Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 220 - Trik Berhasil



Setelah mengucapkan permintaannya itu kepada Mellina. Tentu saja hal itu membuat Mellina sedikit merasa bingung, karena, seorang pengawal yang hanya memiliki jabatan sebagai tangan kanan pamannya meminta agar dirinya mau membuka topeng yang sedang digunakan oleh pria di hadapannya ini.


" Apa maksud dari permintaannya ini, apakah dia ingin menjebak ku ?" Tanya Mellina dalam hati seketika bingung untuk mengabulkan permintaan yang diucapkan oleh Will barusan kepada dirinya.


Namun, Mellina harus segera mencari sebuah jawaban untuk melakukan tindakannya ini. Mau tidak mau Mellina harus membuka topeng yang digunakan oleh Will itu. Tapi, sebelum membuka topeng tersebut dengan pintarnya Mellina telah memiliki sebuah alasan yang terbaik untuk menolak mengabulkan permintaan Will ini.


" Heh, aku tidak bisa membukanya," Bilang Mellina dengan gaya santai namun terlihat angkuh.


" Karena, aku hanya ingin kau sendiri yang bisa membukanya,," Ucap Mellina lagi sambil menaikkan ujung bibirnya menunjukkan senyuman manisnya itu.


Karena, Mellina beralasan sedang berpura-pura tidak bisa dan tidak mau membuka topeng yang selalu digunakan oleh Will itu, dengan senang hati juga Will memiliki alasan yang tepat bahwa ia sendiri tidak bisa membuka topeng tersebut. Karena, di dalam peraturan yang ada semua pengawal dilarang membuka topeng masing-masing kecuali pemimpin sendiri yang membukakannya.


" Baiklah, jika Madam tidak mau dan tidak bisa membuka topeng yang digunakan oleh saya, saya tidak akan berani untuk membukanya sendiri, karena, ada suatu alasan jelas yang tidak bisa saya lakukan." Ucap Will dengan memberikan sebuah peringatan kepada Mellina bahwa di dalam markas ini memang semua pengawal memiliki aturannya masing-masing.


" Maksudnya ?" Tanya Mellina dengan ekspresi wajah penasaran.


" Tentunya, Madam lebih tahu dengan jelas bahwa setiap pengawal tidak boleh membuka topengnya masing-masing kecuali pemimpinnya itu sendiri yang bersedia membukakan topengnya itu." Ucap Will lagi dengan memberikan sebuah alasan yang tepat sekali terhadap kondisinya saat ini.


Betapa terkejutnya Mellina bahwa markasnya ini memiliki aturan seperti itu. Dan, Mellina selama ini memang tidak tahu akan adanya peraturan yang berlaku bagi para semua pengawal.


" Apa !! masa ada peraturan seperti itu,," Seru Mellina dalam hatinya yang tidak percaya atas ucapan Will padanya.


" Apakah mungkin dia ingin memberikan sebuah jebakan padaku ?" Gumam Mellina sendiri sambil berpikir dan menerka ucapan yang disampaikan oleh Will.


Karena, terlihat cukup lama dalam pikirannya itu, dengan wajah penuh kemenangan Will sendiri mengagetkan pikiran Mellina seolah-olah ia memberikan sebuah pertanyaan sekali lagi.


" Bagaimana Madam, saya sudah jelaskan bahwa saya sebagai seorang pemimpin dari semua pengawal yang selalu mematuhi peraturan, tidak akan melakukan suatu hal yang bisa membuat diri saya melanggar aturan tersebut." Ucap Will lagi yang terdengar sedang mengembalikan lamunan Mellina.


" Saya tidak terlalu mengingat semua peraturan yang berlaku bagi para pengawal, tapi, jika itu yang harus kulakukan, maka aku akan melakukannya,," Jawab Mellina dengan suara lembutnya.


Dan Mellina akhirnya terjebak akan ucapan yang akan disampaikan oleh Will tentang peraturan dalam markas mafia Roserish. Sehingga membuat dirinya mau tidak mau membuka topeng yang digunakan Will, karena, dia sendiri juga tidak tahu bahwa ada peraturan seperti itu di dalam markas besar ini.


" Mendekatlah,," Ucap Mellina terhadap Will dengan suara lembutnya.


Dengan menaikkan ujung bibirnya, Will tersenyum senang ketika mendengarkan ucapan Mellina yang menyuruh dirinya untuk mendekat lagi kepada sang pemimpin wanita ini. Tentu saja hal itu tidak mungkin dilepaskan oleh Will dengan segera Will mendekat.


Setelah Will mendekat Mellina menatap mata Will dengan penuh pertanyaan, karena, di dalam mata itu tidak terlihat adanya suatu kejanggalan. Dengan percaya diri akhirnya Mellina melakukan apa yang ingin diketahuinya dari balik topeng yang telah menyembunyikan si pemilik mata indah ini.


Dengan menggunakan dua tangannya, Mellina berusaha membuka kunci topeng tersebut, setelah terbuka barulah Mellina menarik pelan-pelan topeng itu supaya bisa terlepas dari wajah si pemilik. Setelah terbuka barulah Mellina bisa melihat siapa orang yang selama ini dicurigainya itu sama sekali bukan pria yang mengelabuinya saat ia sedang mengintai pergerakan Zoya beberapa waktu lalu di sebuah danau.


" What ?" Seru Mellina kaget ketika melihat wajah Will yang baru saja terbuka dari topeng di tangannya.


" Bukan dia, lalu siapa ?" Gumam Mellina lagi kembali mengingat sosok wajah pria yang telah mengganggunya dulu.


" Kenapa matanya begitu mirip,," Ucap Mellina dalam hatinya merasa bingung dengan orang yang berada di hadapannya ini dengan pria yang telah mengelabuinya itu.


" Aku tidak percaya ini,," Ucap Mellina lagi yang terlihat oleh Will sedang merasakan suatu yang salah dan kebingungan.


Karena, Will sendiri telah melihat ekspresi wajah Mellina yang terlihat kebingungan dan sepertinya salah orang, dengan tersenyum senang Will mengagetkan lamunan Mellina yang menerka dirinya itu.


" Bagaimana Madam, Madam sudah melihat sendiri siapa sebenarnya aku,," Ucap Will dengan sebutan dirinya sendiri aku serta menunjukkan bagaimana senyuman maut yang digunakannya.


Will sengaja melakukan hal lembut ini, karena awalnya Mellina memang terlihat sedang ingin menggoda dirinya, karena, Will merasa dengan cara yang dilakukan oleh Mellina ini terlihat bahwa wanita yang berada di dekatnya itu sedang membuat sebuah jebakan untuk dirinya. Oleh sebab itu, Will begitu menyukai alur jebakan yang telah dibuat oleh Mellina terhadap dirinya itu. Sehingga dengan santainya Will mengikuti arahan yang selalu diperintahkan oleh Mellina terhadap dirinya.


" Ya, karena, aku sudah melihat siapa kau sebenarnya, jadi kau boleh keluar,," Ucap Mellina menyuruh Will segera keluar dari ruangan.


Karena, salah memilih orang untuk masuk ke dalam jebakannya itu, dan Mellina juga sudah mengetahui siapa sebenarnya Will akhirnya Mellina menyuruh Will untuk segera keluar dari ruangannya itu. Namun, dengan sigapnya Will langsung menahan tubuh Mellina di dalam sofa sehingga membuat Mellina meronta melawan atas perbuatan yang sedang dilakukan oleh Will.


BRAAKK !! Suara gerakan Will yang sedang menahan tubuh Mellina.


" Apa yang sedang kau lakukan ?" Teriak Mellina ketika merasa tubuhnya sudah ditahan oleh Will.


" Shhhuuuttt, aku tahu apa yang kau inginkan dariku, Madam,," Ucap Will lembut sambil membisikkan sesuatu kata-kata romantis tepat di telinga Mellina.


Ketika, Will sedang membisikkan sesuatu kata-kata romantis sesuai dengan keinginan yang diinginkan oleh Mellina, tentu saja hal itu membuat Mellina teringat akan keinginannya itu sehingga Mellina dihadapkan dengan dua pilihan menolak dan melawan atau menerima kehangatan tubuh Will, karena, pengawal ini begitu tampan dan sangat disayangkan sekali jika kehangatan tubuhnya dilepaskan begitu saja.


" Apa maksudmu ?" Tanya Mellina dengan mata menatap tajam namun bahasa tubuhnya menerima belaian lembut dari tangan Will yang sedang merayap di bagian pinggangnya hingga ke atas bagian puncak gunung kembarnya.


" Aku tahu bahwa Madam menginginkan ini bukan," Bisik Will lagi terhadap Mellina dengan tangan yang tetap bermain aktif tepat di atas puncak gunung kembar milik Mellina.


" Eeemmm, apa yang kau lakukan ?" Suara Mellina terdengar melemah ketika tangan Will berhasil membuka kancing bajunya dan jari telunjuk Will menyentuh bagian lembut seperti bulatan kecil yang menonjol.


" Memberikan keindahan padamu, Madam,," Jawab Will sambil tersenyum menatap wajah Mellina.


Dengan pintar dan cepat Will telah berhasil melemahkan tubuh Mellina hanya dengan satu sentuhan saja dan saat ini Will tersenyum melihat wajah Mellina yang meronta namun menerima keindahan serta kehangatan tindakan dari jari jemari Will sendiri.


Disaat Will sedang memberikan sentuhan lembut kepada Mellina, disaat itu juga Will telah berhasil mendapatkan senjata bius yang akan digunakannya untuk melumpuhkan tubuh Mellina sementara.


" Oke, ini saatnya,," Gumam Will dengan segera menyuntikkan perlahan jarum suntik kepada tubuh Mellina yang sedang terlena itu.


Karena, tubuh Mellina sudah terbuai akan sentuhan jari tangan Will yang sedang bermain lembut pada bagian puncak gunung kembarnya itu, sehingga membuat Mellina sendiri tidak merasakan sesuatu yang aneh dari perlakuan Will. Dan, Mellina baru merasakan sakit ketika Will berhasil menyuntikkan cairan obat pada bagian lengannya di sebelah kanan.


Jelas saja Mellina sedikit kaget dan berseru, membuka matanya yang terpejam karena, menikmati kelembutan nan indah yang diberikan oleh Will karena merasa sedikit sakit ketika jarum suntik menusuk ke dalam tubuhnya itu.


" Aaaahhhhh, apa yang kau lakukan !" Seru Mellina kaget ketika merasakan suatu benda kecil yang tajam menusuk kulitnya.


" Ssshhhuuttt, tidak ada apa-apa Madam,," Jawab Will yang masih melakukan sentuhan lembut terhadap Mellina.


" Tapi, barusan aku merasa,," Gumam Mellina lagi namun ucapannya terputus karena, dengan sengaja Will mengalihkan perhatiannya lagi melakukan suatu tindakan yang lebih lembut lagi terhadap Mellina.


" Shhhuuuttt, jangan berpikir yang tidak-tidak,," Ucap Will sambil meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Mellina.


Dengan segera Will menyentuh bibir itu menggunakan bibirnya sendiri untuk membuat Mellina lupa akan rasa jarum suntik yang masuk ke dalam tubuhnya. Tidak terlalu lama Will menciumi bibir Mellina, karena, ia tahu bahwa Mellina saat ini sudah diberikan obat bius darinya yang begitu cepat sekali bekerja. Sehingga, dengan segera ciuman Will beralih menuju ke bagian leher Mellina, benar sekali tidak menunggu waktu beberapa jam hanya hitungan detik saja Mellina sudah terbius dan sudah tidak sadarkan diri.


" Berhasil !" Seru Will senang ketika melihat keadaan Mellina yang tertidur karena obat bius yang diberikannya sudah bekerja dengan sempurna.


Karena, awalnya Will tidak memiliki hasrat untuk menyentuh tubuh Mellina, ketika Mellina sudah terbius Will langsung saja bangkit dari atas tubuh Mellina dan segera merapikan pakaiannya yang sedikit terbuka oleh tangan Mellina.


Sambil tersenyum puas Will segera menekan tombol alat kecil yang selalu digunakannya untuk berkomunikasi kepada salah satu asistennya yang berada tidak jauh dari markas besar Roserish ini.


" Kendaraan sudah siap ?" Tanya Will kepada asistennya.


" Sudah Tuan,," Jawab asisten Will dengan tegas.


" Oke, segera lakukan tindakan, sekarang !" Ucap Will yang sedang memberikan sebuah perintah kepada asistennya.


" Baik, Tuan,," Jawab asisten Will.


Setelah selesai menghubungi asistennya yang sedang berada di luar lokasi markas besar ini, dengan senang hati Will mengangkat tubuh Mellina keluar dari ruangan kamar pribadinya ini tanpa sepengetahuan pengawal yang sedang berada diluar ruangan.


Sebelum melakukan rencananya itu Will segera menghubungi pengawal pribadi Zavier yang masih berada di dalam ruangan tempat penahanan Zoya. Tujuannya untuk membantunya dalam membekuk semua pengawal yang sedang berada di dalam ruangan Mellina ini agar rencananya itu berhasil dilakukan.


Namun, sebelum Will menghubungi pengawal pribadi Zavier, ternyata prajurit pengawal Zavier sendiri sudah selesai membekuk semua pengawal yang sedang berada di dalam ruangan pribadi Mellina. Karena, ditandai dengan munculnya pengawal pribadi Zavier tepat di kamar Mellina.


Tok, Tok, Tok !! Suara ketukan pintu yang dilakukan oleh pengawal Zavier.


" Siapa itu, apakah prajurit Tuan Zavier sudah berhasil melakukan pekerjaannya di ruangan ini ?" Tanya Will kaget ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.


Tentu saja dengan segera Will bersiap-siap menyelidiki siapa orang yang berani mengetuk pintu ruangan Mellina, karena, sepengatahuan Will pengawal Mellina tidak akan berani mengetuk pintu seperti itu kecuali orang lain yang bukan pengawal pribadinya.


Sambil membuka sedikit tirai yang menutup kaca Will melihat bahwa keadaan diluar sudah sangat ramai dengan adanya prajurit pengawal Zavier berhasil melumpuhkan semua pengawal yang ada.


" Ternyata benar, prajurit Tuan Zavier telah berhasil melumpuhkan semua pengawal yang ada di dalam ruangan ini." Gumam Will sambil memandangi semua keadaan yang sedang terjadi.


" Baiklah, pekerjaanku telah selesai, tinggal membawa wanita itu kembali ke Perancis dan,," Ucap Will terhenti ketika melihat Mellina yang masih berada dalam kondisi tidak sadarkan diri.


" Lebih baik, aku temukan dulu Nyonya Zoya dan wanita ini akan aku serahkan kepada pengawal Tuan Zavier." Ucap Will karena sudah berhasil melakukan semua pekerjaan yang telah dilakukannya itu.


Dengan segera Will membuka pintu yang telah diketuk oleh pengawal Zavier. Dan, pengawal Zavier juga sudah membawa Zoya bersama dengannya untuk meyakinkan bahwa mereka memang benar datang untuk menyelamatkan diri Zoya atas penangkapan gelap yang dilakukan oleh klan Roserish.


" Bagaimana kau berhasil mendapatkannya ?" Tanya pengawal Zavier kepada Will.


" Tentu saja, lihat !" Jawab Will sambil tersenyum senang dengan gaya keberhasilannya.


" Bagus, terima kasih karena, sudah membantu,," Ucap Pengawal Zavier sambil menepuk bahu Will.


" Kita saudara dan kita bekerja dalam satu grup jadi, harus saling membantu,," Jawab Will lagi kepada pengawal Zavier itu dengan wajah tersenyum namun serius.


" Kau benar,," Jawab pengawal Zavier yang memberikan sebuah senyuman serius kepada Will.


Dan pengawalnya Zavier langsung saja memberitahukan maksud kedatangannya untuk menemukan Zoya dengan Will, karena, pertemuan ini merupakan keinginan dari Zoya sendiri dan apabila tidak bertemu dengan Will maka Zoya tidak akan mempercayai ucapannya pengawal Zavier.


" Oh ya, Nyonya Zoya ingin bertemu denganmu,," Bilang pengawal Zavier kepada Will sambil membawa Zoya ikut masuk ke dalam ruangan.


Will mengangguk dan Zoya seketika tersenyum kepada Will. Walaupun saat ini Will sedang menutup separuh wajahnya menggunakan masker supaya lebih mudah ditutupi dengan topeng. Tapi, Zoya bisa melihat dengan jelas kalau Will sedang tersenyum dan memberikan hormat kepadanya.


****