My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
AMAN BERSAMAMU



“Apa kamu dan Bee baik-baik saja amore mio?” Ornado yang duduk di samping Cladia yang duduk di pinggiran tempat tidur dengan kaki menempel di lantai, memandang ke arah Ornado yang menatapnya dengan wajah khawatir.


“Aku baik-baik saja Al. Asal ada kamu di sisiku, aku tahu aku akan baik-baik saja.” Cladia berkata sambil mencoba untuk tersenyum, agar Ornado tidak perlu mengkhawatirkannya.


Mendengar perkataan Cladia yang Ornado tahu wanitanya itu sengaja mengucapkan itu untuk menenangkan hatinya, Ornado langsung meraih kepala istrinya dalam rengkuhannya, dan menciumi puncak kepala Cladia dengan penuh cinta.


“Jangan berusaha terlalu keras untuk menunjukkan kamu baik-baik saja, padahal tidak. Sudah aku katakan padamu, jadilah dirimu apa adanya saat di hadapanku, dan aku akan selalu siap menyelesaikan semuanya untukmu. Jangan menahan apapun di depanku.” Cladia yang mendengar perkataan dari Ornado, langsung menelusupkan wajahnya di dada bidang Ornado yang langsung mengelus kepalanya lembut.


“Aku… aku takut Al… Aku sudah berusaha untuk membuat diriku lebih berguna dengan melawan rasa takutku, tapi tetap saja, kejadian seperti tadi… menyadarkanku bahwa diriku tetap bermasalah. Aku tetap seorang wanita yang hidup dalam bayang-bayang trauma masa laluku….”


“Hustt… jangan bicara seperti itu amore mio. Tidak ada yang salah denganmu. Kamu wanita hebat bagiku, yang selalu menjadi sumber kekuatan dan inspirasiku.” Ornado berbisik lirih, sambil salah satu tangannya meraih dagu Cladia, lalu mengangkatnya ke atas, sehingga wajah Cladia yang mendongak bisa dilihatnya dengan jelas.


Begitu melihat ada cairan bening yang menetes di sudut mata Cladia, Ornado langsung mengusapnya dengan ujung-ujung jarinya sambil menarik nafas panjang.


“Keluarkan saja emosimu, jangan ragu, tidak perlu menahannya amore mio. Apalagi semua itu bukan salahmu.” Ornado berkata sambil mencium kedua mata Cladia bergantian, membuat Cladia megulurkan tangannya untuk dapat memeluk erat tubuh Ornado, satu-satunya laki-laki yang keberadaannya selalu membuatnya tenang, memberinya kekuatan dan rasa aman.


Satu-satunya laki-laki yang dipercaya oleh Cladia sepenuhnya untuk dia menyerahkan jiwa dan raganya pada pria tampan itu.


“Aku benar-benar takut Al. Laki-laki yang bersama Dante itu… dari wajah dan sikapnya sungguh membuatku tidak tenang. Dia seperti singa yang siap menerkam mangsanya.”


“Tenang saja amore mio. Aku pastikan kalau orang itu, tidak akan pernah kamu lihat lagi di sekelilingmu. Jika Dario tidak bisa melakukan itu dengan alasan apapun, aku sendiri yang akan memastikan dia tidak akan bisa mendekatimu dalam jarak kurang dari 1 km, sehingga kamu tidak perlu lagi ketakutan karena melihat keberadaannya.” Dengan percaya diri, Ornado mengucapkan kata-katanya.


Sebuah sikap dari Ornado yang selalu membuat hati Cladia merasa tenang.


Al selalu saja memiliki ketenangan yang luar biasa dalam menghadapi masalah. Dan dia selalu saja percaya diri bisa mengatasi semuanya dengan baik. Bagiku kamu adalah dewa pelindungku Al.


Cladia berkata dalam hati dengan penuh syukur karena dia memiliki Ornado sebagai suaminya.


“Terimakasih Al.” Cladia mempererat pelukannya pada tubuh Ornado untuk menunjukkan rasa leganya.


Namun, sejak pertama Dante muncul di hadapannya tadi, insting Cladia mengatakan bahwa laki-laki bertubuh kekar itu bukanlah pria baik-baik, bahkan ada kesan bahwa pria itu pria yang kejam di dalam pikiran Cladia, membuatnya merasa tidak nyaman sekaligus takut melihat sosok Dante.


“Apa perlu aku mengaturkan untuk kita kembali pulang ke rumah?” Mendengar pertanyaan Ornado, Cladia yang masih memeluk erat tubuh Ornado langsung melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Ornado, yang langsung tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.


“Kenapa amore mio? Aku tidak mau kamu berlibur dengan dipenuhi rasa takut.” Perkataan Ornado membuat Cladia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


“Aku yakin kamu bisa menyelesaikan semuanya, termasuk masalah laki-laki mengerikan itu. Dibandingkan dengan rasa takutku, aku lebih percaya bahwa selagi ada kamu, tidak akan pernah ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Dan aku masih ingin bersama dengan Laurel dan Deanda, juga Alaya. Keberadaan mereka benar-benar membuatku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berlibur kali ini. Yang belum tentu bisa aku dapatkan lagi, apalagi jika kami sudah melahirkan kelak.” Melihat binar mata Cladia yang dipenuhi dengan kebahagiaan saat mengatakan hal itu, membuat Ornado tertawa kecil sambil melingkarkan lengannya di bahu Cladia.


“Sepertinya tidak perlu dipertanyakan lagi, berarti nanti malam kita akan tetap dengan jadwal makan malam kita bersama mereka.” Sebuah anggukan langsung diberikan Cladia untuk menanggapi perkataannya barusan.


“Oke kalau begitu, tapi syaratnya, sekarang kamu harus beristirahat dulu. Tidak boleh keluar kamar, agar pikiranmu kembali tenang. Aku akan menemanimu, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Aku mau melakukan pengecekan kasus yang ada di pabrik penyamakan kuit di kota B dulu.” Ornado berkata sambil bangkit dari duduknya.


Setelah itu Ornado langsung membungkukkan tubuhnya, dengan kedua tangannya meraih kedua kaki Cladia, dan mengangkatnya ke atas tempat tidur agar Cladia bisa duduk berselonjor dengan nyaman di atas tempat tidur, baru dia menegakkan kembali tubuhnya, dengan mata terus memandang ke arah Cladia, memastikan bahwa wanita tercintanya itu sudah dalam posisi yang nyaman.


Mendapatkan perlakuan lembut dan penuh perhatian itu, Cladia hanya bisa tersenyum bahagia.


Sejak menikah dengan Ornado, Cladia tahu, suaminya itu selalu memperlakukannya seperti seorang ratu, yang bagi Cladia justru membuatnya menjadi manja, tapi tentu saja bagi Ornado, tidak ada alasan baginya untuk menghentikan kebiasaannya itu, karena baginya, Cladia memang ratu dalam hidupnya, dimana dia merasa tidak akan bisa hidup tanpa Cladia di sisinya.


“Al, lakukan pekerjaanmu di sini saja. Sambil menemani aku….” Cladia berkata sambil meraih salah satu tangan Ornado dan menggenggamnya dengan erat.


Ah, amore mio, sejak beberapa lama ini, kamu benar-benar manja padaku, dan itu selalu saja membuatku tidak bisa berpikir dengan normal. Kehadiranmu selalu saja membuatku hanya bisa fokus padamu. Bagaimana bisa semakin hari kamu terlihat semakin cantik dan menarik bagiku, dan semakin membuatku semakin tergila-gila padamu. Ap aitu karena hormon kehamilanmu? Atau karena aku yang sudah semakin jatuh cinta padamu?


Ornado berkata dalam hati dengan sedikit melenguh, karena setiap berada di dekat Cladia yang sudah seperti candu baginya, hasrat dan gairahnya selalu saja terpancing dengan sendirinya, tanpa mengenal waktu dan tempat.


Cladia selalu membuat Ornado merasa menjadi pria sempurna yang paling bahagia di dunia ini.


Mendengar permintaan Cladia, hampir saja Ornado lupa bahwa apa yang akan dibicarakannya dengan beberapa orang yang sudah direncanakannya itu, merupakan suatu hal yang bisa membuat Cladia tidak tenang, dan bahkan khawatir dan takut.