My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
WAKTUNYA KEMBALI KE KAMAR



Malam ini, setelah menyelesaikan tugasnya dan memeriksa persiapan kelompok yang bertugas untuk menjaga keamanan shift selanjutnya, Alex menyempatkan diri untuk menikmati makan malamnya sembari mengobrol dengan Elenora yang dilihatnya memilih duduk sendiri setelah nyonya Rose pergi mengikuti yang lain untuk beristirahat.


Cukup lama mereka menikmati suasana indah malam itu, sambil mengobrol sampai tubuh Cladia yang dirasakan oleh Ornado mulai terasa dingin, saat Ornado menyentuh kulit tangannya, meskipun berada dalam pelukannya dan menutupi tubuhnya dengan stola.


"Sepertinya angin malam semakin kencang dan dingin. Lebih baik kita masuk ke dalam. Dan jika masih ingin mengobrol, kita bisa melanjutkannya di dalam." Ornado berkata sambil memandang Dave dan Laurel yang ternyata juga beberapa kali tampak menggosok-gosok kulit lengannya dengan telapak tangan agar tubuhnya terasa lebih hangat.


Bahkan sesekali Laurel tampak mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya dan meniupnya untuk membuat dirinya sendiri menjadi lebih hangat.


Beberapa waktu sebelumnya Dave sudah menawarkan untuk mereka masuk ke dalam, tapi Laurel yang sedang asyik mengobrol dengan Cladia, memilih menahan dinginnya angin malam ini.


Selama ini, tidak banyak kesempatan bagi mereka yang biasanya sibuk untuk dapat menikmati suasana santai sambil mengobrol seperti ini.


Karena itu Laurel maupun Cladia tampak enggan meninggalkan posisi duduk nyaman mereka.


"Aku setuju dengan Ad, sudah semakin dingin di sini. Kalau mau dilanjutkan sebaiknya di dalam saja." Dave berkata sambil merangkum kedua tangan Laurel dengan kedua tangannya, dan mengarahkannya ke bibirnya, menciumnya lembut sehingga Laurel tidak bisa menyembunyikan lagi dari Dave bagaimana dinginnya kedua tangannya saat ini.


Begitu merasakan dinginnya tangan istrinya, bibir Dave segera mendekat ke telinga Laurel.


"Kenapa kamu bandel sekali? Tangan sudah sedingin es, tetap saja bersikeras duduk di tempat terbuka seperti ini." Hembusan nafas Dave yang hangat, menerpa telinga dan sebagian leher Laurel yang tanpa sadar membuat dada Laurel berdetak dengan lebih cepat, dan suhu tubuhnya tiba-tiba sedikit naik.


"Mo cuisle.... masih mau menjadi anak nakal?" Bisikan Dave selanjutnya karena Laurel tetap diam, membuat Laurel sedikit menjauhkan telinganya dari Dave, dan menolehkan kepalanya ke arah Dave.


"Ada suamiku yang selalu siap menghangatkan, kenapa aku harus takut dingin?" Jawaban dari Laurel yang sungguh tidak disangka-sangka oleh Dave membuat Dave menelan ludahnya.


Mo cuisle, kamu ini... selalu saja begitu pintar memancingku, dan membangunkan sesuatu yang ada di bawah sana.


Dave berkata dalam hati sambil bangkit dari duduknya dan sengaja segera menarik lengan atas Laurel untuk mengajaknya segera masuk ke dalam, karena detakan di dadanya juga sudah mulai memberikan sinyal bahwa dia begitu menginginkan istrinya malam ini.


"Ayo Dave, Laurel...." Ornado yang sudah berdiri dan bersiap melangkah langsung mengajak Dave dan Laurel untuk masuk.


Sekilas Ornado melirik ke arah James yang tampak melamun, sehingga tidak sadar kalau yang lain sudah bersiap meninggalkan tempat itu, sedang para pelayan juga sudah bersiap untuk membereskan tempat pesta.


“Eh….?” James berkata lirih dengan matanya dengan cepat berkeliling, mencoba mencari sosok Elenora yang ternyata sudah menghilang dari tempat itu.


“Jangan mencarinya lagi, dia sudah masuk sedari tadi dibandingkan dengan kita. Kalau mau susul saja ke kamarnya.” Seolah bisa membaca pikiran James, Ornado langsung mengatakan hal itu, membuat mata James sedikit melotot.


“Kamu ini, jangan berpikiran yang tidak-tidak.” James langsung menanggapi perkataan Ornado sambil berjalan mendekat ke arahnya.


“Memang siapa yang sedang berpikir yang tidak-tidak? Aku menyuruhmu menyusul ke kamarnya untuk mengajaknya keluar ke café atau restoran dan mengobrol dengan nyaman,  bukan mengajarimu untuk melakukan sesuatu yang lain. Dasar otak mesum!” Perkataan Ornado spontan membuat wajah James memerah karena merasa malu sudah menuduh Ornado berpikir yang tidak-tidak dengan menyuruhnya menyusul Elenora ke kamarnya.


Karena rasa malunya, akhirnya James memutuskan untuk tidak menanggapi perkataan Ornado, dan lebih memilih untuk berjalan dengan sangat cepat, ke arah kamarnya sendiri.


Lebih baik aku tidur sekarang daripada melihat dan mendengar hal-hal tidak berguna di sekitarku. Hari ini benar-benar terasa begitu melelahkan sekaligus menjengkelkan. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa di hari pertama ini liburanku benar-benar terasa begitu menyebalkan.


James berkata dalam hati dan bergegas pergi sebelum Ornado semakin menjadi dan mengolok-oloknya.


Di dekat Ornado, Laurel yang sedang berjalan di samping Dave dengan memeluk lengannya langsung mengulum senyumnya, melihat bagaimana salah tingkahnya James ketika seseorang mulai meyangkut pautkan James dengan Elenora.


“Kenapa denganmu amore mio?” Ornado langsung ikut menghentikan langkahnya begitu melihat secara tiba-tiba Cladia menghentikan langkah kakinya.


Mata Ornado langsung menatap ke arah Cladia dengan tatapan mata menyelidik sekaligus khawatir, untuk memastikan bahwa istrinya dalam kondisi baik-baik saja.


“Ah, bukan apa-apa. Hanya saja sepertinya kakiku tanpa sengaja menginjak batu, membuat telapak kakiku terasa sedikit sakit.” Cladia yang awalnya sedikit membungkukkan tubuhnya untuk melihat telapak kakinya berkata sambil menegakkan kembali tubuhnya.


“Yakin kakimu baik-baik saja Cla? Biar aku periksa.” Laurel bertanya sambil berjalan mendekat ke arah Cladia, berniat memeriksa telapak kaki Cladia apa benar baik-baik saja dan tidak terluka.


“Eh, sepertinya tidak apa-a….” Belum sempat Cladia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba saja tubuh mungilnya terasa terbang di udara, dengan dua lengan kokoh menahan kaki dan punggungnya.


Dan begitu sadar, Cladia sudah berada dalam gendongan Ornado yang tanpa banyak bersuara langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style begitu mendengar apa yang baru saja dialami oleh Cladia.