
Saat ini Ziya sedang berada di dalam kamar mandinya sehingga membuat Vena segera menyiapkan semua kebutuhan Ziya setelah majikannya itu selesai mandi. Dari mulai pakaian, sarapan, dan juga kebutuhan lainnya.
" Apa yang telah ku alami selama ini, kenapa aku merasakan itu bukan mimpi tapi nyata,," Gumam Ziya yang masih menangis di dalam kamar mandi.
Setelah selesai menyiapkan pakaian yang akan digunakan oleh Ziya dengan segera Vena keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan pagi bagi majikannya ini. Ziya memang selalu sarapan, makan siang dan makan malam di kamarnya terus. Karena, Alberto yang telah memberikan aturan khusus untuk Ziya yang memang diperbolehkan makan di kamarnya selama Alberto sedang tidak berada di kediaman.
" Heemm, baju sudah selesai, selanjutanya aku harus menyiapkan sarapan pagi,," Ucap Vena yang tersenyum sendiri melihat hasil pekerjaannya.
Vena segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti dan meninggalkan Ziya sendirian di kamarnya ini. Saat Vena sedang keluar, terlihatlah Martin yang sedari pagi tadi, sudah mengawasi gerak-gerik orang yang keluar masuk ke dalam kamar Ziya.
Dan, Martin juga melihat dengan jelas bahwa saat ini asisten pribadi Ziya sedang keluar dari kamarnya. Martin merasakan saat ini waktu bagi dirinya cukup aman untuk masuk ke dalam kamar itu. Terlihat juga semua pengawal sedang tidak ada di depan pintu kamar Ziya.
" Kesempatan yang bagus,," Gumam Martin dari kejauhan saat mengawasi kamar Ziya.
" Aku akan segera menyelinap masuk ke dalam kamar itu dan memastikan siapa dia sebenarnya,," Gumam Martin sambil mengawasi kamar Ziya.
" Aku sangat mencurigai dirinya tidak mungkin seorang Zoya mampu melawan tubuhku,," Ucap Martin lagi sambil mengendap-endap melangkahkan kakinya menuju kamar Ziya.
Martin yang sudah memastikan bahwa saat ini keadaan begitu aman dengan segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar Ziya. Dan, betul sekali ia berhasil masuk ke dalam kamar itu tanpa sepengetahuan dari siapapun.
Walaupun, saat ini Martin tidak mengetahui dimana keberadaan Alberto, yang pastinya sekarang Martin harus berhasil menemui bukti dari kecurigaannya itu terhadap wanita yang begitu mirip dengan Zoya.
" Aman,," Gumam Martin saat dirinya sudah berhasil masuk ke dalam kamarnya Ziya.
Di dalam kamar Martin mengendap-endap mencari keberadaan Ziya saat ini. Dari satu ruangan ke ruangan lainnya, Martin masuk dan memeriksanya, namun hasilnya nihil, Ziya tidak ada di dalam ruangan yang ia bukakan pintunya itu.
" Kemana dia ?" Tanya Martin pada dirinya sendiri.
Lalu, Martin kembali membukakan pintu ruangan lainnya dan terlihatlah saat ini ruangan ganti khusus untuk Ziya. Martin melihat semua barang-barang Ziya sangat berbeda dengan barang-barang yang sering digunakan Zoya.
" Mataku jelas melihat bahwa dia masuk ke dalam kamarnya ini, tapi, kenapa dia tidak ada,," Ucap Martin yang masih mencari keberadaan Ziya.
" Kenapa, semua barang-barang ini berbeda, itu barang yang sering digunakan oleh Zoya,," Gumam Martin melihat lemari yang semuanya berisi baju, sepatu dan aksesoris Zoya.
Dan, lemari satunya lagi baju, sepatu, dan aksesoris yang sangat berbeda sekali dengan barangnya Zoya yang sering digunakan oleh Ziya selama tinggal disini.
" Kenapa, style fashion Zoya sekarang berbeda,," Gumam Martin saat melihat lemari khusu pakaian untuk Ziya.
Lalu, Martin kembali melihat ke atas meja rias yang begitu banyak sekali softlens berwarna sama dengan matanya Zoya.
" Bukankan selama ini Zoya jarang memakai softlens, tapi, kenapa banyak sekali softlens di tempat ini." Ucap Martin lagi yang bingung dengan aksesoris di atas meja rias kamar Ziya.
Setelah selesai melihat semua barang-barang Ziya dan juga Zoya, Martin kembali melangkahkan kakinya lagi menuju ke ruangan satunya lagi yang mana ruangan itu sungguh tertutup dan pintunya sama sekali tidak bisa dibuka oleh dirinya.
" Ruangan apa ini, kenapa terlihat begitu tertutup,," Gumam Martin yang mencurigai ruangan penelitian milik Ziya.
" Kenapa tidak bisa dibuka, apa dia sedang berada di dalam,," Ucap Martin lagi yang mencoba untuk membuka pintu tersebut.
Namun, masih saja tidak bisa dibuka oleh dirinya. Sementara itu, Ziya yang telah selesai melakukan acara mandi di pagi ini, melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan menuju ke ruang ganti pakaian. Martin melihat Ziya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melangkah menuju ruang ganti. Jelas saja, Martin terperanjat saat melihat tubuh indah itu baru saja keluar dari kamar mandi.
" Zoya,, oh ternyata dia sedang mandi,," Ucap Martin dengan segera mengejar Ziya yang masuk ke dalam ruang ganti.
Ziya yang tidak mengetahui adanya Martin di dalam kamarnya ini, melangkah dengan santai untuk menggantikan pakaiannya. Martin segera masuk ke dalam ruangan itu dan betapa terkejutnya Ziya saat ia sedang ingin membuka jubah mandinya dan melihat Martin dengan sengaja masuk ke dalam ruangan ini.
" Martin,," Ucap Ziya yang kembali mengikat jubah mandinya.
" Halo sayang, apakah kau merindukanku,," Ucap Martin yang segera menutup pintu ruang ganti itu dan mendekati Ziya secara perlahan.
Ziya teringat bahwa saat ini dirinya sama sekali tidak membawa bekal sedikitpun untuk menghadapi orang yang berniat jahat pada dirinya. Karena, ia baru saja selesai dari mandi jadi mana mungkin ia membawa racun buatannya itu.
" Keluar kau Martin, atau aku akan teriak,," Ucap Ziya yang melangkah menjauhi Martin.
" Teriak saja sayang, tidak ada yang akan bisa mendengarkan suaramu dari dalam ini," Ucap Martin yang masih melangkah mendekati Ziya.
" Dasar bajingan kau,, keluar,," Teriak Ziya dari dalam ruang ganti yang sengaja melemparkan Martin dengan suatu benda yang cukup keras.
Saat ini Ziya hanya bisa mengandalkan kemampuan dan kekuatan bela dirinya seja untuk melawan kelakuan Martin yang memang begitu gila menurut dirinya. Ziya segera melemparkan sesuatu benda keras ke arah Martin, namun Martin masih bisa untuk mengelak.
PRANNNKKK
Bunyi suara benda itu yang terjatuh hampa di atas lantai. Sementara itu Martin masih saja tetap melangkah mendekati Ziya tanpa gontai sedikitpun. Dan, menyuruh Ziya untuk melemparkannya kembali dengan benda lain, karena, Martin sangat menyukai wajah Ziya yang ketakutan seperti saat ini.
" Ayo lemparkan lagi sayang,," Ucap Martin lagi dengan wajah nakalnya.
" Lemparkan lagi benda kemarin yang membuat tubuhku menjadi lemah, sayang,," Ucap Martin dengan sengaja membuat Ziya mengingat racunnya.
Namun, Ziya teringat bahwa ia tidak membawa racun. Saat, Ziya melemparkan benda besar yang terakhir dan tidak mengenai sasaran di tubuh Martin.
" Tidak kena sayang,," Ucap Martin tersenyum nakal kepada Ziya.
Lalu, dengan gerakan cepat dan segera Martin maju serta memegang paksa kedua lengan Ziya dan dengan sangat kuat Martin menyandarkan tubuh Ziya tepat di dinding.
" Iiihhhh, lepaskan aku bajingan,," Bilang Ziya yang meronta melawan perbuatan Martin pada tubuhnya.
BRRUUKKK !!!
Jelas saja Martin berteriak sekuat mungkin, karena, merasakan tubuhnya cukup sakit ketika Ziya membanting tubuhnya dengan sekali hantaman.
" Aduh,, Zoya apa yang kau lakukan,," Teriak Martin yang telah terjatuh ke lantai.
" Heh!! kau tanya apa yang kulakukan, sudah jelas kau terjatuh, itu yang sebenarnya ingin kulakukan padamu bajingan,," Bilang Ziya dengan senyuman sinisnya.
" Siapa kau, ?" Tanya Martin kepada Ziya dengan tubuhnya yang masih terasa sakit.
" Siapa aku kau tidak perlu tahu, Martin," Ucap Ziya lagi sambil mencari botol racun yang sengaja ia letakkan di dalam ruang ganti.
Saat Ziya membanting tubuh Martin ke lantai, Ziya teringat akan racun yang ia letakkan di dalam ruang ganti ini. Dengan segera Ziya mengambil botol racun itu dan bersiap untuk melemparkannya ke arah Martin.
Dengan sedikit menaikkan ujung bibirnya Ziya menunjukkan botol racun yang ia lemparkan kemarin tepat di wajah Martin.
" Kau menanyakan benda ini bukan, kau mau aku melemparkannya lagi tepat di wajahmu,," Ucap Ziya dengan gaya angkuhnya kepada Martin.
" Siapa kau sebenarnya, kenapa matamu berbeda dengan mata Zoya ?" Tanya Martin lagi pada Ziya sambil mengusap dadanya yang terasa sesak karena pukulan tangan Ziya.
" Sepertinya kau sungguh mengenali aku, Martin, sehingga kau tahu warna mataku," Ucap Ziya yang tersenyum sinis.
" Aku tahu kau bukanlah Zoya, siapa kau sebenarnya ?" Teriak Martin kepada Ziya.
" Siapa aku, aku adalah orang yang ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya, Martin,," Ucap Ziya dengan gaya santainya.
Kenapa Ziya begitu berani berbicara santai dengan Martin walaupun ia masih memakai jubah mandi, karena, saat ini dia sudah memegang racun dari keahliannya sendiri. Sehingga dengan beraninya Ziya masih menanggapi pertanyaan Martin terhadap dirinya.
" Dasar kau, kau telah menipuku, dengan wajahmu itu,," Ucap Martin yang ingin keluar dari ruang ganti, karena, ia tahu tidak mungkin ia bisa melawan Ziya, jika Ziya melemparkan benda yang pernah ia rasakan dulu.
" Aku tidak pernah menipumu Martin, tapi, kau sendiri yang telah menjerumuskan nyawamu ke dalam lubang kematian." Ucap Ziya yang kembali tertawa merasa senang.
Ziya tersenyum sinis ketika melihat Martin bangkit dari lantai dan menuju ke arah pintu ruang ganti, terlihat saat ini Martin tidak mau melawan dirinya. Karena, Martin pernah kapok akan benda yang dilemparkan Ziya terhadap dirinya.
" Awas kau, suatu saat aku akan membongkar siapa dirimu yang sebenarnya,," Ucap Martin yang mengancam Ziya dengan segera berlari dari ruangannya ini.
" Silahkan, aku tidak takut dengan ancamanmu Martin," Bilang Ziya yang terlihat jelas akan identitasnya yang sudah lama diketahui oleh Alberto.
" Lihat saja kau nanti, aku akan bisa membalas dendam ini padamu, karena, kau telah berani menipuku,," Gumam Martin yang segera keluar dari kamarnya Ziya.
Martin sengaja memilih keluar dari balkon dan melompat ke taman bawah, karena, jika dia melewati jalan itu akan aman untuk dirinya, namun, jika dia melewati jalan di depan kamar maka akan ketahuan tindakan yang ia lakukan di dalam kamarnya Ziya.
Martin juga tidak tahu bahwa saat ini tindakan yang ia lakukan itu, pastinya akan ketahuan, karena rekaman CCTV di kamarnya Ziya sedang aktif saat ini. Alberto tidak mau lagi adanya kesalahan yang pernah terjadi pada Ziya di waktu dulu. Oleh sebab itu, setiap Alberto mau meninggalkan rumahnya, Alberto selalu mengaktifkan setiap sistem keamanan di dalam rumahnya ini, supaya ia bisa cepat mengetahui apa saja yang sedang terjadi.
" Selamat tinggal Martin,," Ucap Ziya sambil melambaikan tangannya terhadap Martin yang baru saja keluar dari kamarnya.
Disaat Ziya sedang memperhatikan gerak-gerik Martin yang baru saja keluar dari kamarnya, dengan napas yang sedikit terengah-engah, Ziya masuk kembali ke dalam kamarnya itu. Sebenarnya Ziya juga sedikit cemas ketika Martin sengaja masuk ke dalam ruang gantinya tanpa sepengetahuan dirinya itu.
Ziya berpura-pura berani, karena, adanya botol racun yang sudah pernah ia lemparkan di wajah Martin, jika tidak ada itu, kemungkinan saat ini Ziya melawan Martin hanya dengan ilmu bela dirinya yang tidak terlalu memadai. Ziya mengakui saat ini tubuhnya agak sulit untuk bertempur dengan lawan, karena, dia sudah lama tidak berlatih dalam ilmu bela diri yang ia miliki itu.
" Uuuhhh,, untung saja ada ini,," Ucap Ziya yang kembali masuk ke dalam kamarnya sambil mengusap dadanya sendiri.
Saat Ziya sedang mengambil napas kecemasannya itu. Tiba-tiba, Vena masuk ke dalam kamarnya dengan membawa nampan berisi sarapan pagi. Ziya sedikit bingung, kenapa Vena membawa nampan sarapan pagi ke dalam kamarnya, berarti Alberto sedang tidak ada di rumah. Ziya juga penasaran dengan keberadaan Alberto saat ini, semenjak ia tidur semalam, ia sama sekali tidak melihat Alberto.
" Silahkan dinikmati Nyonya sarapan paginya,," Ucap Vena yang telah selesai meletakkan sarapan pagi di atas meja.
" Ya, Vena terima kasih,," Jawab Ziya mengangguk.
" Vena, kenapa kau membawa sarapan ke kamarku, memangnya Alberto pergi kemana sekarang ?" Tanya Ziya kepada Vena.
" Tuan Besar telah memberikan pesan kepada pengawal Friek, bahwa ia sekarang sedang ke luar kota, Nyonya. Dan, selama ia pergi Nyonya diperbolehkan untuk makan di dalam kamar,," Jawab Vena yang menjelaskan secara detail pada majikannya ini.
" Keluar kota,," Gumam Ziya penasaran.
" Ya, Nyonya,," Jawab Vena mengangguk.
Lalu, Ziya seakan terpikir dengan keberadaan Alberto saat ini. Ziya merasa penasaran tempat yang sedang dikunjungi oleh Alberto saat ini. Menurut pemikirannya, apakah saat ini Alberto sedang mencari bukti dalam rahasianya itu.
" Alberto, pergi kemana ? Apakah dia sedang pergi untuk mencari barang bukti,," Gumam Ziya dalam hatinya sambil berpikir arah kepergian Alberto.
Sesaat Ziya kaget ketika Vena menanyakan pada dirinya apakah ia memiliki pesan untuk Alberto.
" Eemmm, apakah ada pesan untuk dikatakan pada Tuan, Nyonya ?" Tanya Vena kepada Ziya sedang memikirkan kepergian Alberto.
" Oh tidak Vena, baiklah, terima kasih kalau begitu,," Jawab Ziya tersenyum.
Dan Vena hanya mengangguk mendengarkan jawaban dari majikannya ini. Ziya segera melangkahkan kakinya menuju ruang ganti untuk menggantikan pakaiannya. Setelah selesai barulah ia menyantap sarapan paginya, sebenarnya Ziya hari ini ingin mengajak Alberto pergi ke taman tanaman merah. Namun, itu tidak bisa ia lakukan karena, saat ini Alberto sedang tidak ada di rumah.
****