My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PESAN TIDAK BERTUAN



Jeremy yang matanya sedang fokus menatap ke arah layar handphonenya terlihat mengepalkan salah satu tangannya dengan sikap tidak tenang.


“Ada apa Jeremy? Kenapa wajahmu terlihat kesal seperti itu?” Niela yang sedang duduk di hadapan Jeremy bertanya dengan wajah terlihat bertanya-tanya.


“Lihat ini! Benar-benar mengganggu!” Jeremy menyodorkan handphone di tangannya ke arah Niela yang langsung membacanya.


“Ah, lagi-lagi pesan dari orang tidak dikenal itu.” Niela berkata sambil menghela nafasnya.


Sejak beberapa hari ini, Jeremy mendapatkan beberapa kali pesan dari nomer yang tidak dikenal, yang isinya peringatan agar dia berhati-hati.


Dalam pesan itu menyebutkan bahwa Jeremy dan Cladia harus berhati-hati dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka, walaupun beberapa diantara mereka tampak baik-baik saja.


Di pesan itu juga menyebutkan bahwa Jeremy dan Cladia harus bisa menjaga diri dengan baik jika tidak ingin celaka.


“Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa maunya orang aneh itu.” Jeremy berkata sambil mengeluarkan suara desisan dari bibirnya, menunjukkan bahwa dia begitu terganggu dengan pesan-pesan itu.


“Mungkin dia bermaksud baik dengan memberikan peringatan kepadamu dan Cladia. Ambil saja sisi positifnya. Toh di jaman sekarang ini memang banyak orang yang sukanya menusuk dari belakang.” Kata-kata Niela justru membuat Jeremy mendengus kesal.


“Kalau dia memang berniat baik, harusnya dia jujur saat aku bertanya baik-baik, siapa sebenarnya dia. Bagaimana bisa percaya dengan orang yang tidak mau jujur dengan kita? Setiap aku menanyakan siapa dia sebenarnya, Tidak eprnah ada tanggapan sama sekali.” Niela menarik nafas panjang mendengar perkataan Jeremy.


Dengan gerakan lembut, Niela menepuk-nepuk punggung telapak tangan Jeremy yang terkepal di atas meja, mencoba menenangkan hati calon suaminya itu.


“Jangan terlalu dipikirakan Jer, kita memang harus selalu bersikap hati-hati terhdap orang di sekitar kita, tapi bukan karena perignatan dari pesan itu. Dalam hidup kita, apalagi di dunia yang sekarang ini terlihat semakin jahat, kita memang harus berhati-hati kan.” Niela berkata dengan pelan.


“Beberapa kali dalam pesan itu jelas-jelas menunjukkan bahwa peringatan itu ditujukan untukmu dan Cladia. Apa tidak lebih baik kita juga memberitahukan hal seperti ini padanya? Mungkin dia bisa menebak siapa yang sudah mengirimkanmu pesan seperti itu? Atau bisa memikirkan siapa yang mungkin memang berniat jahat terhadap kalian berdua?” Mendengar ide dari Niela, Jeremy langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


“Jangan Niel. Aku tidak ingin mengganggu Cladia. Kasihan dia. Kamu tahu sendiri bagaimana dia harus berjuang melawan traumanya. Peristiwa penembakan Ornado dan juga amnesia Cladia juga baru saja terjadi. Mereka baru saja pulih. Mana tega kita memberitahukan kabar seperti ini kepada mereka berdua. Biarkan mereka merasakan kebahagiaan mereka berdua untuk saat ini. Ornado dan Cladia, saat ini butuh banyak waktu berdua agar trauma Cladia bisa segera sembuh. Dan juga, berita tidak menyenangkan seperti ini, tidak baik untuk kondisi kehamilan Cladia.” Penjelasan panjang lebar dari Jeremy membuat Niela terdiam sesaat, lalu menyungingkan senyum kepada Jeremy.


“Baiklah Jer, untuk saat ini, cukup kita berdua saja yang mengetahui tentang pesan dari nomer tidak dikenal itu. Toh, pesan-pesan itu belum masuk kategori sebuah ancaman. Jika ke depannya pesan-pesan itu berkembang ke arah ancaman, baru kita beritahukan kepada Cladia dan Ornado. Dan bila dirasa perlu, kita bisa laporkan kepada pihak yang berwajib sekalian supaya diselidiki.” Niela berkata sambil sedikit menganggukkan kepalanya, disambut tarikan nafas panjang oleh Jeremy.


“Aku rasa itu yang terbaik yang bisa kita lakukan saat ini. Semoga itu hanya pekerjaan orang iseng. Dan jika sudah bosan karena tidak ditanggapi, dia berhenti dengan sendirinya. Atau kita bisa berharap itu adalah pekerjaan orang yang kita kenal, yang hanya ingin bercanda.”


“Kalau begitu, lebih baik sekarang kita pergi mencari hadiah untuk pesta pindah rumah Dario.” Niela langsung mengalihkan pembicaraan tentang surat itu, dengan mengingatkan Jeremy tentang undangan pesta pindah rumah dari Dario nanti malam.


# # # # # # #


James sedikit mendengus melihat bagaimana file kontrak kerjasama yang seharusnya di cek oleh Elenora, ternyata masih saja ada kesalahan dalam penulisannya.


Dan kesalahan pertama yang sudah dilakukan Elenora setelah menjadi asistennya ini boleh dibilang cukup fatal, karena dia tidak teliti dalam menghitung jumlah angka 0 yang tertera pada surat perjanjian kerjasama itu.


Walaupun dengan penambahan angka 0 itu tidak akan merugikan perusahaan Bumi Asia, justru menguntungkan, namun merugikan pihak klien jika mereka menandatanginya.


Tapi kesalahan seperti itu tentu saja akan mencoreng nama baik perusahaan Bumi Asia dan menunjukkan betapa tidak profesionalnya perusahaan itu dalam menjalin kerjasama dengan klien, sehingga surat kontrak kerjasamapun salah dalam menuliskan angka kontrak yang seharusnya.


"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan dan bagaimana kamu melakukan pekerjaanmu. Bagaimana bisa seorang dengan nilai summa cum laude seperti kamu bisa melakukan kesalahan fatal yang bisa membuat orang lain menertawakan perusahaan kita seperti ini?" James berkata dengan nada terlihat meremehkan ke arah Elenora.


(Cum Laude adalah predikat yang diberikan pada ujian di perguruan tinggi. Ada beberapa predikat yang termasuk ke dalam Cum Laude seperti magna cum laude yang berarti lulus dengan banyak pujian dan summa cum laude yang artinya lulus dengan pujian terbanyak).


Mendengar perkataan James, Elenora hanya bisa diam membisu dengan kedua tangannya saling menggenggam dengan sikap gugup.


“Untung saja aku memeriksa kembali berkas ini. Bayangkan saja apa jadinya jika surat kontrak kerjasama ini sudah sampai di meja Ad. Ornado begitu mempercayaiku sebagai tangan kanannya, karena itu dia yakin semua yang ada di meja kerjanya, sudah melalui proses pengecekan dengan sempurna.” James berkata tanpa mau menatap ke arah Elenora, karena dia tidak mau ada rasa kasihan timbul dalam hatinya, jika melihat bagaimana gugup dan merasa bersalahnya Elenora karena saat ini.


Karena James memang ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa Elenora, bukanlah orang yang memiliki kemampuan lebih untuk dapat bekerja sebagai asistennya.


“Maaf James….” Elenora berkata dengan suara begitu pelan, nyaris berbisik.


“Kalau dengan minta maaf semua selesai, makan tidak akan pernah akan terjadi masalah serius di dunia ini, bahkan perang. Tapi kamu tahu bahwa kata maaf tidak bisa memyelesaikan segalanya.” James berkata dengan wajahnya yang terlihat begitu tidak perduli.


Kalau aku menyelesaikannya sendiri, pasti tidak akan terjadi masalah seperti ini. Inilah kenapa aku tidak mau memiliki asisten pribadi. Bukannya membantu justru membuatku semakin pusing. Masak setiap kesalahan yang dia buat, aku justru sebagai pimpinannya yang harus memastikan dia tidak melakukan kesalahan. Benar-benar konyol.


James berkata dalam hati dengan mata memandang ke arah selembar kertas dan fokus kepada sebaris angka yang salah dalam penulisan jumlah angka 0 nya.