langsung menegur James.
Sepertinya akan benar-benar sulit bagiku untuk menghindar dari perjodohan ini. Nasibku yang malang, semua gara-gara gadis culun itu. Kalau saja dia menolak untuk dijodohkan denganku, tentu saja hal mengerikan ini tidak akan terjadi padaku. Sebenarnya apa alasan gadis culun itu menerima perjodohan ini. Lihat saja nanti, kalau aku tidak pernah bersikap welcome padanya, apa dia akan tetap bertahan untuk menerima perjodohan ini, dan tetap ingin menjadi istriku.
Perkataan Carina membuat James kembali mengomel dalam hati, dan bertekad untuk membuat Elenora tidak merasa nyaman di dekatnya, sehingga akhirnya menyerah terhadap rencana perjodohan mereka.