
Ziya sedikit gugup ketika mendengarkan perkataan yang disampaikan oleh pelayan ini terhadapnya, karena, majikan dari pelayan ini ingin bertemu dengannya hanya berdua saja, membuat Ziya saat ini hanya bisa menelan salivanya karena, merasa penasaran dengan majikan dari pelayan ini.
" Baiklah, sebelum saya bertemu dengan majikanmu,, apakah saya boleh mengetahui siapa dia ?" Tanya Ziya dengan sopan tapi masih merasa penasaran.
" Madam Christin ingin bertemu dengan anda Nyonya,," Jawab asisten pribadi Christin sambil tersenyum.
" Madam Christin, Grandma,," Ucap Ziya dalam hati yang mengetahui bahwa majikan dari pelayan ini adalah Grandma Christin.
Setelah mengetahui majikan pelayan ini yang ingin bertemu dengannya itu adalah Madam Christin, Ziya tidak terlalu merasa takut akan undangan ini.
" Baiklah saya bersedia untuk bertemu dengannya,," Jawab Ziya mengangguk.
" Mari Nyonya Zoya,," Ucap pelayan itu yang memberikan arah jalan pada Ziya.
Karena, Vena merupakan asisten pribadi Ziya, jadi, kemanapun arah Ziya melangkahkan kakinya pergi, pasti Vena selalu mengikutinya, sehingga saat ini Vena masih saja mengikuti arah langkah Ziya. Namun, assisten pribadi Madam Christin melarang Vena untuk mengikuti kepergian mereka.
" Maaf Vena, kau tidak bisa ikut,," Ucap pelayan itu kepada Vena.
Karena, Vena merasa dilarang oleh asisten pribadi Christin untuk mengikuti Ziya, Vena merasa curiga dengan kelakuan dari asisten pribadi Madam Christin ini, sehingga membuat Vena sedikit membantah ucapan yang disampaikan oleh pelayan itu.
" Maaf, saya telah ditugaskan oleh Tuan Alberto untuk selalu menjaga Nyonya Zoya kemanapun Nyonya Zoya pergi,," Ucap Vena yang begitu terlihat akan kewaspadaannya terhadap majikannya itu.
Ziya sedikit tersenyum ketika mendengar ucapan Vena yang begitu waspada terhadap keselamatan majikannya ini. Walaupun, Vena sudah menyebutkan nama Alberto untuk selalu berada di samping Ziya, tapi, masih saja pelayan itu mencegah Vena untuk mengikutinya.
" Maaf Vena, majikanku hanya memerintahkan Nyonya Zoya bertemu dengannya, tanpa ada siapapun,," Bilang pelayan itu yang semakin menambah kecurigaan besar bagi Vena.
" Tapi,," Ucap Vena yang terputus karena, Ziya telah mengatakan suatu hal terhadap Vena dan juga pelayan itu.
" Baiklah saya sendiri yang akan mengikuti permintaanmu,," Bilang Ziya yang terlihat sangat lembut.
" Tapi, Nyonya,," Ucap Vena yang masih berkelit.
" Vena, kau bisa kembali ke ruanganku, setelah selesai aku akan segera kembali ke kamarku,," Bilang Ziya yang tersenyum kepada Vena.
" Tapi, Nyonya,," Ucap Vena lagi yang tak kuasa untuk meninggalkan majikannya sendiri pergi mengikuti pelayan itu.
" Tidak apa-apa,, jangan khawatir,," Bilang Ziya yang meyakinkan Vena.
Jelas Vena sangat khawatir, karena, kelakuan pelayan itu sangat membuatnya curiga yang begitu besar. Jika, benar hanya menemui Madam Christin mungkin tidak terlalu bahaya bagi majikannya ini, namun, jika pelayan itu berbohong kepada Ziya dan sengaja menjebak Ziya maka sebuah bahaya yang begitu besar untuk majikannya ini.
" Nyonya, Vena harap selalu berhati-hati,," Bilang Vena yang memberikan pesan terbaik untuk Ziya.
" Heemmm,, terima kasih,," Jawab Ziya tersenyum.
" Mari Nyonya,," Ucap pelayan itu mengajak Ziya.
Setelah melihat Ziya dan Vena sudah selesai berbicara, pelayan itu segera mengajak Ziya untuk pergi menemui majikannya. Sementara itu, Vena segera melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua untuk segera memberitahu kepada Tuan Besarnya bahwa saat ini majikannya itu sedang pergi bersama seorang pelayan.
" Aku tidak percaya padanya, aku harus cepat-cepat memberitahu hal ini pada Tuan Alberto." Bilang Vena yang segera berlari ke lantai atas.
Sementara itu, Ziya yang mengikuti langkah kaki dari pelayan yang memanggilnya itu memasuki sebuah kamar yang begitu terlihat sangat mewah.
" Mari Nyonya, silahkan masuk,," Ucap pelayan itu kepada Ziya sambil membukakan pintu untuk Ziya melangkah masuk ke dalam kamar.
Ziya tersenyum dan mengangguk, tanpa merasa takut Ziya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu, sementara itu, pelayan tadi masuk ke dalam juga dan menutup pintu kamar. Saat pertama masuk ke dalam kamar Ziya memang tidak merasa takut, namun, Ziya merasa gugup ketika mendengar pelayan itu menutup pintu kamarnya.
Lalu, pelayan itu segera melangkahkan kakinya mendahului Ziya mendekati seseorang yang disebutkannya majikannya yang sedang duduk santai di kursi santai sambil menghadap arah taman. Dan, Ziya melihat dari belakang tubuhnya memang benar itu terlihat seperti Grandma Christin. Barulah Ziya tidak merasa gugup lagi.
" Nyonya, Nyonya Zoya sudah datang,," Ucap pelayan itu kepada majikannya.
" Terima kasih, untuk sementara kau silahkan keluar, biarkan kami berdua di dalam ruangan ini,," Bilang Madam Christin yang memerintahkan asistennya untuk segera keluar dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan ini.
" Baik Nyonya, permisi,," Jawab pelayan itu yang segera memberikan hormat dan membungkukkan tubuhnya kepada Madam Christin.
Lalu, pelayan itu segera melangkahkan kakinya pergi keluar dan juga memberikan hormat kepada Ziya.
" Permisi Nyonya,," Bilang pelayan itu kepada Ziya.
" Ya,," Jawab Ziya mengangguk dan menyunggingkan senyumannya.
Pelayan itupun segera keluar dari kamar Madam Christin dan menutup kembali pintunya dengan sangat rapat. Membuat Ziya sedikit gugup untuk mendekati Grandma Christin saat ini.
" Ada apa Grandma memanggilku ?" Tanya Ziya dalam hatinya yang merasa gugup ketika hanya tinggal berdua di dalam kamar ini.
Namun, Ziya memberanikan diri untuk bertanya dengan Madam Christin tentang perihal pemanggilan dirinya itu.
" Eemmm,, ada apa Grandma ?" Tanya Ziya yang mulai membuka pembicaraannya.
" Kemarilah,," Ucap Madam Christin yang suaranya terdengar sangat dingin.
Karena, mendengar ucapan Madam Christin yang memerintahkan Ziya untuk mendekatinya itu, dengan perlahan Ziya melangkahkan kakinya untuk mendekati Madam Christin.
Dalam seketika Ziya sudah sampai di dekat Madam Christin dan terlihat jelas bahwa Madam Christin sedang memandang ke arah luar di dekat bagian taman tanaman merah dan juga areal tempat Alberto berlatih untuk menembak dan juga memanah.
" Oh My God, ternyata selama ini Grandma bisa mengetahui kegiatan yang kulakukan diluar." Gumam Ziya dalam hati ketika matanya melihat sebuah taman yang sangat luas diluar kaca kamar ini.
Ziya sedikit terkejut dan gugup saat mengetahui bahwa kaca kamar Madam Christin menampakkan suatu pemandangan indah sebuah taman tanaman merah dan juga areal tempat Alberto berlatih.
Ketika, Ziya telah berada di samping Madam Christin dengan gaya santainya Ziya menanyakan maksud dari Madam Christin yang sedang memanggilnya itu.
" Eemm,, ada apa Grandma memanggilku ?" Tanya Ziya lembut pada Madam Christin.
Madam Christin terlihat menyunggingkan senyumannya ketika mendengar suara Ziya yang begitu lembut sedang bertanya dengannya.
" Aku sengaja memanggilmu, karena, kau terlihat sangat berbeda saat kau kembali,," Bilang Madam Christin yang membuat Ziya sedikit gugup.
" Berbeda, maksudnya berbeda apa,," Tanya Ziya sendiri dalam hatinya.
Lalu, Ziya memberanikan diri lagi untuk berbicara dengan Madam Christin.
" Maksud Grandma berbeda apa, apa sekarang saya terlihat lebih menawan ?" Tanya Ziya yang terlihat sedikit mengalihkan kecanggungannya terhadap Christin.
" Hahaha,, kau memang selalu menawan dan cantik, bahkan saat kau kembali kau lebih cantik daripada yang dulu." Ucap Christin yang membuat Ziya kembali gugup.
" Terima kasih sudah memujiku Grandma,," Ucap Ziya masih mengalihkan kecanggungannya.
" Hahahaha, setelah kepergianmu dulu dan saat ini kau kembali, kau sungguh berubah, kenapa kau berubah seperti saat ini ?" Tanya Christin yang membuat Ziya berani menatapnya.
Saat Ziya menatap wajah Madam Christin, wajah Madam Christin masih terlihat begitu cantik dan menawan walaupun usianya sudah tua. Madam Christin merupakan salah satu orang yang paling dihormati dan disegani dalam keluarga ini, karena dulunya sebelum Alberto Alexandre yang mengambil alih perusahaan Alexandre grup, Madam Christin merupakan pemimpin yang cukup hebat saat suaminya meninggal dunia.
Sehingga membuat dirinya tetap dikenal oleh siapapun yang pernah bekerja di setiap perusahaan Alexandre Grup. Sedangkan, Madam Christin hanya memiliki satu orang putra yaitu Vasco Alexandre, namun, karena, kehancuran rumah tangga Vasco bersama Friska, membuat Madam Christin tidak memberikan hak waris kepada Vasco, melainkan langsung memberikan hak waris itu kepada dua cucu laki-lakinya ini yaitu Alberto dan Axeloe.
Bagi, Madam Christin lebih baik ia memberikan hak waris kepada cucunya dibandingkan kepada putranya sendiri, karena, ia sangat mengetahui betapa kerasnya sifat yang dimiliki oleh Vasco. Jika, Vasco masih bersama Friska kemungkinan Madam Christin akan memberikan hak warisnya kepada Vasco. Karena, Friska sendiri merupakan wanita yang terlalu baik untuk dijadikan istri bagi Vasco.
Sungguh berbeda sekali dengan menantunya saat ini yaitu Gladys. Gladys sama sekali tidak mengetahui jika Christin tidak terlalu menyukainya, bagi Christin menantu terbaik yang pernah ada cuma satu yaitu Friska ibu kandung dari Alberto dan juga Axeloe.
" Heemm berubah, saya sama sekali tidak pernah berubah, Grandma,," Ucap Ziya lagi sambil tersenyum.
" Mati aku, sepertinya Grandma sudah mengetahui siapa aku,," Gumam Ziya dalam hati sambil menelan salivanya.
Saat Madam Christin berkata seperti itu, membuat Ziya sedikit menarik napasnya dan merasa canggung atas ucapan yang disampaikan oleh Madam Christin barusan. Namun, Ziya masih saja mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat akan kecanggungan yang ia rasakan saat ini.
" Heemmm, oh ya kau tidak berubah,," Gumam Madam Christin yang tertawa kecil ketika mendengarkan ucapan Ziya menyatakan bahwa dirinya tidak berubah.
" Tapi, aku melihat sangat jelas perubahan yang kau lakukan saat ini, kau terlihat lebih baik daripada kemarin, kau terlihat lebih banyak memperdulikan orang-orang yang berada di kediaman ini,," Ucap Madam Christin tersenyum menatap Ziya dengan tatapan penuh tanya.
" Heemmm, maksud Grandma ?" Tanya Ziya yang berpura-pura tidak mengerti.
Saat Ziya bertanya akan maksud dari Christin, dalam seketika Christin tertawa kecil atas pertanyaan Ziya yang menanyakan maksudnya itu.
" Hahahaha, kau sungguh sangat manis," Ucap Christin baru saja menoleh ke arah Ziya dan menatap wajah Ziya dengan dalam.
" Siapa kau sebenarnya ?" Tanya Madam Christin langsung pada Ziya.
Dengan tersenyum Ziya menjelaskan bahwa dirinya adalah Zoya, namun, Madam Christin tidak mempercayai ucapannya itu.
" Aku, aku adalah Zoya Grandma,," Ucap Ziya tersenyum.
" Heh!? sikapmu terlalu baik jika kau mengaku menjadi Zoya,," Bilang Madam Christin yang tersenyum sinis mengalihkan pandangannya ke depan.
Ziya semakin tidak kuat untuk berada di kamar ini, Ziya berpikir sangat benar, sepertinya Grandma sudah mengetahui identitasnya. Pantas saja, Paman Erwinnya pernah mengingatkan bahwa hanya Madam Christin saja satu-satunya orang yang sangat mudah mengetahui siapa orang yang berpura-pura atau jujur dengannya.
" Heh,, aku tidak mencurigaimu hanya memastikan kalau kau sungguh terlihat memang bukanlah Zoya, Zoya yang kukenal tidak mungkin menyayangi cicitku Demian, seperti apa yang kau lakukan pada Demian semenjak kau kembali,," Bilang Madam Christin sambil tersenyum santai.
" Zoya yang kukenal tidak mungkin mengambil tanaman merah di kebun miliknya Friska dan Zoya yang kukenal tidak bisa memanah, Zoya yang kukenal tidak mungkin memperhatikan Isabelle dan Krystal yang jelas-jelas bukan putri kandung Alberto. Tapi, kau sungguh berbeda dengan Zoya yang kukenal selama ini,," Ucap Madam Christin yang hanya bisa membuat Ziya terdiam pasrah mengungkapkan semua tentang dirinya.
" Aku tanya sekali lagi, sebenarnya kau siapa ?" Tanya Grandma Christin dengan serius menatap wajah Ziya.
" Aduh, aku harus bagaimana, tidak mungkin aku mengakuinya sedangkan Alberto belum memberitahu Grandma tentang identitasku apakah aku harus jujur,," Gumam Ziya dalam hati sambil menatap wajah Christin dengan senyuman.
" Kau tidak perlu takut dan cemas untuk menjawab semua pertanyaan dariku ini, karena, yang jelas aku lebih menyukaimu dibandingkan Zoya yang dulu,," Bilang Gladys lagi yang membuat Ziya sedikit tersenyum.
" Oh ya, terima kasih sudah bersedia untuk datang ke kamarku,," Ucap Madam Christin yang sedikit memegang kedua tangan Ziya.
" Aduh aku harus bagaimana,," Ucap Ziya dalam hati yang merasa bimbang akan perkataan Grandma Christin padanya.
Ziya hanya bisa diam terpaku di kamar ini, bingung mau menjawab apa tentang pertanyaan yang diajukan oleh Madam Christin pada dirinya.
Sementara itu, Vena yang melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju ke lantai dua segera ingin melaporkan suatu hal yang telah terjadi pada Ziya. Vena langsung melewati kamar Ziya dan langsung bertanya kepada semua pengawal disana dimana keberadaan Alberto saat ini.
Awalnya Vena, menelepon Alberto namun, sudah beberapa kali, tidak diangkat oleh Tuan Besarnya itu, sehingga membuat Vena sangat khawatir pada majikannya akan suatu hal yang terjadi.
" Pak, apakah ada yang mengetahui dimana keberadaan Tuan Besar ?" Tanya Vena kepada salah satu pengawal yang menjaga tepat di kamar Alberto.
Jelas sekali pengawal itu tahu dimana keberadaan Tuan Besar yang sedang ditanyakan Vena saat ini. Pengawal itu segera memberitahu bahwa Tuan Besar Alberto sedang berada di ruangan penelitiannya dan ruangan itu sama sekali kedap suara sehingga tidak mengetahui bahwa ada orang yang sedang memanggil dan membutuhkan kehadiran Alberto.
" Tuan Besar saat ini sedang berada di ruangan penelitiannya,," Jawab salah satu pengawal pribadi Alberto.
" Ada apa Vena ?" Tanya pengawal itu yang melihat Vena dengan wajah begitu cemas.
" Apakah saya langsung bisa menemuinya ?" Tanya Vena balik kepada pengawal itu.
" Eemmm, sepertinya tidak bisa, karena, jika Tuan sedang berada di ruang penelitiannya tidak ada yang boleh untuk menemuinya." Jelas pengawal itu kepada Vena.
Saat Vena mendengarkan ucapan yang dikatakan oleh pengawal itu, bertambah besar juga kekhawatiran Vena terhadap Ziya majikannya.
" Aduh bagaimana ini,," Gumam Ziya yang merasa bingung bagaimana cara memberitahu Alberto tentang keadaan majikannya.
" Memangnya ada apa, Vena ?" Tanya pengawal itu lagi.
" Sebenarnya, saya ingin melapor bahwa Nyonya sedang dalam masalah." Ucap Vena yang terlihat begitu khawatir.
" Nyonya, Nyonya siapa ?" Tanya pengawal itu yang tidak mengerti maksud perkataan dari Vena.
" Nyonya siapa lagi, Nyonya Zoya,," Jawab Vena sedikit meninggikan volume suaranya.
" Memangnya kenapa dengan Nyonya Zoya ?" Tanya pengawal itu lagi yang membuat Vena sangat kesal.
" Aduh, tidak usah banyak tanya, yang penting sekarang bagaimana caranya agar saya bisa bertemu langsung dengan Tuan,," Ucap Vena yang masih bersikeras untuk menemui Tuan Besarnya.
" Saya sudah katakan bahwa Tuan Besar sedang di ruang penelitiannya, jadi tidak bisa ditemui,," Ucap pengawal itu yang terakhir kalinya menambah kekesalan Vena.
" Bukannya membantu malah memperlambat tugasku,," Gerutu Vena pada pengawal itu.
" Aduh Bagaimana ini Nyonya Zoya dalam bahaya,," Ucap Vena yang berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar pribadi Alberto.
" Pasti, Nyonya sekarang, aduh aku tidak mau membayangkannya,," Gumam Vena lagi merasa sangat khawatir pada majikannya itu.
" Tuan Besar tidak bisa dihubungi dan tidak bisa ditemui, bagaimana aku, bagaimana aku bisa membantu Nyonya,," Ucap Vena lagi yang terdengar memang sangat mencemaskan keadaan majikannya.
" Maafkan Vena Nyonya, yang terlalu lemah untuk menjadi pelayan Nyonya,," Bilang Vena yang terduduk lemah di atas sofa di lantai dua
Vena masih tetap menunggu Alberto di depan ruang kamar dan mencoba kembali untuk menghubungi Alberto menggunakan ponselnya.
Sementara itu, Alberto yang sedang berada di dalam ruangan penelitiannya sedang sibuk mengotak-atik beberapa kamera yang sengaja ia sadap dari sistem operasi suatu daerah dan juga beberapa kamera CCTV yang merekam kejadian beberapa tahun yang lalu.
Saat Alberto mengeluarkan alat perekam suara yang masih disimpannya dalam saku celananya, Alberto mengeluarkan dua benda sekaligus dari saku itu, satu alat perekam suara dan satunya lagi ponsel yang sengaja dinonaktifkan suaranya.
Alberto tak sengaja menyentuh layar ponselnya dan melihat data panggilan masuk sungguh banyak sekali. Alberto segera membukanya dan melihat siapa yang telah menghubunginya itu. Betapa terkejutnya Alberto ketika melihat Vena yang begitu banyak sekali menghubungi dirinya.
" Ada apa, kenapa Vena banyak sekali meneleponku,," Gumam Alberto saat melihat layar ponselnya bertuliskan nama Vena yang begitu banyak menelepon dirinya.
" Apa ada sesuatu yang terjadi pada Ziya ?" Tanya Alberto pada dirinya sendiri.
Karena, selama ini Vena tidak pernah menghubungi dirinya jika tidak dalam keadaan yang penting atau dalam keadaan bahaya pada majikannya yang selama ini dipercaya Alberto untuk dijaga oleh dirinya.
Dengan segera Alberto menelepon balik nomor ponsel Vena. Dan, Vena yang sedang duduk di sofa tepat di depan kamar Alberto, segera mengangkat telepon itu, karena, kebetulan ia juga sedang ingin menelepon Alberto lagi.
" Ya, Vena ada apa ?" Tanya Alberto langsung pada Vena.
" Tuan mohon bantu Nyonya, Nyonya sekarang kemungkinan dalam bahaya,," Ucap Vena yang perkataannya terburu-buru.
" Maksudmu, apa Vena ?" Tanya Alberto yang bingung akan ucapan Vena yang mengatakan kemungkinan Ziya dalam bahaya.
" Eehhh,, Tuan tadi setelah Nyonya kembali dari kamarnya Nona Isabelle, ada seorang pelayan yang memanggil Nyonya untuk bertemu dengan majikannya dan pelayan itu mengatakan bahwa majikannya adalah Madam Christin, tetapi Vena curiga dengan kelakuannya itu, karena, pelayan itu melarang Vena untuk menemani Nyonya menemui majikannya." Ucap Vena yang menjelaskan panjang lebar pada Alberto mengenai kejadian yang telah terjadi.
" Dan Vena cemaskan saat ini, pelayan itu terlihat seperti berbohong bahwa majikannya adalah Madam Christin, Vena takut ini semua rencana dari Nona Claire,," Bilang Vena lagi yang sangat detail pada Alberto.
" Kapan, itu terjadi ?" Tanya Alberto yang segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan penelitian.
" Sekitar lima belas menit yang lalu,," Ucap Vena.
Vena kaget ketika hubungan telepon dengan Alberto sesaat langsung diputuskan saja. Membuat Vena semakin khawatir dan cemas pada majikannya.
" Aduh, Tuan, kenapa diputus,," Gerutu Vena pada ponselnya sendiri.
Saat Vena sedang menggerutu dengan ponselnya sendiri, Vena dikagetkan dengan kedatangan Alberto yang begitu cepat sekali di hadapannya.
" Tuan,," Ucap Vena kaget ketika melihat kedatangan Alberto tepat di hadapannya.
" Dimana dia sekarang ?" Tanya Alberto langsung pada intinya.
" Di lantai pertama Tuan,," Jawab Vena yang menunjukkan lantai bawah.
Dengan segera Alberto berlari ke lantai bawah, sedangkan Vena dengan tubuh kecilnya itu ikut mengejar langkah kaki Alberto yang begitu cepat sekali.
Sesaat Alberto menghentikan langkah kakinya karena, ingin lupa bertanya siapa pelayan yang telah berani memanggil Ziya saat ini untuk bertemu dengan majikannya. Ternyata ada yang ingin bermain licik di dalam kediamannya itu.
" Vena,," Ucap Alberto yang menoleh ke belakang dan melihat Vena tidak ada di belakangnya.
Tak lama kemudian, Vena menghampiri Alberto dengan napas yang ngos-ngosan karena, mengejar langkah kaki Alberto yang begitu cepat sekali berlari untuk segera mencari keberadaan Ziya
" Vena apakah kau tahu siapa pelayan itu ?" Tanya Alberto pada Vena dengan napas yang masih memburu.
" Ya Tuan, Vena tahu,," Jawab Vena dengan napas yang tidak teratur.
" Mari kau tunjukkan siapa dia," Ucap Alberto yang mengajak Vena ke ruang khusus pelayan.
" Baik Tuan,," Jawab Vena mengangguk.
Sesampainya di ruang pelayan Alberto segera mengeluarkan suara dinginnya dan terdengar sangat tajam menakutkan.
" Vena, kau tunjukkan siapa yang telah berani memerintah Zoya menemui majikannya,," Ucap Alberto yang membuat semua pelayan terkejut atas ucapannya itu.
Salah satu pelayan yang sudah jelas sekali bahwa dirinyalah yang memanggil Ziya untuk menghadapi majikannya segera maju dengan pasti dan berani.
" Maafkan saya Tuan, saya yang telah memanggil Nyonya Zoya untuk bertemu dengan majikan saya Madam Christin,," Ucap pelayan itu dengan jujur.
" Vena, apakah benar dia yang telah memanggil majikanmu ?" Tanya Alberto pada Vena.
Dengan wajah yang begitu khawatir Vena hanya bisa mengangguk dan membuat Alberto langsung menekan leher pelayan itu.
" Berani-beraninya kau, siapa yang telah memerintahkanmu ?" Tanya Alberto kepada pelayan itu.
" Sudah saya katakan, Tuan, Madam Christin yang meminta saya untuk memanggil Nyonya Zoya." Jawab pelayan itu dengan suara yang tersendat-sendat.
" Jika kau berbohong, aku pastikan kau tidak akan selamat,," Ucap Alberto yang menatap tajam pelayan itu.
Dengan segera Alberto melepaskan cekikan yang ia lakukan pada pelayan itu. Pelayan itu hanya bisa terduduk lemah sambil mengatur napasnya. Sementara itu, Alberto langsung saja berlari menuju ke kamar Madam Christin sesuai arahan yang dikatakan oleh pelayan tadi dan juga Vena ikut mengejar Alberto menuju ke kamar Madam Christin.
****