
Walaupun Ziya merasa bahagia dan senang saat dipeluk dan diberikan kebebasan oleh Alberto saat ini, tapi masih ada suatu kejanggalan dalam hatinya mengenai perkataan Alberto yang sengaja berbicara dengan dirinya saat dia sedang berpura-pura tertidur.
" Apa maksud Alberto dengan mengatakan aku ini putri siapa,," Gumam Ziya dalam hati sambil menatap arah lain.
Karena, saat ini Alberto telah tertidur pulas di sampingnya sambil memeluk tubuhnya.
Di dalam benaknya Ziya berpikir tentang maksud dari perkataan Alberto yang menanyakan bahwa apakah benar dirinya putri dari James dan Zalina. Ya, memang benar sekali dia dan kembarannya Zoya merupakan Putri dari James dan Zalina bukan Putri dari Erwin.
" Memang benar aku dan Zoya adalah Putri dari James dan Zalina," Pikir Ziya lagi yang seakan takut bahwa orang tuanya akan menjadi sasaran terbesar bagi Alberto saat ini.
" Darimana dia mengetahui orang tuaku padahal identitas Mama dan Papa sama sekali tidak diketahui oleh banyak masyarakat. Apalagi Mama, kenapa dia bisa tahu kalau mama bernama Zalina,," Ucap Ziya dalam hatinya sambil berpikir keras bagaimana Alberto bisa mengetahui bahwa dirinya adalah putri dari James dan Zalina.
" Oh My God, jangan-jangan Alberto ingin membunuh orang tuaku, tapi itu tidak mungkin, sepertinya aku tadi mendengar bahwa dia sedang membutuhkan bantuan dariku," Gumam Ziya dalam hati yang masih bingung akan ucapan Alberto yang ia dengarkan tadi.
" Maksudnya apa,,?" Pikir Ziya sejenak.
Dalam sekejap Ziya seperti mendapatkan sebuah pemikiran yang menurut dirinya merujuk ke permasalahan yang sedang Alberto hadapi.
" Akkkhhh, mungkinkah Alberto ingin meminta bantuan dari kedua orang tuaku untuk menyelesaikan masalahnya,," Pikir Ziya dalam hatinya bahwa dia berpikir mungkinkah Alberto yang ingin mengetahui identitas orang tuanya untuk membantu masalah yang telah dihadapinya semasa kecilnya.
" Tapi itu tidak mungkin, kenapa Papa dan Mama bersikeras tidak mengizinkan aku masuk dalam kehidupan Alberto. Papa dan Mama bersikeras membela diriku agar aku tidak masuk dalam kehidupan mafia kejam seperti Alberto." Ucap Ziya dalam hatinya saat ia mengingat sekitar beberapa waktu yang lalu.
Dalam hati Ziya berpikir dimana saat dirinya menyetujui untuk masuk ke dalam istana Alexandre, orang tuanya bersikeras tidak mengizinkan dia untuk datang ke dalam kediaman ini menggantikan Zoya.
" Sebenarnya, aku bingung, apa yang sebenarnya telah terjadi di waktu itu,," Ucap Ziya bingung akan kejadian orang tuanya di masa lalu.
Karena, seakan dirinya mengingat perkataan yang telah diucapkan oleh Erwin Pamannya di waktu itu. Erwin pernah mengatakan bahwa Zalina adalah seorang perempuan yang telah diberikan perintah untuk membunuh dirinya. Tapi, karena James sangat mencintai Zalina oleh sebab itu untuk sementara waktu, Erwin mengurungkan niatnya membunuh Mamanya Ziya.
" Paman pernah berkata bahwa Mama di waktu dahulu adalah seorang perempuan yang sudah mendapatkan perintah untuk membunuh Paman Erwin. Tapi, kenapa saat ini Paman Erwin meminta anak-anak dari Mama dan Papa untuk menebus kesalahannya di waktu dahulu, memangnya apa yang terjadi memangnya apa yang diinginkan dengan memisahkan antara Zoya, aku dan Mama, apa kesalahan Paman dan apa kesalahan Mama,," Ucap Ziya yang berpikir dalam hati sambil mengerutkan dahinya.
Ziya masih saja berpikir panjang dan sesaat dirinya tidak mendapatkan harapan atau hasil dari pemikirannya itu, sehingga Ziya berharap semoga tuhan bisa membantu dirinya.
" Oh God, tolong tunjukkanlah padaku kejadian di waktu dulu, supaya aku mengetahui apa maksud Paman yang selalu mengancam orang tuaku, dan kenapa Mama, yang menjadi orang untuk ditugaskan membunuh Paman, apa yang sebenarnya terjadi,," Gumam Ziya tambah bingung dan membuat dirinya berpikir lebih keras lagi supaya mendapatkan hasil dari pertanyaannya selama ini.
" Dan saat ini kenapa Alberto begitu penasaran dengan kedua orang tuaku, dengan menyebutkan apakah aku bisa membantunya, maksudnya membantu dirinya itu apa, apa hubungan orang tuaku dengan Alberto, padahal di waktu itu Papa tidak menyetujui aku menggantikan posisi Zoya,," Pikir Ziya lagi yang memikirkan ucapan dari Alberto dan juga ucapan dari James.
" Mungkinkah Alberto memiliki rahasia di kehidupannya dulu dan rahasia itu masih berhubungan dengan kedua orang tuaku juga Paman Erwin." Gumam Ziya yang mengira bahwa orang tuanya masih ada hubungan dengan Alberto atas kejadian peristiwa di masa Alberto kecil dulu.
Ziya bertekad untuk segera mencari tahu apa maksud dari permasalahan ini semua. Sehingga dia juga bisa terjun dalam masalah yang telah dihadapi oleh Alberto dan juga orang tuanya dulu.
" Sepertinya aku harus mencari tahu masalah yang sedang dihadapi oleh Alberto dan juga masalah kejadian yang selalu mengancam kehidupan orang tuaku dari dahulu sampai saat ini." Ucap Ziya dalam hati yang bertekad kuat untuk mencari tahu tentang kejadian yang terjadi pada Alberto di waktu dulu.
Karena, berpikir terlalu keras menyebabkan rasa sakit di kepala Ziya berulang kembali. Dalam seketika Ziya merasakan sakit di kepalanya, sehingga membuat dirinya menahan rasa sakit itu dengan meringis tanpa berteriak sedikitpun, karena, Ziya takut mengganggu tidur lelapnya Alberto saat ini.
" Aaakkkhh,, kenapa kepalaku sakit sekali,," Ucap Ziya dengan suara seraknya sambil menahan tangis dan memegang kepalanya.
" Aku tidak boleh menangis nanti tangisanku terdengar oleh Alberto dan membuat dirinya terbangun, dia baru saja tertidur aku tidak boleh mengganggu tidurnya." Ucap Ziya yang menangis dalam hati sambil meringkuk menahan kepalanya.
" Mama bantu Ziya, kenapa kepala Ziya sering terasa sakit,," Ucap Ziya dalam hati sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
Jadi, Ziya cuma bisa menahan rasa sakit itu sambil menangis tersedu-sedu, sedangkan Alberto yang sedikit mendengarkan suara seseorang seperti sedang meringis, Alberto segera terbangun dan membuka matanya.
" Heemm kenapa dia menangis,," Gumam Alberto yang menatap tubuh Ziya meringkuk dan meringis menahan rasa sakit di kepalanya.
" Sayang kamu kenapa,," Tanya Alberto pada Ziya yang posisinya sudah meringkuk bagaikan janin yang berada di dalam rahim ibunya.
Ziya sama sekali tidak mendengarkan pertanyaan dari Alberto, karena, saat ini Ziya sudah tidak sadarkan diri.
Ziya yang sudah merasakan sakit di kepalanya itu membuat dirinya tidak bisa menahan rasa sakit yang begitu menyiksa kepala dan tubuhnya. Karena, tidak bisa menahan akhirnya Ziya kehilangan kesadarannya lagi.
Alberto segera membalikkan tubuh Ziya dan terlihatlah wajah Ziya yang penuh akan air mata.
" Oh God, aku terlambat membantunya, maafkan aku sayang,," Ucap Alberto yang melihat Ziya dalam keadaan yang tidak sadar.
Dengan segera Alberto melompat mengambil ponselnya dan menghubungi temannya yaitu Daniel. Saat, Alberto menyentuh ponselnya ternyata Daniel telah menghubungi dirinya berkali-kali dan bahkan Alberto tidak mengetahuinya. Alberto lupa bahwa sedari siang tadi, ponselnya dalam keadaan silent, jadi dia sama sekali tidak mengetahui akan ada panggilan yang masuk.
" Hah! Daniel menghubungiku ada apa,,?" Tanya Alberto dalam hatinya.
Dengan segera Alberto menghubungi Daniel kembali. Saat ini waktu sedang menunjukkan arah jarum jam dengan angka tiga pagi, berarti sudah hampir pagi. Dengan menyentuh nomor ponsel Daniel Alberto menunggu panggilannya.
Sudah satu kali panggilan tapi belum diangkat oleh Daniel,
" Pasti dia sudah tertidur,," Ucap Alberto yang mengulang kembali menelepon Daniel.
Panggilan kedua barulah diangkat oleh Daniel.
" Yeah Dude,, ada apa,," Tanya Daniel yang menerima telepon dari Alberto dengan suaranya yang terdengar cukup berat.
" Cepat ke rumahku sekarang,," Ucap Alberto yang tidak mau menunda-nunda waktu.
" Heemm, siapa yang sakit,," Tanya Daniel dengan suara beratnya.
" Dia,,?" Ucap Daniel menebak bahwa yang dimaksudkan oleh Alberto tidak lain dan tidak bukan adalah Ziya.
" Heemm,," Jawab Alberto sambil melihat keadaan Ziya.
" Memangnya kenapa, apa yang terjadi," Tanya Daniel begitu penasaran.
" Dia pingsan," Jawab Alberto singkat.
Terdengar suara Daniel sedikit terkekeh seperti sedang menggoda Alberto.
" Dia pingsan karena, kau bermain terlalu kasar padanya,," Ledek Daniel pada Alberto.
Mendengar ledekan Daniel, Alberto merasakan bahwa dirinya ingin sekali memukul wajah Daniel saat itu juga.
" Dasar kau, jika kau disini akan aku patahkan hidungmu,," Umpat Alberto kesal pada Daniel.
Terdengar suara Daniel sedang tertawa renyah mendengar umpatan Alberto yang begitu kesal akan ucapannya itu.
" Oke Dude, aku akan segera kesana,," Ucap Daniel yang terdengar segera bangun dari tidurnya.
Sesaat Alberto ingin memutuskan teleponnya, terdengar suara Daniel sedang menyampaikan sesuatu padanya.
" Apa,," Tanya Alberto singkat.
" Tentang dia," Ucap Daniel singkat yang sedikit membuat Alberto penasaran maksud Daniel yang menyatakan tentang Ziya.
" Tentang dia,, memangnya kau mengetahui sesuatu tentang dirinya." Tanya Alberto sambil melihat keadaan Ziya apakah Ziya sudah sadar.
" Heemm,, sedikit informasi yang ingin aku bicarakan,," Jawab Daniel terdengar begitu serius.
" Baik nanti kita bicarakan setelah kau sampai ke tempatku,," Ucap Alberto yang mengizinkan Daniel untuk menyampaikan informasi tentang Ziya padanya.
" Heemm, baik Dude aku akan segera kesana,," Jawab Daniel yang segera memutuskan telepon dari Alberto.
Setelah selesai menghubungi Daniel, Alberto berpikir maksud dari Daniel yang ingin menyampaikan sesuatu informasi tentang Ziya.
" Apa yang ingin dikatakannya,," Tanya Alberto dalam hati yang seakan begitu penasaran akan maksud dari Daniel.
Saat Alberto sedang memikirkan ucapan dari Daniel, Alberto kaget ketika mendengar suara Ziya yang meringis, lalu, Alberto segera menghampiri Ziya yang masih terbaring di atas tempat tidur.
" Sssshhh,," Suara mulut Ziya yang terdengar seperti menahan rasa sakit.
" Ada apa, apa yang terjadi kenapa kau pingsan,," Tanya Alberto yang begitu banyak dan beruntun dengan ekspresi wajah cemasnya terhadap Ziya.
Ziya terlihat seperti sedang menggelengkan kepalanya dengan sangat lembut.
" Aku tidak apa-apa, tidak perlu khawatir,," Jawab Ziya yang menjawab pertanyaan dari Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya.
" Heh! Apanya yang tidak apa-apa, kau saja pingsan dan wajahmu itu, banyak sekali air mata yang mengalir,," Ucap Alberto yang merasa kesal pada Ziya, karena, Ziya melarangnya untuk mencemaskan keadaannya itu.
Ziya dengan tatapan wajah sendu sedikit mengulas senyumannya. Merasa senang akan sikap Alberto yang mulai mencemaskan dirinya.
" Heemm,, terima kasih sudah mencemaskan keadaanku,," Ucap Ziya dengan nada suara yang terdengar begitu kecil.
Alberto sedikit tersenyum mendengarkan ucapan Ziya yang mengatakan dirinya mencemaskan keadaan Ziya.
Ya, memang benar, Alberto saat ini merasa aneh sendiri, semenjak dirinya telah berbuat kasar pada Ziya, entah kapan perasaan ini datang pastinya saat ini Alberto mudah sekali untuk mencemaskan keadaan Ziya.
" Kau kenapa pingsan,, sakit," Tanya Alberto terlihat seperti orang kebingungan.
" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.
" Dimana rasa sakitnya,," Tanya Alberto yang membuat Ziya sedikit merasa kaku.
Karena, pertanyaan itu mengandung makna ha b begitu banyak sekali. Ingin rasanya Ziya menunjuk rasa sakit di bagian dadanya tapi, tidak mungkin itu ia lakukan karena, ia sangat tahu dan mengerti sifat Alberto yang selama ini dingin padanya dan baru akhir-akhir ini begitu lembut dengan dirinya itu. Jadi, Ziya cuma menunjukkan rasa sakit yang sejujurnya ia rasakan yaitu bagian kepala.
" Kepala,," Jawab Ziya dengan suara lembutnya.
" Aku sudah memanggil Daniel untuk datang kesini memeriksa keadaanmu,," Ucap Alberto yang membuat Ziya sedikit kaget.
" Akkkhhh benarkah malam-malam begini Daniel langsung terbang ke sini untuk memeriksa keadaanku," Gumam Ziya dalam hati mendengar ucapan Alberto yang menyebutkan nama Daniel.
Ziya berpikir untuk apa diperiksa oleh Daniel semalam ini, Ziya merasa tidak enak akan kondisi Daniel yang selalu dibuat terburu-buru kesana kemari oleh Alberto.
" Tidak usah, Alberto, aku tidak merasakan lagi sakitnya,," Ucap Ziya meminta Alberto untuk tidak menyuruh Daniel datang memeriksanya.
" Tapi, sudah kutelepon, dan sekarang kemungkinan dia lagi di jalan." Jawab Alberto menjelaskan tentang posisi Daniel saat ini.
" Tapi, aku tidak apa-apa,, serius," Jawab Ziya dengan wajah memelasnya.
" Yakin kau tidak merasakan apa-apa lagi," Tanya Alberto yang merasa bahwa Ziya berkata bohong.
" Yakin,," Jawab Ziya mengangguk.
" Aku hanya kurang istirahat saja, makanya sedikit pusing dan sakit," Jawab Ziya seolah mengalihkan pembicaraan tentang keadaan dirinya.
Alberto menelisik dan memperhatikan wajah Ziya yang terlihat begitu yakin, akhirnya Alberto mengambil keputusan untuk mempercayai Ziya.
" Baiklah kalau begitu aku akan hubungi Daniel untuk tidak kesini." Ucap Alberto lembut pada Ziya.
" Heemmm," Jawab Ziya mengangguk.
Lalu, Alberto dengan segera berdiri dan melangkahkan kakinya menuju meja dimana ia telah meletakkan ponselnya. Alberto sedikit menjauhkan tubuhnya dari Ziya supaya Ziya tidak terlalu mendengarkan pembicaraan antara dia dan Daniel.
Dering pertama segera diangkat oleh Daniel.
" Yes Dude,," Ucap Daniel yang mengangkat telepon Alberto.
" Heemm,, kau tidak usah datang kesini, dia sudah sadar dan tidak merasakan sakit apapun,," Bilang Alberto pada Daniel dengan segera.
" Heh! Dasar kau, aku sudah setengah jalan ini." Ucap Daniel yang menjelaskan posisinya.
" Kembali putar dan istirahatlah, besok baru kita membahas pembicaraan darimu,," Bilang Alberto memerintah Daniel untuk kembali pulang ke rumahnya.
Terdengar suara Daniel yang berdehem dan menarik napasnya,
" Heeemm,, oke Dude," Jawab Daniel menyetujui perintahan Alberto.
Setelah selesai menelepon Daniel dan memutuskan sambungan teleponnya. Alberto segera kembali berjalan ke arah tempat tidur dan mendekati tubuh Ziya.
" Tidurlah,," Ucap Alberto pada Ziya sambil memposisikan tubuh Ziya dengan benar.
" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk dan menuruti semua arahan dari Alberto yang menyuruhnya untuk segera tidur kembali.
Dengan lembutnya Alberto mengelus rambut Ziya dan memakaikan selimut pada tubuh Ziya. Setelah merasa cukup nyaman untuk Ziya Alberto segera naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut sambil memeluk erat tubuh Ziya.
Di dalam pikiran Alberto, pasti sedang terjadi sesuatu pada Ziya.
" Pasti ada yang terjadi pada dirimu, Ziya, tidak mungkin kau pingsan dalam keadaan menangis,," Gumam Alberto dalam hati sambil mencium lembut rambut Ziya yang berada di dalam pelukannya.
Kenapa dia bisa pingsan dan teruraikan air mata, padahal sebelumnya mereka tidak bertengkar sedikitpun.
****