
Setelah selesai makan bersama di kamar, tak terasa hujan turun menerpa, padahal sebenarnya Demian ingin sekali mengajak Ziya untuk bermain-main di taman, tapi suasana hujan yang tidak mengizinkan.
" Yeahh,, hujan Mommy, Demian ingin main belsama Mommy di taman,, tapi,," Rengek Demian yang melihat cuaca di luar sedang turun hujan.
Terlihat sekali di wajah Demian saat ini cemberut melihat suasana di luar jendela kamarnya sedang turun hujan. Ziya segera mendekati tubuh Demian yang sedang menatap pemandangan di luar melalui kaca kamarnya.
" Demian jangan kecewa ya, sayang,, Kita bisa main di kamal,," Ucap Ziya yang membujuk Demian.
" He'eh Mom,, Oh ya Mom, tadi di sekolah Demian dapat nilai teltinggi dali gulu,," Ucap Demian yang memberitahu keadaannya di sekolah.
" Oh ya, mana coba Mommy lihat,," Pinta Ziya meminta Demian untuk segera menunjukkan hasil dari nilainya itu.
" Ok, Mom, tunggu sebental ya,," Jawab Demian sambil mengecup pipi Ziya.
Ziya merasa bahagia saat Demian memberitahu bahwa dia mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya. Ziya berpikir ternyata Demian sangat cerdas sekali, dalam usianya ini Demian bahkan bisa pelajaran dua tingkat dari usianya. Sungguh memang hebat ternyata putra kembarannya itu.
" Memiliki putra secerdas Demian, aku akan bahagia jika dia benar anakku, tapi, Zoya malah mengacuhkannya dan rela pergi meninggalkannya,, Heh!! Zoya, Zoya apa yang kau pikirkan,," Gumam Ziya dalam hati sambil tersenyum melihat Demian pergi ke ruang belajarnya untuk mengambil nilai yang akan ditunjukkannya itu.
Tapi, kenapa Zoya lebih memilih mengacuhkan kecerdasan Demian dibandingkan harus tetap berada disini dan membimbing Demian agar kecerdasan Demian bisa dikembangkan saat dirinya dewasa nanti.
Sepintas Ziya melihat ternyata, di kamar Demian masih ada Alberto yang mengawasi gerak-geriknya, saat ini bagi Alberto adalah saat yang tepat untuk segera mendekati Ziya, karena, Demian sedang menuju ke ruang belajarnya.
" Heeemm,, Demi sedang menuju ke ruang belajarnya, jadi,,," Ucap Alberto yang melangkah segera mendekati tubuh Ziya.
Ziya merasa sedikit tegang dan takut melihat wajah Alberto yang melangkah mendekati dirinya dengan tatapan yang tidak karuan. Tapi, sebaliknya dengan sikap Alberto saat ini semakin menyukai tingkah laku Ziya yang memegang dan takutnya.
" Alberto,, kita masih di kamar Demi,, kau mau apa,," Bilang Ziya yang sedikit cemas saat Alberto melangkah mendekati dirinya.
" Memangnya kenapa kalau kita sedang di kamar Demi,," Ucap Alberto dengan tatapan nakalnya semakin mendekati tubuh Ziya.
Karena, melihat Alberto sedang melangkah mendekat dirinya itu, sehingga membuat Ziya dengan spontan melangkahkan kakinya mundur ke belakang. Alberto melihat jelas bahwa langkah kaki Ziya mundur dan sengaja menjauhi dirinya.
" Alberto,, nanti Demi lihat,," Bilang Ziya lagi masih memundurkan langkahnya sedikit demi sedikit.
" Biarkan, Demi lihat, memangnya kenapa, kalau Demi lihat,, kau malu,," Ucap Alberto yang menambah langkah kakinya mendekati tubuh Ziya.
" Kenapa semakin menjauh, Zoya,," Suara Demian terdengar lembut dan halus di telinga Ziya.
" Alberto,, aku sudah jelaskan, aku bukan,," Jawab Ziya yang masih memundurkan langkah kakinya.
Sesaat, langkah kaki Ziya berhenti tepat di dinding kamar, sehingga membuat Ziya tidak bisa lagi memundurkan langkah kakinya dan sangat terlihat sekali kecemasan di wajahnya. Alberto tersenyum senang saat melihat wajah Ziya yang begitu cemas menghadap wajahnya.
" Ssstt,," Ucap Alberto yang merapatkan tubuhnya dengan tubuh Ziya sambil meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Ziya.
" Walaupun kau Zoya atau bukan,, kau akan tetap menjadi istriku, ingat itu,," Suara Alberto yang berbisik lembut di telinga Ziya.
Ziya terperangah mendengar ucapan Alberto yang berkata seperti itu pada dirinya. Dan saat ini, Ziya sama sekali tidak bisa bergerak akan kelakuan Alberto yang sengaja mengunci dirinya. Begitu terlihat sekali betapa gagahnya tubuh Alberto yang mengunci rapat tubuh Ziya yang menempel di dinding itu.
" Tapi, Alberto,, aku,," Ucap Ziya yang merasa bingung akan sikap Alberto yang terlihat baru-baru ini lembut padanya.
Ziya sebenarnya takut akan sikap Alberto kemarin yang dilakukan pada dirinya, begitu kasar, begitu menganggap dirinya rendah, begitu dingin dan juga tidak menyapanya karena, Alberto yang telah mengecap Ziya wanita rendahan tidak memiliki mahkota lagi saat pertama kali disentuh oleh dirinya. Ziya masih merasakan trauma yang begitu mendalam di hatinya. Masih terngiang di telinganya saat ini semua ucapan Alberto yang menyatakan dirinya tidak perawan.
" Ssstt,," Ucap Alberto lagi-lagi meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Ziya.
" Jangan terlalu banyak bicara, aku sangat merindukan kehangatanmu, istriku,," Bilang Alberto yang sengaja mengendus lembut di bagian belakang telinga Ziya.
Atas sikap Alberto yang berbuat seperti itu pada tubuhnya, Ziya ingin sekali menolak tapi, Alberto selalu bisa memperlakukan dirinya dengan selembut mungkin. Seperti saat ini Ziya merasa bahwa Alberto sengaja menji-lat lembut di bagian cuping telinganya.
" Alber,, to,, jangan lakukan ini,," Ucap Ziya menahan tubuhnya sendiri yang sedang berdiri itu.
Ziya merasa kakinya begitu lemas sekali atas tindakan Alberto yang membuai lembut bagian lehernya. Sehingga saat ini kedua tangan Ziya merespon dan menahan tubuhnya sambil berpaut di pilar yang terletak di dekat dinding.
" Alber,, to,, ak,, aku mohon jang,, jangan lakukan ini,," Ucap Ziya yang terbata-bata saat dirinya mulai merasa lemas atas perbuatan Alberto yang telah menguasai tubuhnya itu.
Alberto tersenyum senang saat melihat tubuh Ziya merespon tubuhnya untuk tetap melanjutkan perbuatannya itu. Sehingga membuat Alberto semakin menambah kelincahan lidahnya untuk menjilat-jilat lembut leher Ziya.
" Eeemmm,, Al,, ber,, to,," Suara lembut Ziya yang terdengar serak di telinga Alberto.
" Mende-sahlah sayang,," Bisik Alberto lembut di telinga Ziya.
Alberto merasa bahwa kegiatan lidahnya itu cukup berhasil untuk melemahkan tubuh Ziya, sehingga Alberto segera melepaskan pagutan lidahnya di bagian leher Ziya. Dan saat ini Alberto menatap dalam wajah Ziya, sementara itu, Ziya yang merasa bahwa Alberto telah selesai dengan kegiatan yang ia lakukan di bagian lehernya itu membuat Ziya sendiri juga menatap wajah Alberto.
" Kau akan tetap menjadi milikku sayang,, selamanya,," Ucap Alberto yang begitu dekat di hadapan wajah Ziya.
Saat ini Ziya tidak bisa mengatakan satu kata apapun, karena, bola mata Alberto disaat ini begitu terlihat indah di mata Ziya. Sehingga bertemulah kedua bola mata yang begitu indah ini, tanpa berpikir panjang lagi, dengan segera Alberto mendaratkan bibirnya tepat di bibir lembut Ziya.
" Uuummmmppp,, Alberto,," Suara Ziya yang sedikit terdengar sebelum bibirnya ditutup oleh bibir Alberto.
Ziya tidak bisa menolak, atas kecu-pan yang dilakukan oleh bibir Alberto saat ini, karena, Ziya merasa bahwa kecu-pan Alberto saja yang bisa membuat dirinya terbuai.
Alberto memang begitu pandai dalam berciuman, karena, terlihat seperti saat ini, Alberto mulai mendominasi bibir Ziya untuk membalas bibirnya itu. Alberto dengan sengaja memaksakan lidahnya untuk masuk ke dalam rongga mulut Ziya dan membelit lembut lidah Ziya. Ziya terperanjat karena, baru Alberto saja laki-laki yang telah menyentuh dirinya dan mengajaknya berciuman seperti ini.
Ziya tidak mengerti akan maksud dari Alberto yang sengaja menciumi bibirnya dan memaksa lidahnya untuk masuk ke dalam rongga mulutnya. Dalam sesaat Ziya pun mulai membuka mulutnya, dan masuklah lidah Alberto ke dalam rongga mulutnya itu. Ziya baru mengetahui bahwa berciuman dengan saling membelitkan lidah begitu nikmat.
Karena, merasakan saat ini Ziya sudah merespon akan lidahnya itu, membuat Alberto merasa senang, dan dengan sengaja Alberto berlama-lama menciumi bibir Ziya. Sementara itu, tangan Alberto mulai masuk meraba-raba bagian punggung Ziya, mencari-cari sesuatu yang menutupi bagian puncak tubuh Ziya yang begitu menonjol, menempel tepat di dekat dada Alberto. Ziya merasa terbuai indah atas ciuman yang dilakukan Alberto pada dirinya, sehingga membuat tubuhnya merespon untuk melingkarkan kedua tangannya di bagian leher Alberto.
Saat ciuman di antara Alberto dan Ziya begitu mendalam, dengan senang hatinya Demian berlarian dan berteriak memanggil Ziya.
" Mommy,,,," Teriak Demian berlarian menuju ke arah Ziya dan Alberto sedang berada.
Karena mendengar suara teriakan dari Demian dengan segera Ziya melepaskan kedua tangannya dan sedikit mendorong tubuh Alberto. Alberto terlihat begitu kaget saat tubuhnya telah di dorong tubuh Ziya.
" Ada apa,," Ucap Alberto spontan atas tindakan Ziya itu.
" Kenapa kau mendorongku,," Tanya Alberto kepada Ziya.
" Ada Demian,," Jawab Ziya sambil merapikan dirinya.
" Hahahaha,, memangnya kenapa kalau ada Demian,," Ucap Alberto dengan sengaja melingkarkan tangannya di bagian pinggang Ziya.
Spontan Ziya kaget atas sikap dan kelakuan Alberto ini. Ziya berpikir sepertinya Alberto tidak bisa menahan nafsunya untuk memakannya lagi.
" Aduhhh,, bagaimana ini, walaupun dia mengetahui identitas ku bukanlah Zoya, tapi, kenapa dia tidak mau melepaskan aku, dan dengan sengaja membuatku terbuai akan rayuannya,," Gumam Ziya dalam hati dengan menatap wajah Alberto.
" Kenapa, kau menatapku seperti itu,," Tanya Alberto yang membuat Ziya sesaat menoleh ke arah lain.
" Tidak apa-apa,," Jawab Ziya singkat.
Lalu, Ziya yang sedari tadi ingin melepaskan tubuhnya dari Alberto segera menepis-nepis tangannya Alberto yang sengaja melingkar di bagian pinggangnya itu.
" Alberto apa yang kau lakukan,," Ucap Ziya dengan suara geramnya.
" Aku ingin memeluk istriku,," Jawab Alberto singkat dengan wajah datarnya.
Dalam seketika tibalah Demian dari ruang belajarnya menuju kamarnya saat ini.
" Mommy,, This is Look,," Ucap Demian yang menunjukkan hasil belajarnya hari ini.
Dan, benar ternyata nilai Demian sangat memuaskan. Membuat Ziya segera langsung mendekati Demian dan berjongkok di hadapan putranya itu.
" Waaaahhh,, bagus sekali, sayanggg,, pintar,," Bilang Ziya yang memuji kecerdasan Demian.
" Mau hadiah apa sayang,," Tanya Ziya yang sengaja menyenangkan hati dan perasaan Demi.
" Mau bobo sama Mommy and Daddy,," Jawab Demian dengan wajah sumringah.
" Oke,," Jawab Ziya menyetujui kehendak dari Demian.
Tentunya Demian sangat bahagia sekali mendapatkan pujian dari Ziya dan mendapatkan hadiah dari Ziya, walaupun hanya sekedar tidur bersama dengan kedua orang tuanya itu. Karena, selama ini sepintar pintarnya Demian dalam mendapatkan hasil penilaian, Zoya tidak pernah sekalipun memujinya bahkan Zoya memandang rendah hasil nilainya itu.
" Thanks Mommy,," Jawab Demian sambil mengecup lembut pipi Mommynya itu.
" Waaaahhh,, Mommy dapat kecupan,," Ucap Alberto yang sengaja nimbrung dari belakang Ziya.
" Daddy tidak dikasih kecupan juga,," Pinta Alberto yang menyodorkan pipinya kepada Demian tepat di depan wajah Ziya.
" Hehehehe Baik Daddy, Demi juga sayang Daddy,," Ucap Demian dengan segera mencium basah pipi Alberto.
Demian tertawa lucu saat Alberto menyodorkan pipinya itu, dengan segera Demian mengecup basah pipi Alberto. Sementara, Demian mengecup basah pipi Alberto. Alberto sendiri dengan sengaja menge-cup lembut bibir Ziya.
Dalam pikiran Ziya Alberto ini benar-benar sudah melewati batas kewajarannya, sehingga membuat Ziya dengan sengaja menggigit lembut bibir Alberto yang menempel di bibirnya itu.
" Akkhhh,," Teriakan kecil dari suara Alberto yang kaget saat digigit oleh Ziya.
Karena, tergigit oleh Ziya sontak Alberto kaget dan sedikit teriak, membuat Ziya tertawa dan Demian bingung sendiri atas kelakuan Daddy dan Mommynya itu, yang satunya ketawa dan yang satunya lagi berteriak.
" Hahahaha,,," Tawa Ziya geli melihat tingkah Alberto yang menahan sakit di bibirnya.
" Mommy kenapa ketawa dan Daddy kenapa teliak,," Tanya Demian bingung akan kelakuan dari Alberto dan Ziya.
" Hehehehe,, Daddy Demi nakal makanya, digigit semut,," Jawab Ziya lucu sambil melirik ke arah Alberto.
Alberto terlihat sedikit kesal namun bahagia karena, tingkah Ziya saat ini sudah berani membalas perbuatannya itu.
" Awas, kau ya, akan aku habiskan kau malam nanti,," Gumam Alberto dalam hati yang masih menahan rasa perih di bibirnya.
Ziya segera menyambut dan menggendong tubuh Demian mengajaknya ke tempat tidur sengaja melewati Alberto yang meringis menahan sakit di bibirnya. Karena, cuaca sudah mulai gelap dan Demian juga sudah makan, Ziya mengajak Demian untuk beristirahat.
" Eemmm,, Sayang,, berhubung cuaca di luar sudah semakin gelap dan kita tidak bisa main, jadi sekarang kita istirahat ya,," Ucap Ziya terdengar sangat lucu dengan suara lembutnya membujuk Demian.
" Ok Mom,," Jawab Demian mengangguk.
" Tapi ajak Daddy juga,," Pinta Demian yang melihat wajah Alberto masih meringis sakit menahan perih di bibirnya.
Saat mendengar ucapan Demian yang mengajak dirinya itu, dengan langkah kaki yang cepat Alberto mendekati tempat tidur dan segera baring di samping Ziya.
" Makasih sayang,, sudah izinin Daddy bobo disini juga,," Jawab Alberto dengan segera memposisikan tubuhnya tepat di samping Ziya.
" Yes, Dad," Ucap Demi tersenyum.
Lalu, dengan manjanya Demian beralih menghadap ke arah lain membelakangi Ziya dan Alberto, serta minta dipeluk oleh kedua orang tuanya itu.
" Mom, Dad peluk, Demi,," Pinta Demi dengan suara manjanya.
Alberto yang mendengarkan permintaan Demian segera merapatkan tubuhnya dengan tubuh Ziya agar bisa menjangkau tubuh Demi.
" Baik sayang Daddy peluk ya,," Ucap Alberto sambil menciumi pipi Ziya.
Karena, posisinya Alberto saat ini pasti menang, pertama bisa menempel dengan tubuh Ziya. Kedua bisa memeluk tubuh Ziya sambil menjangkau pelukannya kepada Demian. Ketiga bisa mengendus lembut semua area pada tubuh Ziya. Sungguh kemenangan mutlak bagi Alberto yang memang begitu licik dalam hal bercinta.
" Setelah Demi tidur pulas, aku menginginkan tubuhmu,, karena, kau sudah berani menggi-git bibirku,," Ucap Alberto yang terdengar tajam di telinga Ziya sambil tersenyum sinis di hadapannya.
" Heeemmm,, habis sudah aku,," Gumam Ziya dalam hati dengan wajahnya yang begitu tegang di hadapan Alberto.
Alberto pandai sekali untuk membuat wajah Ziya menegang dan seakan selalu takut akan ucapannya itu, memang benar sebelumnya Ziya telah menggigit bibirnya Alberto, karena, kesalahan Alberto sendiri yang dengan sengaja menciumi bibirnya disaat Demian menciumi pipinya.
***
Oke My Love Readers 😘😘
Silahkan dibaca kelanjutannya ya,, Hari ini di tempat Author sedang mati lampu,, tidak tahu menyalanya jam berapa. Kalau baterai hp masih ada Author akan up untuk selanjutnya ya,,🥳🥳🤗🤗
Salam Hangat Se Angkasa 🥳🥳