Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 103 - Mafia Terbaik



Ziya yang berencana untuk mendekati kedua putri Alberto yang selama ini sama sekali memiliki sikap buruk di depan matanya. Ziya merasa curiga kemungkinan dua putri ini masih memiliki sifat yang baik, oleh karena, tidak ada yang mendidiknya secara benar, oleh sebab itu kedua putri ini bersikap sangat buruk.


Sebenarnya, Ziya merasa kasihan kepada sikap dan perilaku kedua putri Alberto yang kedua-duanya sama sekali tidak memiliki attitude yang baik sebagai seorang anak perempuan.


" Baiklah, Alberto, berhubung kau tidak memperhatikan kedua putrimu yang baru saja akan tumbuh menjadi gadis dewasa dan sewajarnya harus diperhatikan oleh kedua orang tuanya, maka aku yang akan menggantikan posisi Ibunya untuk mendidik mereka agar menjadi anak yang baik,," Gumam Ziya dalam hati sambil memandang wajah Alberto yang seakan cuek jika Ziya bertanya tentang kedua putrinya itu.


" Tidak seperti saat ini, semua putrimu itu hanya bisa berbicara yang ketus dan berlagak tidak sopan kepada orang yang lebih tua darinya,," Ucap Ziya dalam hati dengan tekad yang kuat sambil menyantap sarapan paginya.


Setelah merencanakan sesuatu terhadap kedua putrinya Alberto, Ziya juga merasa heran kemana dua wanita yang selalu saja jahil akan dirinya itu. Dengan segera Ziya bertanya, karena, memang Ziya tidak mengetahui bagaimana keadaan di dalam kediaman Alberto saat ini.


" Aku menjadi heran, kemana dua wanita itu," Tanya Ziya dalam hatinya merasa penasaran akan keberadaan Claire dan Gladys.


Ya, mungkin karena beberapa hari ini Ziya selalu berada di dalam kamar pribadi Alberto, sehingga membuat dirinya tidak mengetahui apa yang terjadi pada Claire dan Gladys.


" Apakah Alberto telah mengurungnya juga, karena, perbuatan merekalah yang menjadikan Vena kritis,," Ucap Ziya penasaran di dalam hatinya.


Karena, Ziya sangat ingat bahwa yang meracuni Vena adalah kelakuan Claire akan perintahan dari Gladys. Dengan segera Ziya menanyakan dimana keberadaan dua wanita yang selalu saja jahil dalam kehidupannya itu.


" Eeemm, Alberto,," Sapa Ziya pada Alberto yang telah menyelesaikan sarapannya itu.


" Ya,," Jawab Alberto juga telah menyelesaikan sarapannya.


" Ada apa,," Tanya Alberto balik pada Ziya.


" Aku boleh bertanya," Ucap Ziya yang terlihat seperti masih merasa takut pada Alberto.


Wajar kalau Ziya merasa sedikit takut dengan Alberto. Karena, pertanyaannya ini berhubungan dengan dua wanita yang selalu membuat kepala Alberto pusing memikirkannya. Belum lagi masih banyak masalah yang akan dibahas bersama teman-temannya.


" Katakan, apa yang ingin kau tanyakan sayang,," Ucap Alberto mempersilahkan Ziya untuk menanyainya.


" Apakah benar yang meracuni Vena Claire dan Nyonya Gladys." Tanya Ziya sedikit mengatur perlahan-lahan omongannya itu.


" Heh! Ya, memang benar,, mereka yang melakukannya,," Jawab Alberto santai berbicara jujur pada Ziya.


" Karena, mereka memang memiliki tujuan untuk menggunakan Vena, mereka dengan sengaja menyuruh Vena untuk memberikan racun jantung itu padamu, namun, karena, Vena tidak mau makanya mereka dengan segera memberikan racun itu secara paksa pada Vena, sehingga mereka bisa memerintahkan Vena untuk pergi menemui dirimu dan memintamu untuk membebaskan Martin." Ucap Alberto pada Ziya yang menjelaskan secara rinci tentang perbuatan Claire dan Gladys.


Sementara itu, Ziya ternganga mendengarkan penjelasan dari Alberto.


" Ahh,, benarkah," Tanya Ziya merasa tidak percaya akan kelakuan Claire dan Gladys yang begitu sadis.


Tapi, Ziya sadar sangat wajar jika Gladys dan Claire melakukan itu, di rumah Alberto ini memang tempat berkumpulnya orang-orang yang mampu melakukan suatu tindakan kejahatan.


Ziya sungguh terperangah bahwa sebenarnya Vena diperintahkan oleh Claire dan Gladys untuk membunuh dirinya, berhubung Vena tidak mau, makanya mereka dengan sengaja meracuni Vena, supaya Vena bisa menjalankan rencana mereka yang keduanya yaitu membebaskan Martin.


" Disaat kejadian itu aku sama sekali belum kembali, tapi, karena, tepat sekali dengan waktunya, akhirnya rencana mereka gagal. Dan, Vena akhirnya ditemukan oleh pengawal yang sedang ku perintahkan mengawasi keadaan rumah." Ucap Alberto sedikit berbohong pada Ziya.


Sebenarnya pengawal yang diperintahkan oleh Alberto bukan mengawasi rumah, melainkan pengawal yang dikatakan oleh Alberto sendiri adalah seorang pengawal yang diperintahkan untuk mengawasi Vena. Karena, saat itu Alberto curiga pada pergerakan Vena yang seakan menghilang sejenak saat dihubunginya.


Tapi, ternyata Vena sendiri telah mengalami suatu musibah yang membuat nyawa Vena hampir saja melayang.


" Jadi, Vena juga sudah mengetahui bahwa Martin adalah pelakunya." Tanya Ziya lagi pada Alberto.


Alberto segera menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Ziya yang mengatakan bahwa Vena juga mengetahui pelakunya adalah Martin.


" Tidak, awalnya Vena tidak mengetahui pelakunya adalah Martin. Kemungkinan besar Vena menerka bahwa pelakunya adalah Martin. Karena, Vena telah mendapatkan perintah dari wanita itu untuk segera membebaskan Martin. Sedangkan, Vena tidak tahu bahwa Martin telah ditangkap oleh diriku,," Ucap Alberto yang menjelaskan panjang lebar pada Ziya.


Ziya mengangguk mendengarkan ucapan Alberto seakan sudah mengerti atas penjelasan itu.


" Ooohh,, aku mengerti Alberto. Maksudnya Vena tidak menerima perintahan dari Claire untuk membebaskan Martin dan Vena dengan segera menemui kau agar kau tidak membebaskannya,," Tanya Ziya pada Alberto.


" Ya, memang betul, sikap Vena sangat tepat sekali dalam mengambil keputusan,," Jawab Alberto yang tersenyum menatap Ziya.


Ziya merasa bahwa sepertinya, Martin dan Gladys memiliki sesuatu rencana terhadap Alberto. Oleh sebab itu, Ziya ingin juga mengetahui apa sebenarnya masalah yang terjadi di antara Gladys dan Alberto ini. Kenapa sepertinya ada hal yang ganjil di antara mereka. Memang di rumah ini terlihat Alberto yang memiliki kuasanya, namun sikap Gladys yang merasa Nyonya besar di tempat ini, membuat pikiran Ziya saat ini bertanya-tanya merasa heran dengan keadaan yang baru saja ia selidiki.


" Sepertinya, ada suatu rahasia yang terjadi di antara Alberto dan juga Nyonya Gladys," Gumam Ziya dalam hati sambil menerka-nerka dan menatap penuh wajah Alberto.


" Memangnya apa yang telah terjadi,," Pikir Ziya dalam hati, menerka maksud dari Alberto yang sengaja menangkap Martin.


Padahal sebenarnya, Alberto bisa saja membunuh Martin secara langsung tapi kali ini kenapa Alberto hanya menangkapnya saja. Pasti dibalik penangkapan Martin itu, ada suatu hal yang menjadi rahasia besar dari Alberto.


" Aku akan mencari tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi dan apa rahasia dibalik ini semua,," Ucap Ziya dalam hati sambil menatap wajah Alberto, seraya masih mendengarkan penjelasan darinya.


Ziya mengingatkan suatu ucapan Alberto disaat suasana sedang kacau, dimana saat itu Vena sedang dalam kondisi yang begitu kritis, sangat membutuhkan penawar racun dalam tubuhnya itu, Alberto pernah mengatakan bahwa dirinya akan bernegosiasi dengan Gladys agar dia segera mendapatkan penawar racunnya.


Apakah Alberto disaat itu benar-benar bernegosiasi ?


Atau Alberto hanya mengelabui dua wanita yang terlihat pintar dalam merencanakan sesuatu tapi juga bisa bodoh dalam bertindak.


" Alberto bolehkah aku mengetahui sesuatu darimu,," Tanya Ziya sesaat pada Alberto.


" Heemm, boleh, katakanlah," Tawar Alberto pada Ziya.


" Bagaimana kau bisa mendapatkan penawar racun itu darinya apakah kau membebaskan Martin dengan negosiasi yang kau lakukan padanya." Tanya Ziya pelan-pelan pada Alberto.


" Heeh!! tidak,, mana mungkin aku melakukan itu," Jawab Alberto tersenyum puas.


Alberto tersenyum puas seakan, merasa bahwa dirinya menang akan kelicikan yang ia gunakan, dalam mendapatkan sesuatu penting seperti penawar racun kemarin dari tangan Gladys.


" Aku tidak membebaskannya dan bahkan mereka juga ditahan olehku,," Jawab Alberto dengan jujurnya.


" Apa mereka juga ditahan,," Ucap Ziya dengan mulutnya sedikit menganga tidak mengerti akan maksud dari Alberto yang juga sengaja menahan dua wanita itu.


Suara Ziya yang terdengar oleh Alberto ini sungguh sangat lucu sekali. Sehingga membuat Alberto sedikit tergelitik mendengarkannya.


" Tapi, Alberto kau sudah berjanji untuk tidak bermain curang pada mereka dan juga kau telah berjanji bahwa kau akan membebaskan Martin disaat kau mendapatkan penawar racun itu." Ucap Ziya yang mengingatkan Alberto.


" Heh!! untuk apa berjanji dengan orang yang sama sekali tidak menghargai perjanjian itu sendiri,," Jawab Alberto lagi, karena, ia sangat mengetahui dan mengenal betapa curangnya Gladys dalam permainan.


Oleh sebab itu dengan sengaja Alberto menahan dan mengurung mereka sementara di dalam ruangan permainannya itu.


" Tapi, penawar racunnya sudah kau berikan pada Vena, kenapa kau malah menahannya,," Tanya Ziya seakan terdengar seperti sedang membela kedua wanita itu.


Padahal sebenarnya Ziya ingin, Alberto bisa melepaskan dua wanita itu, supaya Ziya sendiri bisa juga menyelidiki apa sebenarnya rahasia yang terjadi di antara Alberto dan Gladys.


Sebuah pertanyaan yang besar bagi Ziya saat ini. Dimana pertanyaan itu muncul saat Alberto menanyakan kepada dirinya, apakah dia bisa membantunya.


" Aku harus bisa membujuk Alberto untuk mengeluarkan dua wanita itu, supaya aku juga bisa untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan Alberto." Ucap Ziya dalam hati yang berencana untuk mengeluarkan Gladys dan Claire.


" Kalau mereka masih di dalam penahanan Alberto, bagaimana aku bisa menyelidiki rahasia ini,," Gumam Ziya lagi dalam hatinya.


Oleh sebab itu Ziya bersikeras meminta Alberto melepaskan dua wanita yang akan menjadi sasaran penyelidikannya.


" Sepertinya, ucapanmu terdengar kau sedang membela mereka,," Selidik Alberto menatap Ziya dengan wajah dinginnya.


Melihat tatapan wajah Alberto yang berubah menjadi tatapan dingin, sedikit Ziya menahan napas dan juga menelan salivanya. Karena, ia tahu pasti Alberto telah berpikir lain tentang ucapannya itu.


" Bukannya membela mereka Alberto,," Jawab Ziya yang sedikit menekankan suaranya.


" Tapi, aku hanya ingin kau bersikap benar dan harus menepati janjimu," Bilang Ziya terdengar seperti memerintah namun terdengar juga seperti sedang memberikan suatu arahan yang tepat untuk Alberto.


Alberto merasa tergelitik saat mendengar ucapan Ziya yang mengatakan bahwa dirinya harus bersikap benar dan menepati janjinya. Membuat Alberto sedikit terkekeh dan berdecih.


" Hehehehe,," Suara tawa Alberto yang terdengar sangat lucu bagi telinga Ziya.


" Heh!! seorang mafia tidak ada yang bersikap benar,," Jawab Alberto yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Ziya semakin bingung saat ini, karena, melihat sikap Alberto yang mengalihkan pandangannya ke tempat lain itu membuat dirinya segera mencari sesuatu yang tepat untuk dikatakan pada Alberto, supaya bisa mengembalikan mood lembut Alberto padanya.


" Aduuhhh,, apa yang telah kulakukan,," Gumam Ziya dalam hati seakan takut dan cemas melihat pandangan Alberto ke arah lainnya.


" Bodohnya kau Ziya, kenapa jadi salah menata ucapanmu,," Gerutu Ziya dalam hati merasa bahwa ucapannya saat ini sedikit salah.


" Aku harus mengatakan apa padanya,," Ucap Ziya bingung saat menyampaikan ucapan apa untuk Alberto.


Ziya seperti sedang berpikir sesuatu dan,, ya, akhirnya Ziya mendapatkan suatu hal yang menarik untuk Alberto dengarkan.


" Semoga saja perkataan dariku ini, membuat hatinya menjadi lembut lagi padaku,," Ucap Ziya berharap dalam hatinya.


Dengan segera Ziya memberanikan diri untuk menyampaikannya pada Alberto.


" Alberto,, menurut hati nurani ku, kau adalah seorang mafia yang benar,," Ucap Ziya yang terlihat sedang membujk Alberto, untuk dapat mencairkan suasana dingin yang baru saja terjadi di antara mereka.


Alberto sedikit tergelitik mendengar ucapan Ziya seolah sedang membujuk dirinya itu.


" Ternyata dia pintar sekali dalam membujukku,," Ucap Alberto dalam hati, lalu menoleh ke arah Ziya.


Saat Alberto menoleh ada harapan bagus untuk Ziya saat ini. Ziya berharap semoga Alberto bersedia membebaskan kedua wanita itu dan juga Martin supaya Ziya bisa menyelidiki sebuah rahasia yang terjadi pada Alberto.


" Baik, aku akan membebaskan mereka, tapi,," Ucap Alberto pada Ziya memberikan harapan besar bagi Ziya.


" Yes,, good Alberto," Gumam Ziya dalam hati begitu senang, karena saat ini dirinya juga bisa menyelidiki apa yang sedang terjadi pada Alberto pada malam itu.


Ziya merasa bahwa Alberto saat ini telah mendengarkan keinginan dan kehendaknya itu. Oleh sebab itu, Ziya bertekad untuk segera mencari tahu kejadian yang terjadi pada Alberto.


" Tapi, jika Martin mengulang kembali perbuatannya itu padamu, maka saat itu juga aku segera menembaknya,," Ucap Alberto yang membuat Ziya merasa bahagia.


Ya, jelas Ziya bahagia karena, Alberto saat ini telah terlihat begitu menyayanginya.


" Ada kau di sisiku, Alberto,, aku tidak merasa takut,," Ucap Ziya yang membuat Alberto gemas.


" Tapi, kau tetap harus menuruti perintah dariku,," Bilang Alberto serius menatap wajah Ziya.


" Ya, aku tidak akan melakukan apapun, jika itu bukan perintah darimu,," Ucap Ziya sambil mengulas senyumannya.


Alberto tersenyum puas dan senang sekali melihat Ziya yang saat ini bisa menuruti dirinya. Ya, kelihatannya Ziya menurut akan semua ucapan dan kehendak Alberto. Tapi, sebenarnya Ziya mau menuruti perintah dari Alberto, karena, Ziya juga memiliki tujuan dalam penyelidikannya itu.


" Aku akan pergi ke kantor, selama aku di kantor kau bebas untuk bermain bersama Demi,," Ucap Alberto yang membuat Ziya mengerlingkan matanya.


" Aakkh, benarkah,," Tanya Ziya menatap wajah Alberto dengan keceriaan.


" Heemm, dan kau tidak perlu khawatir untuk bermain di luar, karena, mereka masih berada di ruang penahanan ku," Ucap Alberto yang mengingatkan Ziya dan Ziya hanya mengangguk mendengarkan ucapan itu.


" Dan mereka akan kubebaskan jika Vena telah kembali menjaga dirimu,," Ucap Alberto lagi menjelaskan kapan rencana Alberto itu untuk melepaskan semua orang yang menurut Ziya wajib untuk diselidiki.


" Terima kasih, karena, kau telah mengizinkan ku untuk bermain bersama Demian." Ucap Ziya yang tersenyum menatap wajah Alberto.


" Heeemmm,, aku akan pergi, sebelum Demi pulang dan masuk ke dalam kamar ini, kau jangan pergi kemana-mana,," Bilang Alberto untuk mengingatkan Ziya untuk selalu menuruti perintahnya.


" Baik," Jawab Ziya mengangguk.


Ziya mengangguk setuju untuk menuruti semua perintah dari Alberto, karena, dirinya saat ini sedang ingin melakukan sesuatu agar dirinya bisa menuntaskan rasa penasarannya dalam hatinya.


***