
Setelah selesai memerintahkan pengawalnya untuk membawa semua soft copy video rekaman CCTV di dalam perusahaannya ini, Alberto segera keluar dari ruangan CCTV itu lalu turun ke lantai bawah menggunakan koridor khusus yang biasa digunakan oleh dirinya saat masuk ke dalam perusahaan ini. Memang tadi saat Alberto datang melalui lobby depan, tapi saat pulang dirinya hanya mau lewat dari tempat yang lainnya, koridor khusus untuknya.
Alberto segera memerintahkan pengawalnya untuk pergi menuju ke arah markas Alexandre yang telah disebutkannya untuk menunggu Daniel.
" Segera ke markas Alexandre,," Ucap Alberto kepada semua pengawalnya.
" Baik Tuan,," Jawab semua pengawal Alberto yang telah mengawali Alberto dari pergi sampai pulang seperti saat ini.
Dengan segera mobil yang dikendarai oleh semua pengawal itu meluncur ke tujuan yang telah disebutkan oleh Alberto sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.
Saat Alberto di dalam mobil ia mengingat ucapannya saat ia di dalam ruangan CCTV untuk memantau pergerakan Ziya, saat Ziya bekerja menjadi supervisor di dalam perusahaannya sendiri. Alberto tersenyum-senyum sendiri.
" Oh My God, apa yang kupikirkan tentang dirinya, kenapa saat ini aku merasakan hal lain saat dia didekati orang lain,," Pikir Alberto di dalam hati dan saat ini dia sedang di dalam mobilnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
" Seperti video rekaman yang baru saja ku lihat, ternyata itu adalah wanita asistennya sendiri yang membicarakan dirinya sebelum aku masuk ke dalam ruang rapat." Pikir Alberto lagi tersenyum sendiri mengingat ucapan-ucapan yang dilontarkannya, karena, merasa kesal melihat video rekaman tadi.
Lalu, Alberto berpikir bahwa ia nanti akan memberi kejutan terhadap Ziya di waktu yang paling tepat. Kalau saat ini rasanya belum tepat bagi Alberto, karena, masih banyak masalah yang dihadapinya.
Terutama masalah Ziya yang telah hilang mahkota berharga miliknya, kedua masalah Zoya yang masih berada di luar negeri, ketiga masalah kehidupannya sendiri yang sampai saat ini rahasianya belum terungkap.
Tak lama kemudian, Alberto telah sampai ke tempat tujuannya yaitu markas besar milik Alexandre. Setelah sampai ke markas itu, segera Alberto turun dari dalam mobilnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang miliknya yang biasa ia gunakan saat merencanakan sesuatu bersama teman-temannya.
Alberto melihat di sekitar belum ada tanda-tanda mobil Daniel sampai ke tempatnya ini. Sepertinya Daniel akhir-akhir ini, sering datang lewat dari waktu yang telah ditentukan oleh mereka berdua.
" Heh!! ternyata dia belum juga datang,," Umpat Alberto kesal pada sikap Daniel.
Karena, Alberto merasa bahwa Daniel saat ini cepat jika dihubungi saat memintanya datang dan memeriksa kondisi Ziya. Sedangkan, saat ini Alberto hanya menghubungi dia untuk membicarakan sesuatu informasi tentang Ziya dengannya.
Ingin sekali rasanya Alberto menghubungi Daniel, tapi percuma saja, karena, ia tahu pasti saat ini Daniel sudah di jalan.
" Ketika, Daniel sampai, katakan padanya untuk segera masuk ke dalam ruanganku,," Ucap Alberto kepada semua pengawalnya yang berada di luar markas.
" Baik Tuan,," Jawab pengawal Alberto sambil menundukkan kepalanya.
Lalu, Alberto segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam markas miliknya itu. Dengan mendekati wajahnya di bagian pintu depan, sebagai alat pendeteksi kode masuk ke dalam ruangan ini, pintu markas segera terbuka.
Begitu canggih sistem keamanan di markas besar milik Alexandre ini.
Setelah masuk ke dalam Alberto segera duduk di kursi kebesarannya. Dengan segera Alberto menatap luar ruangan yang kacanya sama sekali tidak terlihat oleh orang dari luar tapi terlihat oleh dirinya sendiri saat di dalam ini. Alberto memeriksa apakah Daniel sudah tiba di tempatnya itu.
" Heh! sudah lewat lima belas menit," Umpat Alberto yang merasa kesal akan keterlambatan Daniel saat ini.
Tak lama kemudian mobil Daniel tiba, dengan segera Daniel turun dari mobilnya yang masih menggunakan jas dokternya. Saat melihat Daniel yang tergesa-gesa itu membuat Alberto tersenyum sendiri akan sikap Daniel.
Saat inipun Daniel lupa melepaskan jad dokternya dan bahkan stetoskop yang sering ia gunakan masih tersangkut di atas lehernya.
" Huuuuhhhhh,," Ucap Daniel saat keluar dari mobilnya.
Daniel melihat saat ini mobil Alberto sudah ada, sepertinya dia akan kena semprot lagi oleh Alberto.
Hahahaha,, Daniel, Daniel,,,
" Sepertinya, Alberto sudah datang,," Ucap Daniel yang merasa bahwa dirinya saat ini terlambat lagi.
Dengan segera Daniel melangkahkan kakinya masuk ke dalam markas karena, Daniel juga sudah mendengar perkataan dari pengawal Alberto yang telah menyuruhnya masuk dan Alberto menunggunya di dalam.
" Tuan Daniel silahkan masuk, Tuan Alberto sudah ada di dalam,," Ucap salah satu pengawal Alberto yang memberikan perintahnya pada Daniel.
" Baik,," Jawab Daniel, segera melangkahkan kakinya menuju ke depan markas Alexandre.
Lalu, dengan segera Daniel mendekati wajahnya di bagian akses kode keamanan untuk memasuki markas ini.
" Berhasil,," Suara alat kode pengaman yang terdengar di bagian pintu markas Alexandre.
Setelah terbuka dengan segera Daniel masuk ke dalam ruangan yang biasa digunakan Alberto untuk berbicara kepada semua temannya mengenai suatu rencana yang sering dilakukannya.
" Kau terlambat lagi, Daniel,," Ucap Alberto yang membalikkan tubuhnya saat merasa bahwa Daniel sudah masuk ke dalam ruangannya itu.
" Heehh!! Sorry Dude,," Jawab Daniel dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
" Kau tidak tahu kalau hari ini banyak sekali yang ku lakukan di rumah sakit,," Ucap Daniel yang menjelaskan keadaan dirinya yang terlambat itu.
" Yeah,, aku sudah melihat jelas dari jas yang kau pakai dan alat itu,," Ucap Alberto yang menunjuk keadaan Daniel serta alat stetoskop yang masih tergantung di lehernya Daniel.
Daniel terperangah sendiri melihat keadaan dirinya yang masih menggunakan jas dokter dan alat stetoskop yang ada.
" Huuuhh, ini saja aku sampai lupa melepaskannya,," Ucap Daniel yang segera melepaskan jas dokternya dan melepaskan alat stetoskop dari lehernya.
Setelah selesai, seperti biasa Alberto ingin segera mengetahui apa saja informasi yang ingin disampaikan Daniel padanya itu.
" Memangnya apa yang ingin kau sampaikan padaku tentang dia,," Tanya Alberto segera pada Daniel.
Daniel mengangguk mengerti akan maksud pertanyaan dari Alberto padanya. Dengan segera Daniel menjelaskan semua informasi yang ia ketahui tentang Ziya selama ini.
" Oke baik Dude,, akan aku ceritakan semuanya secara detail dan rinci,," Ucap Daniel yang segera duduk di hadapan Alberto.
" Mungkin dari informasi yang disampaikan olehku ini sangat bermanfaat bagimu,," Ucap Daniel lagi yang membuat Alberto mengerutkan dahinya.
" Tentang informasi dirinya yang akan bisa membantu rahasia kau dan Axeloe selama ini,," Jawab Daniel yang membuat Alberto semakin penasaran.
" Baik, Katakan, aku akan mendengarkannya,," Ucap Alberto yang menatap serius wajah Daniel.
" Tapi, berjanjilah padaku kalau kau tidak akan lagi menyakiti diri dan perasaannya, serta tidak marah denganku setelah aku menyampaikan informasi ini semua padamu,," Ucap Daniel yang membuat Alberto mengangguk.
Seakan terdengar oleh Alberto bahwa ucapan yang dikatakan Daniel ini begitu serius dan bermanfaat bagi dirinya.
" Baik, aku akan berjanji,," Jawab Alberto dengan segera tidak mementingkan apa ujung dari cerita yang akan disampaikan oleh Daniel.
" Karena, kau sudah berjanji maka aku akan menceritakannya,," Ucap Daniel sambil menatap serius wajah Alberto.
Dengan segera Daniel menceritakan semua kejadian saat Ziya dan Zoya masih berusia tujuh belas tahun lalu, dimana saat itu Ziya membangun Zoya yang sedang di bawa oleh lima laki-laki ke tempat yang begitu sepi dan terlihat bahwa Ziya juga mengintai dan mengikutinya, saat itu Daniel juga mengikuti langkah semua laki-laki yang sedang membawa Zoya.
Karena, Daniel juga mengenal siapa Zoya Andricha yaitu seorang entertainment terkenal karena, kecantikan dan keindahan tubuhnya itu. Oleh sebab itu, Daniel juga mengikuti langkah semua laki-laki yang sengaja berniat jahat pada Zoya.
" Di malam itu, dimana saat Zoya dan saudara kembarnya itu baru menginjak usia tujuh belas tahun, ada beberapa temannya Zoya yang sengaja ingin menyingkirkan posisi Zoya dari group girl yang telah mereka buat dan saat itu Zoya terperangkap di dalam jebakan yang dilakukan oleh temannya itu, Zoya tak sadarkan diri, hingga dirinya yang sedang pingsa telah dibawa oleh lima laki-laki yang sengaja akan memper-kosanya,," Ucap Daniel yang mulai membuka cerita tentang Ziya dan Zoya di waktu usianya baru menginjak tujuh belas tahun.
Alberto sedikit terkejut saat mendengar ucapan Daniel yang mengetahui kisah Zoya dan Ziya pada usianya tujuh belas tahun lalu. Dan, ucapan Daniel ini membuat Alberto lebih terkejut lagi tentang keadaan Zoya di usia remajanya sudah dijebak oleh teman-temannya.
Melihat reaksi wajah Alberto yang sedikit terperangah dan mengerutkan dahinya membuat Daniel sengaja menghentikan perkataannya.
" Ada apa, Dude,," Tanya Daniel yang menatap wajah Alberto.
" Teruskan,," Ucap Alberto yang tidak mau mendengarkan pertanyaan Daniel padanya.
" Karena, kebetulan saat itu aku mengenal wajah Zoya, dengan segera aku mengikuti langkah kaki kelima laki-laki yang telah membawa Zoya. Aku mengawasi keadaan Zoya dari kejauhan, supaya tidak terlalu terlihat oleh kelima laki-laki itu. Dan , ternyata benar Zoya telah dilecehkan saat itu Zoya sadar dan berteriak saat bajunya sudah dibuka satu persatu oleh kelima laki-laki itu, aku masih mengawasi keadaan dan disaat Zoya berteriak sangat kuat dan memberontak pada laki-laki yang ingin memperkosanya, disaat itu juga aku melihat ada seseorang perempuan yang usianya sama dengan Zoya dan wajahnya begitu mirip dengan Zoya." Ucap Daniel lagi yang seketika menghentikan perkataannya itu.
Karena, Daniel menghentikan perkataannya itu membuat Alberto merasa kesal dengan sengaja Daniel menghentikan perkataan padanya. Yang Alberto sendiri merasa bahwa percakapannya itu begitu tanggung.
" Teruskan, Daniel apa yang sedang kau pikirkan,," Ucap Alberto merasa kesal pada kelakuan Daniel.
" Sebentar, Dude aku ingin mengingatnya lagi, karena ingatan itu sudah lama sekali,," Jawab Daniel yang terlihat seperti sedang mengingatkan sesuatu.
Setelah mendapatkan kembali ingatannya, dengan segera Daniel menceritakan lagi ceritanya pada Alberto.
" Setelah Zoya berteriak, kau mau tahu siapa yang datang membantu Zoya dan menghadapi ke lima laki-laki itu yang usia dan wajahnya begitu mirip pada Zoya," Ucap Daniel pada Alberto.
Dan, Alberto sendiri terlihat seperti sedang mengangguk begitu serius mendengarkan ucapan Daniel.
" Kembarannya dan sekarang kembarannya itu menjadi istrimu,," Ucap Daniel yang membuat Alberto berpikir.
" Apa,,,, Ziya bisa menghadap dan melawan lima laki-laki saat usianya masih remaja,," Ucap Alberto dalam hati sambil mendengar serius perkataan yang disampaikan oleh Daniel.
" Dan kau tahu, Dude, bagaimana hebat dan lincahnya istrimu melawan semua laki-laki yang akan memper-kosa Zoya, menggunakan serbuk racun untuk melemahkan sistem kekebalan tubuh lawannya." Ucap Daniel yang segera menjelaskan kehebatan dan kepintaran Ziya saat menghajar semua lawannya itu.
" Apa,, benarkah itu, Daniel,," Tanya Alberto menatap serius wajah Daniel.
" Ya, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, bahwa kembaran Zoya menyuruh Zoya pergi, karena, dia tahu Zoya tidak akan sanggup melawan kelima laki-laki itu, jadi, dengan sengaja ia melempar serbuk seperti racun kepada lawannya, aku sengaja tidak membantunya, karena, aku ingin melihat kepandaiannya,," Ucap Daniel membuat Alberto merasa kesal, karena, jelas-jelas dulu Ziya hampir saja mati, Daniel yang sengaja mengawasinya malah ingin melihat kepandaian yang ditunjukkan oleh Ziya.
" Kenapa kau tidak membantunya,, apakah kau pikir dengan mengawasi dirinya, kau membantunya,," Bentak Alberto yang merasa kesal pada Daniel.
Mendengar bentakan Alberto padanya, Daniel hanya bisa menelan salivanya.
" Calm down, Dude, kau sudah berjanji bahwa kau tidak memarahiku,, hihi,," Ucap Daniel yang sengaja menunjukkan senyumannya pada Alberto, tujuannya untuk menurunkan emosi Alberto saat ini.
" Aku belum selesai Dude,, kau sudah memotong perkataanku,," Ucap Daniel yang sengaja membela dirinya.
" Baik, teruskan,," Bilang Alberto dengan wajah kesalnya.
" Baik aku akan meneruskannya,," Ucap Daniel sambil tersenyum.
" Setelah dia melempar racun itu kepada lima laki-laki yang menyerangnya, aku melihat jelas dengan mata kepalaku bahwa kelima laki-laki itu dalam seketika tubuhnya melemah dan dengan mudah dia melumpuhkan semua lawannya itu,," Ucap Daniel yang membuat Alberto merubah ekspresi wajahnya menjadi terperanjat atas ungkapan Daniel ini.
" Benarkah,," Tanya Alberto seketika.
" Yeah Dude, aku baru menyadarinya bahwa tidak ada wanita sehebat dirinya, menggunakan racun untuk melumpuhkan lawannya selain,," Ucap Daniel yang terputus karena, Alberto segera menjawab perkataannya.
" Zalina,," Jawab Alberto dengan segera pada Daniel dan terlihat sekali Daniel mengangguk.
" Yeah betul sekali, Dude, Zalina,," Ucap Daniel yang membuat Alberto semakin menambah kepercayaannya atas diri Ziya yang bisa membantu masalahnya nanti.
Daniel sengaja menghentikan perkataannya mengenai Ziya dan Zoya hanya sebatas itu saja, karena, selanjutnya Daniel seolah-olah lupa akan ingatannya itu.
" Yeah, Dude, oleh sebab itu aku ingin menyampaikan informasi ini padamu, bahwa kemungkinan besar istrimu Zoya dan juga kembarannya itu bukan putri dari Erwin melainkan putri kandung Zalina yang selama ini kita cari keberadaannya." Ucap Daniel yang membuat Alberto merasa tergugah.
" Kau benar, Daniel,," Jawab Alberto yang terlihat menyetujui informasi yang dia sampaikan ini.
" Jika benar mereka adalah putri Zalina, maka dengan mudah juga mereka akan membantu rahasia yang kau simpan selama ini dengan bantuan dari orang tuanya." Ucap Daniel lagi yang menambah kepercayaan Alberto pada kemampuan Ziya.
Menurut Alberto saat ini ucapan Daniel sangat benar sekali sehingga membuat dirinya yakin bahwa kemungkinan besar istrinya Ziya bisa membantu rahasianya selama ini.
****