
Ah, untung saja James tidak mendengar kata-kata Dea. Kalau tidak, habislah dia. Bisa jadi, jika James mendengar kata-katanya, ini akan menjadi hari terakhirnya bekerja di kantor Bumi Asia.
Elenora yang melirik ke arah James yang baru saja bertemu Ornado dan sedang serius membicarakan pekerjaan, berkata dalam hati sambil menarik nafas lega.
Karena bagi Elenora yang setelah menikah tahu bahwa ternyata James adalah orang yang cukup possesif, pasti akan tersinggung dan tidak terima jika mendengar ada orang yang sudah berani menjelek-jelekkan dia sebagai istri James.
“Jangan bicara sembarangan Dea. Mau dengan siapapun pak James menjalin hubungan, itu adalah hak pak James. Dan jangan terlalu percaya diri, menganggap dirimu terlalu baik dibandingkan orang lain, sehingga merasa berhak menghina orang lain.” Audrey yang pertama kalinya menyadari bahwa wanita itu adalah Elenora karena mereka sering bersama selama ini, langsung menegur Dea, yang tampak mencibirkan bibirnya, begitu mendengar teguran dari Audrey.
Benar-benar Dea ini, orang ynag tidak mau belajar dari pengalaman dan sombong sekali.
Audrey berkata dalam hati, sedikit merasa kesal dengan sikap Dea yang masih saja menyimpan rasa benci pada Elenora.
“Biarkan saja, sejak awal aku tidak suka gadis kampungan itu. Sayang sekali kalau pak James yang begitu tampan, disandingkan dengan gadis kampungan seperti Elenora.” Dea berkata sambil berlalu dengan cepat dari dekat Audrey tanpa merasa bersalah dan perduli dengan teguran Audrey barusan.
Audrey yang melihat Elenora sedang menatap ke arah mereka, langsung mendekati Elenora yang kebetulan berdiri agak jauh dari James yang masih serius berbicara dengan Ornado.
“Bagaimana perjalananmu Elenora. Apa semuanya lancar? Semoga mamamu baik-baik saja.” Audrey berbisik pelan kepada Elenora yang langsung tersenyum, melihat Audrey adalah satu-satunya orang yang menyadari bahwa dia adalah Elenora dan menyapanya dengan hangat.
“Terimakasih doanya. Mamaku baik-baik saja. Kalau begitu, ayo kita ke ruangan kita sekarang.”
“Eh, Elenora, kamu tidak menunggu pak James? Lagipula, sekarang ruanganmu sudah dipindahkan ke ruangan pak James.” Audrey berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, karena sejak sebelum Elenora pergi ke Italia, Audrey yang seringkali mendapat perintah aneh dari James terkait Elenora, tahu bahwa James benar-benar menyukai Elenora.
Apalagi ketika datang tadi Audrey bisa melihat bagaimana James dan Elenora keluar dari satu mobil yang sama tadi, membuat Audrey yakin kalau mereka berdua sudah memiliki hubungan yang lebih istimewa dari sebelumnya.
“Tidak perlu….”
“Ayo Ele, kita ke kantorku.” Ajakan James yang sudah selesai berbincang dengan Ornado, membuat Elenora menghentikan kata-katanya pada Audrey yang langsung tersenyum.
“Ah ya Audrey, setelah kamu melakukan absen, susul kami di kantorku ya. Ada sesuatu yang harus kami lakukan, dan kami membutuhkan bantuanmu.”
“Siap Pak James.” Audrey langsung menjawab permintaan dari James dengan sikap sigap.
“Sebenarnya, bantuan apa yang kamu butuhkan dari Audrey? Apa aku tidak bisa membantumu?” Begitu mendengar pertanyaan Elenora, James langsung melirik Elenora dengan senyum bahagia sambil memasuki pintu kantornya, setelah mempersilahkan istrinya untuk masuk ke dalam kantor lebih dahulu.
Dan pemandangan itu, tidak lepas dari pengamatan beberapa pasang mata yang merasa semakin yakin bahwa wanita cantik yang sedang bersama James adalah kekasih James.
“Apa kamu cemburu? Alangkah senangnya, setelah selama ini kamu yang selalu berhasil membuatku cemburu.” James berkata sambil mengingat tentang keberadaan Dodi, Alex, dan pastinya Gavino, yang terkahir kalinya mengetahui hubungan suami istri antara James dan Elenora, menunjukkan wajah sangat kecewa dan memandang kea rah Elenora seolah berharap dia masih memiliki kesempatan untuk bersama Elenora.
Melihat Elenora hanya tersenyum mendengar pertanyaan James, dengan cepat James dari arah samping, memeluk tubuh Elenora yang berniat berjalan ke arah meja kerjanya, berupa perabot baru.
“Katakan padaku ti amore, apa kamu cemburu?”
“Tidak.” Jawaban singkat dari Elenora membuat James langsung memberengut.
“Kenapa aku harus cemburu? Sedang suamiku yang aku tahu, hanya mencintaiku seorang, tidak pernah melirik wanita lain, seperti aku yang juga hanya bisa mencintaimu seorang.” Elenora berkata dengan sikap tenang.
Dengan gerakan cepat tanpa diduga oleh James, Elenora mencium pipi James sekilas sebelum akhirnya dia melepaskan diri dari pelukan James karena didengarnya suara ketukan pintu dari arah luar pintu kantor James.
James sendiri, langsung tersenyum dengan sikap malu-malu, tapi puas begitu mendengar kata-kata Elenora barusan.
“Te amo ti amore.” James berkata sambil menarik pergelangan tangan Elenora yang berniat membukakan pintu kantor James, dan langsung mencium lembut bibir Elenora yang tersentak kaget, karena tidak menyangka James akan menciumnya di kantor, sedang seseorang di luar sana sedang mengetuk pintu kantornya.
“Kita lanjutkan nanti di rumah ti amore. Berikan servis terbaikmu malam ini untukku.” James berbisik pelan sambil tangannya mengelus tubuh Elenora dan bibirnya yang basah mengecup telinga Elenora yang tubuhnya langsung menegang, dadanya berdegup dengan begitu kencang, ditambah wajahnya yang memerah.
Dengan senyum geli, James yang berhasil menggoda Elenora, berjalan dengan santai ke arah pintu, dan membukanya, dimana sosok Audrey berdiri dengan sikap sopan.
Namun begitu Audrey melihat bagaimana bibir James terlihat sedikit merah karena terkena lipstik Elenora, membuat Audrey terlihat canggung dan berusaha mengalihkan pandangan matanya dari wajah James.
Begitu melihat sikap aneh dari Audrey, Elenora yang langsung menyadari adanya sesuatu yang tidak beres, langsung memandang ke arah James.
Begitu mengetahui penyebab Audrey terlihat salah tingkah, dengan cepat Elenora meraih tissue yang ada di atas meja di dekat sofa yang ada di ruangan James, dan segera menyodorkannya ke arah James, dengan mata memberikan kode ke arah bibir James yang langsung melap bibirnya dengan tissue yang diberikan oleh Elenora padanya.