
"Kamu! Pencopet ulung yang sudah menjadikan ratusan orang sebagai korban! Dan pernah beberapa kali merampok hingga melukai pemilik rumah!" James berkata sambil melempar satu bendel kertas ke arah salah satu orang preman yang langsung membeliakkan matanya begitu melihat ke arah kertas-kertas yang menunjukkan foto-foto bukti aksi kejahatannya, yang bahkan selama ini belum pernah membuatnya terciduk oleh polisi.
"Kamu! Orang yang selalu menjebak para gadis miskin dan menjadikan gadis baik-baik sebagai pelacur! Menjadi seorang germo!" Lagi-lagi, James berkata sambil melempar satu tumpukan berkas lagi tepat ke arah wajah salah seorang preman yang lain.
(Germo adalah seseorang yang menaungi serta sebagai perantara pekerja se..ks dalam menjual jasa melayani kebutuhan se..ks kepada pelanggan. Dimana tugas germo adalah mencari pelanggan, melakukan negoisasi harga, dan mengantarkan pekerja se..ks pada saat dia mulai dan selesai bekerja. PSK bisa saja tidak tinggal bersama dengan muncikari, tetapi selalu berhubungan dengannya)
"Kamu! Menjadi penyalur imigran gelap dan telah memperkosa beberapa gadis tidak bersalah!"
Begitu dilakukan oleh James, sampai para preman itu tidak bisa lagi berkata-kata atau bahkan mengeluarkan suara mereka.
"Dengan apa yang kalian lakukan! Masih ingin mendapatkan maaf dariku? jangan mimpi! Aku akan segera mengirimkan semua bukti itu, dan aku akan pastikan kalian mendapat hukuman yang setimpal dengan kejahatan kalian! Aku akan pastikan kalian akan menghabiskan sisa hidup kalian di penjara!" James berkata sambil memberi tanda kepada orang-orang yang mengikutinya, agas segera membawa dan menggelandang para penjahat itu ke kantor polisi, beserta dengan semua bukti yang ada.
Tanpa daya dan dengan sikap pasrah, akhirnya para preman itu hanya menurut ketika orang-orang James membawa mereka pergi.
James menarik nafas dalam-dalam sambil berkacak pinggang sebelum akhirnya berjalan meninggalkan gedung itu dengan sikap lega.
Sebentar James melihat kepalan tangannya yang menunjukkan warna kebiruan karena banyaknya dia memukul para preman itu menggunakan tinjunya.
Tapi melihat itu, James justru tersenyum dengan wajah lega sambil membayangkan wajah cantik istrinya yang sedang menunggunya di mansion keluarganya.
Sebelum pergi, James berpamitan kepada Elenora dengan alasan menagih hutang pada beberapa orang yang sudah lama tidak membayar.
Mendengar perkataan James, Elenora sempat mengernyitkan dahinya, tapi begitu James mengatakan jika urusannya selesai akan memberitahunya, Elenora hanya bisa tersenyum, dengan wajah memerah kerena tindakan James yang tiba-tiba saja langsung mencium bibirnya, bahkan sedikit mel... umatnya sebelum akhirnya James pergi meninggalkannya di mansion bersama mamanya yang sejak pagi sudah menunggu kesempatan untuk berduaan dengan menantunya.
Melihat James yang memboyong Elenora di mansion mereka kemarin malam, membuat Carina merasa begitu senang dan bahagia.
"Kamu cantik sekali sayang, apa James yang memintamu berdandan seperti ini? Mulai sekarang kamu harus berdandan begini." Carina berkata sambil merangkum wajah Elenora dengan kedua tangannya, wajah yang tampak begitu cantik dengan penampilan barunya, tanpa kacamata, rambut panjang tergerai, dan pakaian modis yang dikenakannya.
Meskipun kemarin malam Carina sudah melihat betapa cantiknya menantunya itu dalam balutan gaun pesta dan make up dari MUA yang diundangnya, namun melihat bagaimana penampilan Elenora hari ini, meski tanpa make up tebal, Carina masih saja terkagum-kagum dengan wajah asli menantunya itu.
"Ah... itu...."
"Tentu saja dia sangat cantik, karena memang kenyataannya dia cantik, hanya saja selama ini dia tidak mau memperlihatkannya pada semua orang." James langsung menjawab kata-kata mamanya, begitu dilihatnya Elenora bingung bagaimana harus menjawabnya.
"Ikutlah denganku, aku sudah menyiapkan semuanya untuk menyambutmu." Carina berkata sambil menarik pergelangan tangan Elenora dan mengajaknya pergi, meninggalkan James yang hanya bisa menyipitkan matanya dengan bibir mengerucut melihat sikap mamanya pada istrinya.
Seperti menyambut kedatangan anak perempuan kandungnya, Carina terus mengajak Elenora, kemanapun dia pergi, mengajaknya berkeliling rumah, menyiapkan semua makanan mewah yang membuat Afro maupun James hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap mamanya yang terlihat begitu senang karena kehadiran Elenora yang sekarang menjadi salah satu anggota keluarga mereka, seolah melupakan kehadiran dua anak laki-lakinya.
“Ma, sudah malam, ti amore juga butuh istirahat, setelah sibuk menemami Mama menilik tiap sudut mansion kita ini, dan memamerkannya pada ti amore.” James berkata kepada mamanya setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka, dan menghabiskan sedikit waktu dengan mengobrol sebentar.
Dan jika saja James tidak mengingatkannya bahwa dia ingin Elenora beristirahat, Carina hampir saja mengikuti Elenora yang hendak memasuki kamarnya bersama James.
Kata-kata James yang meskipun tidak langsung menunjuk pada intinya, Carina bisa melihat dari wajah James dan lirikan matanya ke arah Elenora, bahwa James begitu menginginkan waktu berdua saja dengan Elenora, untuk melakukan suatu hal yang lebih intim, yang biasa dilakukan oleh sepasang pengantin baru seperti mereka.
“Ehem…” Deheman pelan dari Carina membuat James pura-pura memandang ke arah lain, membuat Carina tersenyum penuh arti.
“Oke, kalau mama tidak akan mengganggu kalian berdua. Silahkan lanjutkan kegiatan malam kalian untuk segera memberikan cucu pada mama. Habiskan malam panjang ini berdua, agar mama segera mendapatkan cucu. Lakukan sebanyak yang kalian suka.” Tanpa basa basi, Carina langsung membicarakan tentang kegiatan mereka untuk membuat cucu baginya, yang langsung menyebabkan wajah Elenora yang merah padam karena malu.