
"Elenora, sebaiknya kamu segera selesaikan pekerjaanmu untuk membuat revisi surat perjanjian kerjasama antara perusahaan Bumi Asia dan Bintang Anugrah sebelum jam 2 hari ini. Aku akan segera mengeceknya, karena besok aku akan sangat sibuk. Dan juga pesankan segelas es kopi dan kirim ke ruanganku setelah ini." Begitu menyelesaikan perintahnya kepada Elenora, James langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan mereka tanpa menunggu respon atau jawaban dari Elenora.
“Ba… baik Pak James.” Elenora tetap mengiyakan perintah dari James walaupun tahu laki-laki itu sudah tidak perduli dengan jawaban yang dia berikan.
Sepertinya, aku benar-benar harus mendinginkan kepalaku dengan meminum es kopi siang ini. Aku benar-benar harus bisa mengendalikan diriku sendiri. Elenora hanya seorang asisten bagiku, itupun hanya asisten dengan kemampuan seadanya. Aku tidak boleh terpengaruh hanya karena analisa Ad tadi, dan menganggap perkataan Ad adalah kenyataan yang sebenarnya, sehingga hatiku ikut panas melihat Elenora bersama laki-laki lain. Elenora hanya asisten bagiku….
James yang berjalan meninggalkan kantin, berkata dalam hati dengan bergegas, sebelum dia kehilangan akal sehatnya dan melakukan sesuatu yang memalukan di depan Elenora, dengan menunjukkan bagaimana wajah tidak sukanya karena kedekatan Elenora dengan Alex dan Dodi.
Berkali-kali dalam hati James mengulang-ulang kata-kata bahwa Elenora hanya seorang asisten baginya
"Wahh... keren. Pak James benar-benar keren. Apalagi dilihat dari dekat, pak James terlihat semakin tampan dan mengagumkan. Kamu beruntung sekali bisa menjadi sekretaris pribadi pak James Elenora. Kesempatan langka bisa selalu berada di dekat sosok setampan dan sekeren pak James. Belum lagi karena pak James adalah wakil dari pak Ornado, sebagai sekretaris pak James, kamu pasti juga sering bertemu dengan pak Ornado. Ah... senangnya bisa sering-sering bertemu dengan dua orang yang tampannya sudah seperti malaikat itu." Tina yang melihat bagaimana cara James memberikan perintah kepada Elenora dengan sikap berwibawanya membuat Tina tidak tahan untuk tidak memuji James di depan Elenora yang hanya bisa menyungingkan senyumnya.
Untung saja tidak ada yang tahu kalau aku bahkan tinggal di rumah Ornado. Kalau tidak, suasana pasti akan bertambah panas. Dan para senior yang begitu memuja Ornado dan James pasti akan semakin memojokkan posisiku.
Elenora berkata dalam hati, sambil sedikit mengehembuskan nafas lega lewat sela-sela bibirnya tanpa diketahui oleh orang lain.
“Aku sungguh iri padamu Elenora. Kamu baru saja bergabung bersamaan dengan kami, tapi kamu langsung menempati posisi sebagai sekretaris pribadi pak James. Kalau aku jadi kamu, aku akan rela setiap hari lembur dan pulang belakangan hanya supaya waktuku bertemu pak James semakin banyak. Rela dimarahin atau di suruh-suruh asal bisa sering-sering mendengar suara merdu pak James. Selalu berada di dekat pak James pasti akan membuat hatiku bahagia setiap harinya, dan..”
“Auwwww….!” Sebuah teriakan dari Tina langsung terdengar, sekaligus menghentikan bicaranya tentang James.
“Alex! Kenapa memukul keningku seenak jidatmu sendiri?” Tina menyatakan protesnya kepada Alex dengan bibir terlihat memberengut.
“Supaya kamu sadar! Tidak terus bermimpi di siang hari bolong! Ayo pergi, sudah hampir habis jam istirahat kita siang ini.” Alex berkata sambil melangkah menuju pintu keluar kantin, dan segera disusul oleh ketiga temannya yang lain, termasuk Elenora yang baru saja menerima segelas es kopi pesanannya, permintaan dari James tadi.
# # # # # # #
“Masuk, sebuah suara ketukan dari arah pintu kantornya membuat James langsung mempersilahkan masuk.
Begitu mendengar ijin untuk masuk dari James, Elenora langsung membuka pintu dengan perlahan, dan berjalan ke arah meja kerja James yang terlihat sedang sibuk membaca lembaran file berisi laporan penjualan bahan-bahan bangunan di perusahaan cabang yang ada di Australia.
“Ini kopinya Pak James.” Elenora berkata pelan sambil meletakkan gelas berisi es kopi pesanan dari James tadi.
Tanpa mengatakan apapun, James langsung menikmati es kopi itu. Dan dengan sekali teguk, James membuat gelas berisi es kopi itu tandas tanpa bekas.
“Kalau begitu saya permisi dulu Pak James.” Elenora berkata sambil bersiap melangkah ke arah pintu keluar kantor James.
“Elenora! Siapa yang menyuruhmu untuk terburu-buru pergi dari sini?” Bentakan kecil dari James membuat Elenora menghentikan gerakan kakinya dan segera membalikkan tubuhnya, lalu mendekat kembali ke arah James.
"Iya Pak james, apa adalagi yang bisa saya bantu?" Elenora berkata dengan sedikit menundukkan wajahnya dengan sikap gugupnya, membuat sekilas James teringat kembali saat di pesta Dario.
Kembali teringat tentang Elenora yang menundukkan kepalanya untuk meraih kacamatanya yang terjatuh karena tanpa sengaja tubuhnya tertabrak oleh tubuh Laurel.
Dan bayangan itu membuat James teremenung dan melamun tanpa dia sadari, sehingga Elenora yang awalnya sedikit menunduk, memberanikan diri untuk menatap ke arah James yang tidak juga memberikan perintah selanjutnya.
"Pak James...." Dengan suara pelan akhirnya Elenora memanggil nama James yang sedikit tersentak dan langsung berpura-pura melihat ke arah laptopnya.
"Kenapa kamu masih berdiri di situ? Bukankah aku minta kamu segera mengerjakan revisi surat perjanjian kerjasama secepatnya hari ini?" Untuk menutup rasa canggungnya karena ketahuan sedang melamun oleh Elenora, James segera mencari alasan untuk menyalahkan Elenora.
"Ah... ya... Pak James." Walaupun Elenora merasa aneh James tiba-tiba saja terlihat salah tingkah, tapi Elenora hanya mengiyakan perkataan James tanpa berniat mendebatnya.
Elenora tidak tahu kenapa James tiba-tiba memaksanya memberikan file revisi yang sebenarnya baru dua minggu lagi akan mereka perlukan.
Tapi melihat sejak di kantin, dari wajahnya Elenora sudah bisa menebak kalau suasana hati James terlihat tidak begitu baik, Elenora memutuskan untuk diam dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh James tanpa banyak bertanya.
"Kalau begitu saya permisi du..."
"Pesankan aku segelas es kopi lagi. Tanpa gula, dengan banyak es. Sudah menjadi asisten pribadiku hampir dua minggu, bahkan selera minumanku saja kamu tidak tahu." James langsung memotong perkataan Elenora dengan nada suara yang menunjukkan bahwa dia sedang kesal.
"Baik Pak James." Lagi-lagi, tanpa perlawanan Elenora menjawab perintah dari James, bukannya membuat James lega, justru membuat James merasa bertambah kesal, sedang dia sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa dia menjadi begitu kesal pada Elenora.
"Elenora! Jangan terus-terusan memanggilku pak james, pak james. Sungguh menyebalkan mendengarmu memanggilku begitu." James berkata tanpa menyadari Elenora yang sedikit mengernyitkan dahinya karena merasa aneh dengan teguran James barusan.
"Bukannya Anda sendiri yang meminta saya untuk memakai bahasa formal selama di kantor dan tidak boleh membiarkan orang tahu tentang latar belakang hubungan kita?" Mata James langsung melotot mendengar sanggahan dari Elenora yagn tanpa sadar membuat James merasa malu, karena hari ini dia sungguh tidak bisa bersikap profesional di depan Elenora.