Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 41 Merasakannya



Sebenarnya dari dulu Gladys menikahi Vasco Alexandre dengan tujuan agar putranya Martin Luther bisa mendapatkan hak waris juga dalam perusahaan Alexandre Group. Tapi, sayang sia-sia saja karena, semua perusahaan Alexandre Group dibawah kepemimpinan Alberto semuanya. Bahkan Vasco sendiri tidak memiliki kuasa dalam kepemimpinan di perusahaan Alexandre Group ini.


Memang sebenarnya Alberto ingin memberikan satu perusahaan kepada adik perempuan tirinya itu, karena seseorang dari Gladys yaitu Alexa adalah adik kandungnya sendiri yang keturunannya sama-sama keturunan dari Vasco Alexandre.


Tapi, niat ini belum diungkapkan oleh Alberto sendiri, karena ia ingin mengungkapkan sesuatu yang bersifat kekejian dan kebohongan dari diri Gladys ini.


Ziya yang sengaja menjauhi pandangan matanya ke arah Alberto segera masuk ke dalam ruang kamar Demian. Untuk sesaat mata Alberto tidak bisa lagi menelusuri bayangan tubuh Ziya yang sangat lekat ia lihat.


" Cepat sekali wanita itu menghilang," Gumam Alberto dalam hati yang matanya mencari-cari keberadaan Ziya.


Nenek Alberto Christin begitu mengetahui sikap dan gelagat dari cucunya ini, baru kali ini cucu yang telah dibesarkannya ini, mencari-cari sosok wanita yang baru saja masuk dalam kehidupannya.


" Apa yang kau cari,?" Tanya Christin pada Alberto yang telinganya mendengar ucapan neneknya sedangkan matanya mencari-cari keberadaan seseorang.


" Akh,, tidak Grandma, aku sedang meneliti apakah Demian sudah tertidur," Bilang Alberto yang membuat alasan.


" Setelah istrimu Zoya kembali, Demian sangat lengket dengan Mommy nya itu," Ucap Christin yang memberitahu keadaan yang sebenarnya.


Mendengar ucapan neneknya itu, membuat Alberto percaya bahwa Ziya memang tulus menyayangi putranya itu. Tidak mungkin, seorang Demian yang sangat sulit sekali dekat dengan orang baru begitu sangat menempel pada sosok Ziya yang baru saja masuk ke dalam rumahnya. Ya, walaupun Ziya adalah kembaran Zoya, dan Zoya sendiri adalah ibu dari Demian. Entah mengapa Demian lebih mudah tertarik dan begitu dekat dengan Ziya.


Memang sangatlah berbeda sekali perlakuan sikap Ziya kepada Demian dibandingkan sikap perilaku Zoya waktu dulu kepada Demian.


Seolah-olah Demian hanyalah ladang uang bagi Zoya untuk mendapatkan kesenangan dirinya dari kekayaan Alberto. Yang hanya dalam pikiran Zoya ialah memanfaatkan putranya itu hanya untuk kesenangan semata.


Itulah yang membuat Alberto selalu menimbang-nimbang keadaan dan sifat asli Ziya, walaupun Ziya terlihat sangat tulus, tapi dia belum mengetahui apa rencana di balik ini semua untuk dirinya.


Lalu, Alberto permisi kepada Neneknya dan mengabaikan Claire yang telah menyambut kepulangannya itu.


" Alberto langsung ke atas, Grandma,," Bilang Alberto pada Neneknya.


" Ya," Jawab Christin mengangguk.


Alberto langsung saja melewati wajah Gladys dan juga Claire yang menatap sedikit kesal pada kelakuan Alberto akhir-akhir ini pada dirinya.


Sesampainya di lantai dua, Alberto segera masuk ke dalam kamarnya dan mencari keberadaan Ziya di kamarnya itu. Dan ternyata hasil pencariannya nol alias nihil tidak ada batang hidung Ziya terlihat di kamar itu.


Lalu, Alberto melangkahkan kakinya kembali melangkah keluar dari kamarnya dan melangkah menuju ke kamar Demian. Sebelum masuk di luar pintu Alberto mendengar apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


Karena, tidak mendengar apapun dari luar dan rasa penasaran yang cukup besar di dalam hatinya, karena, memang sedari tadi Alberto begitu penasaran dengan sosok Ziya yang ada dalam kehidupannya saya ini sehingga membuat Alberto segera masuk ke dalam.


Dan barulah terlihat apa yang sedang mereka lakukan di dalam. Ziya sedang berbaring di atas tempat tidur bersama sang putra tercinta yaitu Demian, sedangkan Vena dan Melly masih berada di ruang tersebut sambil membacakan sebuah dongeng kepada Nyonya dan Tuan Mudanya itu.


Saat Alberto, melangkahkan kakinya mendekati Demian yang sedang berbaring itu. Sontak, Demian yang melihat kedatangan Daddy nya membuatnya langsung mengajak Daddy nya untuk tidur bersama.


" Daddy,," Teriak Demian yang membuat Ziya kaget.


Tapi, wajah kaget Ziya sama sekali tidak terlihat sedikitpun akan kecanggungannya jika Alberto sudah berada di dalam, karena, ia masih saja berpura-pura tidak mengetahui kedatangan Alberto saat ini.


Dua pelayan yang masih berada di kamar seakan tahu dan mengerti apabila sudah ada sang Tuan Besar di dalam kamar ini. Vena dan Melly segera memohon diri untuk keluar dari kamar tersebut.


Setelah mereka berdua keluar, Alberto segera menekan tombol otomatis untuk mengunci kamar Demian ini, yang baru kali ini Ziya mengetahuinya.


Karena, selama Ziya yang sering tidur di kamar Demian ini, tidak pernah Ziya menekan tombol tersebut. Karena, baru kali ini Ziya tahu bahwa kamar Demian begitu terlindungi.


" Kita sudah aman,," Bilang Alberto yang membuat Ziya sedikit kaku dan bingung.


" Maksudnya aman apa ya,,?" Tanya Ziya dalam hati.


" Daddy, akan bobo disini bukan,,?" Tanya Demian dengan wajah manjanya kepada Alberto.


" Iya sayanggg,," Jawab Alberto yang tersenyum nakal melirik Ziya.


" Daddy, bobo sini,," Bilang Demian yang menarik tangan Alberto.


Alberto tersenyum senang karena, kesempatan ini dapat ia gunakan untuk mengganggu si penghindar yang ada di sampingnya ini.


Alberto dengan sengaja memilih berbaring di sebelah Ziya, karena posisi tempat di sebelah Ziya cukup luas untuk dirinya. Ziya menoleh melihat Alberto yang telah berada di sampingnya. Membuat Alberto tersenyum menyeringai saat ia lihat wajah cantik Ziya sangat dekat dengan wajahnya.


" Mommy, peluk, Demi,," Bilang Demian yang memecah fokus pandangan mata antara Ziya dan Alberto.


Ziya pun segera membelakangi tubuh Alberto dan memeluk Demian. Tanpa disadari tangan lancang di belakang dirinya telah berhasil melingkar, memeluk bagian pinggang Ziya secara erat.


" Oh sh,it.. Kenapa dia mengulangi untuk menggangguku,," Ucap Ziya jengkel atas kelakuan Alberto yang seenaknya pada tubuhnya ini.


" Mommy, peluk Demi, And Daddy peluk Mommy," Ucap suara Alberto yang memberikan hembusan nafas geli di dekat leher Ziya.


Ziya begitu tahu atas sikap Alberto saat ini, karena, sangat dipastikan bahwa Alberto sedang ingin mengganggu dirinya lagi lalu, Ziya seolah ingin menepis tangan Alberto yang telah memeluknya itu.


" Sepertinya, dia memang sangat ingin menggangguku,," Umpat Ziya dengan kesal.


Tapi sayangnya Ziya tidak bisa melakukannya, semakin Ziya ingin melepaskan pelukan tersebut, maka semakin erat pula pelukan yang dilakukan oleh Alberto.


" Kenapa, tanganmu menepis tanganku, apa kau menolak suamimu yang sedang memelukmu, Zoya, bukankah kita sudah terbiasa melakukan hal ini bahkan lebih dari ini,," Bisik Alberto yang membuat Ziya begitu jengkel.


" What!! Aku bukan Zoya, jadi wajar kalau aku menolak,,". Gumam Ziya yang sangat jengkel pada Alberto saat ini.


" Jangan menolak, aku tidak suka ditolak,!" Bilang Alberto yang membuat Ziya sedikit merasa takut dan membiarkan Alberto memeluknya.


Secara, tiba-tiba Alberto mencium pipinya yang secara langsung membuat pipi cantik itu, merona merah.


" Wajahmu, yang memerah inilah yang membuatku tergoda bahkan yang di bawah sana menginginkan dirimu,," Bilang Alberto yang membuat Ziya menganga kaget.


Karena, memang benar dengan sengaja Alberto menggesek-gesekkan bagian keras di bawah itu pada bagian punggung bawah Ziya. Sehingga membuat Ziya terkejut atas perlakuan Alberto saat ini.


" What's,!! Apa yang dia lakukan,, ini semua karena mu Zoya, Jika kita bertemu, aku akan memakimu karena kamu telah membuatku seperti ini,," Umpat Ziya kesal kepada saudara kembarnya sendiri.


Akhirnya Ziya bisa pasrah tidak melakukan penolakan sedikitpun terhadap Alberto. Toh, Alberto tidak akan mungkin menyentuh bagian inti dari tubuhnya karena, di kamar ini sedang ada Demian.


Saat Alberto memeluk Ziya dengan sesuka hati Alberto, lalu menanyakan sesuatu kepada Ziya, yang membuat Ziya sangat kesal sekali atas pertanyaannya itu.


" Laki-laki mana saja, yang telah memelukmu, selain aku?" Tanya Alberto yang membuat Ziya geram.


" Jangan bicara yang tidak-tidak, Demi, belum tidur." Ucap Ziya yang geram mengalihkan pertanyaan Alberto padanya.


Alberto pun tersenyum menyeringai mendengar ucapan Ziya saat ini.


" Jadi, jika Demian sudah tidur, aku bisa bebas melakukan apapun padamu, hmm,?" Bilang Alberto yang sengaja menji-lat dan mencum-bui leher Ziya yang penuh dengan rambut-rambut halusnya.


Ziya merasa bahwa saat ini, sepertinya Alberto sangat berbahaya baginya, ia tidak yakin jika Alberto tidak akan menyentuhnya, seperti apa yang dikatakan Paman Erwin nya saat itu, jika sebenarnya Alberto sama sekali tidak menyukai Zoya. Ziya menggigit bibirnya saat tangan Alberto dengan nakal dan leluasanya menyentuh bagian sensitif di tubuhnya yaitu puncak gunung di bagian depan telah disentuh bahkan telah diraba halus oleh tangan Alberto.


" Zoya, ini semua karena kamu, jika kamu tidak kabur, aku tidak akan mungkin ada disini,," Teriak Ziya dalam hati.


Karena, saat ini dirinya hanya bisa bertahan pasrah atas kelakuan Alberto saat ini kepadanya. Apalagi Alberto saat ini telah mendeng-us, menge-cap sempurna di bagian lehernya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya harapan dan sebuah permintaan yang tulus dari Ziya agar Alberto bisa mengurungkan niatnya untuk menyentuh tubuhnya itu.


****


Lanjut Update ya Readers ❤️


Maaf kalau sedikit tanggung dan buat basah di malam hari ini 😁😁🤣🙏