My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SELALU ADA UNTUKMU



Ketika itu dengan sengaja Serafina membujuk Elenora untuk memakannya, karena Serafina tahu kalau Elenora alergi terhadap udang, dan jika Elenora memakan udang, pada kulit wajah dan tubuhnya akan timbul bercak-bercak merah, yang awalnya kecil, namun semakin lama semakin membesar dan membentuk bentol-bentol yang akan menyebar ke seluruh tubuhnya.


Saat itu, Serafina sengaja melakukan itu untuk mempermalukan Elenora sehingga bisa menjadi bahan tertawaan untuk menjadikan peristiwa itu sebagai hiburan bagi tamu lainnya.


Pada  awalnya, Serafina berencana hanya memberikan sedikit roti itu kepada Elenora, dan segera mengambilnya kembali, agar Elenora tidak memakannya terlalu banyak, sehingga alerginya tidak akan parah.


Akan tetapi, karena ada seseorang yang memanggil Serafina, membuat Serafina lupa rencana awalnya, tidak lagi memperhatikan Elenora dan membuat Elenora memakan cukup banyak kue itu, karena tidak tahu bahwa roti itu mengandung udang.


Masih segar dalam ingatan James, setelah beberapa waktu berjalan, bagaimana Elenora yang wajahnya memerah, dengan bercak-bercak merah mulai bermunculan memenuhi kulit wajah dan tubuhnya, suhu tubuhnya juga meninggi, dan dengan tubuh terhuyung-huyung, Elenora memegang dadanya yang terasa sakit, dan lehernya yang terasa seperti dicekik, membuatnya susah untuk bernafas.


Jika saja James tidak menahan tubuh Elenora yang limbung saat itu, Elenora sudah bisa dipastikan akan terjatuh di lantai karena pingsan.


Begitu James berhasil menahan tubuh Elenora yang pingsan, James segera membawanya ke mobilnya dan seperti orang gila James mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, meninggalkan begitu saja semua orang tanpa perduli.


Aku mohon Elenora, bertahanlah, kumohon jangan pergi dariku dengan cara seperti ini. Aku mohon bangunlah.


Sepanjang jalan hanya kalimat itu yang diucapkan James berulang-ulang dalam hatinya.


James tidak tahu lagi, tapi selama perjalanan, mungkin puluhan, bahkan ratusan kali James mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang dalam hatinya, membuatnya seperti sebuah mantra untuk membuat Elenora terbangun dari pingsannya dan sehat kembali.


Begitu sampai di rumah sakit, beberapa dokter dan perawat langsung menyambut kedatangan James yang dikenal sebagai salah satu dari keturunan keluarga Xanderson.


Dengan sigap mereka segera melakukan pertolongan pertama pada Elenora yang masih pingsan, memberikan bantuan oksigen dan segera mendorong brankar dengan cepat, membiarkan James menatap kepergian para dokter dan sosok tubuh Elenora dengan tatapan nanar.


Perasaan khawatir dan taku kehilangan Elenora saat itu begitu jelas menghantam dada James.


Melihat kondisi Elenora saat itu, bagi James seperti mimpi buruk, yang membuatnya diam terpaku, dengan kedua tangan yang saling menggenggam dia letakkan di depan wajahnya, dan airmatanya hampir saja tidak bisa dia cegah untuk turun karena begitu besar rasa khawatirnya pada Elenora saat itu.


Kalau waktu itu aku berusaha keras agar kamu selamat dari maut, kali inipun aku akan tetap melakukan hal yang sama untukmu.


James berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, setelah ingatan tentang peristiwa itu berakhir di pikirannya.


Akhirnya, setelah beberapa saat mereka saling terdiam dalam keheningan, James memegang tuas rem tangan mobil, dan melepaskannya, untuk dia bisa kembali melanjutkan rencananya pergi ke rumah sakit.


(Istilah lain yang digunakan untuk rem tangan adalah rem parkir. Hal ini benar saja karena mengingat fungsinya adalah menjaga agar kendaraan tetap diam ketika parkir. Khususnya saat berada di jalanan yang tidak rata seperti naik atau turun. Rem tangan adalah sebuah sistem pengereman pada kendaraan bermotor, khususnya kendaraan roda empat maupun lebih. Rem parkir umumnya berfungsi untuk menahan mobil bergerak dalam posisi kemiringan jalan yang miring, terutama dalam keadaan menanjak maupun menurun. Rem tangan sebagai pengunci roda belakang supaya tidak dapat bergerak maju ataupun mundur saat melakukan parkir, atau saat mobil berhenti).


Aku tahu kemarahanmu padaku karena kamu begitu khawatir dan perduli padaku. Semoga saja pemikiranku itu benar. Terimakasih karena sampai detik ini, meskipun kamu selalu bersikap dingin dan uring-uringan padaku, tapi kamu selalu ada untukku di masa-masa sulitku. Sejak dulu, kamu selalu menjadi dewa penolong bagiku.


Elenora berkata dalam hati sambil menahan nafasnya, mencoba untuk menjelaskan kepada James tentang kondisinya sekarang, agar laki-laki itu tidak lagi memaksaknya untuk pergi ke rumah sakit.


"James... kita kembali saja. Aku baik-baik saja. Alergiku tidak lagi separah dulu...." Dengan suara pelan, Elenora berkata sambil melirik ke arah James, tidak berani langsung menatap ke arah laki-laki tampan itu.


Perkataan Elenora membuat James menghentikan gerakan kakinya yang sudah siap untuk menginjak gas mobil yang dikendarainya.


Dengan cepat James menoleh ke arah Elenora yang sedikit menundukkan wajahnya.


"Mukamu bengkak karena alergimu, masih bisa bilang baik-baik saja? Apa kamu benar-benar sedang mencari masalah? Apa kamu sudah sebegitu bosannya untuk hidup?" James langsung mengomeli Elenora kembali.


“Aku… sudah membeli obat alergi. Aku sudah membeli obat antishistamin dan obat oles.” Elenora berkata sambil meraih kresek dari dalam tasnya.


James yang sudah sudah menjauhkan telapak kaki kanannya dari pedal gas, menatap dalam-dalam ke arah Elenora yang berkata sambil menunjukkan kresek berwarna putih, berisi obat yang dia sebutkan tadi ke arah James, untuk membuktikan bahwa dia benar-benar serius sudah membeli obat dan bahwa dia akan baik-baik saja dengan obat-obat itu.