My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SEDIKIT PUTUS ASA



“Apa yang sedang kamu pikirkan Nona Elenora? Jangan terlalu serius melihat atau mendengar sesuatu di sekitar kita, yang belum tentu benar seperti itu. Semua pembicaraan orang-orang tadi, jangan terlalu diambil hati.” Nyonya Rose berkata sambil tetap mengajak Elenora berjalan ke arah Erich dan Ernest yang sedang menatap jauh ke arah laut lepas, sambil menikmati buah apel di tangan mereka, dengan cara menggigitnya langsung tanpa mengupasnya, berencana bergabung bersama dengan kedua saudara kembar itu.


Perkataan nyonya Rose membuat Elenora yang sedang melamunkan pembicaraan tadi sedikit tersentak kaget, dan langsung menoleh ke arah nyonya Rose.


“Ah… tidak nyonya Rose…. Aku tidak sedang memikirkan obrolan itu. Aku sednag memikirkan hal lain.” Elenora mencoba mengucapkan kata-katanya dengan setenang mungkin, meskipun saat ini dadanya sedang bergejolak hebat.


Membayangkan bahwa James bersanding dengan Serafina, meskipun Serafina adalah kakak kandungnya sendiri, rasanya Elenora benar-benar merasa tidak rela jika sampai hal seperti itu terjadi.


Apalagi mengingat bagaimana sifat kakaknya Serafina, Elenora sungguh tidak rela jika James yang begitu dicintainya mendapatkan istri seorang gadis seperti Serafina, yang hanya perduli pada harta dan status sosial.


“Apanya yang tidak Nona? Wajahmu dengan jelas menggambarkan isi hatimu yang sedang kacau. Kenapa? Kalau karena pembicaraan tadi, anggap saja itu angin lalu. Manusia memang seperti itu, mudah sekali mengeluarkan penilaian tentnag orang lain tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu.” Nyonya Rose berkata sambil matanya melirik ke arah wajah Elenora yang terlihat masih galau.


“Apapun yang dikatakan oleh orang lain tentang tuan James dan kakak Nona, yang penting kan perasaan tuan James dan nona Elenora. Yang lain, jangan terlalu dipikirkan.” Perkataan nyonya Rose sungguh membuat Elenora ingin tertawa.


Namun bukan tawa bahagia, akan tetapi sebuah tawa sedih.


Bagaimana aku bisa tenang, sedangkan James saja masih belum mau menerima perjodohan kami. Sepertinya aku harus segera membuat keputusan untuk masalah ini. Aku juga tidak ingin menghalangi kebahagiaan James. Haruskah aku menyerah? Hah…. Sepertinya sudah waktunya aku menyerah terhadap James, dan menerima kenyataan. Mungkin sudah waktunya aku untuk kembali ke Italia dan pergi jauh dari James. Tidak lagi mengganggu kehidupannya. Banyak orang yang jujur mengatakan bahwa James lebih cocok dengan gadis yang pastinya bukan aku.


Elenora berkata dalam hati, mulai memikirkan rencananya ke depan, karena rasa putus asa yang tiba-tiba saja menyerang pikirannya, yang sepertinya sudah mulai merasa lelah mendengar pendapat orang tentang gadis lain yang menurut mereka paling cocok bersanding dengan James.


Secepatnya, aku harus segera memutuskan apa yang harus aku lakukan tentang perasaanku kepada James. Selamanya aku akan selalu mencintainya, dan hanya dia yang akan menjadi satu-satunya pria yang aku cintai. Tapi terlalu kejam jika aku memaksanya untuk menerima kehadiranku di sisinya tanpa cinta di hatinya.


Elenora kembali berkata dalam hati sambil mengepalkan salah satu tangannya untuk menahan rasa sakit yang tiba-tiba begitu terasa menusuk hatinya.


“Tenang saja Nona. Tuan James sepertinya tidak memiliki perasaan apapun terhadap kakak Nona. Semua yang dibicarakan oleh mereka tadi hanya sekedar omong kosong, angan-angan mereka saja.” Nyonya Rose berkata dengan sikap percaya diri.


Dengan usianya yang sekarang, nyonya Rose yang sudah hidup lebih lama dibandingkan dengan Elenora, sudah banyak hal yang dia alami dan dia lihat, termasuk saat dia melihat bagaimana Vincent, Alvero, Erich, Enzo, dan para pria hebat yang dia kenal jatuh cinta pada wanitanya.


Dari pengalaman yang sudah didapatnya, termasuk ketika almarhum calon suaminya dulu jatuh cinta padanya, nyonya Rose bisa memastikan bahwa dari cara James menatap Elenora dan Serafina, terlihat benar-benar berbeda.


Saat James memandang Serafina, nyonya Rose bisa merasakan bahwa laki-laki tampan itu tidak menyukai dan bahkan merasa terganggu dengan kehadiran gadis itu di dekatnya, walaupun saat di dekat Serafina, James terlihat banyak senyum dan bersikap ramah.


"Yang penting adalah perasaan tuan James kepada Nona. Yang lain jangan hiraukan, karena mereka tidak tahu apa-apa tentang Nona dan tuan James." Nyonya Rose menambahkan kata-kata untuk menghibur Elenora, yang hanya bisa tersenyum kecut.


Karena bagi Elenora sendiri, sikap James padanya selama ini tidak menunjukkan bahwa laki-laki memiliki perasaan khusus padanya.


Apalagi Elenora ingat jelas bagaimana James menolak mentah-mentah rencana perjodohan itu di depan keluarga mereka berdua, bahkan di depannya secara langsung, tanpa perduli pada keberadaannya.


Belum lagi sikap James yang seringkali marah dan kasar ketika awal dia bekerja di kantor sebagai sekretarisnya.


Meskipun beberapa hari ini sikap James terlihat lebih tenang dan cenderung lembut padanya, tapi perkataan orang-orang tadi sungguh membuat nyali Elenora yang awalnya bersemangat untuk mendapatkan hati James sepenuhnya menjadi menciut.


"Nona, apa Nona Elenora baik-baik saja?" Nyonya Rose berkata sambil menatap ke arah Elenora yang mencoba tersenyum di hadapan nyonya Rose.


"Ah, ya nyonya Rose. Tentu saja aku baik-baik saja." Perkataan Elenora membuat nyonya Rose tersenyum sambil menarik nafas panjang.


Karena meskipun mengatakan bahwa dia baik-baik saja, nyonya Rose bisa melihat bahwa gadis di depannya ini sedang tidak baik-baik saja.


"Kenapa dengan kalian berdua? Apa ada sesuatu yang terjadi antara Nyonya Rose dan Nona Elenora?" Ernest yang baru saja menghabiskan apel di tangannya langsung bertanya kepada nyonya Rose dan Elenora yang wajahnya terlihat begitu serius.


"Memang apa yang bisa terjadi? Kami sedang bersenang-senang menikmati suasana liburan kali ini." Nyonya Rose segera menanggapi perkataan Ernest dengan jawaban yang sebisa mungkin tidak menimbulkan salah paham sekaligus agar Ernest tidak lagi bertanya karena rasa penasarannya.


"Hmmm.... pemandangan alam di negara ini benar-benar tidak bisa dipungkiri benar-benar sangat indah dan memanjakan tubuh dan jiwa kita." Ernest berkata sambil tersenyum, memejamkan matanya, merentangkan tangannya, dan menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya, membuat Elenora dan yang lain ikut tersenyum, termasuk Erich, sedikit menyungingkan senyum tipis meski hanya sedetik.


Sejak Erich sempat merasakan bagaimana sedih, takut dan hancur hatinya ketika Ernest dinyatakan hilang dan diperkirakan meninggal ketika melakukan penyerangan di bunker Tavisha waktu itu, membuat Erich lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ernest selagi ada kesempatan.


Laki-laki yang dikenal dingin itu berusaha menikmati waktu yang ada bersama Ernest yang bertahun-tahun sebelumnya selalu saja menjadi orang yang selalu menjaga dan melindunginya dengan baik di masa-masa pemulihan mentalnya yang sempat terguncang ketika masih kanak-kanak karena peristiwa mengerikan yang sempat dia alami.


"Aku setuju sekali denganmu Ernest, beruntung di masa tuaku masih memiliki kesempatan untuk menikmati suasana seindah ini." Perkataan nyonya Rose membuat Ernest tersenyum geli.


"Jangan merasa tua nyonya Rose. Nyonya Rose masih harus menunggu putra mahkota lahir dan dirawat olehmu. Belum lagi, kita akan tunggu bersama kelahiran anak dari Erich dan Cleosa." Perkataan Ernest sukses membuat Erich yang masih mengunyah apelnya langsung tersedak.