My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
LAGI-LAGI.... MODUS JAMES



Note : Untuk para pembaca tercinta, novel ini akan segera berakhir, kemungkinan di akhir bulan ini, paling lambat awal bulan depan. Untuk itu, seperti biasanya, author akan memberikan gimmick sebagai kenang-kenangan kepada 3 nama tertinggi di ranking umum top fans. Terimakasih sebesar-besarnya untuk dukungan setia para pembaca tercinta, berupa vote, komen, favorit, like, rate, pokoknya semuanya deh. 🙏🙏🙏🥰🥰🥰 


Bukan... bukan hanya malam ini.... Tapi sejak tadi pagi, bagaimana lembut, perhatian dan baiknya sikap James padanya, membuat Elenora justru bersikap begitu siaga, takut jika James sengaja melakukan semua itu untuk sekedar mengerjainya sekarang.


James sendiri yang pura-pura mengantuk dan memejamkan matanya, justru dengan diam-diam, sesekali James sengaja membuka sedikit matanya untuk tetap bisa memandang ke arah Elenora, sengaja mengintip sosok Elenora dari sela-sela matanya yang sedikit terbuka itu, dengan kedua tangannya terlipat di depan perutnya.


Saat melihat ke arah Elenora, dan kembali memejamkan matanya, James selalu menyungingkan senyum puas di wajahnya, bisa berlama-lama dengan Elenora meskipun dia harus melakukan hal yang tidak masuk akal seperti saat ini.


Dan jika Elenora yang kadang merasa sedang diawasi, jika tanpa sengaja menoleh ke arah James yang sedang mengintip Elenora, James akan dengan segera akan segera menutup rapat kedua matanya, dan berpura-pura tertidur pulas dengan membuat wajahnya terlihat tenang, seolah benar-benar tertidur.


Ah, untung saja Ad tidak ada disini, jika tidak dia pasti tahu bahwa semua ini hanya sekedar akal-akalanku untuk membuat Elenora berada di dekatku dalam waktu yang lama. Dan dia pasti akan menertawakanku habis-habisan.


James berkata dalam hati, mencoba menerka apa yang akan dilakukan Ornado jika melihatnya bertingkah aneh seperti ini.


Tapi bagaimanapun, aku harus secepatnya memberitahukan kepada Ad tentang pernikahanku dengan Elenora, dan rencanaku untuk mencari kebenaran di balik peristiwa malam itu. Aku tidak mau ke depannya ada yang menjadi batu sandungan dalam pernikahanku dengan Elenora. Apapun itu, aku harus segera membereskannya, karena aku juga tidak lagi ada rencana untuk melepaskan Elenora kembali. Entah baik atau buruk kebenaran yang terjadi di masa lalu, aku akan tetap menerima Elenora apa adanya. Hanya saja, aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi agar tidak lagi ada ganjalan dalam hatiku.


James kembali berkata dalam hati sambil berusaha memikirkan cara lain agar malam ini setidaknya ada sedikit waktu lagi untuk dia terus menikmati keberadaan Elenora yang mulai membuatnya tidak lagi perduli dengan apa yang terjadi di masa lalu, sehingga James bertekad akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan Elenora apapun yang terjadi.


Meskipun James juga akan berusaha segera menemukan alasan di balik peristiwa yang sempat membuatnya sakit hati dan begitu kecewa dengan Elenora. Dan jika saja memungkinkan dia ingin, agar dapat menemukan jawabannya saat dia kembali dari kota B.


Eh, bisa-bisanya dia tertidur seperti itu? Hanya pura-pura atau dia benar-benar tertidur?


Elenora berkata sambil menarik nafas panjang.


Namun, tidak perlu waktu lama, James harus mengakhiri sandiwara tidurnya, karena beberapa kali James mendengar klakson yang berbunyi saling bersahutan dari arah belakang mobilnya.


Bahkan ada beberapa dari mereka yang dengan begitu keras membunyikan klaksonnya. Ada juga yang membunyikan klason dengan memencetnya cukup panjang, sehingga timbul bunyi nyaring berkepanjangan yang cukup memekakkan telinga.


"Ist! Benar-benar mengganggu! Kenapa mereka ribut sekali sih?" James membuka matanya dan menggerakkan tubuh nya agar kepalanya bisa menoleh ke arah belakang mobilnya.


Begitu James menoleh, dia bisa melihat banyaknya mobil yang mengantri di belakang mobil yang dikendarai Elenora karena begitu pelannya Elenora melajukan mobilnya, sedang jalanan sedang ramai sehingga beberapa mobil yang terhambat untuk mendahului mobil yang dikendarai Elenora terus menerus mendapatkan hadiah bunyi klakson bertubi-tubi.


Melihat bagaimana mereka sibuk membunyikan klakson pada Elenora, membuat James sedikit mendengus kesal.


"Apa mereka tidak bisa berbagi jalan sih?" Elenora yang mendengar omelan James langsung menoleh.


"Aku tambah kecepatannya ya? Kasihan mereka."


"Kamu tambah saja gasnya, tapi di perempatan depan sana, terus lurus." Lagi-lagi Elenora dibuat bingung dengan permintaan James.


Jika mereka tidak berbelok ke arah kanan, tapi lurus ke depan, itu artinya mereka justru menjauhi apartemen yang menjadi tujuan mereka.


"Aku perlu membeli sesuatu di ....mart." Seolah bisa membaca pikiran Elenora, James langsung menjelaskan tujuan selanjutnya.


Meskipun sebenarnya, jika James memang butuh ke ....mart, 300 meter berbelok ke kanan sebelum lokasi apartemennya ada ....mart yang sama, dan justru ....mart yang sedang dituju oleh James sekarang letaknya justru lebih jauh dan membuat mereka nantinya harus memutar jika ingin kembali ke apartemen.


Dan saat ini Elenora hanya bisa menuruti keinginan James, bukan karena dia takut jika James marah bila dia berani menolak keinginan James, tapi Elenora yang sama sekali tidak familiar dengan lingkungan sekelilingnya yang baru, memang tidak tahu bahwa ada ....mart lain yang lebih dekat posisinya.


Begitu sampai di depan ....mart yang dimaksudkan oleh James, Elenora langsung memarkirkan mobil dan melepas sabuk pengamannya.


"Apa yang kamu butuhkan? Biar aku membelikannya untukmu." Elenora berkata sambil menatap ke arah James yang langsung mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Tidak! Aku bisa membelinya sendiri sih, tapi bukannya sebagai sekretarisku kamu juga bertugas untuk menyediakan semua keperluanku? Kita pergi berdua agar kamu tahu barang-barang apa saja yang biasa aku gunakan sehari-hari." Lagi-lagi James sengaja menggunakan posisinya sebagai bos sebagai alasan untuk membuat Elenora menuruti keinginannya.


Sedang Elenora sendiri memilih diam dan segera keluar dari pintu mobil, membuat James tersenyum, seperti anak kecil yang merasa begitu senang diajak belanja oleh orangtuanya membeli jajanan.


"Selamat datang di ....mart kakak." James dan Elenora langsung membalas sapaan pramuniaga di tempat itu dengan senyum.


Elenora hanya bisa tersenyum geli begitu melihat pramuniaga yang baru saja menyapa mereka menatap James dengan tatapan terpesona, sampai tangannya yang sedang memegang barang milik pembeli lain yang sedang mengantri terdiam mematung, karena matanya begitu terpaku menatap ke arah James.


(Pengertian pramuniaga menurut Suharso dan Retnoningsih (2014) adalah karyawan yang bekerja di perusahaan dagang dimana mereka memiliki tugas untuk melayani konsumen. Karena tugas utama pramuniaga adalah untuk melayani konsumen, otomatis pramuniaga akan berhadapan langsung dengan konsumen. Selain jual beli, pramuniaga juga bertugas memperkenalkan produk yang tersedia atau mungkin dibutuhkan konsumen. Pramuniaga kadang  juga disebut sebagai pelayan toko).


Bahkan barang yang sedang dipegang oleh pramuniaga itu hampir saja terjatuh, karena terlalu fokusnya dia menatap sosok James.


Untung saja pembeli yang sedang mengantri itu tidak merasa keberatan karena dia juga sedang menikmati sosok tampan James yang berwajah khas Italia, dengan ketampanan, gagah dan bentuk tubuh sempurna sebagai seorang pria yang tidak perlu diragukan lagi.


Siapa sih yang bisa menolak pesona seorang James? Pemikiran itu membuat Elenora tetap tersenyum sambil matanya berkeliling melihat-lihat rak yang tersusun rapi di sekitarnya.


Sedangkan di sisi lain, James sedikit menahan nafasnya begitu melihat dua pramuniaga pria yang sedari tadi terus memandangi Elenora dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan terpesona, dari arah sebelah kanan Elenora, di dekat rak barang yang sedang ditata mereka.


Melihat itu, dengan sengaja James langsung berjalan ke arah sisi kanan Elenora, dan berdiri tepat di samping kana Elenora untuk menghalangi kedua pramuniaga pria itu untuk memandang ke arah Elenora.