
Saat ini kondisi tubuh Ziya dalam keadaan bergetar hebat lalu tiba-tiba Ziya terbangun dari tidurnya itu dengan posisi duduk dan mata menatap ke depan hingga hal itu membuat Vena sangat terkejut sekali. Sehingga bisa dilihat betapa terkejutnya Vena ditunjukkan dari tindakan tubuhnya yang seketika mundur beberapa langkah ke belakang ketika melihat reaksi tubuh Ziya seperti saat ini.
" Apa yang terjadi dengan Nyonya ?" Tanya Vena dengan respon tubuhnya yang terkejut melihat keadaan Ziya sambil menutup mulutnya yang sedikit menganga karena, bahasa tubuhnya yang sedikit kaget itu.
Dengan posisi tubuh yang masih terduduk dan mata menerawang ke depan, dengan lembut Axeloe melambaikan telapak tangannya tepat di depan mata Ziya. Hingga hal itu membuat Ziya tersadar atas tindakan yang dilakukan oleh Axeloe terhadap dirinya.
" Axeloe,," Gumam Ziya ketika matanya tersadar melihat tangan Axeloe yang sengaja dilambaikannya tepat di depan mata Ziya.
" Ya, ini aku,," Jawab Axeloe langsung sambil menganggukkan kepalanya dan menghentikan tindakan yang baru saja ia lakukan.
" Apa yang kau rasakan saat ini ?" Tanya Axeloe secara langsung pada Ziya atas apa yang baru saja di alami oleh Ziya dalam mimpinya.
Tanpa menyaring kembali pertanyaan yang akan diajukan kepada Ziya, Axeloe langsung saja bertanya apa saja yang sedang terjadi pada Ziya kala itu. Karena, Axeloe ingin tahu jelas sebenarnya apa yang telah terjadi pada Ziya di dalam mimpinya itu. Axeloe merasa tidak sabar lagi untuk mendengar semua apa saja yang akan disampaikan oleh Ziya mengenai keadaan terdahulu yang telah menimpa dirinya dan juga Alberto.
" Dimana Alberto ?" Tanya Ziya sendiri dalam hatinya
Sambil menarik napasnya yang terdengar belum teratur dan terlihat jelas sekali bahwa nyawa Ziya masih belum berkumpul sempurna di dalam tubuhnya, sehingga hal itu membuat Ziya sedikit lama menetralisir kembali pertanyaan yang baru saja ditanyakan oleh Axeloe pada dirinya. Namun, hal itu membuat Axeloe mengerti akan sikap yang terlihat dari tubuh Ziya.
" Aku, aku,," Gumam Ziya dengan suaranya yang sedikit terbata-bata dan sesaat langsung memejamkan matanya sembari mengumpulkan kembali nyawa serta mengatur napasnya dengan normal.
" Jangan takut, atur napas dulu, setelah kau merasa cukup enak dan nyaman, kau bisa menceritakan apa yang telah kau alami,," Ucap Axeloe yang sengaja memberikan sebuah saran terbaik untuk kenyamanan Ziya setelah tubuhnya dimasukkan obat darinya.
Ucapan yang baru saja disampaikan oleh Axeloe cukup membantu Ziya merasa nyaman dan nyawanya kembali sempurna. Saat ini napas Ziya sudah kembali normal dan Ziya juga tersadar bahwa di sampingnya saat ini tidak ada sosok laki-laki yang selama ini selalu membuatnya merasa nyaman yaitu Alberto. Karena, Ziya melihat di dalam ruangan kamarnya tidak ada sosok suaminya itu maka sambil mengelilingi di sekitar kamarnya dengan menggunakan matanya saja tindakan yang dilakukan oleh Ziya saat ini diketahui dan dimengerti oleh Axeloe.
Tentu saja dengan segera Axeloe beranjak bangun dari tempat tidur Ziya dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana Alberto sedang berada. Namun, sebelum Axeloe melakukan tindakannya itu, Axeloe masih tetap memberikan sebuah ucapan yang bisa menenangkan perasaan Ziya.
" Selama kau tidak sadarkan diri, Alberto selalu menjagamu disini,," Ucap Axeloe yang mengerti akan hal yang dilakukan oleh Ziya.
Tentu saja ucapan Axeloe tersebut membuat mata Ziya langsung beralih kembali ke wajah Axeloe dan bertanya dimana keberadaan Alberto setelah ia sadar seperti sekarang.
" Lalu, dimana dia ?" Tanya Ziya dengan suaranya yang terdengar lembut.
" Zavier, telah menelponnya berulang kali, dan saat itu Alberto tidak mau menerima panggilan dari Zavier, karena, Alberto ingin menunggu kau, namun,," Ucap Axeloe kepada Ziya dengan jelas namun terhenti ketika mendengarkan suara Ziya yang menghentikan ucapannya.
" Aku mengerti, Axeloe,," Jawab Ziya langsung sambil menganggukkan kepalanya.
Meskipun Axeloe memahami akan sikap Ziya yang mengerti tentang kesibukan dari kakaknya itu, namun Axeloe tetap saja pergi dari tempatnya semula dan meninggalkan Ziya beserta Vena. Setelah Axeloe pergi dari tempatnya Ziya, karena, sudah sangat dekat dengan majikannya ini pastinya Vena langsung saja mendekati tempat tidur Ziya dan segera melakukan tugasnya yaitu memberikan sedikit ketenangan buat sang majikan.
" Maaf Nyonya, jika Vena datang terlambat,," Ucap Vena saat melangkah mendekati Ziya.
Sambil menoleh ke arah Vena yang tengah berbicara dengannya, Ziya tersenyum menjawab ucapan Vena yang terlihat jelas sekali bahwa ia begitu perhatian dengan majikannya ini. Jadi, Ziya hanya bisa meminta Vena untuk duduk di dekatnya. Karena, memiliki seorang majikan yang begitu baik dan juga sangat menghargai seorang asisten, oleh sebab itu Vena tidak pernah merasa takut untuk mendekati majikannya.
" Heemmm, tidak apa-apa, Vena,," Jawab Ziya sambil tersenyum menoleh ke arah Vena.
" Kemarilah,," Panggil Ziya kepada Vena.
" Baik Nyonya,," Jawab Vena sambil tersenyum dan langsung melangkah mendekati tempat tidur Ziya.
Setelah duduk di tempat tidurnya Ziya, sambil tersenyum lembut Vena mulai membuka percakapan kepada Ziya tentang hal apa yang menyebabkan majikannya itu sampai tidak sadarkan diri hanya sebentar saja ia tinggalkan ke dapur. Dan anehnya lagi disaat Ziya tidak sadarkan diri, disaat itu juga Ziya mengigau sambil menyebutkan kata tidak dan jangan jadi hal itu membuat Vena begitu penasaran dan perlu jadi bahan pertanyaannya terhadap majikannya.
" Maaf, Nyonya kalau saya datang terlambat,," Ucap Vena setelah duduk di tempat tidurnya Ziya.
" Tidak apa-apa, Vena, kamu tidak usah khawatir aku sama sekali tidak apa-apa,," Jawab Ziya sambil tersenyum dan pastinya memberikan sebuah kesan yang menenangkan hati Vena.
" Iya, Nyonya, Vena khawatir jika Nyonya terjadi apa-apa,," Ucap Vena dengan wajah tulusnya merespon ucapan Ziya.
" Hehehe, aku tidak apa-apa Vena,," Jawab Ziya sambil tersenyum dan sedikit menepuk pundak Vena.
Karena, terlihat begitu jelas sekali akan rasa kecemasan serta kekhawatiran dari diri Vena, dengan lembut Ziya memberikan sebuah ketenangan serta kepercayaan yang besar kepada Vena bahwasanya Vena bukan hanya sebagai asistennya saja melainkan juga saudaranya. Tentu saja hal yang dilakukan oleh Ziya kepadanya itu membuat Vena semakin menghargai majikan baiknya ini.
" Oh ya, Nyonya Vena boleh bertanya ?" Tanya Vena dengan wajahnya yang terlihat begitu serius terhadap Ziya.
" Ya, tentu saja, ada apa Vena ?" Tanya Ziya balik dengan wajah yang sama serius seperti Vena.
Karena, Ziya selalu menganggap Vena lebih dari saudara, oleh sebab itu Vena memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Ziya mengenai hal yang telah terjadi kepada Ziya barusan. Dan tentu saja Ziya menanggapi pertanyaan dari Vena dengan tanggapan yang begitu serius juga.
****