
"Kita lanjutkan obrolan kita nanti. Sekarang, kita nikmati makan pagi kita sebelum kita melakukan perjalanan kita hari ini. Hari ini aku sengaja membawa kalian ke tempat perbelanjaan dulu karena kemarin kalian baru datang. Kalian bisa nimkati berbagai keindahan berbagai kerajinan yang ada di temapt ini. Pasti masih lelah. Besok baru kita menikmati keindahan alam pulau ini." Orndo berkata sambil kedua telapak tangannya dia angkat dalam posisi terbuka, untuk mempersilahkan mereka semua menikmati sarapannya.
Untuk beberapa saat kemudian mereka mulai menikmati suguhan sarapan berupa makanan Eropa dan beberapa masakan khas Bali yang cukup populer, seperti nasi jinggo, sate lilit, sate pentul, ayam betutu, dan bebek bengil.
(Nasi Jinggo adalah salah satu kuliner yang tidak boleh dilewatkan saat melakukan kunjungan ke Bali. Dengan pembungkus daun pisang dan tampilan kerucut memanjang, nasi jinggo banyak disajikan bersama daging, mie, sambal goreng tempe, dan sambal. Sate Lilit, sebagian banyak orang mungkin sudah familiar dengan kuliner satu ini. Sate lilit merupakan olahan daging ikan atau ayam yang dililitkan pada tusuk sate. Karena sudah dibumbui, tidak ada bumbu kacang dalam penyajiannya. Sate Pentul nyaris serupa dengan sate lilit, sate pentul juga dililitkan pada tusuk sate. Yang menjadi pembeda antara keduanya yaitu, pada sate pentul menggunakan tusuk sate dengan bahan batang serai alih alih kayu atau bambu.
Ayam Betutu merupakan makanan khas Bali ini sangat populer di kalangan wisatawan, dimana ayam betutu dihidangkan dengan bumbu base genep (lengkap). Base genep berisi terasi, kemiri, jahe, lengkuas, bawang, kunir, kencur, serai, cabai, dan daun salam. Bebek Bengil juga menjadi salah satu makanan khas pulau dewata. Mirip dengan olahan bebek pada umumnya, konsumen akan menemukan daging bebek goreng dengan rasa gurih serta rempah rempah yang lezat).
Masakan khas Bali yang dikenal kaya akan rempah-rempah, disuguhkan dengan penataan menggunakan peralatan tradisional, membuat tampilan makanan tersebut justru terlihat menarik, dan membuat orang ingin mencobanya.
Berbagai makanan khas Bali itu ditata dalam berbagai wadah seperti tampah, bakul ataupun piring lidi yang dialasi dengan daun pisang, membuat kesan eksotis, tradisional sekaligus terlihat begitu alami.
Belum lagi aroma masakan yang bercampur dengan daun pisang, menimbulkan kesan khas yang tidak akan bisa didapatkan jika makanan itu diletakkan di piring saji biasa.
(Tampah disebut juga tampi, penampi, atau nyiru adalah alat yang terbuat dari anyaman belahan batang pohon bambu yang dibelah. Umumnya tampah di Indonesia berbentuk bundar seperti piring berdiameter kira-kira sepanjang 65–80 cm. Tampi merupakan alat tradisional dari anyaman bambu yang berbentuk bundar, biasa digunakan untuk menampi padi atau beras dalam memisahkan latah/antah/amapas kulit padi dengan bantuan angin diayunkan dan ditiup sehingga antah bisa dipisahkan dari beras, juga bisa dipakai untuk menjemur.
Selain untuk menampi beras, tampah juga berguna untuk menaruh jajanan kudapan yang biasa disebut kue tampah. Tampah juga digunakan sebagai tempat alas untuk tumpeng, dan juga untuk menjemur kerupuk kerak atau gendar. Alat ini masih banyak digunakan oleh masayarakat Indonesia karena tampah adalah alat yang relatif murah dan praktis dalam penggunaan.
Bakul / Wakul Tempat Nasi Anyaman Bambu merupakan kerajinan yang terbuat dari bambu yang dibelah belah kemudian dianyam sehingga terbentuklah bakul yang dapat digunakan sebagai tempat menyimpan nasi. Keranjang atau bakul (Bahasa Indonesia)/boboko (Sunda), adalah sebuah wadah yang biasanya dibuat dari serat-serat tanaman yang dianyam).
Meskipun di sisi lain tampak meja dengan suguhan makanan khas Eropa yang disuguhkan dengan berbagai peralatan makan yang mewah dan modern, tidak membuat makanan khas Bali yang ditata apik itu kehilangan pamor dan justru menarik minat para tamu yang berasal dari Gracetian itu untuk mencicipinya.
Sedang Alvero sendiri, dia yang memang memiliki keahlian di masakan Asia, tentu saja selera makannya langsung tergugah begitu melihat tampilan semua masakan itu.
Wajah puas tampak terlihat di semua orang yang sedang menikmati sarapan pagi ini.
Alvero dan Deanda tampak saling melemparkan komentar mereka tentang masakan yang disajikan pagi ini, terutama masakan khas Bali.
Yang pasti dengan antusias raja dan permaisuri Gracetian itu membicarakan tentang tampilan, bumbu, dan rasa dari masakan itu.
Nyonya Rose yang biasanya bertanggung jawab terhadap suguhan makanan di istana, beberapa kali sengaja berkonsentrasi saat mencicipi makanan tersebut, dan sesekali, wanita setengah baya itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah dia menemukan sesuatu dari masakan-masakan itu dan mendapatkan inspirasi baru.
"Seperti kata Enzo, sepertinya seluruh keluargaku akan membuat pesawat jet yang akan kami tumpangi menjadi lebih banyak beban karena naiknya timbangan berat badan kami setelah pulang berlibur dari negara ini." Alvero berkata setelah satu tusuk sate lilit masuk ke mulutnya sambil tersenyum.
Walaupun selama menikmati makan paginya, sebagai keturunan bangsawan yang sudah terlatih sejak kecil dan menerima pengajaran tentang tata cara hidup sebagai seorang putra mahkota, Alvero memulai makannya dengan sikap yang terlihat begitu elegan, tenang dan rapi.
Tapi sikap berhati-hati Alvero dalam menikmati makanannya itu, tidak bisa menutupi bagaimana wajah Alvero yang terlihat begitu menikmati apa yang disuguhkan pagi ini padanya.