Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 66 - Sistem Operasi !!



Terlihat dari kejauhan Alberto telah memposisikan dirinya sebagai kepala dalam operasi kecil baginya saat ini, karena, hanya ingin mendapatkan seseorang yang bagi dirinya adalah cecunguk tikus kecil yang sangatlah mudah.


Dengan memberikan kode tangan kepada Frengky yang posisinya tepat berada di seberang hadapannya membuat Frengky segera masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan yang selama ini biasa ditunggu oleh Martin Luther. Kenapa, bisa Martin Luther yang jadi sasaran Alberto. Karena, saat itu Frengky dan anak buahnya menemukan bukti akhir tepat di ruangan Martin Luther.


Martin Luther memang orang yang tidak tahu diri, sudah enak dikasih tinggal hidup di istana Alexandre, merasakan betapa mewahnya menjadi saudara tiri Alberto, masih saja mengganggu istrinya Alberto. Sungguh mau cari mati Martin Luther.


Sebelumnya,,


Alberto yang membuka pintu kamar dengan sangat cepat mengacungkan segera pistolnya ke arah tubuh orang yang berbaju serba hitam, membuat Alberto menembakkan tiga kali tepat pada sasarannya yang terbaik menurut Alberto melumpuhkan orang itu, tapi, ternyata sasaran tembaknya tidak bisa tembus dan sama sekali tidak melumpuhkan kekuatan orang yang tidak dikenalnya itu.


Membuat Alberto merasakan bahwa orang itu telah memakai sesuatu di dalam tubuhnya yang ia tahu bahwa itu pasti bukan milk dirinya sendiri, melainkan ia dapatkan dari orang lain.


Dalam sekejap orang itu melompat keluar melalui jendela kecil dimana Alberto telah meletakkan alarm pengaman disana.


Orang itu sengaja berlari menuju ke bagian taman, lalu, semua pengawal Alberto yang keluar dari kamar Alberto segera mengejarnya dan terakhir jejaknya tepat di dapatkan di ruangan Martin Luther.


" Kejar dia,," Ucap Frengky yang memerintahkan semua anak buahnya untuk segera mengejar orang yang tak dikenal itu.


Membuat orang tersebut berlari secepat mungkin masuk ke dalam ruangan Martin Luther.


Dan, tepat saat itu, Frengky telah mendapatkan sebuah bukti yang telah tercecer dari Martin Luther yaitu sebuah kunci yang menjadi bukti kuat untuk menjadikan bahwa Martin Luther adalah tersangka yang tepat menjadi sasaran operasi Alberto saat ini.


Setelah terakhir orang itu masuk ke dalam ruangan Martin Luther semua anak buah pengawal Alberto telah menjaga ruangan itu secara ketat, walaupun semua tempat di ruangan Martin Luther telah terpasang CCTV. Dengan sengaja orang tersebut mematikan CCTV yang ada, supaya tidak ketahuan apakah dia Martin atau dia orang suruhan Martin.


" Apa yang kau lakukan, Hah!" Ucap Martin Luther kepada dirinya sendiri di balik pantulan kaca.


" Bodoh, bodoh, bodoh,, kenapa Alberto kembali lagi di saat rencana diriku untuk melakukan ini semua dengan matang." Ucap Martin lagi dengan sangat kesal.


Sesaat Martin cepat-cepat membuka semua baju yang dipakaikan dirinya untuk melakukan rencana itu saat dirinya mencoba bisa selalu masuk ke dalam ruangan Alberto, tapi apa yang harus dilakukannya berbalik dengan rencana yang sebenarnya. Sebenarnya dia hanya ingin mendapatkan kode keamanan di dalam kamar pribadi Alberto. Karena, telah melihat tubuh Ziya tergeletak lemah di atas lantai, membuat dirinya bernafsu untuk melakukan hubungan intim yang selalu dilakukannya pada Zoya selama ini.


Tapi, sayang orang yang dia lihat bukanlah Zoya melainkan Ziya. Mana mungkin, Ziya mau diperlakukan seperti itu dari dirinya, sehingga membuat Ziya berontak, melawan akan aksi dirinya itu. Membuat Martin seakan memanas dan emosi terhadap Ziya saat itu, jadi perlakuan dirinya kepada Zoya biasanya melakukannya dengan lembut tapi kali ini ia bersikap kasar kepada Zoya yang biasanya ia kasihi itu.


" Bagaimana ini, bagaimana ini," Ucap Martin yang ketakutan cemas di kamar.


" Kenapa aku, melakukan hal kasar kepada Zoya,, itu salahku, aku telah memukul wajahnya dan mengasari tubuhnya,," Ucap Martin dengan tubuh bergetar karena pasti sikapnya ini sangat tidak disukai Alberto.


" Alberto akan membunuhku, jika dia mengetahui orang itu adalah aku,," Ucap Martin lagi di kamarnya.


Lalu, Martin seakan teringat, Alberto bukannya selama ini tidak memperdulikan kehadiran Zoya di dalam kehidupannya, tapi, kenapa kali ini sikap Alberto berbeda dengan kehadiran Zoya yang telah pulang kembali ke rumahnya itu.


Apakah Alberto benar-benar mencintai Zoya ?


Apakah Alberto telah menerima Zoya dengan sepenuh hatinya ?


Kalau memang Alberto tidak memperdulikan kehadiran Zoya dalam hidupku dan juga dalam rumah ini, kenapa semua orang pengawal Alberto mengejar diri Martin saat kejadian itu.


Dan, apabila memang Alberto tidak menyukai adanya Zoya dalam kehidupannya otomatis saat ini Alberto tidak akan mencari dirinya. Untung saja pengaman di semua tubuhnya saat Martin memakaikannya tadi bisa mengamankan semua bagian kulitnya, termasuk kepalanya saat itu yang telah menjadi sasaran tembak Alberto saat Alberto ingin sekali melumpuhkan lawannya yaitu Martin itu.


" Bagaimana ini apakah aku harus keluar supaya tidak terlihat bahwa aku adalah orangnya." Ucap Martin yang berpikir sesaat karena sebentar lagi nyawanya akan melayang.


Martin pun berpikir apa yang sebaiknya harus dilakukannya supaya Alberto tidak mencerugai dirinya langsung pada saat itu.


" Baik, aku akan meminta bantuan Mommy, supaya Alberto tidak membunuhku,," Ucap Martin yang ingin segera keluar dari ruangannya dan menemui Mommy nya.


Tapi sayang disaat Martin melangkahkan kakinya menuju ke pintu dan membuka pintunya untuk keluar dari ruangannya itu, kaget melihat dengan kedatangan Alberto yang menatapnya dingin tepat di hadapannya saat itu.


" Hah! Apa,,?" Ucap Martin tercengang saat tepat di depannya terlihat Alberto yang berjalan menuju ke tempatnya.


" Alberto,," Sambung Martin dengan tubuh sedikit bergetar melihat Alberto berjalan santai menuju ke tempat dirinya.


" Benarkan apa aku bilang,," Ucap Martin lagi dengan jantung yang deg-degan dan cemas yang begitu terlihat di wajahnya.


Tidak mungkin seorang Alberto datang ke tempat dirinya selama ini, karena, semenjak Martin memiliki sebuah tempat di rumah Alberto itu, membuat Alberto tidak pernah mengunjungi tempatnya itu.


Itu saja Alberto berikan pada Martin atas permintaan Alexa adik perempuannya, apabila bukan dari permintaan Alexa, tidak mungkin Alberto memberikan sebuah tempat ruangan bagi Martin hanya saudara tiri Alberto yang usianya lebih tua dibandingkan Axeloe.


Dengan gaya santainya Alberto melangkahkan kakinya mendekati Martin yang ingin keluar dari ruangannya itu. Pastinya, bagaikan hidup dan mati Martin merasakan dirinya saat ini, nafas Martin sedikit tersengal karena, takut akan wajah Alberto yang segera menuju ke tempat dirinya itu dengan tatapan tajam bak elang yang ingin segera memangsa dirinya. Tapi, sesaat, Martin teringat bahwa dirinya jangan menampakkan ketegangan di wajahnya saat berhadapan langsung dengan Alberto. Alberto tidak akan tahu dan tidak akan mengira bahwa yang menjadi sasaran pelaku Alberto saat ini adalah dirinya.


Jadi, untuk apa Martin tegang dan takut saat berhadapan dengan Alberto. Karena, dalam pikiran Martin, seorang Alberto tidak akan menemukan bukti yang akurat bahwa pelaku itu adalah Martin.


Jadi, Martin yang menatap Alberto dengan tatapan wajah santai saja, seperti seseorang yang tidak memiliki dosa sedikitpun.


" Ada apa, datang ke ruanganku,," Ucap Martin bertanya kepada siapa pemilik tempat itu.


Membuat Alberto, segera tertawa mendengar ucapan Martin yang menanyakan kenapa Alberto datang ke tempatnya.


" Hahahaha,, memangnya, selama ini kau tinggal dimana,, sampai menanyakan diriku yang datang ke ruanganmu ini,," Ucap Alberto yang tersenyum sinis melihat wajah Martin saat itu.


Ingin sekali rasanya Alberto segera memberikan pukulan yang kuat dan keras tepat di wajahnya Martin saat ini.Tapi, tindakannya itu tidak dilakukannya karena, ia ingin sekali membuat Martin yang hidup seakan terasa tidak menginginkan hidupnya lagi.


" Ya, memang ini milikmu," Ucap Martin yang seakan telah berani melawan perkataan Alberto.


" Aku lagi sibuk, mau keluar, kalau kau menginginkan tempat ini, silahkan." Sambung Martin yang segera beranjak pergi dari tempatnya saat itu.


Membuat Alberto segera memegang bahunya Martin. Dan, segera mengacungkan pistol tepat di kepala Martin, pastinya Martin kaget akan sikap Alberto saat ini pada dirinya yang belum menanyakan apa maksud dari Alberto yang langsung mengacungkan pistol tepat di kepalanya itu.


" Lancang kau berbicara denganku, Hah!" Ucap Alberto yang menatap Martin dengan tajam dan segera mendorong tubuh Martin tepat mengenai dinding.


Martin yang merasa bahwa sebentar lagi nyawanya akan melayang, membuat dirinya seolah tidak mengerti kenapa Alberto melakukan ini padanya.


" Al,,, Al,, ber,, to,, aku tidak mengerti kenapa kau mengacungkan pistol tepat di kepalaku,, salahku apa,,?" Ucap Martin yang terbata-bata melihat pistol milik Alberto telah diacungkan tepat di kepalanya, sehingga Martin yang sedikit cemas itu berbicara seolah menanyakan maksud dari Alberto itu apa.


Alberto yang tidak menyukai akan adanya basa-basi itu menyebabkan dirinya ingin segera menembak mati tepat di kepala Martin yang seakan tidak mengerti maksudnya itu apa.


" Kau,, bajingan yang tidak punya muka,," Ucap Alberto terakhir sebelum mendengar teriakan yang sangat ia kenal suaranya itu.


" ALBER,,,, TO,,," Teriak seseorang yang telah membuat dirinya menoleh seakan telah mengetahui siapa yang telah memanggil namanya itu.


Karena, mendengar suara teriakan yang memanggil namanya itu. Membuat Alberto menghentikan aksinya untuk segera menembak mati kepala bajingan Martin yang sudah jelas adalah pelaku, yang telah menganiaya dan mencelakakan Ziya.


***


Sesaat Zavier, tersenyum saat dirinya sedikit merasa dipanggil oleh sang manager tempat dirinya membeli perhiasan.


" Eemm,, Maaf," Sapa manager itu kepada Zavier yang sengaja melangkah mengimbangi langkah manager itu.


" Ya ada apa, Mister, apakah Mister menyapa saya,," Ucap Zavier sok akrab karena, tahu pasti dirinya lah yang telah disapa oleh sang manager itu.


Manager itu tersenyum pada diri Zavier, karena telah menyahut sapaannya itu.


" Ya, Mister, memang anda yang saya sapa,," Ucap manager itu pada Zavier.


" Ada apa ya, Mister ?" Tanya Zavier yang pura-pura tidak mengerti akan maksud dari manager itu.


" Maaf Mister, bukannya Mister tadi yang telah membeli salah satu anting yang terindah di tempat kami,," Tanya manager pada Zavier yang seakan Zavier tidak mengerti lalu mengerutkan keningnya.


Dengan wajah sok polos dan seolah tidak mengerti, Zavier mengerutkan dahinya.


" Ya, benar sekali, Mister, ada apa ya Mister,," Tanya Zavier seolah ingin tahu maksud dari pembicaraannya ini.


Dengan tersenyum yang merekah, sang manager segera menjawab dan menceritakan keistimewaan dari anting yang telah ia beli itu.


" Waahhhhh,, Mister, saya bertepuk tangan kepada anda ?" Ucap manager itu kepada Zavier yang seolah tidak mengerti akan omongannya ini.


" Maksudnya, Mister kenapa anda bertepuk tangan kepada saya," Ucap Zavier yang memang saat ini tidak mengerti.


Awalnya Zavier pura-pura tidak mengerti seakan ada maksud untuk mendekati manager tersebut, tapi, ternyata manager itu sendiri seakan ingin menceritakan maksud dirinya yang mendekati Zavier.


" Ya, saya salut kepada anda, karena, cuma anda yang bisa membeli salah satu dari twin diamond beauty yang ada di tempat kami,," Ucap manager itu kepada Zavier.


Zavier semakin tidak mengerti akan maksud dari omongan manager itu padanya.


" Maksudnya, saya tidak mengerti, Mister,," Bilang Zavier yang mengerutkan alisnya.


Dengan segera dan rasa percaya yang tinggi terhadap Zavier. Manager tersebut segera menceritakan sebuah cerita yang menceritakan tentang adanya twin diamond beauty yang telah ia beli.


" Sebenarnya, anting yang telah dipilih oleh Mister itu memiliki kembaran yang sama dengan anting satu lagi di tempat saya," Ucap manager itu kepada Zavier.


" Akkhhh,, benarkah,," Ucap Zavier dengan mulut menganga seolah tidak mengerti maksud dari perkataan manager padahal matanya sudah melihat jelas bahwa memang benar anting itu cuma dua saja di dalam etalase dan tidak memiliki bentuk yang sama seperti itu.


" Ya benar, Mister, karena sebenarnya saya hanya memajangnya saja di etalase tempat perhiasan kami, tidak serius untuk menjualnya, namun berhubung Mister sangat menyukai dan tertarik dengan anting yang telah dipilihkan itu, oleh sebab itu saya menaikkan harganya, menjadi dua kali lipat dari harga yang sebenarnya. Dan, saya salut kepada Mister yang seakab tidak memikirkan masalah harganya tapi melainkan secara detail melihat keunikan dari bentuk bandul yang telah di desain ini." Ucap manager yang kagum kepada Zavier.


Karena, selama ini mana ada yang sanggup membeli anting twin diamond beauty yang dimaksud oleh manager itu. Sedangkan, Zavier sanggup membelinya dengan harga dua kali lipat lagi. Berarti dua anting itu semuanya Zavier yang beli termasuk permintaan Jimmy yang seolah tidak membeli anting tapi cuma mengambil anting dari tempat perhiasannya untuk Zoya, dan semuanya itu telah dibayar oleh Zavier.


" Ya, benar itu, saya tidak memikirkan masalah harga, yang terpenting bagi saya adalah keunikan dan keistimewaan tersendiri dari anting yang telah saya beli ini." Ucap Zavier tersenyum seolah dirinya mengerti akan keistimewaan seorang perempuan yang memakai anting.


" Maaf sekali lagi Mister, saya telah menaikkan harganya dua kali lipat kepada Mister, karena Tuan pemilik tempat perhiasan itu menginginkan satunya lagi dan tidak mungkin saya tidak memberikannya, karena, sebenarnya sekitar dua puluh tahun yang lalu, ada sepasang suami istri yang memesan dan meminta untuk para pendesain membuat dua anting yang kembar, tapi sampai saat ini anting yang begitu mahal ini belum ditebusnya hingga anting itu sekarang saya jual. Karena, pemesan itu pernah berkata apabila dalam dua puluh tahun ini saya tidak mengambilnya maka jual saja, Dan sedangkan Tuan pemilik tempat perhiasan itu tidak tahu bahwa anting itu bukanlah anting aset penjualannya, melainkan,,.." Ucap sang manager yang berkata jujur tentang anting yang telah dijualnya itu lalu, sedikit berhenti.


Karena, ucapannya itu berhenti membuat Zavier menjadi semakin penasaran melihat ekspresi sang manager yang seakan membuat dirinya kebingungan dan ingin membuka isi dadanya menemukan jawaban yang sebenarnya dalam hatinya itu.


" Melainkan apa Mister,,?" Tanya Zavier yang seolah penasaran sekali terhadap perkataan dan cerita dari manager itu.


***