
"Aku sungguh iri denganmu Elen. Di negaramu sana, bahkan seorang anak bisa memanggil nama orangtuanya langsung tanpa perlu merasa takut untuk dimarahi." Elenora langsung memandang ke arah Dodi begitu mendengar perkataan Dodi.
"Tapi aku lebih suka dengan kehidupan dan budaya negara timur. Aku kagum dengan sopan santun kalian. Dan bagaimana cara kalian diajarkan untuk menghargai orang yang lebih tua dari kalian dengan tidak sembarangan memanggil nama orang, apalagi yang jauh lebih tua dari kalian." Elenora berkata sambil mengingat sosok Cladia, sosok wanita cantik yang membuat Elenora semakin menyukai budaya negara ini.
Sejak kedatangannya, Cladia selalu memperlakukannya sebagai orang penting, lebih tepatnya, seperti teman dekatnya, dan membuat hati Elenora merasa hangat dan tenang.
Bahkan seringkali Cladia mengirimkan pesan kepada Elenora, berharap Elenora betah di Indonesia dan bisa memenangkan hati James. Cladia sengaja mengirimkan pesan, meskipun Elenora tinggal di rumahnya.
Cladia sengaja meminta ijin dari Ornado agar sementara ini, sebelum Elenora menemukan tempat tinggal, Elenora bisa tinggal di rumah mereka.
Walaupun Ornado awalnya merasa keberatan, karena bagaimanapun Ornado merasa tidak pantas jika ada gadis lain yang tidak memiliki hubungan keluarga tinggal bersama mereka, pada akhirnya Ornado memilih mengalah pada Cladia dengan mengajukan banyak syarat.
Beberapa syarat yang diminta oleh Ornado antara lain adalah tentang bagaimana Elenora tetap harus mencari tempat tinggal di luar, dan Ornado memberinya waktu sebulan, dan itupun Ornado berjanji untuk membantunya menemukan apartemen yang dekat dengan perusahaan, sehingga Elenora yang belum mengenal seluk beluk kota itu, tidak perlu pusing memikirkan bagaimana cara berangkat dan pulang kerja.
Syarat lain dari Ornado adalah Cladia tidak boleh memaksanya bersikap hangat dan terlalu dekat dengan Elenora, karena dia tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman ke depannya.
Apalagi selama ini Ornado memiliki prinsip bahwa tidak baik jika seorang pria yang sudah menikah memiliki hubungan terlalu dekat dengan wanita lain yang bukan anggota keluarganya, apalagi wanita itu belum menikah dan belum memiliki seorang kekasih.
Bagi Ornado lebih baik dia menjaga jarak dengan wanita lain sejak awal, selain untuk menghormati dan menjaga perasaan Cladia, sedari awal dia merasa harus menjaga dirinya sendiri dengan baik jika tidak ingin jatuh pada hal yang tidak benar ke depannya.
Karena dalam hidupnya, bagi Ornado, Cladia adalah satu-satunya wanita yang selalu membuat matanya terpaku hanya kepadanya. Wanita yang selalu diinginkannya untuk selalu berada di sisinya, dicintainya dengan sepenuh hati, sampai maut memisahkan mereka.
Dalam kehidupannya selama ini, wanita yang tidak memiliki hubungan apapun yang bisa dekat dengannya hanya Laurel Tanputra, karena sejak kecil mereka sudah saling mengenal.
Cladia selalu menganggap Laurel kakak kandungnya, sedang Ornado selalu menganggap Laurel seperti adik kandungnya.
Selain itu, Ornado yang sekarang juga dekat dengan Dave, suami Laurel, juga sudah menganggap Dave seperti saudara.
Walaupun hubungan Ornado dekat dengan Laurel, Ornado juga selalu membatasi dirinya. Saat bertemu dengan Laurel, selalu ada Dave atau Cladia. Tidak pernah sekalipun Ornado melakukan pertemuan pribadi dengan Laurel hanya berdua saja.
"Hei!" Dengan bersemangat, Tina melambaikan tangannya begitu melihat sosok Elenora dan Dodi yang memasuki pintu kantin perusahaan.
Alex yang duduk tepat di samping Tina langsung menatap lurus ke arah Dodi dan Elenora begitu melihat Tina yang melambaikan tangan ke arah mereka.
Begitu Dodi dan Elenora sampoai di depan meja dimana Tina dan Alex duduk, mereka langsung saling bertukar senyum.
Ternyata lebih cantik aslinya dari pada di rekaman cctv. Hidung bangir, mata yang indah, bulu mata lentik. Sungguh terlihat indah. Bahkan kacamata besar, baju kedodoran, dan rambut kepangnya tidak bisa menyembunyikan kecantikannya.
Alex berkata dalam hati sambil mengamati sosok Elenora dengan sikap hati-hati. Tidak ingin dua orang yang lain menyadari saat ini dia merasa begitu penasaran dengan sosok Elenora.
“Eh, aku sudah memesankan makanan untuk kalian, sesuai yang sudah kalian tuliskan di grup tadi.” Tina menyambut kedatangannya Elenora dan Dodi dengan perkataan ramahnya
“Perkenalkan, ini Alex, senior kita di tempat ini, di bagian keamanan.” Tina berkata sambil memandang ke arah Alex yang langsung sedikit menganggukkan kepalanya sambil kembali tersenyum ke arah Dodi dan Elenora yang membalasnya dengan gerakan kepala dan bibir yang sama.
“Mereka berdua staff baru yang sama-sama diterima hari ini sepertiku, Dodi, Elenora….” Tina berkata sambil menggerakkan telapak tangannya ke rah Dodi dan Elenora ketika menyebutkan nama mereka.
“Salam kenal Kak Alex. Mohon bimbingannya.” Dodi langsung mewakili Elenora untuk menyapa Alex.
“Ah, panggil saja Alex. Aku menjadi senior di perusahaan ini karena beruntung bisa menyelesaikan studi lebih cepat, dan langsung diterima bekerja di perusahan ini. Aku dan Tina satu Angkatan. Usia kita pasti tidak jauh berbeda. Aku dan Tina berusia 23 tahun. Berapa usiamu Dodi?”
“Sama, 23 tahun. Kalau saja setahun lalu aku sudah diterima di perusahaan ini setelah lulus kuliah, pasti kita bisa bertemu dengan lebih cepat. Sayangnya waktu itu aku belum seberuntung itu.” Alex dan Tina langsung tertawa kecil mendengar jawaban dari Dodi.
“Eh, kalau Elenora, berapa usiamu sekarang?” Pertanyaan Tina membuat Dodi maupun Alex langsung fokus menatap ke arah Elenora.
“A… aku? 21 tahun…” Dengan ragu Elenora menjawab pertanyaan Tina yang sontak membuat ketiga orang itu sedikit terbeliak, terutama Alex yang tampak tidak menyangka bahwa gadis yang duduk di depannya itu ternyata masih begitu muda untuk usia orang yang berhasil lulus sarjana.
Dan hal itu tanpa sadar membuat Alex semakin tertarik untuk mengorek keterangan tentang siapa, bagaimana, dan apapun tentang Elenora.
“Eh, muda sekali ternyata usiamu? Bukankah menurut info kamu lulusan salah satu kampus terkenal di Italia dengan nilai suma cumlaude?” Mendengar komentar dari Dodi, dengan gerakan pelan, Elenora menganggukkan kepalanya.
“Wah…. Hebat sekali. Di usia 21 tahun sudah berhasil lulus kuliah dengan nilai suma cum laude lagi. Apa baru pertama kalinya kamu bekerja?” PErtanyaan selanjutnya dari Dodi membuat Elenora menggelengkan kepalanya.
“Tidak…. Sebenarnya, aku berhasil lulus kuliah di usia 19 tahun. Setelah lulus aku sempat bekerja di restoran milik keluargaku sebelum akhirnya diterima untuk bekerja di Grup Xanderson di Italia.” Mendengar penjelasan Elenora, membuat mereka semakin tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya~~~~ terhadap pencapaian Elenora terhadap studinya.
“Hebat, benar-benar hebat. Tapi Elen, kenapa kamu lebih memilih pindah ke Bumi Asia yang boleh dibilang hanya merupakan anak perusahaan dari Grup Xanderson yang begitu besar di sana?” Pertanyaan Dodi berikutnya membuat Elenora hampir saja tidak bisa menyembunyikan kegugupannya, apalagi dari arah depannya, tanpa sengaja Elenora melihat sosok James yang memasuki area kantin bersama dengan salah seorang staff senior pria bidang pemasaran.
James memasuki pintu kantin yang arahnya berlawanan dengan pintu kantin yang tadi dilewati oleh Elenora, sehingga dari posisi duduknya, Elenora bisa melihat sosok James dengan jelas, apalagi meja tempatnya duduk sekarang, begitu dekat dengan posisi pintu masuk itu.