Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 49 - Penyemangat Diriku



Alberto pun kembali duduk di sebelah Ziya, menatap wajah Ziya yang telah tertidur pulas. Karena, sudah dua orang saat ini yang telah memberikan sebuah pertanyaan teka-teki begitu membingungkan untuk dijawab olehnya. Sambil menatap wajahnya Ziya, Alberto mulai merasa heran dengan tanggapan dari kedua temannya itu yang begitu kesal dengan perlakuannya hari ini terhadap Ziya.


Belum juga istirahat Alberto dalam memikirkan tindakannya terhadap Ziya. Saat ini ia telah kembali mendapatkan telepon dari asisten pribadinya yang sangat darurat. Alberto pun segera menerima telepon tersebut.


" Ada apa,?" Tanya Alberto yang menerima telepon dari asisten pribadinya itu.


" Maaf, Tuan, pagi ini kita harus menuju Italia, untuk mengurus masalah senjata api disana." Bilang asisten pribadi Alberto di dalam teleponnya.


" Ya,, Jam berapa keberangkatannya.. ?" Tanya Alberto lagi kepada asistennya itu.


" Jam enam, Tuan.." Jawab asisten pribadinya.


" Baik, kau atur, keberangkatannya," Bilang Alberto kepada asisten pribadinya.


" Siap Tuan," Jawab asisten pribadi Alberto.


Alberto melihat jam di tangannya, jarum jam masih menunjukkan angka empat pagi. Alberto masih bisa istirahat satu jam untuk mengistirahatkan matanya sebentar.


Tapi, percuma saja dia tidur, karena, lebih baik dia segera mengambil semua berkas yang akan digunakannya pada saat ia berpergian ke Italia nanti.


Alberto mengurungkan niatnya untuk istirahat saat ini. Ia segera memanggil Vena melalui teleponnya.


" Iya Tuan,," Jawab Vena menerima telepon siaganya.


" Ke kamarku sekarang." Ucap Alberto yang memberikan perintah kepada Vena.


" Baik Tuan,," Jawab Vena,,


Alberto mematikan telepon darinya, lalu segera melangkahkan kakinya menuju ke meja dimana ia sering duduk di sofa sambil memainkan laptopnya.


Vena mengetuk pintu dan Alberto menyuruhnya masuk.


" Masuk,," Bilang Alberto yang telah menunggu Vena.


" Ya Tuan,, ?" Tanya Vena sambil menundukkan wajahnya ke hadapan Alberto.


" Aku akan pergi ke Italia sekitar tiga hari, setelah Frengky pulang dan mendapatkan semua obat yang diresepkan oleh Dokter Daniel, berikan kepada Nyonya mu, dan ingat perhatikan kesehatannya." Bilang Alberto yang memberi perintah kepada Vena.


" Baik Tuan," Jawab Vena mengangguk.


Alberto memberi perintah pada Vena dengan sebuah kode dari tangannya. Vena pun mengerti maksud dari Alberto, dan segera mendekati Ziya yang sedang terbaring lemah itu.


Lalu, sebelum keluar dari kamarnya. Alberto memberi perintah kepada Vena lagi.


" Jaga dia, sebelum aku pulang, jangan biarkan dia keluar dari kamar ini,," Bilang Alberto yang memberi perintah kepada Vena.


" Baik Tuan,," Jawab Vena mengangguk.


" Dan satu lagi, dilarang siapapun masuk ke dalam kamar ini kecuali Demian,," Bilang Alberto yang memberi pesan kepada Vena.


" Baik Tuan,," Jawab Vena sekali lagi menganggukkan kepalanya yang mengisyaratkan bahwa ia akan mematuhi atas semua perintah dan pesan dari tuan besarnya itu.


Alberto pun keluar dari kamarnya, dan melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang kerja pribadinya. Sementara itu, Vena sendiri yang melihat Nyonya nya ini sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya, merasa kasihan atas kondisi Ziya.


" Cepat sadar Nyonya, dan cepat sembuh,," Ucap Vena yang tengah membetulkan selimut Ziya.


Sementara itu jam sudah menunjukkan jam setengah enam pagi. Asisten pribadi Alberto telah datang menemui Alberto di ruangannya. Alberto pun mulai melangkahkan kakinya pergi keluar dari ruangannya melewati kamar pribadinya sendiri. Sambil menatapi pintu kamarnya, sesaat langkah kaki Alberto terhenti, dan menatap pintu kamar itu.


" Cepatlah sadar, sebelum aku kembali,," Ucap Alberto dalam hati.


Alberto merasa sedikit kasihan terhadap Ziya, tapi, rasa kesal dan marahnya masih tetap ada atas diri Ziya itu.


Lalu, Alberto segera melangkahkan kakinya menuju keluar rumah dan segera menaiki mobilnya. Kondisi rumah masih sangat sepi, tidak terlihat adanya Claire, Gladys, Martin, dan anggota lainnya. Karena, masih pagi jadi belum ada aktivitas apapun dari sang penunggu rumah ini.


Hari sudah cukup terang, sesaat Vena yang tidur di sofa menunggu Ziya mendengar bunyi sesuatu benda yang jatuh. Vena kaget dan segera terbangun, Vena mengucek matanya melihat bahwa tangan Ziya sedang meraba sesuatu ke atas meja di sebelah tempat tidurnya. Vena segera mendekati dan membantu Ziya.


Ziya mengangguk lemah.


" Nyonya mau apa,,?" Tanya Vena yang memang begitu perhatian pada Ziya


" Ak,, aku,, ha,, uss,," Ucap Ziya yang terbata-bata dengan suara seraknya.


" Tunggu sebentar, Nyonya, biar Vena ambilkan,," Ucap Vena tersenyum kepada Ziya.


Ziya mengangguk dan menunggu Vena yang sedang mengambil minum untuknya. Setelah selesai mengambil minum, Vena memberikan segelas air pada Ziya dan membantu Ziya untuk setengah duduk. Ziya mencoba mendudukkan tubuhnya, meminum air yang dibawakan oleh Vena.


" Ini Nyonya,, ayo Vena bantu,," Bilang Vena tersenyum.


" Baik,, Terima kasih,," Jawab Vena mengangguk.


Setelah selesai minum air putihnya, Ziya menampakkan wajah sedihnya dan mulai menangis lagi. Vena kaget merasa kasihan memangnya apa yang terjadi pada majikannya ini.


" Hiks,, hiks,, hiks,," Suara isak tangis pilu Ziya yang begitu memberikan kesan miris terhadap Vena yang tengah mendengarkannya.


" Nyonya,, kenapa,?" Tanya Vena lembut yang segera mendekati Ziya.


" Nyonya mana yang sakit, biar Vena bantu Nyonya,," Bilang Vena yang duduk di samping Ziya.


Ziya segera memeluk Vena dengan erat menanyakan dimana keberadaan Demian.


" Vena, aku mau keluar, aku mau bertemu Demi,," Ucap Ziya yang meminta sesuatu kepada Vena.


" Eemm,, tidak bisa Nyonya,, Tuan bilang Nyonya tidak boleh keluar dari kamar ini, sebelum Tuan kembali,," Bilang Vena yang mengingat perintah Alberto.


" Aku hanya ingin bertemu, Demi,," Bilang Ziya yang masih menangis.


" Baik, Nyonya tunggu disini saya akan memanggil Melly untuk membawa Tuan Muda Demian ke kamar ini." Bilang Vena yang meminta izin kepada Ziya.


Vena sengaja tidak meninggalkan Ziya, karena ia takut nanti Ziya akan melakukan hal-hal buruk yang aneh. Akhirnya Vena hanya menelepon Melly untuk membawa Demian ke kamar ini.


" Melly, tolong bawakan Tuan Muda Demian ke kamar Tuan Besar sekarang,," Bilang Vena yang menelepon Melly.


Tak lama kemudian Melly baby sitter Demian datang ke kamar pribadi Alberto dengan membawa Demian. Demian pun berlari menuju ke tempat tidur dan langsung memeluk Ziya. Ziya yang masih menangis segera memeluk erat tubuh Demian.


" Mommy,, Mommy kenapa tidak bobo sama Demi ?" Tanya Demian dengan suara manjanya kepada Ziya.


" Mommy, sakit sayang,, Maafkan Mommy ya,," Jawab Ziya yang menciumi pipi Demian.


Bagi Ziya hanya Demi lah yang bisa menjadi pengobat rasa kecewa, sedih dan keputusasaannya saat ini. Dengan mendengar suara Demian membuat Ziya sadar bahwa dirinya disini masih memiliki Demian. Jadi, dia harus bisa kuat menghadapi masalah yang akan datang pada dirinya. Itu semua ia lakukan karena, rasa cinta dan sayangnya terhadap Demian.


" Mommy, sakit, izinkan Demi untuk menjaga Mommy,," Bilang Demian tulus menatap wajah Ziya yang bengkak karena telah lama menangis.


" Terima kasih sayang, jangan pernah tinggalkan Mommy ya,," Ucap Ziya yang memeluk erat Demian.


" Demi, janji tidak akan pelnah tinggalin Mommy, Demi sayang Mommy, tapi hali ini Demi mau pelgi sekolah, jadi Mommy jangan nangis saat Demi pelgi ke sekolah." Ucap Demian yang sangat lucu sekali membuat Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya.


" Iya sayang, Demi sekolah yang pintar ya,," Bilang Ziya kepada Demian.


" Yes Mom, Demi pelgi sekolah dulu, ya Mommy, Mommy jangan lupa istilahat, nanti setelah Demi pulang sekolah, Demi akan segela kesini, menjaga Mommy,," Bilang Demian bagaikan orang dewasa.


" Makasih, sayang,, hiks, hiks, hiks,," Ucap Ziya yang semakin memeluk erat Demian.


Rasanya dia tidak bisa menolak untuk mengurungkan niatnya untuk mati atau bunuh diri. Karena, penyemangat kecilnya telah datang memberi semangat dalam hidupnya. Disini, bagi Ziya cuma ada Demian, Vena dan Melly yang mengerti akan dirinya. Walaupun Alberto telah melakukan tindakan kasar dan melukai perasaannya, setidaknya ia masih bisa kuat karena, adanya Demian yang menjadi penyemangat hidupnya saat ini.


****


Update lagi say,, 🤗🤗