
Ziya sengaja berteriak di dalam kamarnya itu, secara tidak langsung ingin memberitahukan Alberto bahwa, ia sangat ingin keluar dari kamar ini. Untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Yaitu membuat hasil karya kemampuannya terdahulu. Yang sudah lama tidak ia lakukan.
" Alberto,, aku ingin sekali keluar,," Ucap Ziya dalam hatinya sambil memandangi pemandangan yang berada di luar jendela.
Saat Ziya memandangi pemandangan di luar jendela, Ziya tak sengaja melihat ada tanaman liar yang hidup di dekat danau buatan yang ada di dekat taman samping kamar Alberto. Dan, sepertinya Ziya sedikit tertarik dengan tanaman itu, mengingatkan kemampuan yang ia miliki selama ini.
" Hah!! itu bukannya tanaman yang biasa dijadikan bahan penelitian ku untuk membuat,,," Ucap Ziya sedikit tertarik dengan tanaman yang terlihat seperti tanaman yang biasa digunakan Ziya untuk membuat sesuatu hal yang beracun.
" Aduuhhh,, Alberto, kalau aku bisa terbang ke sana, aku sudah pasti berada di sana,," Gumam Ziya yang sangat ingin sekali mendekati dan memeriksa kondisi tanaman yang berada di pandangan matanya itu.
Sementara itu,,
Alberto baru saja sampai ke kantornya dan segera melangkahkan kaki menuju ke ruangannya. Setelah sampai ke dalam ruangannya, seorang asisten pribadi khusus di dalam kantor masuk ke dalam ruangan dan segera memberikan sebuah kotak berisi undangan pesta yang perlu dihadiri oleh Alberto dan juga istrinya.
" Maaf, Tuan, Ini undangannya,," Lapor asisten pribadi Alberto yang meletakkan sebuah kotak di atas meja kerja Alberto.
" " Heemm,," Jawab Alberto mengangguk.
Setelah selesai meletakkan kotak undangan itu, dengan segera asisten pribadi Alberto itu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Alberto segera mencegahnya dan meminta asistennya itu untuk membuka kotak berisi undangan tersebut.
" Tunggu,," Cegah Alberto pada pergerakan asistennya.
" Iya, Tuan,," Jawab asistennya dengan segera membalikkan tubuhnya menghadap Alberto lagi.
" Kau bukakan dulu kotak itu lalu, ambil undangannya,," Ucap Alberto yang memerintahkan asistennya itu untuk membuka kotak undangan tersebut.
" Baik, Tuan,," Jawab asisten Alberto dengan segera melangkahkan kakinya menuju ke meja lagi.
Tanpa berpikir panjang lagi, asisten Alberto itupun membukanya, Alberto memperhatikan gerakan asistennya itu, Dengan sengaja Alberto menyuruh asistennya untuk membuka kotak yang disebutkan berisi undangan pesta.
" Aku ingin lihat, apakah itu benar undangan atau,," Gumam Alberto dalam hati sambil memperhatikan gerak-gerik asistennya membuka kotak tersebut.
Dalam seketika tidak terjadi apa-apa pada asistennya, dan Alberto melihat dengan jelas bahwa isi dalam kotak memang merupakan undangan pesta.
" Heh!! ternyata pikiranku saja,," Gumam Alberto sedikit menaikkan ujung bibirnya.
Alberto berpikir bahwa isi dalam kotak itu bukan undangan pesta melainkan undangan untuk dirinya berperang. Dengan segera asistennya itu memberikan undangan tersebut pada Alberto.
" Ini, Tuan,," Ucap asistennya pada Alberto.
Alberto hanya menganggukkan kepalanya dan memerintahkan asistennya untuk meletakkan undangan tersebut di atas mejanya, sementara itu, Alberto sendiri sedang mengambil sesuatu dari lemari kerjanya.
" Sepertinya, aku akan membutuhkan ini,," Ucap Alberto saat mengambil sesuatu di dalam lemari kerjanya itu.
Setelah selesai mengambil sesuatu hal yang terlihat tidak penting, dan memasukkannya ke dalam jasnya itu, Alberto segera mengambil dan membawa pulang kertas undangan tersebut untuk diberikan kepada Ziya.
" Aku ingin lihat, bagaimana reaksi wajahnya saat aku memintanya hadir ke pesta ini,," Ucap Alberto tersenyum dan segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya itu.
Setelah sampai di lobby depan, dengan sigap mobil Alberto telah menyambut kedatangan Alberto untuk masuk ke dalamnya. Alberto segera memasukkan tubuhnya ke dalam mobil.
" Segera kembali ke rumah,," Ucap Alberto yang memerintahkan sesuatu pada supirnya.
Sang supir mengangguk saat mendengar perintahan dari Alberto.
Di dalam kamarnya, saat ini mata Ziya sedang menatap dan memperhatikan jelas tanaman itu dari kejauhan, walaupun dari kejauhan Ziya bisa memperhatikan tanaman itu, karena, Ziya begitu ingat akan manfaat dan kegunaan dari tanaman tersebut baginya.
Dalam seketika, Ziya kembali ke arah jendela yang memperlihatkan keadaan depan, apakah di luar, Demian atau Alberto sudah kembali ke rumah. Ternyata saat ini belum ada satu mobil pun yang datang ke rumahnya ini.
" Uuuhhh,," Suara Ziya yang terdengar seperti sedang mendengus.
Wajah Ziya saat ini memang terlihat seperti sedang cemberut, merasa sendiri dan kesepian di dalam kamar. Ziya ingin sekali disaat seperti ini dia memiliki aktivitas seperti biasa. Saat masih kuliah di sebuah universitas, saat itu Ziya banyak sekali melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya juga pastinya bagi keselamatannya sendiri.
Tidak seperti saat ini, hanya bisa berdiam diri di dalam kamar, tanpa melakukan apapun. Membuat dirinya sangatlah bosan hidup terkurung seperti ini.
" Heeehhh!! coba kalau Alberto mengizinkan aku keluar, pasti aku tidak akan merasa bosan seperti ini," Ucap Ziya sambil memandang sesuatu di luar.
Berharap Alberto akan cepat pulang dan Alberto bisa mengizinkan dirinya untuk pergi ke danau samping kamar Alberto ini.
" Aku ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat bagiku dan juga bagi orang banyak,," Bilang Ziya lagi yang masih menatap arah luar jendela.
Ternyata dari lamunan Ziya itu, membuahkan hasil, terlihat dari kejauhan tampak seperti ada beberapa mobil yang masuk, Ziya sudah mengetahui kalau itu pasti mobilnya Alberto. Pastinya membuat Ziya sangat senang, bukannya Ziya senang Alberto telah kembali melainkan, ada maksud dari hatinya untuk melakukan sesuatu hal sesuai kemampuannya yaitu membuat penemuan racun terbaru.
Racun tersebut hanya berguna untuk menyelamatkan nyawanya saat dalam keadaan darurat. Oleh sebab itu Ziya sangat menyukai melakukan penelitian dan penemuan terhadap hal yang berhubungan dengan racun.
" Aaahh itu pasti mobil Alberto,," Ucap Ziya senang begitu terlihat dari wajahnya saat memandang mobil Alberto dari kejauhan.
" Aku akan melambaikan tanganku padanya,," Gumam Ziya terlihat senang saat matanya melihat beberapa baris mobil yang masuk ke wilayah pekarangan taman istana Alberto itu.
Ziya seperti ingin melambai-lambaikan tangannya pada mobil Alberto.Tapi, hal itu tidak mungkin, karena, Alberto kemungkinan tidak akan suka akan kelakuannya seperti anak kecil.
" Aahhh,, tidak, tidak,, aku tidak akan melakukan itu, Alberto tidak akan suka akan tindakanku yang terlihat seperti anak kecil." Ucap Ziya seketika mengurungkan niatnya.
" Aahhh,, lebih baik aku menyambutnya saja,," Bilang Ziya yang segera berlari kecil ke ruang santai di bagian luar kamar pribadinya ini.
Jadi niat hatinya untuk mencandai Alberto diurungkannya. Sehingga ia pun dengan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar pribadi ini menuju ruangan santai di depan ruang tidur pribadi Alberto.
Ziya yang sedang menunggu di ruangan santai, sudah duduk manis menatap pintu dibuka oleh Alberto.
Tak lama kemudian,,
Pintu kamar Alberto terbuka dan pastinya itu membuat wajah Ziya sangat senang sekali. Seketika Ziya teringat bahwa ia ingin sekali keluar dari kamar sehingga, ia sengaja memasang wajah cemberutnya. Dengan rencananya ini, siapa tahu bisa diizinkan oleh Alberto untuk keluar.
" Tidak perlu pasang wajah gembira saat dia kembali, aku harus mengubah wajahku menjadi cemberut,," Gumam Ziya dalam hatinya dengan sebuah rencananya itu.
Alberto melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan langsung melihat Ziya sedang duduk menatap jendela luar. Alberto berpikir apa yang sedang Ziya lakukan, duduk melamun sambil menatap ke arah luar jendela.
" Apa yang sedang dia lakukan,," Tanya Alberto dalam hatinya.
Ziya memang sudah sengaja untuk tidak menatap wajah Alberto saat Alberto pulang seperti ini. Lalu, Alberto berpikir, kenapa Ziya tidak menegurnya.
" Baik, aku yang terlebih dahulu menyapamu,," Ucap Alberto sambil tersenyum mendekati Ziya.
Alberto segera melangkahkan kakinya mendekati tempat Ziya yang sedang duduk. Lalu, Alberto dengan segera duduk di samping Ziya sambil memeluk pinggang Ziya dengan erat.
" Apa yang sedang kau lakukan, sayang,," Tanya Alberto pada Ziya sambil memeluk erat pinggang Ziya dan menciumi bahu Ziya dengan lembut.
" Kau sudah pulang,," Tanya Ziya balik pada Alberto, yang terlihat sekali bahwa dirinya berpura-pura tidak mengetahui bahwa Alberto sudah pulang.
Mendengar ucapan Ziya yang begitu terlihat dengan jelas bahwa dirinya itu berpura-pura tidak melihat dan tidak mengetahui kepulangan Alberto. Membuat Alberto segera mengangkat tubuh Ziya berpindah ke pangkuannya.
" Kau pura-pura tidak melihatku pulang atau, kau memang sengaja bersandiwara,," Ucap Alberto yang mendekatkan bibirnya di bagian telinga Ziya.
Saat Alberto melakukan itu membuat Ziya merasa geli dan sedikit menjauhi wajahnya dari Alberto.
" Memang aku tidak tahu,," Jawab Ziya yang terlihat gemas sekali bagi Alberto.
Lalu, dengan cepat Alberto memindahkan tubuh Ziya di atas pangkuannya. Sontak membuat Ziya berteriak kaget atas tindakan Alberto ini.
" Aaakkkhh,, Alberto," Suara Ziya yang berteriak kaget saat tubuhnya dengan sengaja diangkat oleh Alberto.
" Apa yang kau lakukan,," Bilang Ziya yang menatap jelas wajah Alberto.
Melihat wajah Ziya yang sedikit kaget dan terlihat sangat gemas sekali membuat adek kecil milik Alberto yang di bawah sedikit naik, karena, merasakan paha dan punggung Ziya telah berada dalam pangkuannya itu.
" Tidak lihat atau,,," Ucap Alberto yang sudah mengangkat tubuh Ziya ke dalam pangkuannya.
" Aku memang tidak melihatmu, Alberto," Ucap Ziya dengan wajah yang terlihat begitu serius.
" Heemm, benarkah,," Tanya Alberto seketika memeluk erat pinggang Ziya.
" He'em,," Jawab Ziya mengangguk dan terlihat sekali di wajahnya mengundang gelora asmara di dalam tubuh Alberto.
Dengan segera Alberto menciumi bibirnya Ziya, sesaat Ziya kaget melihat kelakuan Alberto yang langsung menyergap bibirnya tanpa aba-aba sedikitpun.
" Uuummmmppp, Alberto,," Ucap Ziya yang terdengar saat bibirnya telah dimakan rakus oleh Alberto.
Mendengar suara Ziya yang tersendat itu, membuat Alberto segera melepaskan ciumannya dan meminta izin dari Ziya untuk menciumi bibirnya itu.
" Sebentar saja sayang aku sangat merindukanmu,," Pinta Alberto menatap dalam wajah Ziya.
Ziya mengerti akan keinginan Alberto, lalu Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya dan mengangguk.
Saat ini, Ziya cukup merasakan dulu kenikmatan yang diberikan Alberto dari bibirnya itu, karena, Ziya juga ingin meminta sesuatu dari Alberto, siapa tahu hatinya Alberto luluh dan menyetujui perihal keinginannya itu.
Cukup lama Alberto menge-cup lembut bibir Ziya, melahap habis mulut Ziya hingga membelit-belit lembut lidah Ziya. Terlihat saya ini Ziya juga sedang mengikuti arus dari bibir Alberto yang sedang memberikan buaian lembut pada bibirnya itu.
Alberto masih tetap dengan posisinya yang memangku tubuh Ziya, sementara itu, Ziya yang telah termakan arus dengan sengaja melingkarkan tangannya di leher Alberto dan semakin mempererat ciuman yang dilakukan oleh mereka berdua.
Semakin lama semakin panas ciuman yang dilakukan oleh dua insan yang sedang terbuai arus indah ini, sehingga membuat tangan Alberto dengan sengaja menelusup masuk ke dalam baju Ziya untuk mengelus-ngelus lembut bagian punggung Ziya.
Ziya merasa sangat geli sekali atas perlakuan Alberto yang sengaja mengelus-ngelus lembut bagian punggungnya. Sesaat Ziya berpikir bahwa tubuhnya juga menginginkan kehangatan yang sedang diberikan oleh Alberto saat ini. Dengan segera tangan Ziya membuka satu persatu baju yang dipakai oleh Alberto, mulai dari membuka jas Alberto lalu menarik dasi Alberto yang masih dipakai, tanpa melepaskan ciuman yang dilakukan oleh mereka berdua.
Sesaat, Alberto menyetujui tindakan Ziya sehingga membuat dirinya juga membuka kancing baju Ziya satu persatu.
Karena, merasa keadaan sudah terasa sangat panas dan bergelora, Alberto dengan lembut melepaskan ciumannya. Lalu, berbisik lembut di depan wajah Ziya.
" Aku menginginkanmu sayang, aku sangat merindukanmu,, maukah kau melakukannya,," Tanya Alberto yang meminta izin terlebih dahulu pada Ziya sebelum melakukan hubungan yang lebih mendalam lagi.
Saat ini sikap Alberto pada Ziya sangat lembut sekali, jika ingin bercinta dan melakukan sesuatu aktivitas pada tubuh Ziya pastinya Alberto terlebih dahulu meminta izin kepada Ziya.
" Heemm,, lakukan apa yang ingin kau lakukan,," Ucap Ziya menatap lembut wajah Alberto.
Mendengar ucapan Ziya itu Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya, membuat Ziya yang menatap senyuman itu, tanpa sadar mencium lembut bibir Alberto. Sehingga membuat Alberto menahan kepala Ziya.
" Uumm, Alberto,," Ucap Ziya tersengal-sengal.
" Kau yang terlebih dulu mencium ku, jadi aku cuma menahannya." Jawab Alberto tersenyum lagi.
" Eemmm,, aku hanya terbuai dengan senyuman yang kau tunjukkan ini,," Bilang Ziya sambil menyentuh lembut bibir Alberto.
Sontak Alberto tertawa mendengar ucapan Ziya, yang ternyata sangat senang melihat senyuman di wajahnya itu.
" Hahahaha,, apa kau menyukaiku senyumanku,," Tanya Alberto serius pada Ziya.
" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.
" Baiklah aku akan selalu tersenyum manis di hadapanmu,," Bilang Alberto pada Ziya sambil memainkan lembut bibir Ziya.
" Eemmm,, terima kasih,," Jawab Ziya yang menyunggingkan senyumannya.
Dengan segera Alberto membuka baju Ziya dan terlihatlah dua gunung kembar milik Ziya yang menonjol dan masih tertutup oleh kain pengaman yang menjerat ketat di tubuhnya itu.
Alberto segera mengecap bagian dua gunung kembar itu, tanpa membukakan terlebih dahulu kain penjerat bagian dua gunung kembar itu. Sementara itu, Ziya sendiri merasakan kenikmatan yang tiada tara akan kelakuan Alberto pada bagian tubuhnya itu.
Semakin lama, semakin membuat gelora tubuh Alberto memanas dan saat ini bibir Alberto berpindah tempat menerkam halus bibir Ziya. Saat Alberto ingin berdiri dan menggendong tubuh Ziya untuk berpindah ke ruang tidur pribadi, tak menyangka suara ketukan pintu terdengar dari luar.
Tok!!!
Tok!!!
Tok!!!
Hal itu menyebabkan permainan panas antara Alberto dan Ziya saat ini dihentikan sementara, karena, mendengarkan suara ketukan pintu dari bagian luar.
****