
Sedetik, bahkan mungkin kurang dari itu, Ornado bisa melihat kilatan mata Dario yang menunjukkan rasa kecewa karena ketidakhadiran sosok cantik Cladia di pestanya malam ini.
Dan tanpa sadar hal itu membuat Orando mengernyitkan dahinya untuk beberapa waktu dengan tatapan matanya menyelidik ke arah Dario yang dengan cepat melempar senyum ke arah Ornado, berusaha menghilangkan jejak kecurigaan Ornado terhadapnya.
Entah kenapa, pada akhirnya Ornado merasa begitu lega sekaligus senang karena malam ini tiba-tiba saja Cladia memutuskan untuk tidak hadir di pesta Dario hari ini.
Dan rasa senang dalam hati Ornado bertambah setelah dia mendapatkan notifikasi pesan baru dari Cladia, yang memberinya info bahwa dia sudah sampai di rumah dengan selamat, dan sekarang sedang menikmati makan malam bersama Leo dan Evelyn, karena tante Ema dan Elenora sudah berangkat sedari tadi untuk menghadiri pesta Dario.
Sebuah senyum langsung terlihat di bibir Ornado begitu Evelyn ikut mengirimkan pesan padanya, disertai foto Cladia yang sedang menikmati makan malamnya.
"Ah, ya, maaf Dario, aku baru saja menerima pesan dari Cladia." Begitu selesai membaca pesan masuk dari Cladia dan Evelyn, Ornado segera mengembalikan fokusnya kepada Dario.
Tanpa disadari oleh Ornado, karena jarak tubuh mereka berdua yang begitu dekat, Dario bisa melihat sekilas foto Cladia yang tersenyum sambil mengangkat sendok berisi makanan yang dikirimkan oleh Evelyn kepada Ornado, dengan gaun yang belum sempat digantinya sejak dia pulang bersama Evelyn dan Leo tadi.
Begitu cantik dan anggun, sungguh wanita tercantik yang selalu memenuhi pikiranku.. Wanita cantik yang seharusnya menjadi istriku. Jika saja Ornado tidak pernah dilahirkan, seandainya malam itu papa dan mama Cladia menerima lamaranku. Dan seandainya 5 tahun lalu aku berhasil menghancurkan Gruo Xanderson, sehingga tidak akan ada Ornado Xanderson yang sekarang ini, Cladia pasti akan menjadi milikku sepenuhnya.
Dario berkata dalam hati dan hampir saja mendesah pelan, menunjukkan rasa kecewanya kembali, melihat bagaimana cantiknya Cladia yang sedang tersenyum dengan gaun yang awalnya dikenakannya untuk menghadiri pesta undangan dari Dario.
"Semoga kondisi Cladia segera membaik." Dario langsung berkata untuk mengalihkan dirinya dari rasa kecewa karena tidak bisa menikmati sosok Cladia malam ini.
Setelah beberapa lama ini tidak bertemu dengan Cladia karena kesibukannya mengatur penthousenya, malam ini Dario sungguh berharap kehadiran Cladia bisa membuat hatinya merasa bahagia dan senang dengan kehadirannya.
Apalagi, tanpa diketahui oleh siapapun, dekorasi penthouse dan juga warna cat dinding yang dipilih oleh Dario, dia usahakan semirip mungkin dengan dekorasi rumah Ornado.
Selama beberapa waktu berada di rumah Ornado, Dario dengan sengaja memperhatikan detail rumah itu, yang Dario yakin, pasti Ornado sengaja membuatnya seperti itu untuk menyenangkan Cladia, agar sesuai dengan selera Cladia.
Dario bukannya tidak tahu bahwa Ornado begitu memuja dan mencintai Cladia. Karena itu Dario yakin hal sekecil apapun yang sudah dilakukan oleh Ornado, tujuan utamanya adalah untuk membuat Cladia bahagia.
"Cladia akan segera beristirahat, dia akan baik-baik saja." Ornado menajwab perkataan Dario sambil melirik kea rah Laurel dan Dave yang sedari tadi emmilih untuk berdiri tidak jauh di belakangnya.
"Eh...." Dario yang memandang ke arah belakang Ornado langsung berkata pelan, sambil memandang wanita cantik dengan balutan gaun berwarna coklat tua, berdiri di samping seorang pria tampan bertubuh tinggi atletis, dengan rambut bewarna coklat dan mata birunya yang tatapn matanya terlihat lembut sekaligus begitu terlihat mengayomi orang lain.
"Ad.... Apa dia...." Dengan suara ragu Dario berniat menyebutkan nama Laurel, namun terhenti.
"Benar, apa kamu masih mengingatnya Dario? Dia Laurel Tanputra." Begitu Ornado menyebutkan wanita cantik itu adalah Laurel, dengan cepat Dario berjalan mendekat ke arah Laurel dan mengulurkan tangannya.
Andai saja ini ada di negara asalnya, Dario tidak segan-segan berencana memeluk Laurel. Tapi dia tahu adat istiadat negara ini yang tidak bisa membuatnya dengan seenaknya sendiri memeluk lawan jenis yang tidak memiliki hubungan dekat.
Di tengah penampilan tenangnya, Dave memang bukan orang yang akan bisa memaafkan orang yang berani mengganggu istri tercintanya.
"Apa kabar Laurel? Sepertinya kamu tumbuh dengan baik menjadi wanita yang begitu cantik." Dario segera menggenggam erat tangan Laurel yang menyambut uluran tangannya.
"Kamu juga bertumbuh dengan baik Dario. Senang bertemu lagi denganmu. Terimakasih untuk undangan pestanya, dan selamat ya untuk rumah barunya." Laurel membalas perkataan Dario sebelum melepaskan jabatan tangan mereka.
“Sudah lama sekali sejak kita bertemu. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu hari ini.” Dario berkata sambil menatap wajah Laurel, mencoba mengingat wajah Laurel kecil, mencoba membandingkannya dengan sosok Laurel yang sekarang.
Dan hasilnya, Dario harus mengakui, baik Cladia maupun Laurel yang sudah terlihat cantik sejak kecil, setelah mereka dewasa kecantikan mereka bahkan semakin bertambah.
“Samalah Dario. Aku juga senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Padahal sejak kita berpisah, aku belum mendengar kabarmu sama sekali. Sepertinya sekarang kamu sudah menjadi orang sukses. Aku dengar begitu dari Ad. Benarkan?” Dario langsung tersenyum lebar mendengar pujian dari Laurel.
"Kamu sendiri aku dengar dari Ad sudah sukses menjadi dokter spesialis lulusan Harvard. Laurel, apa dia suamimu?" Dario bertanya sambil matanya langsung berpindah ke arah Dave yang sedari tadi memilih diam dan hanya mengamati apa yang terjadi dengan sikap tenang.
“Karena janji Ad padamu, aku dipaksa membawa suamiku oleh Ad, untuk dipamerkan kepadamu." Dario langsung tertawa renyah mendengar candaan dari Laurel.
Sedari dulu, dalam ingatan Dario, Laurel memang seorang gadis cantik yang selalu terlihat ceria dan paling pandai mencairkan suasana.
"Dario Benigno."
"Dave Alexander Shaw."
Pada akhirnya kedua laki-laki tampan itu saling menjabat tangan mereka dan menyebutkan nama mereka, saling memperkenalkan diri.
"Senang bertemu dengan Anda Tuan Shaw. Sudah lama aku mendengar nama besar Anda di dunia kimia dan farmasi beserta bahan bakunya. Terutama di negara Irlandia sana." Dario langsung menyapa Dave dengan hangat.
"Ah, sepertinya Anda terlalu membesar-besarkan dan memujiku. Jika itu berkaitan dengan nama besar, tentu saja dibanding kita berdua, nama Ornado adalah yang paling layak disebutkan sebagai pemilik nama besar dalam dunia bisnis internasional." Dario langsung menoleh ke arah Ornado begitu mendengar perkataan Dave.
"Adikku ini memang yang terhebat. Belum ada satupun orang yang berhasil disandingkan dengan nama besar dan kehebatannya di dunia ini dengan usianya yang semuda ini." Dario berkata sambil menepuk-nepuk pelan bahu Ornado, membuat orang yang melihatnya akan langsung berpikir bagaimana harmonis dan dekatnya hubungan kedua laki-laki tampan itu.
Tidak akan ada yang menyangka bahwa salah satu dari mereka sedang berusaha keras untuk mencari kesempatan untuk menjatuhkan dan menghancurkan yang lain.