My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
TERPAKU DENGAN SUKSES



“Kalau begitu Tante…. Aku punya ide yang jauh lebih baik.”


“Apa itu?” Tante Ema langsung bertanya dengan wajah seriusnya menatap ke arah James.


“Aku saja yang menjadi pasangan Tante selama kita berlibur. Hitung-hitung, di sana nanti aku mungkin satu-satunya yang tidak membawa pasangan untuk berlibur. Bagaimana Tante? Mau jadi kekasih sementaraku selama liburan? Aku akan menjadi kekasih yang baik lho.” Mendengar perkataan James, tangan tante Ema langsung bergerak ke arah kening James, dan menjitaknya.


“Auww….” Suara teriakan pelan terdengar dari bibir James yang terlihat langsung memajukan bibirnya, dengan wajah memberengut mendapatkan jitakan dari tante Ema walaupun tidak terlalu sakit sebenarnya.


Tante Ema sendiri matanya memandang James dengan sikap gemas,


“Sembarangan kamu bicara! Lalu bagaimana dengan Elenora? Bukankah kamu pergi bersama Elenora, yang adalah calon istrimu? Gunakan kesempatan ini untuk memperat hubungan kalian, dan berusaha untuk saling mengenal satu sama lain.” Perkataan tante Ema membuat James mengernyitkan dahinya dengan wajah terlihat tidak terima.


“Calon istri? Memangnya sejak kapan aku mengakui dia sebagai calon ….” James langsung menghentikan bicaranya, dengan mata terlihat melotot, menatap ke arah depan.


Istriku….


James melanjutkan perkataannya dalam hati, dengan hanya menyebutkan satu kata itu tanpa sadar.


Bahkan begitu sadar, James hanya bisa menahan nafasnya, tanpa berusaha memperbaiki kesalahan dari kata-katanya, yang awalnya calon istri menjadi hanya kata "istriku" saja.


Tante Ema yang melihat reaksi aneh dari James, langsung menoleh ke samping, melihat apa yang sedang dilihat James sekarang, kenapa tiba-tiba James menghentikan perkataannya, dan matanya terpaku dengan wajah terlihat kaget, tidak percaya.


Dan begitu melihat apa yang sedang dilihat oleh James, bibir tante Ema langsung menyunggingkan sebuah senyuman, sudah bisa menebak apa yang sekarang ada di pikiran James saat ini.


Kalian para laki-laki keturunan keluarga Xanderson, memang paling tidak bisa menyembunyikan tatapan cinta kalian kepada wanita yang kalian cintai. Sayangnya James sampai saat ini masih bersikap bodoh dengan tidak mau mengakui perasaannya, dan lebih memilih menyiksa dirinya sendiri. Sungguh keras kepala.


Tante Ema dengan percaya diri mengatakan itu dalam hati, karena dia sudah melihat bagaimana saat Alberto, Ornado, papa James saat mereka jatuh cinta dengan wanitanya dahulu.


Dan sekarang, sikap James juga menunjukkan hal yang sama seperti para pendahulunya yang lebih dahulu merasakan jatuh cinta daripada James.


Sosok Elenora tampak berjalan mendekat dengan langkah yang terlihat begitu ragu-ragu dan kikuk.


Namun karena pakaian yang dikenakannya, sikap ragu dan kikuk Elenora tertutup dengan kesan anggun dan feminim yang terpampang jelas di depan James sekarang.


Elen…. Elenora? Apa benar itu Elenora?


James bertanya-tanya dalam hati, dengan matanya yang menyipit, untuk memastikan bahwa gadis yang sedang berjalan ke arahnya, dengan tampilan pakaian yang terlihat modis itu benar adalah Elenora yang dikenalnya.


Elenora yang selama ini diketahui James, selalu tampil culun dan kampungan menurutnya.


Dari tatanan rambut dan wajahnya, dia benar adalah Elenora. Tapi bagaimana bisa gadis culun itu mengenakan pakaian semodis itu? Meskipun tampilan wajahnya tidak berubah, Tetap saja cara berpakaiannya saat ini akan membuat orang yang tidak terlalu kenal dengannya tidak akan sadar bahwa itu Elenora yang biasanya selalu tampil seperti ibu-ibu kuno di era tahun 60an.


Bahkan hanya dengan mengganti cara Elenora berpakaian, tidak melakukan perubahan apapun dengan wajahnya dan tatanan rambutnya.


Ap… apa mungkin… jika saja dia mau merubah tatanan rambutnya dan melepas kacamatanya? Bahkan dia akan tampil secantik Serafina? Atau bahkan akan lebih cantik dari Serafina?


Tanpa sadar, tiba-tiba saja James justru membayangkan dan mulai menebak-nebak bagaimana tampilan Elenora jika bukan sekedar cara berpakaiannya, namun dia juga mengubah tatanan rambut dan melepas kacamatanya.


Karena saat ini, pikiran James kembali teringat akan sosok Elenora yang sempat terjatuh kacamatanya waktu itu.


Walaupun tidak sempat melihat wajah Elenora dengan jelas waktu itu, tapi James ingat bahwa sekilas… meski sekilas, James melihat bahwa saat itu dengan bulu matanya yang lentik, dan matanya yang indah, Elenora terlihat berbeda, dan juga…. Cantik.


Melihat bagaimana James yang saat ini sedang menatapnya tanda berkedip, membuat Elenora semakin merasa tidak nyaman, karena berpikir bahwa saat ini James sedang melihat penampilannya yang terlihat aneh hari ini.


Setelah ini aku harus menyiapkan hatiku jika tiba-tiba James mengolok-olok atau mencela penampilanku hari ini.


Elenora berkata dalam hati sambil dengan langkah pelan mendekat ke arah James, dengan wajah sedikit tertunduk karena malu dan tidak percaya diri, melihat bagaimana cara James menatapnya sekarang.


“Selamat pagi P… Eh James.” Elenora berusaha menyapa James untuk dapat menghilangkan sedikit rasa gugupnya, sehingga hampir saja dia memanggil James dengan sebutan pak James.


“Ah…. Selamat pagi Elenora….” James berkata sambil menggaruk alisnya yang tidak gatal, karena tanpa disadarinya, hari ini dia juga terlihat salah tingkah dan gugup karena benar-beanr tidak menyangka dengan tampilan baru Elenora hari ini.


“Sudah hampir pukul 8 pagi, sebaiknya kalian segera berangkat ke bandara dan bertemu yang lain.”


Akhirnya tante Ema mengingatkan Elenora dan James, setelah beberapa saat sebelumnya mereka berdua tampak canggung dan saling menunggu satu dengan yang lain memulai pembicaraan.


Dan tante Ema harus mengatakan itu dengan menahan senyum gelinya, karena melihat bagaimana Elenora dan James saat ini bersikap kikuk seperti anak SMA yang bertemu dengan orang yang disukainya tanpa sengaja di jalan.


“Ka... kalau begitu… ka… mi… pamit dulu tante Ema.” James berkata dengan suara terdengar sedikit terbata-bata, sambil memeluk sebentar bahu tante Ema.


Ist… kenapa aku jadi salah tingkah sampai kata-kataku jadi terbata-bata? Aku harus segera pergi sebelum tante Ema berpikir macam-macam tentang kami berdua.


James berkata dalam hati sambil melirik ke arah kaki Elenora, yang membuatnya menahan nafas sambil menelan ludahnya.


Sial, ternyata Elenora memiliki dua kaki jenjang yang terlihat begitu indah. Dan kaki jenjang gadis itu sungguh terlihat begitu pas memakai celana jenis skinny jeans itu. Sepertinya ada seseorang yang begitu pandai memilih pakaian yang begitu pas untuk Elenora untuk menonjolkan kelabihan yang dimilikinya. Padahal selama ini aku selalu dengan percaya dirinya, mengatakan kepada Ornado tentang bagaimana Elenora yang mungkin sengaja mengenakan pakaian yang begitu longgar untuk menutupi kekurangan bentuk tubuhnya yang ternyata justru begitu sempurna.


James kembali berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangan matanya dari kaki Elenora, jika tidak ingin dirinya menelan ludah dan menahan nafasnya kembali.


Apalagi, saat ini James bisa merasakan bagaimana dadanya yang tiba-tiba berdetak dengan irama lebih kencang dari biasanya, meskipun dia masih saja belum mengerti, apa yang sedang terjadi padanya saat ini.


Sebuah perasaan yang belum pernah dia alami saat dia melihat gadis lain, meskipun secantik dan seseksi apapun gadis itu.