
Mau tidak mau, kejadian di depannya, membuat Elenora harus mengakui bahwa dalam hatinya yang paling dalam, dia merasa sedikit iri melihat bagaimana perlakuan para suami hebat itu kepada istrinya.
Rasanya pasti bahagia sekali bisa menjadi ketiga wanita itu, karena memiliki suami yang begitu mencintai mereka sedalam itu. Meskipun sebenarnya para lelaki itu bukanlah laki-laki biasa. Mereka para lelaki hebat, namun di depan istrinya, tampak seperti laki-laki biasa yang hanya bisa mencintai wanitanya dengan sepenuh hati dengan cinta yang begitu dalam.
Lagi-lagi Elenora berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangan matanya ke samping, yang membuatnya tanpa sadar bersirobok dengan tatapan mata James yang ternyata masih menatap ke arahnya.
Dengan gugup, Elenora langsung mengalihkan pandangan matanya dari jangkauan tatapan mata James yang hanya bisa menghela nafasnya melihat bagaimana Elenora menghindari pertemuan mata mereka.
James sendiri untuk beberapa waktu ke depan masih saja menatap ke arah Elenora yang sudah mengalihkan pandangan matanya.
Meskipun dari arah lain tampak nyonya Rose berjalan mendekat ke arah Elenora dan mulai mengajaknya mengobrol.
“Tenang saja Kak Enzo, aku sudah mengabadikannya, bukan sekedar sebuah foto, tapi sebuah video.” Alaya berkata kepada Enzo sambil menggerak-gerakkan handphone yang ada di tangannya dengan wajah terlihat bangga karena sudah berhasil mengambil video dari kejadian indah pagi ini.
Jawaban dari Alaya cukup membuat Deanda, Cladia, maupun Laurel langsung menoleh ke arahnya dengan wajah terlihat sedikit kaget.
Sedang Alvero, Ornado dan Dave terlihat tidak begitu perduli bahwa seseorang sudah mengambil video kejadian barusan.
Justru bagi ketiga laki-laki itu hal seperti harus ditunjukkan dan dipamerkan kepada dunia luar, agar semua tahu bahwa wanita yang sekarang berdiri di samping mereka adalah miliknya, dan tidak ada seorangpun yang boleh coba-coba mendekati apalagi menginginkan wanita milik mereka itu.
Perkataan Alaya membuat Alexis langsung mendekat ke arahnya.
“Simpan baik-baik video itu, supaya suatu ketika jika ada salah satu dari pasangan itu… mereka bertengkar hebat, kita bisa menunjukkan video itu untuk mengingatkan bagaimana membaranya cinta mereka saat ini, agar bisa menghentikan pertengkaran mereka.” Kata-kata Alexis membuat Alaya langsung tertawa renyah.
“Baik Uncle Alexis, aku akan menyimpannya baik-baik.” Dengan nada bersemangat, Alaya berkata sambil menyimpan handphone di tangannya ke dalam tas kecil yang digantungnya menyilang di tubuhnya.
“Kalau begitu, bisakah kita berangkat sekarang?” Alaya kembali berkata dengan nada begitu bersemangat.
Rasanya dia tidak sabar untuk mulai perjalanan mereka dan melihat-lihat tempat perbelanjaan yang sudah dibicarakan oleh Ornado tadi.
“Oke, kita berangkat sekarang.” Ornado berkata sambil melingkarkan lengannya di pinggang Cladia dengan sikap melindungi seperti biasanya.
“James, ayo berangkat sekarang.” Sebentar kemudian, Ornado memanggil James dan segera mengajaknya berangkat karena dilihatnya James masih diam termenung di tempatnya dengan tatapan mata terlihat sedikit kosong, entah apa yang sedang dilamunkannya.
Tempat pertama yang dikunjungi mereka adalah Pasar Seni Ubud.
(Jika Anda mencari kerajinan lokal dengan kualitas terbaik dan mahakarya artistik Bali, maka Pasar Seni Ubud adalah tempat yang tepat. Anda dapat memilih berbagai macam patung, layang-layang, tas tenunan tangan, keranjang atau topi anyaman, dan barang-barang buatan tangan lainnya yang dipajang dengan indah.
Pasar Seni Ubud pernah menjadi lokasi syuting film Hollywood berjudul ‘Eat Pray Love’ yang dibintangi Julia Roberts pada 2010).
Setibanya di sana, bukan hanya Alaya, tapi Deanda bahkan Laurel terlihat begitu bersemangat berjalan berkeliling melihat, mencari, membandingkan barang-barang yang dijual di sana.
Mereka tampak begitu senang bisa melihat berbagai kerajinan tangan yang indah dan bagi mereka terlihat begitu artistik. Tanpa ragu Deanda maupun Alaya sibuk memilih beberapa kerajinan yang terlihat unik dan indah, membelinya untuk dijadikan oleh-oleh maupun pajangan untuk diletakkan di kamar atau di ruangan lain yang sudah mereka bayangkan akan membuat tampilan ruangan mereka semakin cantik.
“Dave, aku akan membeli beberapa barang untuk teman-teman di rumah sakit. Bolehkan?” Mendengar pertanyaan Laurel, Dave langsung menganggukkan kepalanya.
“Pilihlah sesukamu. Kita juga tidak mungkin datang kembali dengan tangan kosong. Jangan lupa untuk membelikan oleh-oleh keluarga di rumah besar.” Dave berbisik pelan ke telinga Laurel.
“Untuk mereka, aku akan membelikan oleh-oleh dari desa Celuk saja. Ad bilang, setelah ini kita akan berkunjung ke sana. Aku dengar di sana tempatnya berkumpulnya para pengrajin emas.” Laurel langsung membalas perkataan Dave yang akhirnya hanya mengangguk setuju.
(Di Yogyakarta, para perajin emas dan perak terpusat di Kotagede, sedangkan di Bali, para perajin emas dan perak berada di desa Celuk. Jika berwisata ke Bali dan mampir ke Pasar Seni Sukawati, Desa Celuk ini tidak terlalu jauh dari sana. Jaraknya hanya 4 kilometer dari Sukawati. Di sepanjang jalan raya Celuk terdapat beberapa galleri dan bengkel seni emas dan perak. Desa Celuk ini pasti termasuk salah satu tujuan wisata yang pasti dikunjungi jika seseorang mengikuti agen travel wisata di Bali. Pastikan untuk memiliki kerjinan perak dan emas dari Bali. Kualitas ukurannya sudah tidak diragukan lagi. Soal harga beragam, dari yang paling murah hingga yang paling mahal pun ada. Mulai dari harga 50 ribu rupiah hingga 15 juta rupiah pun ada disini).
Bagi Dave, rasanya lebih bijaksana jika urusan belanja memang diserahkan pada ahlinya, para wanita yang pada dasarnya memiliki jiwa shopping yang lebih besar dibandingkan dengan mereka para pria.
Hal itu terbukti dengan tidak ada lelahnya mereka terlihat bersemangat menyusuri tempat perbelanjaan itu, bahkan jika mereka merasa lebih cocok dengan kualitas barang sekaligus harga barang yang ada di sebuah toko yang sudah mereka lewati, tidak segan-segan mereka rela berjalan balik, kembali ke toko yang tadi.
Sesekali para pria yang mengantar para wanita itu berbelanja kadang hanya bisa melongo melihat bagaimana para wanita itu bahkan tidak telihat lelah sama sekali walaupun harus berjalan mondar-mandir seperti itu.
Bahkan tawa bahagia dan geli seringkali terdengar diantara para wanita yang sedang berbelanja itu.
Jangankan Laurel, Deanda maupun Alaya yang masih muda. Bahkan Larena dan nyonya Rose seperti tidak mau ketinggalan dengan mereka yang masih muda.
Kedua wanita paruh baya itu terlihat begitu bersemangat dalam memilih barang-barang belanjaan dan sibuk saling bertukar pendapat sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk membeli sesuatu.
Cladia, meskipun dia tidak sekalap yang lain dalam berbelanja, karena kondisi tubuhnya tidak sebugar yang lain, dan Ornado yang langsung menghentikan kegiatannya, jika dilihat Ornado, Cladia mulai terlihat lelah.
Akan tetapi barang-barang yang dibeli oleh Cladia juga tidak bisa dibilang sedikit.
Untung saja Ornado sengaja membawa banyak pengawal dan kendaraan khusus yang dia siapkan untuk membantu membawakandan menampung setiap barang belanjaan yang sudah dibeli oleh para wanita itu.
Melihat begitu bersemangatnya para wanita itu, termasuk istrinya sendiri berbelanja, Ornado merasa ikut senang bahwa tempat yang dia pilihkan berhasil membuat para tamu undangannya merasa senang dan puas.