My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RENCANA ORNADO YANG MEMBUAT PENASARAN



"Ad... kenapa kamu terlihat begitu tenang?" Afro yang barusan melirik ke arah Ornado yang memandang layar televisi dengan wajah tanpa ekspresi, membuat Afro langsung bertanya.


"Lalu aku harus bagaimana? Berteriak? Marah? Atau datang ke tempat lelang dan memberikan pernyataan kalau kita sudah dijebak? Dan meminta polisi untuk segera menangkap orang yang sudah menjebak kita?" Ornado berkata dengan suara tenang, membuat James memandangnya dengan sikap ragu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Ad? Beritahu aku sedikit saja supaya aku bisa mengerti dan mungkin bisa membantumu." Mendengar perkataan James, Ornado justru tersenyum.


"Darimana kamu tahu aku sedang memikirkan jalan keluar?"


"Istt...." James langsung mendesis mendengar pertanyaan balik dari Ornado.


Setelah sekian lama bergaul dekat dengan Ornado, James yang memang lebih dekat dengan Ornado dibandingkan Afro dengan Ornado, seringkali dibuat terheran-heran dan berdecak kaget karena Ornado adalah orang yang selalu memiliki jalan keluar untuk masalah yang dihadapinya.


Di samping itu, Ornado yang sebenarnya tidak banyak bicara itu, selalu berpikir jauh ke depan, bahkan kadang seperti seorang paranormal yang bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan, sehingga dia sudah menyiapkan segalanya dengan baik, diluar dugaan siapapun.


"Aku tahu di otakmu yang jenius itu pasti sudah memikirkan cara untuk mengatasi semua masalah itu." Dengan percaya diri, James berkata sambil meraih remote televisi, dan mematikannya, tidak lagi berniat untuk mendengarkan breaking news tentang kasus di acara lelang yang masih dibacakan oleh pembaca berita.


Mendengar perkataan James, Ornado langsung melirik jam di pergelangan tangannya.


"Ah, masih belum waktunya." Ornado berkata pelan, membuat James merasa semakin penasaran, Afropun ikut menatap ke arah Ornado dengan sikap bertanya-tanya.


"Apa yang sedang kamu tunggu Ad?" James langsung bertanya sambil berjalan mendekat ke arah Ornado yang sudah mengalihkan pandangan matanya dari arloji di tangannya.


"Ayo kita ke ruang IT. Aku ingin tahu sudah berapa persen data dari server Dario berpindah ke tempat kita. Aku hara pada yang bisa kita lakukan dengan data-data itu." Ornado berkata sambil melagnkah kelaur dari kantornya, diikuti oleh James dan Afro yang saling berpandangan dengan wajah bertanya-tanya.


Pasti ada sesuatu yang sudah direncanakan oleh Ad. Haist, Ad membuatku semakin penasaran karena dia sepertinya sengaja menghindar, tidak memberitahukan padaku tentang apa yang sedang direncanakannya.


James berkata dalam hati sambil mengikuti langkah-langkah Ornado yang berjlan menuju ruang IT, dimana Elenora masih berada di sana, untuk memastikan bahwa tidak ada kendala dan semua file itu bisa terdownload secara sempurna.


"Kak Jeremy, aku benar-benar khawatir dengan Al. Apa dia akan baik-baik saja? Dario sepertinya orang yang tidak bisa diajak bicara baik-baik." Cladia berkata sambil menatap ke arah Jeremy yang duduk di sebelahnya, di kursi penumpang.


Bagaimanapun, saat ini Cladia sangat mengkhawatirkan keselamatan Ornado sebagai suaminya, yang sekarang menjadi incaran dari Dario.


Dan bagi Jeremy, kekhawatiran seorang istri yang begitu mencintai suaminya adalah hal yang lumrah terjadi, apalagi Dario adalah orang yang kejam.


"Jangan khawatir Cla, kamu tahu kalau suamimu Ornado bukan orang yang bisa dianggap remeh oleh lawan-lawannya." Jeremy mencoba menenangkan Cladia dengan kata-katanya, meskipun dia sendiri sebenarnya cukup mengkhawatirkan Ornado juga.


"Hah... aku hanya berharap, semuanya akan baik-baik untuk Al dan yang lain juga, termasuk Kakak. Dengan melihat Dario yang tidak perduli sama sekali dengan orang lain. Aku juga cukup mengkhawatirkan Kakak. Aku khawatir dia juga sedang mengincar Kakak.” Cladia berkata lirih.


“Kamu harus menenangkan dirimu Cla. Jangan berpikir terlalu banyak, dan juga jangan terlalu banyak khawatir. Itu tidak akan bagus untuk kesehatanmu dan bayi dalam perutmu. Setelah sampai di mansion, kamu harus segera beristirahat. Percayakan semuanya pada Ad. Dia pasti sudah memikirkan jalan keluar dari semua masalah yang sudah ditimbulkan oleh Dario. Suamimu itu… banyak hal hebat yang seringkali dia lakukan yang mungkin akan membuatmu melongo jika kamu mendengar ceritanya.” Jeremy berkata sambil tersenyum, karena dia begitu mengenal Ornado, membuat Jeremy dengan percaya diri mengatakan hal seperti itu pada Cladia, bukan sekedar omong kosong untuk menghibur Cladia.


“Ah, sebegitu hebatnya suamiku ya?” Cladia berkata dengan senyum tersungging di wajahnya yang terlihat begitu bangga saat menyebutkan suaminya yang hebat.


Andai saja kamu tahu bahwa bukan hanya hebat sebagai pengusaha sukses, suamimu itu benar-benar hebat dalam banyak hal lain, bahkan menjadi salah satu orang yang berperan penting dalam pertempuran di kerajaan Gracetian melawan para pemberontak.


Jeremy berkata dalam hati sambil menepuk lembut bahu Cladia untuk menunjukkan sayangnya.


Cladia dan Jeremy sama-sama terdiam dan memandang ke arah pintu gerbang mansion tempat Ornado dibesarkan, dimana ada beberapa petugas keamanan yang sedang berjaga di sana.


Melihat para petugas tidak juga membukakan pintu gerbang agar mobil yang mereka tumpangi bisa lewat, sopir yang mengendarai mobil itu membuka kaca yang ada di samping kirinya untuk bertanya apa ada sesuatu yang terjadi sehingga para petugas penjaga gerbang itu tidak membukakan pintu gerbang untuk mereka.


Tepat dengan dibukanya jendela kaca mobil di bagian sopir, beberapa petugas penjaga gerbang itu langsung menyerbu ke arah mobil itu.


Salah seorang langsung memukul kepala sopir hingga pingsan, dan ada seorang lagi langsung menodongkan pistol ke kepala Jeremy, membuat Cladia tersentak dan berteriak kaget dengan wajah panik.