
Saat Alberto mendengarkan ucapan Ziya seperti itu, Alberto merasa bahwa Ziya memanglah seorang perempuan yang menjunjung tinggi akan nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya.
" Apa yang ingin kau katakan, katakan saja ?" Tanya Alberto yang menatap serius wajah Ziya.
" Kalau mau bicara serius jangan berdiri di sana, ayo duduk disini,," Ucap Alberto yang menunjukkan tempat duduk untuk mereka berbicara.
Ziya merasa bahwa saat ini dia harus berbicara dengan Alberto secara serius, siapa tahu dengan caranya yang berbicara jujur ini, Alberto juga dapat membantu dirinya. Intinya Alberto saat ini memerlukan keahlian dari Ziya untuk menemukan bukti dalam rahasia kehidupannya selama ini, sedangkan Ziya juga memerlukan pertolongan keamanan dari Alberto terhadap orang tuanya dan juga keluarga besarnya itu.
" Baik, aku akan duduk disana,," Jawab Ziya yang mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat sofa dimana Alberto sedang duduk santai.
Alberto sekilas menampakkan senyumnya pada Ziya. Ziya tidak lagi merasa canggung akan sikap Alberto yang tersenyum kepadanya. Karena, Alberto sudah sering melakukan itu padanya. Cuma, saat ini yang menjadi pikiran dari Ziya adalah bagaimana caranya dia membuat Alberto percaya akan kemampuan dirinya itu dalam membuat sesuatu hal yang menakjubkan.
" Kau sungguh cantik,," Ucap Alberto saat Ziya duduk di sampingnya.
Saat mendengar ucapan Alberto seperti itu Ziya merasa bahwa Alberto saat ini sedang merayunya, tapi, dengan segera Ziya mengalihkan pembicaraannya supaya Alberto bisa fokus atas informasi yang akan diberikannya itu.
" Alberto, aku ingin berbicara serius,," Jawab Ziya yang menatap wajah Alberto dengan tatapan serius.
" Baik, aku tahu itu, tapi, izinkan aku untuk mencium bibirmu satu kali saja, sebelum aku mendengar pembicaraanmu ini,," Bilang Alberto kepada Ziya sambil meminta izin terlebih dahulu untuk melakukan hal yang diinginkannya itu.
" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk sambil memejamkan matanya.
Alberto yang melihat Ziya mengangguk memberikan izin padanya, serta saat ini Ziya memejamkan matanya itu, membuat Alberto merasa sungguh mempercayai keadaan Ziya yang sepenuhnya.
" Entah kenapa, sekarang aku sungguh mempercayaimu, Ziya,," Gumam Alberto dalam hati sambil menatap lembut wajah cantik Ziya.
Sesaat Alberto dengan lembut mendaratkan bibirnya menuju ke landasan yang paling empuk, nikmat dan bahkan memabukkan bagi Alberto yaitu bibir Ziya. Cukup lama Alberto mendaratkan ciumannya itu, sehingga membuat Ziya juga membalas ciuman Alberto. Setelah merasa puas atas ciumannya itu, dengan lembut Alberto melepaskan bibirnya dari bibir Ziya.
" Terima kasih, karena, kau sudah mempercayaiku,," Ucap Alberto yang menatap lembut wajah Ziya.
Dan, bahkan saat ini wajah mereka sungguh sangat dekat, sehingga napasnya Ziya begitu terasa sekali menyentuh kulit wajah Alberto. Begitu juga dengan napasnya Alberto yang mengalun-ngalun lembut menyentuh kulit wajah Ziya.
" Heemmm,, aku sungguh mempercayaimu, tapi, aku ingin kau juga mempercayaiku,," Ucap Ziya yang memandang lembut wajah Alberto tepat di depan matanya ini.
" Aku mempercayaimu sayang,," Jawab Alberto mengangguk lembut yang menatap wajah Ziya.
Dengan lembut Alberto mengelus wajah Ziya lalu, menyatukan kedua keningnya untuk memberikan keyakinan pada Ziya bahwa dirinya sungguh mempercayai Ziya.
" Benarkah,," Tanya Ziya yang menatap lembut wajah Alberto.
" Heemm,, sayang,," Jawab Alberto lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, karena kau telah mempercayaiku Alberto, maka aku akan memberitahumu sesuatu,," Ungkap Ziya seketika mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya.
Alberto sedikit penasaran dengan perlakuan Ziya yang mengambil sesuatu dari dalam bajunya itu. Seketika mata Alberto melihat beberapa lembar daun tanaman merah yang dikeluarkan Ziya dari balik bajunya.
" Alberto,, sebenarnya, aku,," Ucap Ziya yang mengeluarkan tanaman merah dari balik bajunya.
" Sebenarnya kau apa ?" Tanya Alberto yang begitu penasaran.
Walaupun Alberto seorang mafia hebat dan pebisnis handal yang begitu terkenal, namun, Alberto belum bisa untuk menganalisis bagaimana cara seseorang yang mampu membuat racun pada zaman Ibunya itu yaitu Zalina. Axeloe dan Daniel saja yang bergelut di dunia penemuan semacam racun dan toksin bahkan belum semampu keahlian Ziya dalam membuat sebuah racun.
Oleh sebab itu, Alberto begitu penasaran dengan keahlian yang ada dari diri Ziya.
" Sebenarnya, aku memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap toksin atau racun,," Ucap Ziya yang membuat Alberto tercengang dan percaya.
Namun, walaupun Alberto sudah tahu akan keahlian yang dimiliki Ziya, Alberto dengan sengaja menampakkan wajah tercengangnya di depan mata Ziya. Supaya, Ziya merasa bahwa Alberto selama ini tidak terlalu mengawasi dirinya.
" Apa,, benarkah ?" Tanya Alberto yang terlihat seperti tercengang menatap wajah Ziya.
" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk lembut.
" Dengan tanaman ini, aku bisa menemukan sebuah penemuan yang beracun untuk digunakan sebagai pelindung diri," Ucap Ziya lagi yang memberitahukan Alberto tentang kebenaran dari tanaman yang ditunjukkan Alberto padanya.
" Pelindung diri, bagaimana caranya,," Tanya Alberto yang kali ini memang benar-benar penasaran terhadap penemuan Ziya itu.
" Kalau diceritakan aku tidak bisa menjelaskannya Alberto,," Ucap Ziya yang membuat Alberto merasa terenyuh tidak semangat, karena, sebenarnya Alberto ingin mengetahui bagaimana cara Ziya dalam melakukan penemuannya itu.
" Heemmm,, begitu,," Gumam Alberto yang merasa tidak semangat atas ungkapan Alberto.
" Tapi, Alberto,, sebenarnya aku bisa menjelaskannya jika aku sedang mempraktekkan cara membuatnya,," Jawab Ziya dengan cepat, karena melihat ekspresi wajah Alberto yang berubah menjadi tidak semangat.
" Benarkah,," Tanya Alberto lagi yang mengubah kembali ekspresi wajahnya.
" Tapi, aku mohon kepastian darimu, agar tidak memberitahu siapapun, tentang penemuanku ini, cukup kau dan Demian yang mengetahuinya, aku mohon, Alberto,," Ucap Ziya yang memohon tulus pada Alberto.
Alberto melihat dari tatapan mata Ziya bahwa benar dan yakin saat ini Ziya membutuhkan keyakinan dan kepercayaan dari Alberto, pastinya saat ini Ziya butuh dukungan dari orang terdekatnya untuk mempercayai keahliannya untuk membuat penemuan racun yang dimaksud oleh Ziya yang bisa menjadi pelindung diri bagi penggunanya.
" Maksudmu sayang,, kau ingin hanya aku dan Demian yang mengetahui ini,," Tanya Alberto lembut pada Ziya.
" Heemmm,, tujuanku membuat ini lagi supaya penemuanku ini bisa melindungimu dan juga Demian,," Ucap Ziya menatap lembut wajah Demian yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
" Ternyata dia sungguh mulia,," Gumam Alberto dalam hati yang menatap lembut wajah Ziya.
Alberto merasa yakin akan ketulusan Ziya terhadapnya dan juga putranya Demian. Meskipun saat ini Alberto berpikir bahwa Demian bukanlah putra dari Ziya. Namun Ziya lebih tepat menjadi Ibunya Demian dibandingkan sikap Zoya yang dahulu selalu mengabaikan Demian.
" Alberto apakah aku boleh meminta izin darimu untuk membuat penemuanku ini," Tanya Ziya kembali menatap wajah Alberto dengan lembut.
" Baiklah sayang, apapun yang ingin kau lakukan, aku akan mendukungmu,," Gumam Alberto dalam hati yang menatap Ziya.
Mendengar ucapan Ziya yang meminta izin untuk melakukan penemuannya lagi itu, membuat Alberto menjadi tambah lembut menatap dan memperlakukan Ziya di matanya itu.
" Baiklah, aku akan mengizinkan mu,," Jawab Alberto yang lembut pada Ziya.
Mendengar ucapan izin yang diberikan oleh Alberto padanya. Dalam seketika Ziya berteriak girang meloncat-loncat dan memeluk tubuh Alberto dengan erat, hingga kelakuannya itu membuat Demian bangun dari tidur lelapnya.
" Aaahh,, benarkah Alberto," Tanya Ziya dengan mata yang berbinar-binar cerah.
" Yes,," Jawab Alberto mantap.
" Aaaahhhhh,, terima kasih, Alberto,," Ungkap Ziya yang meloncat kegirangan dan segera memeluk tubuh Alberto.
Saat Ziya memeluk erat tubuh Alberto dan menciumi pipi Alberto, dalam seketika Ziya terkejut akan suara Demian yang memanggilnya.
" Mommy,," Ucap Demian yang bangun dari tidurnya.
" Demi,," Ucap Ziya yang segera bangun dari duduknya dan berlari mendekati Demian.
Alberto tersenyum senang, karena, merasa bahwa dirinya bisa membantu Ziya untuk melakukan hal yang berhubungan dengan keahliannya itu. Dan, satunya lagi bukan hanya sekedar bisa membantu Ziya dalam penemuannya itu, melainkan Alberto ingin sekali melihat wajah Ziya yang tertawa senang karena dirinya bukan dari orang lain.
Saat Ziya mendekati tempat tidurnya Demian, Alberto juga mengikuti langkah kaki Ziya yang mendekati tempat tidur Ziya.
" Kenapa Mommy berteriak,," Tanya Demian dengan wajah polosnya.
" Hehehe,, maaf ya sayang kalau suara Mommy bangunin Demian." Ucap Ziya yang mendekati tempat tidur Demian.
" Heeemm, tidak apa-apa Mom,," Jawab Demian tersenyum.
Melihat keinginan Demian yang minta dipeluk dengan segera Ziya mendekati tubuh Demian dan memeluknya. Saat Demian di dalam pelukan Ziya, Demian melihat bahwa di kamarnya ini ada Daddynya.
" Daddy,,," Ucap Demian yang melihat Alberto.
" Kapan Daddy ada disini,," Tanya Demian pada Alberto yang melangkahkan kakinya ke tempat Demian.
" Sejak, Demian bobo, Daddy sudah ada disini,," Jawab Alberto yang tersenyum melihat Demian.
" Eeemmm, Mom, Demi mau mandi sama Daddy,," Ucap Demian yang melepaskan pelukannya.
" Ok, Son, Come kita mandi bersama," Jawab Alberto dengan segera menggendong Demian.
Demian tersenyum senang saat tubuhnya berada di dalam gendongan Alberto. Otomatis berasa tubuhnya menjadi tinggi, karena, tubuh Alberto yang sangat tinggi itu, dibandingkan dalam gendongan Ziya.
" Tapi, Dad mau mandi sama Mommy juga,," Ucap Demian yang menatap wajah Alberto lembut.
" Ok, Son,, Mommy Come Here, Shower together,," Bilang Alberto yang membalikkan tubuhnya dan mengedipkan matanya pada Ziya.
Ziya sedikit tercekat mendengar ucapan Alberto yang terlihat nakal menatapnya itu.
" Heemmm, Oke,," Jawab Ziya yang mengikuti langkah kaki Alberto.
Sampainya di dalam kamar mandi, Alberto segera meletakkan Demian di atas bufet, lalu, dengan telaten Alberto menyiapkan air mandi untuk putranya itu. Ziya melihat cara Alberto yang menyiapkan air mandi untuk Demian begitu telaten sekali. Begitu terlihatnya bahwa Alberto menyayangi putranya itu.
" Heemmm,, Alberto aku merasa senang jika melihat wajahmu yang sedang main bersama Demian seperti ini, begitu indahnya kebersamaan kalian dan jika aku yang menjadi bagian dari kalian maka aku tidak akan pernah seperti Zoya yang tega meninggalkan mu sayang,," Gumam Ziya dalam hati sambil menatap wajah Demian.
Karena, terlalu tersentuh akan kebersamaan Alberto dan Demian, membuat Ziya mengalirkan air matanya sendiri.
" Mommy kenapa menangis,," Tanya Demian yang mengagetkan Ziya.
" Aaahh,, tidak apa-apa sayang,," Jawab Ziya dengan segera menghapus air matanya.
Karena, mendengar ucapan Demian yang menanyai kenapa Ziya menangis, membuat Alberto segera menoleh dan memastikan wajah Ziya.
" Sudah selesai,," Tanya Ziya pada Alberto.
" Heemmm,, kau menangis,," Tanya Alberto balik pada Ziya.
" Tidak,," Jawab Ziya mengelak.
Karena, tidak mau ditanyai oleh Alberto, Ziya segera menggendong Demian untuk masuk ke dalam bathtub.
" Ayo sayang kita mandi,," Ucap Ziya pada Demian.
" Yes Mom,," Jawab Demian mengangguk.
Namun, Alberto melihat sepertinya Ziya memang menangis. Oleh sebab itu, Alberto teringat akan undangan yang perlu dihadiri oleh Ziya. Dengan demikian Alberto bisa membuat Ziya bahagia, bahwa saat ini Alberto tidak akan mengekang kebebasan Ziya lagi.
" Daddy juga ikut masuk ya,," Ucap Alberto pada Demian.
" Yeah, Daddy, and Mommy juga masuk,," Ucap Demian yang mengajak Ziya untuk masuk ke dalam bathtub.
" Ayo sayang, masuk,," Pinta Alberto pada Ziya.
Ziya merasa malu atas ajakan Alberto padanya, jadi, dengan lembut Ziya menolak ajakan itu.
" Tidak usah, Demi sama Daddy saja ya yang mandi,," Ucap Ziya yang menolak halus ajakan Alberto.
" Eemmm,, Mommy, Demi maunya Mommy juga ikut masuk,," Rengek Demian pada Ziya.
" Jangan sampai Demi menangis,, ayo masuk,," Ucap Alberto yang sengaja menakuti Ziya.
Saat Ziya melangkahkan kakinya masuk, Ziya memilih di pinggir sebelah Demian. Jadi, saat ini Demian di tengah-tengah antara Ziya dan Alberto.
" Holeee, akhilnya Demi, bisa mandi belsama Mommy and Daddy,," Ucap Demian tertawa riang.
Ziya tersenyum melihat tingkah Demian yang begitu bahagia saat mereka sedang mandi bersama ini.
" Mommy duduk sebelah sini saja,," Pinta Demian pada Ziya.
" Ok sayang,," Jawab Ziya yang memindahkan posisi duduknya.
Walaupun Ziya belum melepaskan bajunya tapi, sungguh terlihat sekali tubuhnya seksi tercetak sempurna dari balik baju yang ia gunakan itu. Dalam seketika membuat Alberto segera membisikkan sesuatu kepada Ziya.
" Aku ada kejutan untukmu,," Ucap Alberto yang sengaja mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Ziya.
Ziya yang mendengarkan ucapan Alberto itu, merasa penasaran akan kejutan yang mau diberikan Alberto padanya.
" Apa ?" Tanya Ziya langsung.
" Aku letakkan di kamar kita kejutannya,," Ucap Alberto yang membuat Ziya cemberut.
" Heh! Kalau di kamar tidak perlu disebutkan,," Ucap Ziya seketika membuat Alberto menaikkan bibirnya.
" Kejutannya itu akan membuatmu senang, sayang,," Ucap Alberto lagi yang membisikkan kata-kata di telinga Ziya.
Ziya merasa geli atas kelakuan Alberto yang membisikkan sesuatu ke telinganya itu.
" Heemm,, baiklah,," Jawab Ziya yang merespon biasa-biasa saja atas ungkapan Alberto itu.
Dan, segera Ziya membersihkan lembut tubuh Demian.
Setelah selesai mandi bersama, Ziya menggantikan baju Demian dan Alberto berinisiatif bahwa malam ini Demian tidur bersama dengannya di kamar pribadinya itu.
" Demian,, mau tidur di kamar Daddy,," Tanya Alberto yang sudah menggantikan bajunya menggunakan jubah mandi.
" Mau Daddy,," Jawab Demian langsung.
Saat mendengar ucapan Alberto yang menawarkan Demian untuk tidur bersamanya, Ziya terpikir akan suatu hal yang tertunda tadi, berarti Alberto malam ini tidak akan mengganggu dirinya.
" Ayo, kita segera ke kamar Daddy." Ucap Alberto yang segera menggendong Demian.
" Holeee, Come Mom,," Ucap Demian yang segera menarik tangan Ziya untuk mengikutinya.
Ziya juga saat ini sedang menggunakan jubah mandinya. Alberto, Ziya dan Demian keluar bersama dari kamarnya Demian dan sekarang melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadi Alberto.
Setelah Sampai di kamar Alberto segera meletakkan Demian di atas tempat tidurnya dan menghidupkan tv, lalu Alberto memilih layar yang memperlihatkan acara tentang anak-anak, sementara itu, Ziya sendiri menuju ke ruang gantinya untuk menggantikan bajunya.
" Demi sayang Mommy ganti baju dulu ya,," Ucap Ziya yang segera berlalu ke ruang ganti.
" Daddy juga ya sayang,," Ucap Alberto yang tingkahnya saat ini terlihat tidak seperti mafia yang kejam, melainkan lembut apabila bersama dengan keluarga kecilnya.
Dengan segera Alberto mengikuti langkah kaki Ziya yang melangkah menuju ke ruang ganti. Melihat Alberto ikut masuk ke dalam kamar ganti membuat Ziya kaget atas sikap Alberto yang seperti anak kecil itu.
****