
Meskipun pada kenyataannya James benar-benar sudah menjadi menantu mereka, tapi bagi orangtua Elenora, James sebagai salah satu anggota keluarga Xanderson yang terpandang dan berkuasa di negara ini, harus mereka hormati.
Selain itu juga keluarga Xanderson dikenal memiliki harta kekayaan yang tidak ternilai, membuat mereka sedikit ragu untuk membiarkan James bermalam di rumah mereka, yang meskipun tidak bisa dibilang sederhana, tapi tentu saja sangat jauh berbeda dengan mansion yang dimiliki oleh keluarga James.
“James… apa rencanamu malam ini? Maaf, bukannya kami ingin mengusirmu, tapi kamar yang ada di rumah ini, ada kamar utama yang biasa kami tempati, kamar tamu, kamar milik Serafina, dan satu lagi kamar milik Elenora…. Mmmm… kamu boleh memilih kamar manapun yang kamu suka untuk kamu tempati malam ini.” Dengan sikap ragu, papa Elenora menawarkan kepada James diamna dia akan tidur malam ini.
Mendengar penawaran dari mertuanya, James sedikit tersenyum geli, apalagi melihat sikap canggung kedua mertuanya, yang sebelum dia menjadi menantu mereka, biasanya justru bersikap biasa dan ramah padanya, sering beberapa kali mengambil kesempatan untuk bisa mengobrol santai dengan James tentang berbagai hal.
“Jawabannya sudah jelas Pa. Bolehkan mulai sekarang aku memanggilmu Papa?” Papa Elenora buru-buru menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari James.
“Dibanding tempat manapun, aku sudah pasti harus tidur di kamar istriku, tempat yang paling nyaman bagiku, dan itu… juga pilihan yang terbaik bagiku.” Jawaban James membuat kedua mertuanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, tanpa perduli dengan wajah memerah dari Elenora, dan tangannya yang mulai terasa dingin karena gugup.
Siapa juga yang rela tidur di kamar tamu, atau tempat manapun, dimana aku harus terpisah dengan Elenora malam ini? Tidak hanya malam ini, tapi hari-hari selanjutnya, aku ingin saat terbangun, Elenora ada di sampingku, berada dalam pelukanku.
James berkata dalam hati sambil melirik ke arah Elenora yang tampak begitu gugup, yang justru membuat James ingin segera masuk ke kamarnya dan berduaan saja dengan Elenora, membayar setiap waktu yang hilang, ketika dia berpisah dengan Elenora tepat setelah berhasil menikahi gadis itu, karena harus terbang ke kota B untuk menyelesaikan masalah kantor.
“Kamar Elenora tidak sebesar kamar tamu. Mungkin kalian bisa mempertimbangkan untuk beristirahat di kamar tamu.” Mama Elenora ikut angkat bicara, menawarkan kamar tamu untuk ditempati James dan Elenora, karena mama Elenora bisa melihat jika James malam ini pasti tidak rela jika harus tidur terpisah dari Elenora.
Bagaimanapun, meskipun James masih muda dan statusnya sebagai menantu, mama Elenora sadar bahwa dia harus tetap mengerti sopan santun karena yang dihadapinya bukan sekedar James sebagai menantunya, di sisi lain, James adalah seorang Xanderson yang harus dia hormati.
“Tidak, sebenarnya, aku tidak keberatan tidur dimanapun, apalagi aku ingin lebih mengenal Elenora, setelah kami kehilangan banyak tahun dimana kami saling menjauh karena adanya salah paham diantara kami. Dan kamar Elenora, adalah salah tempat yang paling tepat untuk aku mulai belajar mengenal hal sekecil apapun tentang Elenora. Karena itu biarkan malam ini aku tidur di kamar Elenora, karena besok, setelah urusanku dengan Serafina selesai, aku akan memboyong Elenora ke mansion keluargaku, sebelum kami kembali ke Indonesia.” James berkata panjang lebar, dengan beberapa kali anggukan kepala dari papa dan mama Elenora terlihat untuk menanggapi perkataan James dan menunjukkan sikap mendukung.
“Kalau memang begitu keinginanmu, baiklah. Dan ini sudah larut malam, sebaiknya kalian berdua segera beristirahat. Aku yakin kamu dan Elenora juga kelah setelah perjalan panjang kalian dari Indonesia. Selamat malam, selamat beristirahat.” Papa Elenora segera menghentikan pembicaraan mereka, dan dia sendiri bersama istrinya, segera meninggalkan James dan Elenora yang masih terdiam di tempatnya untuk beberapa saat.
“Ayolah Ele, ajak aku ke kamarmu. Atau kamu ingin aku membantumu dengan menggendongmu karena sepertinya kakimu sudah lengket di lantai ruangan ini.” James berkata sambil kedua tangannya terulur ke arah Elenora, dengan posisi seperti orang bersiap untuk menggendong.
“Kamu juga sudah tahu dimana letak kamarku. Kenapa aku harus mengajakmu, kamu bisa langsung pergi ke sana.” Dengan suara pelan dan sedikit bergetar karena dadanya saat ini bergejolak dengan hebat begitu menyadari kalau dia akan tidur sekamar dengan James malam ini....
Setelah menyelesaikan kata-katanya, Elenora langsung memutar tubuhnya dan berjalan ke arah kamarnya, dimana tadi dia membiarkan James mengambil ciuman pertamanya.
Melihat tindakan Elenora, James langsung tersenyum dan menyusul langkah Elenora.
James berjalan tepat di belakang tubuh Elenora, tanpa berniat mendahului ataupun berjalan di samping Elenora.
Dengan berjalan tepat di belakang sosok Elenora, James justru menikmati bagaimana canggungnya sikap Elenora yang baginya terlihat begitu menggemaskan.
Apalagi dengan melihat sosok Elenora dari belakang, James sungguh benar-benar merasa, mulai saat ini, dia akan selalu mengamati kehidupan gadis cantik itu, menjadi pendukung Elenora baik di masa susah ataupun senang, tidak akan pernah lagi membiarkan istrinya itu berjalan sendiri menjalani kehidupannya di masa depan.
Mulai saat ini, aku akan selalu ada untukmu dan melihat ke arahmu, sehingga aku akan menjadi orang pertama yang berlari ke arahmu saat kamu membutuhkanku, tanpa perlu kamu memanggil namaku.
James berkata dalam hati, dengan matanya yang menatap sosok cantik istrinya, yang beberapa kali dia lihat dengan gerakan ragu, berusaha menoleh dan melirik ke arahnya.
Begitu Elenora memasuki kamarnya, disusul James yang ikut masuk, dan menutup pintu kamar itu, bahkan langsung mengunci pintu kamar itu, dada Elenora berdetak semakin kencang, lututnya yang terasa bergetar, dengan pikirannya yang melayang kemana-mana.