
Di dalam pikiran Alberto saat ini ia begitu berharap besar agar ingatan Ziya bisa kembali normal dan bisa mengingatkan tentang dirinya. Walaupun Alberto merasa bahwa Ziya pasti sangat membenci perbuatannya itu, namun, Alberto yakin bahwa ia akan bisa membuat Ziya tetap bersama dengannya. Karena, ia tahu Ziya merupakan seorang perempuan yang memiliki hati begitu lembut dan pemaaf, kemungkinan besar kesalahan yang pernah dilakukan oleh Alberto bisa dimaafkan oleh Ziya. Dan, saat ini bagi Alberto adalah bisa menghilangkan rasa sakit yang sering dialami oleh Ziya, serta bisa membuat Ziya berhasil mendapatkan kembali ingatannya yang lalu.
Sementara itu, setelah selesai memandikan Demian, dengan segera Ziya memanggil Melly Baby sitter Demian yang selalu menyiapkan semua keperluan majikan mudanya ini.
" Hali ini, Mommy sudah janji antalin Demian ke sekolah,," Bilang Demian dengan suara lucunya yang mengingatkan kembali janji ucapan Ziya semalam.
" Iya sayang, Mommy akan mengantar Demian ke sekolah hari ini,," Jawab Ziya sambil mengangkat tubuh Demian dari bathtub.
" Setelah mandi, Demi segera bersiap-siap ganti pakaian dan sarapan ya sayang, Mommy mau mandi dulu, oke,," Bilang Ziya sambil memakaikan handuk di tubuhnya Demian.
" Oke Mommy,," Jawab Demian bersiap.
" Anak pintar,," Ucap Ziya sambil menggendong Demian keluar dari kamar mandi.
Sambil menggendong tubuh Demian yang baru saja selesai dari mandinya, dengan segera Ziya memanggil Melly Baby sitter Demian.
" Melly,," Panggil Ziya terhadap Melly.
" Ya, Nyonya,," Jawab Melly yang segera menghadap Ziya.
" Siapkan semua kebutuhan Demian untuk pergi ke sekolah dan juga berikan Demian sarapan setelah mengganti pakaiannya," Bilang Ziya yang memberikan perintahannya kepada Melly.
" Baik Nyonya,," Jawab Melly mengangguk.
" Bye Mommy, Demi tunggu di kamal,," Bilang Demian dengan gaya lucunya.
" Bye sayang, sarapan yang banyak ya,," Ucap Ziya sambil menciumi pipi Demian.
" Permisi Nyonya," Bilang Melly pada Ziya.
Setelah memberi hormat kepada Ziya, Melly segera melangkah keluar dari kamar majikannya ini dan saat Ziya mau masuk ke dalam kamar mandi, Vena asisten pribadinya baru saja masuk ke dalam kamarnya sambil membawa nampan yang berisikan sarapan pagi untuk majikannya ini. Setelah meletakan sarapan pagi itu ke atas meja, barulah Vena menyapa makiannya di pagi ini. Dan, setelah itu dengan segera Vena melakukan kegiatannya seperti biasa yaitu menyiapkan semua kebutuhan Ziya dalam sehari-hari.
" Selamat pagi, Nyonya,," Sapa Vena terhadap Ziya.
" Pagi,," Jawab Ziya tersenyum.
" Maaf, Nyonya sengaja saya bawakan sarapan untuk Nyonya sesuai dengan perintah yang telah diberikan Tuan kepada saya,," Bilang Vena dengan menjelaskan bawaannya itu.
" Oh ya terima kasih, Vena,," Jawab Ziya.
Lalu, ketika Ziya melihat Vena segera melakukan pekerjaan lainnya, Ziya baru teringat bahwa setiap malam Alberto sengaja selalu bermalam di kamarnya ini. Padahal, Alberto sendiri sudah ada kamar pribadinya. Tapi, setiap malam Alberto memang sengaja mengganggu aktivitas Ziya saat menidurkan Demian di kamarnya ini.
Oleh sebab itu Ziya segera menyuruh Vena untuk mengambil beberapa helai pakaian Alberto untuk tidur di kamarnya ini.
" Oh ya Vena, nanti setelah kau menyiapkan pakaianku, tolong ambilkan juga pakaian tidur Alberto dan bawa ke kamar ini,," Bilang Ziya sambil melangkah kembali masuk ke dalam kamar mandi.
" Baik Nyonya,," Jawab Vena mengangguk.
Dengan segera Ziya masuk ke dalam kamar mandinya dan melanjutkan aktivitasnya hari ini, walaupun saat ini Ziya mendapatkan sebuah mimpi yang begitu buruk dan mimpi itu juga terasa begitu nyata, namun Ziya tetap berpikir positif bahwa mimpi itu hanya sekedar bunga tidur yang menghiasi tidurnya.
Saat ini, yang sedang mengganggu pikiran Ziya adalah pernyataan Demian saat Demian bangun dari tidurnya dan menceritakan sebuah mimpi yang ia alami. Walaupun Demian seorang anak kecil, namun, pikiran dan perkataan dari anak kecil merupakan sebuah kejujuran. Oleh sebab itu Ziya begitu bingung akan ungkapan yang diberikan Demian tentang mimpinya pada Ziya.
" Siapa orang yang telah dimaksudkan oleh Demian ?" Tanya Ziya sendiri pada pikirannya.
" Apakah Mommy yang dimaksudkannya itu adalah aku sendiri atau itu Zoya ?" Tanya Ziya lagi dengan wajah bingungnya.
" Jika itu adalah Zoya, maka itu sudah jelas terjadi, bahwa Zoya saat ini dengan sengaja meninggalkan Demian seorang diri di kediaman ini,," Gumam Ziya berpikir sambil menatap wajahnya di balik cermin.
" Tapi, jika yang dimaksudkan Demian adalah aku, maka, aku tidak akan mungkin sanggup untuk meninggalkan Demian. Bagiku, Demian adalah putraku sendiri, aku tidak mau seperti Zoya yang tega memilih pergi dengan orang lain dan sengaja meninggalkan putranya seorang diri,," Gumam Ziya yang berpikir tentang maksud ucapan dari Demian.
" Demian sayang, andai saja kau terlahir dari rahimku ini, aku berjanji, aku tidak akan pernah bisa untuk berpisah denganmu sayang,," Gumam Ziya sambil menatap wajahnya sendiri dan mengingatkan tingkah lucu dari putranya itu saat sedang bersama dengannya.
Tak terasa bulir air mata yang begitu bening mengalir lembut membasahi pipinya Ziya. Karena, Ziya merasa begitu sangat mengasihani keponakannya itu yang sudah ditinggalkan oleh Ibu kandungnya sendiri. Dan, Ziya begitu berharap bahwa Demian adalah putranya sendiri, jika, Demian adalah putranya sendiri pasti saat ini dia sudah merasa begitu bahagia dan bangga, karena, sudah memiliki seorang putra yang begitu pintar dan berbakat seperti Demian.
Sudah lama, Ziya berharap bahwa Demian itu adalah putranya, saat Ziya pertama kali datang ke kediaman Alexandre dan disambut oleh Demian, disaat itu juga Ziya merasa tidak asing dengan keponakannya ini, padahal selama ini Ziya tidak pernah bertemu dan tidak pernah tahu bagaimana wajah dari keponakannya itu. Setelah Ziya bertemu saat pertama kali itu, barulah Ziya tahu bahwa putra dari kembarannya ini begitu sangat cerdas dan membuatnya selalu bangga. Oleh sebab itu, Ziya setiap hari semakin menyayangi putra dari kembarannya ini dan juga Ziya tidak pernah menganggap Demian selama ini seperti keponakannya melainkan seperti putra kandungnya sendiri.
" Semoga mimpi yang dialami oleh Demian hanya sekedar bunga tidur saja dan itu semua bukanlah suatu hal yang nyata." Ucap Ziya sambil berharap suatu hal yang baik untuk putranya itu.
Setelah selesai memikirkan suatu hal tentang pernyataan yang disampaikan oleh Demian, barulah Ziya melakukan rutinitas sehari-harinya dimulai dari mandi, menggantikan pakaiannya dan juga sarapan.
Sementara itu, Vena yang baru saja keluar dari kamarnya Alberto mengambil pakaian majikannya itu, tak sengaja Vena melihat seorang gadis remaja yang baru-baru ini memang sudah lengket dengan kelembutan dan kasih sayang dari majikannya itu yaitu Ziya.
" Nona Isabelle,," Sapa Vena terhadap Isabelle.
" Vena, apakah Mommy sudah bangun dari tidurnya ?" Tanya Isabelle dengan suara yang sopan.
" Sudah, Nona,," Jawab Vena.
" Eeemmm, Mommy sudah berjanji mau mengantarkan Belle ke sekolah, apakah Mommy bisa mengantar Belle ?" Tanya Isabelle lagi pada Vena.
" Eeemmm, maaf Nona Vena tidak tahu, lebih baik Nona masuk saja dan bertanya langsung pada Nyonya,," Jawab Vena sambil tersenyum kepada Isabelle.
" Tidak, Vena lebih baik Belle tunggu Mommy disini saja,," Bilang Isabelle yang merasa masih sedikit takut jika ia bertemu dengan Alberto.
Walaupun Alberto sudah memeluknya dan menganggapnya seperti anak sendiri, tapi, hal itu masih saja membuat perasaan takut dalam hatinya. Isabelle takut jika nantinya ia dikembalikan ke tempat Ibu kandungnya yang tidak memperdulikan kehadirannya.
Saat ini Isabelle sudah merasa nyaman dengan adanya Ziya yang memberikan sebuah kasih sayang begitu tulus pada dirinya, oleh sebab itu, Isabelle lebih memilih tetap tinggal di kediaman Alexandre ini, karena, ia tidak mau berpisah dari sebuah kasih sayang yang telah ia inginkan selama ini.
Vena merasa bingung dengan ekspresi wajah yang ditampakkan dari nona muda dihadapannya ini. Terlihat begitu tegang ketika Vena menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam kamar pribadi Ziya.
" Tidak apa-apa Nona, di dalam tidak ada siapapun, selain Nyonya Zoya yang sedang mandi,," Jawab Vena dengan memberitahukan kegiatan majikannya saat ini.
" Eemmm, lebih baik Belle tunggu disini saja dan Belle minta bantuan dari Vena untuk mengatakan bahwa Belle sedang menunggu Mommy untuk mengantar Belle ke sekolah." Ucap Isabelle yang masih saja lebih memilih menunggu Ziya diluar.
" Baik, tunggu sebentar ya Nona,," Bilang Vena sambil tersenyum kepada Isabelle.
" Terima kasih Vena,," Ucap Isabelle mengangguk.
Lalu dengan perlahan Vena membuka pintu kamar Ziya dan melangkah masuk ke dalam, saat ini Ziya sedang menikmati sarapannya dan melihat Vena masuk ke dalam kamar sambil membawakan semua pakaian Alberto yang sudah diminta oleh dirinya itu.
" Permisi, Nyonya, ini semua pakaiannya Tuan Besar," Bilang Vena sambil menunjukkan pakaian Alberto yang ada di tangannya.
" Oh ya terima kasih, Vena letakkan saja di tempat biasa,," Ucap Ziya sambil menunjuk tempat biasa Vena meletakkan pakaian khusus untuk Alberto.
" Baik Nyonya," Jawab Vena mengangguk.
" Oh ya, Nyonya, kebetulan diluar Nona Isabelle sedang menunggu Nyonya." Ucap Vena lagi yang memberitahukan bahwa Isabelle putrinya Alberto sudah menunggunya.
" Akh!! Bella, kenapa tidak dibawa masuk,," Bilang Ziya yang sedikit tercengang mendengar laporan dari Vena bahwa Isabelle sedang menunggunya diluar.
" Sebenarnya, saya sudah mengajaknya masuk ke dalam Nyonya, tapi, Nona Isabelle hanya ingin menunggu Nyonya diluar saja," Bilang Vena yang menyatakan perkataan yang disampaikan oleh Isabelle.
" Heemmm, ya sudah biar saya saja langsung menemuinya," Bilang Ziya yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
Vena mengangguk ketika mendengarkan perkataan Ziya, lalu, Vena sendiri meletakkan pakaian Alberto ke dalam ruangan yang biasa digunakan untuk menyiapkan semua pakaian Ziya. Dan, Ziya segera melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Saat Ziya melihat Isabelle yang sedang duduk di atas sofa di depan kamarnya dengan memberikan senyuman, Ziya segera menghampiri gadis cantik yang sedang duduk itu.
" Kenapa hanya duduk di luar,," Gumam Ziya saat menyapa Isabelle yang sedang duduk menunggunya.
" Mommy,," Ucap Isabelle menoleh ketika melihat Ziya menyapanya.
" Heemmm kenapa tidak masuk ke dalam ?" Tanya Ziya lagi pada Isabelle.
" Belle hanya tidak mau mengganggu aktivitas Mommy dan Daddy,," Bilang Isabelle yang membuat Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya.
" Daddy sedang tidak ada di dalam sayang, Daddymu sudah pergi sebelum Mommy bangun tidur." Jawab Ziya menjelaskan keberadaan Alberto.
" Oohh, Belle pikir Daddy ada di dalam,," Bilang Isabelle lagi sambil tersenyum malu.
" Hehe tidak ada sayang, sudah siap untuk pergi ke sekolah ?" Tanya Ziya pada Isabelle.
" Yes Mom,," Jawab Isabelle penuh semangat.
" Ya sudah, ayo, Mommy akan mengantar Belle sampai ke sekolah." Ucap Ziya yang mengajak Isabelle untuk segera berangkat.
" Baik Mom, terima kasih,," Bilang Isabelle tersenyum senang.
" Tunggu sebentar ya sayang, Mommy mau ke kamar adikmu, dulu,," Bilang Ziya kepada Isabelle yang segera melangkah menuju ke arah kamar Demian.
" Oke Mom, Belle tunggu disini,," Ucap Isabelle sambil menunggu Ziya di depan tangga.
Ziya segera melangkah menuju ke arah kamarnya Demian dan terlihat Vena baru saja keluar dari kamarnya Ziya serta langsung berjalan menuju ke arah Ziya. Saat Ziya sedang ingin membuka pintu kamarnya Demian, ternyata pintu kamar itu sendiri sudah dibuka terlebih dahulu oleh Melly. Betapa senangnya wajah Demian ketika melihat Mommynya sudah ada di depan kamarnya, karena, selama ini, Ziya sudah lama tidak mengantar Demian ke sekolah lagi, semenjak kejadian yang ditimbulkan begitu banyak menimpa Ziya. Sehingga membuat waktu Ziya berkurang untuk selalu bersama menghabiskan aktivitas sehari-harinya.
" Mommy,," Teriak Demian girang ketika melihat wajah Mommynya yang ada di depan pintu.
" Ayo sayang kita berangkat,," Ucap Ziya yang merentangkan tangannya untuk menggendong Demian.
" Oke Mom, let's go," Jawab Demian bersemangat dan segera pindah ke gendongannya Ziya.
Dengan segera Ziya memutarkan tubuhnya untuk melangkah menuju ke arah tangga, setelah sampai di depan tangga barulah Ziya mengajak Isabelle untuk segera turun dari lantai dua ini.
" Oke Mom,," Jawab Isabelle.
Dengan didahului oleh Isabelle yang menuruni tangga, dari lantai bawah Krystal yang baru saja keluar dari kamarnya untuk pergi ke sekolah juga melihat betapa bahagianya Isabelle ketika sedang bersama Ziya. Namun, Krystal merasa bahwa ia tidak membutuhkan kasih sayang Ziya. Karena, Ziya sendiri juga tidak akan bisa membantu permasalahan yang sedang ia hadapi di sekolah. Oleh sebab itu, Krystal merasa enggan untuk pergi ke sekolah, tapi, harus bagaimana lagi tidak mungkin Krystal bermalas-malasan di dalam kamar hanya karena, permasalahan yang ada di sekolahnya saat ini.
" Heemmm, sepertinya Isabelle sudah begitu dekat dengan wanita itu,," Gumam Krystal yang melihat wajah Isabelle begitu bahagia.
" Aku tidak mungkin meminta wanita itu untuk ikut dalam permasalahan yang sedang aku hadapi di sekolah, karena, aku tidak begitu mempercayai sikap dan perilaku yang ia lakukan pada Isabelle, jika, saat ini ia terlihat begitu menyayangi Belle, kemungkinan di lain waktu ia tidak akan lagi baik seperti itu." Ucap Krystal ketika melihat kelakuan Ziya terhadap Isabelle.
" Oleh sebab itu, aku tidak akan pernah mempercayainya, lebih baik masalah yang sedang ku hadapi saat ini tidak perlu diketahui olehnya. Karena, masalah itu tidak akan penting baginya." Bilang Krystal lagi yang masih merasa bimbang akan sikap Ziya kepada adiknya itu.
Oleh sebab itu, Krystal memang sengaja tidak mau memberitahukan kepada siapapun tentang permasalahan yang sedang ia hadapi itu, karena, baginya di dalam dunia ini tidak ada satupun orang yang tulus memperhatikannya dan bahkan Ibu kandungnya sendiri saja tidak memperdulikan dirinya, apalagi orang lain mana mungkin ada yang tulus menyayanginya seperti anak sendiri.
Saat ini Ziya yang sedang menggendong Demian dan Isabelle yang sedang berjalan sambil beriringan tertawa bersama membuat Krystal dengan wajah cemberutnya melewati beberapa orang yang sedang tertawa itu melihatnya.
" Kak Krys,," Gumam Isabelle ketika sudah selesai menuruni tangga bersama Ziya.
" Belle, ada apa dengan Krystal ?" Tanya Ziya langsung pada Isabelle.
" Belle sendiri juga tidak tahu Mommy, karena, baru pagi ini Belle melihat Kak Krystal,," Jawab Isabelle dengan wajah yang sedih karena, ikut merasakan kesedihan Krystal juga.
" Ooohhh, baiklah kamu jangan sedih, setelah Mommy mengantar kalian sekolah, Mommy akan mencoba untuk menanyakannya langsung pada Krystal." Bilang Ziya yang memberikan semangat pada Isabelle.
" Benarkah, Mom ?" Tanya Isabelle dengan wajah yang begitu bahagia.
" Heemm, lebih baik sekarang Belle fokus untuk pergi ke sekolah ya,," Bilang Ziya lagi pada Isabelle.
" Baik Mom,," Jawab Isabelle sambil tersenyum.
Ketika Ziya kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari kediaman, di sela langkahnya itu, Demian menanyai Ziya tentang hal yang sedang dialami oleh Krystal.
" Memangnya ada apa dengan Kak Kystal, Mom ?" Tanya Demian dengan wajah polosnya.
" Heemmm, tidak apa-apa sayang, mungkin Kak Krystal sedang tidak enak badan." Jawab Ziya dengan suara lembutnya.
" Ooohhh, begitu, sebenalnya Demi sayang pad Kak Kystal, hanya Demi takut pada Kak Kystal, Kak Kystal sering malahin Demi,," Bilang Demian sambil menempelkan kepalanya di pundak Ziya.
" Heemm benar sayang, Demi memang anak Mommy yang paling pintar," Ucap Ziya sambil mencium lembut kening Demian.
" Walaupun, Kak Kystal sering marahin Demi, bukan berarti Demi harus membenci Kak Krystal, melainkan tetap harus memberikan sebuah pengertian pada Kak Krystal bahwa kakak dan adik tidak boleh saling menyakiti, melainkan harus saling menyayangi,," Bilang Ziya lagi yang memberikan nasehat kepada Demian sekaligus Isabelle.
Walaupun secara tidak langsung Ziya menasehati Isabelle, namun sebagai anak yang sudah remaja Isabelle pasti sudah memahami maksud dari perkataan Ziya.
" Lebih baik, aku harus kembali mendekati Krystal dan mencari tahu masalah apa yang sedang terjadi dengannya." Gumam Ziya dalam hati, sambil melangkahkan kakinya kembali ke arah mobil.
Ziya merasa heran kenapa wajah Krystal yang sengaja melintasi alur perjalanan mereka dengan ekspresi yang begitu sendu dan cemberut, Ziya ingin sekali memanggilnya, namun saat ini rasanya belum tepat untuk Ziya mendekati Krystal lagi. Karena, terlihat dari wajah Krystal yang begitu cemberut itu.
Saat ini, Ziya dan Demian sudah menaiki mobil yang khusus digunakan untuk mengantar sang pewaris Alexandre pergi ke sekolahnya, sehingga mobil ini lebih baik dan bagus dibandingkan mobil putri Alberto yang lainnya. Sementara itu, mobil yang mengantarkan Krystal untuk pergi ke sekolah sudah lebih duluan keluar dari pekarangan kediaman Alexandre.
Dan, dengan manjanya Isabelle ikut memasuki mobil Demian, padahal mobil untuk mengantarnya ke sekolah sudah tersedia di sana. Namun, Isabelle lebih memilih selalu bersama Ziya saat ini. Saat Isabelle masuk ke dalam mobilnya Demian, Demian sendiri merasa heran lagi atas sikap Isabelle yang selalu menempel pada Mommynya.
" Kak Belle, kenapa masuk ke dalam mobil ini juga ?" Tanya Demian heran pada Isabelle.
" Karena, Kak Isabelle mau ikut mengantar Demian pergi ke sekolah juga," Jawab Ziya langsung kepada Demian sambil tersenyum, ketika melihat Isabelle ikut masuk ke dalam mobil Demian.
" Heemm, betul sekali, Mom Karena Kak Belle mau ikut mengantar Demian pergi ke sekolah juga, tidak apa-apa bukan jika Kak Belle naik mobil Demi ?" Tanya Isabelle dengan wajahnya yang sudah akrab dengan Demian.
" Eemmm tidak apa-apa, justlu Demian senang jika Kak Belle mau ikut mengantal Demi pelgi sekolah,," Jawab Demian sambil tersenyum senang.
" Pintar, putra Mommy ini memang anak yang paling baik,," Bilang Ziya memuji kebaikan Demian di usia mudanya ini.
Begitulah Demian selalu baik dan senang jika semakin banyak orang yang menyayanginya, walaupun selama ini, Isabelle tidak pernah menyapa Demian dan bahkan tidak pernah menganggap Demian seperti adiknya sendiri. Demian tidak pernah merasa sedih ataupun kecewa atas sikap dan tindakan yang dilakukan oleh kedua kakak perempuannya ini. Walaupun Demian tidak tahu jika Kakak perempuannya ini bukanlah Kakak kandungnya, bagi Demian yang terpenting adalah Demian merupakan seorang anak laki-laki dan adik dari kedua kakak perempuan. Oleh sebab itu Demian tidak pernah mempermasalahkan persoalan sikap yang dilakukan oleh Kakaknya selama ini terhadap dirinya.
Mobil yang sudah dinaiki oleh Tuan Muda, majikan besar dan juga majikan muda segera meluncur ke sekolahnya masing-masing. Saat ini mobil yang meluncur itu pertama sekali menuju ke arah sekolahnya Demian. Karena, letak sekolah Demian tidak terlalu jauh dari kediamannya Alexandre. Oleh sebab itu, mobil ini lebih dahulu datang ke sekolah ini.
" Bye sayang," Bilang Ziya setelah memberikan kecupan hangat untuk putranya ini.
" Bye Mommy,," Jawab Demian sambil melambaikan tangannya dan tersenyum lucu.
" Sekolah yang pintar ya sayang, supaya bisa membanggakan Mommy and Daddy,," Bilang Ziya yang selalu memberikan nasehat terbaik untuk direkam pada sistem otak Demian.
" Oke Mom,," Jawab Demian sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolahnya.
Setelah selesai mengantarkan Demian ke sekolah dan mempercayakan Demian kepada Melly serta pengawal pribadi yang selalu menjaga Demian, barulah mobil itu meluncur ke arah sekolah Isabelle yang cukup jauh dari sekolahnya Demian. Saat tiba di depan gerbang sekolah, barulah Isabelle turun dan juga Ziya dari dalam mobil. Ziya memandangi sekolah Isabelle sangat bagus dan juga terlihat jelas begitu mewah. Bahkan Vena tercengang saat melihat tempat sekolah Isabelle.
" Terima kasih Mommy sudah bersedia mengantar Belle ke sekolah,," Bilang Isabelle setelah turun dari mobil.
" Iya sayang, sekolah yang rajin ya dan jangan lupa untuk selalu mengingat pesan dari Daddy supaya Belle sendiri bisa menjadi kebanggaan Daddy." Ucap Ziya yang memberikan ingatan kembali tentang perkataan Alberto di malam Alberto memeluk Isabelle untuk pertama kalinya.
" Baik Mom, Belle akan selalu mengingatnya,," Jawab Isabelle sambil tersenyum.
" Mommy pulang dulu, hati-hati di sekolah,," Bilang Ziya lagi kepada Isabelle.
" Ya Mom, Mommy juga hati-hati di jalan,," Ucap Isabelle yang juga memberikan pesan kepada Ziya.
Ziya segera masuk ke dalam mobil lagi dan Isabelle sendiri melambaikan tangan kepada Ziya sambil tersenyum. Tak lama kemudian, mobil itu meluncur menjauhi sekolahnya Isabelle. Sudah beberapa siswa dan bahkan guru melihat Isabelle yang baru saja diantar menggunakan mobil mewah khas milik keluarga Alexandre. Semua siswa yang selama ini tidak bersedia untuk berteman dengan Isabelle seolah-olah bertanya heran pada Isabelle. Memangnya Isabelle ada hubungan apa dengan keluarga kaya Alexandre dan juga seorang aktris terkenal yaitu Zoya Alexandre.
Karena, sebenarnya selama ini Alberto sengaja tidak memberitahukan kepada semua publik siapa saja keluarga Alexandre yang begitu ia cintai. Jika banyak orang yang mengetahui jejak-jejak keluarga Alexandre dan keluarga terdekat Alberto, maka dengan begitu mudah semua musuh akan menyerang keluarganya yang sedang berada di luar. Oleh sebab itu, semua temannya Isabelle tidak ada yang tahu bahwa Isabelle adalah putri dari Alberto Alexandre. Walaupun bukan putri kandungnya sendiri, Alberto begitu menyayangi putrinya ini, jadi, dengan sengaja Alberto menutupi identitas nama belakang putrinya itu.
Salah satu temannya Isabelle yang menjadi teman akrab Isabelle hanya satu orang saja, walaupun dia anak orang biasa tapi, Isabelle begitu akrab dengannya, karena, hanya Vezel saja yang mau berteman dekat dengan Isabelle.
" Hai, Belle, aku lihat kau barusan diantar oleh seorang wanita yang begitu familiar dan mobilnya mewah sekali ?" Tanya Vezel saat menghampiri Isabelle.
" Heemm, benar barusan aku diantar oleh Mommyku,," Jawab Isabelle dengan bangga.
" Benarkah, wanita yang mengantarmu tadi Mommymu ?" Tanya Vezel lagi dengan wajah yang ternganga.
" Heemm that's right, dia Mommyku,," Jawab Isabelle lagi sambil melangkahkan kakinya.
" Bukannya wanita itu Zoya Andricha, benar tidak ?" Tanya Vezel lagi pada Isabelle.
" Heemm benar sekali dia adalah Zoya Andricha model entertainment yang terkenal itu dan Vezel karena kau telah jelas melihatnya maka aku jujur untuk menjawabnya." Bilang Isabelle lagi dengan wajah penuh kebanggaan.
" Ooohh ya ya aku percaya itu, karena, kau putri dari Alberto Alexandre jadi aku percaya itu,," Ungkap Vezel yang sudah lama mengetahui siapa sebenarnya Isabelle.
Tiba-tiba beberapa teman yang sebaya dengan Isabelle segera bertanya langsung kepada Isabelle dan juga Vezel, apakah benar wanita yang mengantarkan Isabelle adalah Zoya Andricha. Dan, dengan penuh kebanggaan tersendiri Isabelle menjawabnya santai dan tersenyum senang. Karena, baru kali ini semua teman di sekolahnya tahu bahwa ia juga memiliki seorang Ibu dan Ibunya merupakan orang yang begitu terkenal akan kepintaran dan juga kecantikannya itu. Sehingga tidak ada lagi orang yang akan berkomentar bahwa selama ini Isabelle adalah anak miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Dan, Isabelle bisa disekolahkan di sekolah yang begitu mewah ini hanya karena, bantuan dari Alberto Alexandre untuk dirinya.
" Aku tidak percaya, jika Isabelle itu keluarga dekat dari Alberto Alexandre. Daddy ku saja yang bekerja di perusahaan Alexandre memiliki mobil yang mewah, sedangkan, Isabelle tidak pernah diantar menggunakan mobil mewah, berarti dia itu hanya sekedar dikasihani oleh Alberto Alexandre Tuan Besar dari perusahaan tempat Daddy ku bekerja, hehehe,," Ucap salah satu siswa perempuan saat Isabelle baru masuk ke dalam kelasnya.
" Benar, aku juga tidak percaya jika Isabelle memiliki hubungan dekat dengan keluarga Alexandre. Ya, paling dia hanyalah anak dari para pelayan disana,," Bilang satu siswa lagi yang sengaja mencibir Isabelle.
Saat masuk ke dalam kelasnya, Isabelle hanya diam saja tidak mau berurusan dengan perkataan yang sengaja dilontarkan dari beberapa siswa yang mencibirnya itu. Isabelle hanya bisa terdiam karena teringat akan suatu pesan yang disampaikan oleh Ziya bahwa ia harus sekolah mencari ilmu pendidikan yang baik dan benar. Agar dirinya bisa memberikan kebanggaan tersendiri kepada Alberto Daddynya itu.
" Sabar Belle, mereka semua tidak tahu jika kau sebenarnya memang putri dari Alberto Alexandre,," Gumam Vezel yang menepuk pundak Isabelle sambil memberikan semangat.
" Aku tidak memperdulikan perkataan mereka yang terpenting aku akan mengingat nasehat dari Mommy Zoya bahwa aku harus bisa mendapatkan ilmu pendidikan dan membuat Daddy merasa bangga padaku,," Jawab Isabelle dengan wajah santainya.
" Nah itu baru benar, aku salut padamu,," Bilang Vezel dengan wajah ceria dan memberikan jempolnya tepat di hadapan Isabelle.
Isabelle segera melangkahkan kakinya menuju dimana tempat duduknya selama menempuh pendidikan di sekolah ini. Sementara itu, Ziya sengaja meminta supir pribadi mobil Demian untuk pergi ke sekolah Krystal dengan tujuan bahwa Ziya ingin mengawasi pergerakan dari Krystal yang membuatnya harus mencari tahu hal itu.
" Bawa saya ke sekolah Krystal sekarang juga,," Bilang Ziya yang memberikan perintah kepada supirnya itu.
" Baik Nyonya,," Jawab supir mengangguk yang mentaati perintah dari Nyonya besar.
Dengan segera mobil itu meluncur cepat ke arah sekolah Krystal. Tak lama kemudian, mobil itu tiba di sebuah sekolah yang juga sama megahnya dengan sekolah Isabelle tadi. Selama ini, memang Ziya tidak tahu dimana saja letak sekolah kedua putri Alberto itu, baru kali ini Ziya mengetahui bahwa kedua putri Alberto itu disekolahkan di tempat yang sangat bagus.
Saat itu mobil Demian berhenti dan Ziya sama sekali tidak keluar dari dalam mobilnya, Ziya hanya memerintahkan Vena untuk masuk ke sekolah menanyakan tentang Krystal. Karena, baru kali ini Krystal terlihat begitu diam dan selalu cemberut.
" Vena, segera kau tanyakan pada bagian sekolah tentang keadaan Krystal jika sedang berada di sekolahnya." Bilang Ziya yang memberikan perintah kepada Vena.
" Baik Nyonya,," Jawab Vena yang duduk di sebelah supir.
Vena segera turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbang sekolah, saat di gerbang sekolah Ziya melihat dengan jelas bahwa saat ini Vena sedang berbicara dengan seorang pria dan terlihat bahwa pria itu adalah penjaga sekolah ini. Ziya melihat bahwa pria itu memberikan sebuah amplop pada Vena. Setelah selesai berbicara dan memberikan hormat, Vena segera melangkahkan kakinya kembali ke arah mobil Ziya yang sedang berhenti.
" Kenapa, Vena tidak jadi masuk ke dalam sekolah untuk menanyakan tentang Krystal ?" Tanya Ziya dengan wajah penasaran.
Saat, Vena sudah dekat dengan mobil dan Vena segera masuk ke dalam mobil, lalu memberikan sebuah amplop yang dibawakannya dari pria penjaga sekolah tadi.
" Ini Nyonya ada sebuah amplop pemanggilan orang tua Nona Krystal yang baru saja diberikan dari pihak sekolah satu minggu lalu, namun Nona Krystal tidak mau membawanya." Bilang Vena setelah memberikan sebuah amplop kepada Ziya.
" Apa ?" Tanya Ziya yang terkejut.
Betapa terkejutnya Ziya ketika mendengarkan ucapan Vena yang memberikan amplop pemanggilan orang tua dari pihak sekolah untuk Krystal, tapi, Krystal sendiri tidak mau membawanya dan memberikannya kepada Alberto. Ziya merasa bahwa Krystal selama ini kemungkinan merasa tidak diperhatikan dan tidak dipedulikan oleh Alberto dan juga Ibunya sendiri oleh sebab itu Krystal sengaja tidak mau memberitahukan masalahnya itu kepada siapapun.
****